Monday, October 12, 2015

H-1 menuju musim duka dan tangis

Ab New Bani Hasyimie:Sayid JaafaralHasyimi

H-1 menuju musim duka dan tangis

.

Nasihat Imam Ali Ar-Ridha kepada Rayyan bin Syabib ketika memasuki Bulan Muharam

1.    Berpuasalah
Rayyan bin Syabib (salah seorang sahabat Imam Ridha as) meriwayatkan: Suatu hari di awal bulan Muharam dia bertemu dengan Imam Ridha as, kemudian mereka berbincang.

Imam as, “Wahai putra Syabib apakah anda berpuasa hari ini?”

Ibnu Syabib, “Tidak wahai Imam.”

Imam as, “Tahukah Anda bahwa Nabi Zakariya as berpuasa di hari pertama bulan Muharam agar Allah menganugerahkan padanya keturunan (Nabi yahya as)!  Wahai putra Syabib jika Anda berpuasa di hari ini niscaya Allah akan mengabulkan segala doamu.

2.    Menangislah untuk al-Husain
Imam Ridha as berkata, “Wahai putra syabib! Jika engkau menangisi al-Husain as sehingga airmatamu mengalir di pipimu, Allah SWT akan mengampuni seluruh dosamu.”

Perlu ditegaskan bahwa hadis ini tidak bermaksud untuk melegitimasi seseorang untuk berbuat dosa semaunya karena dosa tersebut dapat dihapus dengan airmata untuk al-Husain as, akan tetapi maksud dari tangisan tersebut adalah tangisan yang dapat mereformasi jiwa dari kekafiran menjadi ketaatan, dari kemusyrikan menjadi tauhid, dan dari kemaksiatan menjadi ketakwaan, sebagaimana yang ditunjukan oleh Raja Najasyi ketika dibacakan surat Maryam oleh utusan Rasulullah saw untuk Habasyah, dia menangis meneteskan airmata, yang kemudian airmata itu menghapus kemusyrikannya dan dia pun masuk Islam.

3.    Ratapilah  Al-Husain dalam segala musibah
Imam Ridha as berkata, “Wahai putra Syabib! Jika engkau bersedih karena suatu musibah maka ratapilah al-Husain as.”

4.    Ziarahilah al-Husain as 
Imam Ridha as berkata, “Wahai putera Syabib! Jika Anda ingin bertemu dengan Allah SWT dalam keadaan suci tanpa dosa, ziarahilah al-Husain as.”

5.    Berlepas diri dari para pembunuh al-Husain as
Imam Ridha as berkata, “Wahai putera Syabib! Jika engkau ingin tinggal di surga, berlepas dirilah dari para pembunuh al-Husain as.”

6.    Ucapkanlah “Ya laytana kunna ma’akum…”
Imam Ridha as berkata, “Wahai putera Syabib! Jika Anda ingin dibangkitkan bersama para syuhada Karbala, setiap mendengar nama al-Husain as, keluarga, dan para sahabatnya, ucapkanlah, ‘Ya laytani kuntu ma’akum  fa afuza fawzan adzhima’, oh seandainya dulu aku berada di Karbala bersamamu niscaya aku beruntung.”

7.    Rasakanlah perasaan kami (Ahlulbait)
Imam Ridha as berkata, “Wahai putera syabib! Jika engkau ingin berada di surga bersama kami bersedihlah atas musibah kami, dan berbahagialah dengan kebahagiaan kami.”

Saturday, October 10, 2015

PENYEMBUHAN BADAN MELALUI asmaul husna

Ia telah ditemui oleh Doktor Ibrahim Karim (biologi) bahawa Asma ul Husna, nama yang baik kepada Allah (SWT) mempunyai kuasa penyembuhan untuk sejumlah besar penyakit.
Dia menggunakan kaedah ketepatan dalam pengukuran tenaga dalam tubuh manusia dan mendapati bahawa setiap satu daripada nama-nama Allah (SWT) merangsang tenaga dalam sistem imun badan manusia untuk berfungsi dengan cekap di dalam badan manusia yg tertentu. Beliau mendapati bahawa sebutan (membaca) dengan nama-nama Allah (SWT) membawa kepada peningkatan dalam trek Bio Energy dalam tubuh manusia, dan selepas 3-tahun penyelidikan Doktor Ibrahim Karim sampai kepada yang berikut:

Kaedah rawatan: Letak tangan anda pada tempat sakit dan memuji nama Allah (SWT) di atasnya sesuai dengan penyakit anda sehingga sembuh  insyallah.

