Saturday, December 13, 2014

hakikat menyintai AhlulBAit rasulallah saww








Hakikat Ahlul bait dan kecintaan kepada nya ( 1 )
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى الهم وازوجه وذريته واهل بيته واصحا به وبا رك وسلم

Kepada kaum Muslimin beliau Rasulullah saw. menganjurkan agar berdoa:
"Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada Aal Muhammad , sebagaimana yang telah Engkau limpahkam shalawat kepada Ibrahim dan Aal Ibrahim.
Sungguhlah Engkau Maha Terpuji dan Maha agung. Berkatilah Muhammad dan Aal