01. Telinga - As Sami
02. Tulang - Al Nafi
03. Tulang Belakang - Al Jabbar
04. Lutut - Al Rauf (The Clement)
05. Rambut - Al Badi (Pencipta)
06. Jantung - Al Nur (Cahaya)
07. Otot - Al Qawi (Maha Kuat)
08. Gelombang Jantung - Al Wahab
09. Jantung otot - Al Razaqq
10. saraf - Al Mughni
11. Arteri - Al Jabbar
12. Perut - Al Razaqq
13. Kanser - Al Jalil (The Mighty)
14. Tiroid - Al Jabbar
15. Thigh- Al Rafi (The Exalter)
16. Migrain - Al Ghani (The Rich One)
17. Mata Arteri - Al Mutaali
18. Buah Pinggang - Al Hayy
19. Colon - Al Rauf (The Clement)
20. Usus - Al Razzaq
21. Hati - Al Nafi
22. Pankreas - Al Bari
23. Lemak Sacks - Al Nafi
24. Rahim - Al Khaliq (Pencipta)
25. Pundi Kencing - Al Hadi (Panduan)
26 Reumatik - Al Muhaymin (The Guardian)
27. Prostat - Al Rashid
28. Saraf Mata - Al Zahir
29. Kelenjar pineal - Al Hadi
30. Tekanan Darah - Al Khafed
31. Paru-paru - Al Razzaq
32. Thymus Kelenjar - Al Qawi
33. Kelenjar atas Buah Pinggang - Al Bari
34. Rambut Peel - Al Jalil (The Mighty)
35. Rongga Hidung - (Al Latif, Al Ghani, Al Raheem)
36. Mata - (Al Nur, Al Basir, Al Wahab)

mesti mesti mesti kongsi ...

,* semoga bermanfaat buat kita semua.. aamiiin.. ..
Nasihat dari Prof Dr Harlina Shiraj

Amin ,,,,آَمِيّـٍـِـنْ... آَمِيّـٍـِـنْ يَآرَبْ آلٌعَآلَمِِيِن
Assalam..jom.kita amalkan

Adakah kalian benar benar Syiah Imam 'Ali as?

Adakah kalian benar benar Syiah Imam 'Ali as?

🚩 Imam Ali as berkata kepada Nauf Bakali:
“Tahukah engkau, wahai Nauf, siapakah syiahku?” 
Nauf menjawab: “Tidak, demi Allah.”

Lalu Imam Ali as menjelaskan: “Syiahku adalah orang-orang yang bibirnya kering dan perutnya kosong. Mereka adalah orang-orang yang dikenali dengan kezuhudan di wajahnya. Mereka adalah orang-orang yang banyak beribadah di malam hari dan seperti singa di siang hari.”
[Bihar al-Anwar, Jilid 78, Hadits No 95]

🚩Imam Muhammad Baqir as berkata:
“Sesungguhnya syiah kami hanyalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah dan menaatiNya. Mereka adalah orang-orang yang terkenal dengan kerendahhatian, kekhusyuan, menyampaikan amanah, dan banyak berzikir kepada Allah” 
[Tuhaf al-‘Uqul, Hadis No 295]

🚩 Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata:
“Sesungguhnya syiah ‘Ali itu adalah orang yang menjaga kesucian perut dan kemaluannya, kuat jihadnya, beramal untuk penciptaNya, mengharapkan pahalaNya dan takut kepada siksaNya. Jika engkau melihat mereka itu, mereka itulah Syiah Ja’far.”
[Al-Kafi, Jilid 2, Hadits No 9]

🚩Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata:
“Ujilah syiah kami pada tiga keadaan: (1) Pada waktu-waktu shalat bagaimana mereka menjaganya; (2) Pada rahasia-rahasia mereka, bagaimana mereka menjaganya untuk tidak membocorkannya kepada musuh-musuh kami; dan (3) Dalam harta mereka, bagaimana mereka membantu saudara-saudaranya dengan harta itu.”
[Bihar al-Anwar, Jilid 83, Hadits No 40]

🚩Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata:
“Sesungguhnya syiah kami itu adalah orang-orang yang memiliki empat mata: dua mata di kepalanya dan dua mata di hatinya. Ketahuilah, sesungguhnya seluruh manusia seperti itu, tetapi Allah Azza Wa Jalla membuka mata kalian (syiahku) dan membutakan penglihatan mereka.”
[Al-Kafi, Jilid 8, Hadits No 260]

🚩 Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata:
“Bukanlah termasuk syiah kami orang yang berbicara dengan lisannya dan bertentangan dengan kami dalam perbuatan dan sunnah kami” 
[Bihar al-Anwar, Jilid 68, Hadits No 13]

🚩Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata:

“Bukanlah syiah kami orang yang mengingkari empat perkara: mi’raj, pertanyaan di dalam kubur, penciptaan surga dan neraka, syafaat.”
[Bihar al-Anwar, Jilid 69, Hadits No 11]

🚩 Imam Ja’far Ash-Shadiq as pernah bertanya kepada seorang laki-laki tentang orang-orang yang dia tinggalkan di kotanya (yang dianggap sebagai pengikut Syiah), lalu laki-laki itu menjawab dengan sanjungan yang baik, penyucian dan pujian. 

Lalu Imam Ja’far bertanya: “Bagaimana kunjungan orang-orang kaya mereka kepada orang-orang miskinnya?”

Dijawab laki-laki itu: “Jarang sekali.”

Lalu Imam Ja’far bertanya lagi: “Bagaimana kehadiran orang-orang kaya mereka di tengah-tengah orang miskinnya?”
Dijawabnya: “Jarang sekali,”

Selanjutnya Imam Ja’far bertanya lagi: “Bagaimana pemberian orang-orang kaya mereka kepada orang-orang miskinnya?”

Laki-laki itu kemudian menjawab: “Anda telah menyebutkan perilaku yang jarang kami lakukan.”

Selanjutnya Imam Ja’far berkata: “Kalau begitu, bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa mereka adalah syiah kami?” 
[Al-Kafi, Jilid 2, Hadits No 10]

🚩Imam Musa Kazhim as berkata:

“Bukanlah syiah kami orang yang sedang menyendiri, sementara hatinya tidak takut kepada Allah.”
[Bashair al-Darajat, Jilid 10, Hlm 247]

اللهم اجعلنا من شيعة علي ..
اللهم صل على محمد وآل محمد

Tarikh Syiah 9

                  


Raj'ah dalam keyakinan Syiah bukan merupakan keyakinan pokok. Ia diyakini karena beberapa riwayat dari imam-imam mereka menyatakan akan adanya raj'ah tersebut. Selain itu, penganut Syiah pun mendasarkannya pada surah al-Gafir (al-Mu'min) ayat 11 yang artinya : "Mereka menjawab: Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?" Menurut mereka, dalam ayat di atas tercantum makna ar-raj'ah karena di dalamnya disebutkan adanya dua kehidupan setelah mati, yaitu kehidupan yang terakhir di akhirat dan satu lagi kehidupan sesudah mati sebelum kehidupan di akhirat. Kehidupan yang disebut terakhir itulah menurut mereka yang disebut ar-raj'ah

Taqiyah.

Dari segi bahasa, taqiyah berasal dari kata taqiya atau ittaqa yang artinya takut. Taqiyah adalah sikap berhati-hati demi menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan bahaya yang dapat menimpa dirinya. Dalam kehati-hatian ini terkandung sikap penyembunyian identitas dan ketidakterusterangan.
Dalam sejarah Syiah, sikap taqiyah ini sering dijumpai sehingga menjadi semacam syiar dalam ajaran mereka. Hal ini disebabkan menurut sejarah, mereka selalu dimusuhi dan diburu oleh penguasa-penguasa yang tidak suka kepada mereka, sehingga untuk menyelamatkan diri mereka terpaksa melakukan taqiyah. Salah satu alasan yang digunakan Syiah untuk membenarkan sikap mereka ini adalah peristiwa yang menimpa sahabat Ammar bin Yasir yang dipaksa orang-orang kafir Kuraisy untuk menyatakan dirinya kufur padahal ia sendiri tidak menghendakinya (lihat QS.16:106).

Tawassul.

Tawassul adalah memohon sesuatu kepada Allah SWT dengan menyebut pribadi atau kedudukan seorang nabi, imam, atau bahkan seorang wali supaya doanya tersebut cepat dikabulkan Allah SWT.
Dalam Islam akhir-akhir ini terjadi perselisihan yang cukup tajam mengenai boleh tidaknya tawassul. Di satu pihak dikatakan tawassul haram hukumnya dengan alasan dapat menyekutukan Allah SWT. Kelompok ini dipelopori oleh golongan Salafiyah dan Wahabi. Di lain pihak, ada kelompok yang berpendapat bahwa tawassul boleh hukumnya, bahkan dianjurkan. Alasan yang diajukan adalah adanya firman Allah SWT dalam Al-Qur'an, yang artinya : "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan." (QS. 5:35) 
Kelompok ini beranggapan, adanya kekhawatiran dapat menyekutukan Allah SWT dianggap berlebihan karena yang dimintai sesuatu itu bukannya pribadi, melainkan Allah SWT sendiri. Kelompok ini masih sangat kuat berakar di kalangan umat Islam, terutama di Indonesia.
Dalam Syiah, tawassul merupakan salah satu tradisi keagamaan yang sulit dipisahkan. Dapat dikatakan bahwa hampir pada setiap doa mereka selalu terselip unsur tawassul, tetapi biasanya tawassul dalam Syiah terbatas pada pribadi Nabi Muhammad SAW atau imam-imam dari ahlulbait. Dalam doa-doa mereka selalu dijumpai ungkapan-ungkapan seperti, "Allaahumma bi haqqi Muhammad wa aali Muhammad ..." (ya Allah, demi kedudukan Muhammad dan keluarga Muhammad aku bermohon ...) atau  "yaa Faathimah isyfa'ii lii 'indallah" (wahai Fatimah, mohonkanlah syafaat bagiku kepada Allah), dan sebagainya.

Tawallii dan Tabarrii.

Kata tawallii berasal dari kata tawallaa fulaanan yang artinya mengangkat seseorang sebagai pemimpinnya. Adapun tabarrii berasal dari kata tabarra'a 'an fulaan yang artinya melepaskan diri atau menjauhkan diri dari seseorang. Tawallii dan tabarrii merupakan salah satu doktrin Syiah yang amat penting. Tawallii dimaksudkan sebagai sikap keberpihakan kepada ahlulbait, mencintai mereka, patuh pada perintah-perintah mereka, dan menjauhi segala larangan mereka. Adapun tabarrii dimaksudkan sebagai sikap menjauhkan diri atau melepaskan diri dari musuh-musuh ahlulbait, menganggap mereka sebagai musuh-musuh Allah SWT, membenci mereka, dan menolak segala yang datang dari mereka.
Kedua sikap ini dianut pemeluk-pemeluk paham Syiah berdasarkan beberapa ayat dan hadis yang mereka pahami sebagai perintah untuk tawallii kepada ahlulbait dan tabarrii dari musuh-musuhnya. Misalnya, hadis Nabi SAW mengenai Ali bin Abi Talib yang berbunyi: "Barangsiapa yang menganggap aku ini adalah pemimpinnya, maka hendaklah ia menjadikan Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah belalah orang yang membela Ali, musuhilah orang yang memusuhi Ali, binasakanlah orang yang menghina Ali, dan lindungilah orang yang melindungi Ali." (HR. Ahmad bin Hanbal)


Tarikh Syiah 8




Mahdawiyyah.

Mahdawiyyah berasal dari kata mahdi, yang berarti keyakinan akan datangnya seorang juru selamat pada akhir zaman yang akan menyelamatkan kehidupan manusia di muka bumi ini. Juru selamat itu disebut Imam Mahdi.
Dalam Islam, keyakinan akan datangnya Imam Mahdi ini cukup berakar kuat di kalangan kaum muslimin; tidak hanya di kalangan penganut paham Syiah, tetapi juga di kalangan mayoritas ahlusunah waljamaah. Hal itu disebabkan oleh cukup banyaknya riwayat mengenai akan datangnya sang juru selamat ini. Namun, antara keyakinan Syiah dan keyakinan ahlusunah waljamaah terdapat perbedaan yang cukup mencolok. Dalam ahlusunah waljamaah, figur Imam Mahdi itu tidak jelas. Mahdi itu disebutkan mempunyai beberapa kriteria, antara lain: keturunan Fatimah, memiliki nama yang serupa dengan nama Nabi SAW, dan akan muncul bersamaan dengan turunnya Nabi Isa AS. Selain itu dalam ahlusunah waljamaah ada keyakinan akan kegaiban Imam Mahdi. 
Sementara dalam Syiah, figur Imam Mahdi jelas sekali. Ia adalah salah seorang dari imam-imam yang mereka yakini. Syiah Dua Belas misalnya, memiliki keyakinan bahwa Muhammad bin Hasan al-Askari (Muhammad al-Muntazar) adalah Imam Mahdi. Di samping itu, Imam Mahdi ini diyakini masih hidup sampai sekarang, hanya saja manusia biasa tidak dapat menjangkaunya, dan nanti di akhir zaman ia akan muncul kembali dengan membawa keadilan bagi seluruh masyarakat dunia. Oleh karena itu, orang-orang Syiah sangat menunggu-nunggu kedatangan Imam Mahdi ini. Mereka menyebutnya sebagai al-Imam al-Muntazhar atau imam yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Dalam doa-doa mereka selalu diucapkan kata-kata seperti " 'ajjilillaahumma farajahu as-syariif (ya Allah segerakanlah kemunculan al-Mahdi yang mulia)."

Marja'iyyah atau Wilayah al-Faqih.

Kata marja'iyyah berasal dari kata marja' yang artinya tempat kembalinya sesuatu. Sedangkan kata wilayah al-faqih terdiri dari dua kata: wilayah berarti kekuasaan atau kepemimpinan dan faqih berarti ahli fikih atau ahli hukum Islam. Wilayah al-faqih mempunyai arti kekuasaan atau kepemimpinan para fukaha.
Menurut Syiah Dua Belas, selama masa kegaiban Imam Mahdi, kepemimpinan umat terletak di pundak para fukaha, baik dalam persoalan keagamaan maupun dalam urusan kemasyarakatan. Para fukahalah yang seharusnya menjadi pucuk pimpinan masyarakat, termasuk dalam persoalan kenegaraan atau politik. Hal itu disebabkan Imam Mahdi telah melimpahkan tanggung jawab kepemimpinannya yang mencakup urusan kegagaamn dan kemasyarakatan itu kepada para fukaha yang bersifat adil dan mempunyai kemampuan memimpin. 
Dalam pada itu, karena para fukaha ini adalah penerus kepemimpinan Imam Mahdi selama masa kegaibannya, maka wewenang atau kekuasaan yang dimilikinya terhadap umat pun sangat besar. Umat harus patuh dan tidak boleh melanggar perintah mereka karena menolak mereka sama dengan menolak kepemimpinan Imam Mahdi itu sendiri. Akan tetapi, para fukaha ini sekalipun dianggap mempunyai kekuasaan yang cukup besar, tetapi tidak diyakini maksum karena sifat 'ishmah itu hanya dimiliki para imam dan nabi. Para fukaha itu bukan imam, melainkan na'ib al-imam atau wakil imam pada umat. Dalam tradisi Syiah Dua Belas, para fukaha ini juga disebut marja' dini (narasumber dalam soal agama).

Raj'ah.

Kata raj'ah berasal dari kata raja'a, yang artinya pulang atau kembali. Raj'ah adalah keyakinan akan dihidupkannya kembali sejumlah hamba Allah SWT yang paling saleh dan sejumlah hamba Allah SWT yang paling durhaka untuk membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT di muka bumi, bersamaan dengan munculnya Imam Mahdi. 


Wednesday, October 7, 2015

Tarikh Syiah 7




Al-Bada'.

Dari segi bahasa bada' berarti tampak. Doktrin al-bada' adalah keyakinan bahwa Allah SWT mampu mengubah suatu peraturan atau keputusan yang telah ditetapkan-Nya dengan peraturan atau keputusan baru. Menurut Syiah, perubahan keputusan Allah SWT itu bukan karena Allah SWT baru mengetahui sesuatu maslahat, yang sebelumnya tidak diketahui-Nya (seperti yang sering dianggap oleh berbagai pihak). Dalam Syiah keyakinan semacam ini termasuk kufur.
Ja'far as-Sadiq menyatakan, "Barangsiapa yang mengatakan bahwa Allah SWT baru mengetahui sesuatu yang tidak diketahui-Nya, dan karenanya Ia menyesal, maka orang itu bagi kami telah kafir kepada Allah SWT." 
Menurut Syiah, perubahan itu karena adanya maslahat tertentu yang menyebabkan Allah SWT memutuskan suatu perkara sesuai dengan situasi dan kondisi zamannya. Misalnya, keputusan Allah SWT menggantikan Ismail AS dengan domba, padahal sebelumnya Ia memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk menyembelih anaknya, Ismail AS.

'Asyura.

'Asyura berasal dari kata 'asyarah, yang berarti sepuluh. Maksudnya adalah hari kesepuluh dalam bulan Muharam yang diperingati kaum Syiah sebagai hari berkabung umum untuk memperingati wafatnya Imam Husein bin Ali dan keluarganya di tangan pasukan Yazid bin Mu'awiyah bin Abu Sufyan pada tahun 61 H di Karbala, Irak. Pada upacara peringatan 'asyura tersebut, selain mengenang perjuangan Husein bin Ali dalam menegakkan kebenaran, orang-orang Syiah membaca selawat bagi Nabi Muhammad SAW dan keluarganya, mengutuk pelaku pembunuhan terhadap Husein dan keluarganya itu, serta memperagakan berbagai atraksi (seperti memukul-mukul dada dan mengusung-usung peti mayat) sebagai lambang kesedihan terhadap wafatnya Husein bin Ali. Di Indonesia, upacara 'asyura juga dilakukan di berbagai daerah seperti di Bengkulu dan di Padang Pariaman, Sumatra Barat, dalam bentuk arak-arakan tabut.


Imamah.

Imamah adalah keyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW wafat harus ada pemimpin-pemimpin Islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi Muhammad SAW. Dalam Syiah kepemimpinan itu mencakup persoalan-persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Imam bagi mereka adalah pemimpin agama dan sekaligus sebagai pemimpin masyarakat. Pada umumnya, dalam Syiah, kecuali pada Syiah Zaidiah, penentuan imam bukan berdasarkan atas kesepakatan atau pilihan umat, tetapi berdasarkan wasiat atau penunjukan oleh imam sebelumnya atau oleh Rasulullah SAW langsung, yang lazim disebut nas. Oleh karena itu, persoalan imamah dalam Syiah termasuk salah satu rukun agama atau ushuluddin. Sementara itu, persoalan imamah dalam Suni hanya merupakan masalah furuk (hukum tambahan). Dalam Suni istilah ini lebih populer dengan sebutan khilafah. Persoalan khilafah dalam Suni lebih dikaitkan pada persoalan kepemimpinan politik daripada sebagai persoalan keagamaan.

'Ishmah.

Dari segi bahasa 'ishmah adalah bentuk masdar dari kata 'ashama yang berarti memelihara atau menjaga. 'Ishmah ialah kepercayaan bahwa para imam itu, termasuk Nabi Muhammad SAW, telah dijamin oleh Allah SWT dari segala bentuk perubatan salah atau lupa. Nabi SAW atau imam yang diyakini terlepas dari kesalahan itu disebut maksum. Dalam Syiah, seorang nabi atau imam haruslah bersifat maksum. Menurut mereka, apabila seseorang yang mendapat tugas membawa amanah Allah SWT itu tidak bersifat maksum maka akan timbul keraguan atas kebenaran risalah atau amanah yang dibawanya itu.


Tuesday, October 6, 2015

Tarikh Syiah 6




Sebagian ulama berpendapat, Kaum Gulat tidak dapat digolongkan dalam kelompok Syiah karena mereka telah jauh menyimpang dari ajaran Islam terutama dalam masalah tauhid. Di antara mereka ada yang menyalahkan atau bahkan mengutuk Ali bin Abi Talib karena tidak menuntut haknya sebagai pengganti atau khalifah sesudah Nabi Muhammad SAW. Hal ini berlawanan dengan ajaran Syiah, karena inti ajaran Syiah justru memuliakan Ali bin Abi Talib.
Dalam Syiah sendiri, sebagaimana yang disebutkan Ibnu Khaldun dan ulama-ulama Syiah, Kaum Gulat dipandang sebagai golongan yang sesat dan tidak diakui sebagai sekte Syiah, bahkan juga tidak sebagai golongan Islam sekalipun. Dalam sebuah riwayat Syiah disebutkan bahwa suatu hari Bisyar as-Syairi, seorang Gulat, datang ke rumah Ja'far as-Sadiq, Imam Ja'far mengusirnya seraya berkata, "Sesungguhnya Allah telah melaknatmu. Demi Allah, aku tidak suka seatap denganmu." Ketika as-Syairi keluar, Ja'far as-Sadiq berkata kepada pengikutnya, "Celakalah dia. Ia adalah setan, anak dari setan. Dia lakukan ini untuk menyesatkan sahabat dan Syiahku; maka hendaklah berhati-hati terhadapnya. Orang-orang yang telah tahu akan hal ini hendaknya menyampaikan kepada orang lain bahwa aku adalah hamba Allah dan anak seorang perempuan, hamba-Nya. Aku dilahirkan dari perut seorang wanita. Sesungguhnya aku akan mati dan dibangkitkan kembali pada hari kiamat, dan aku akan ditanya tentang perbuatan-perbuatanku."
Kaum Gulat dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan, yaitu golongan as-Sabaiyah dan golongan al-Gurabiyah. Golongan as-Sabaiyah, berasal dari nama Abdullah bin Saba, adalah golongan yang menganggap bahwa Ali bin Abi Talib adalah jelmaan dari Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri. Menurut mereka, sesungguhnya Ali masih hidup. Yang terbunuh di tangan Abdur Rahman bil Muljam di Kufah itu sesungguhnya bukanlah Ali, melainkan seseorang yang diserupakan Tuhan dengan Ali. Menurut mereka, Ali telah naik ke langit dan di sanalah tempatnya. Petir adalah suaranya dan kilat adalah senyumnya. 
Adapun golongan al-Gurabiyah adalah golongan yang tidak seekstrem as-Sabaiyah dalam memuja Ali bin Abi Talib. Menurut mereka, Ali adalah manusia biasa, tetapi dialah seharusnya yang menjadi utusan Allah SWT, bukan Nabi Muhammad SAW. Namun karena Malaikat Jibril salah alamat, sehingga wahyu yang seharusnya ia sampaikan kepada Ali malah ia sampaikan kepada Muhammad SAW, maka akhirnya Allah SWT mengangkat Muhammad SAW.
Akhir-akhir ini muncul beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Murtaza Askari dan Taha Husein, yang menyimpulkan bahwa sebenarnya tokoh yang bernama Abdullah bin Saba itu adalah tokoh fiktif yang tidak pernah ada dalam sejarah Islam. Dalam sejarah, Abdullah bin Saba dikatakan sebagai penganut agama Yahudi, kemudian masuk Islam pada masa Usman bin Affan. Ia menghasut umat Islam untuk memberontak terhadap Usman dan menimbulkan keonaran di kalangan umat Islam. Di antara keberatan-keberatan terhadap adanya tokoh ini adalah begitu besarnya pengaruh yang dimilikinya terhadap umat Islam, bahkan terhadap sahabat-sahabat.

Doktrin-Doktrin Syiah

Paham Syiah memiliki sejumlah doktrin penting yang terutama berkaitan dengan masalah imamah.
Ahlulbait (Ahl al-Bait).
Secara harfiah ahlulbait berarti keluarga atau kerabat dekat. Dalam sejarah Islam, istilah itu secara khusus dimaksudkan kepada keluarga atau kerabat Nabi Muhammad SAW. Ada tiga bentuk pengertian ahlulbait. Pertama, mencakup istri-istri Nabi Muhammad SAW dan seluruh Bani Hasyim. Kedua, hanya Bani Hasyim. Ketiga, terbatas pada Nabi Muhammad SAW sendiri, Ali, Fatimah, Hasan, Husein, dan imam-imam dari keturunan Ali bin Abi Talib. Dalam Syiah bentuk terakhirlah yang lebih populer.
Istilah ahlulbait tercantum dalam Al-Qur'an yaitu pada surah al-Ahzab ayat 33 yang berarti : "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." Beberapa hadis juga ada yang membicarakan keutamaan ahlulbait.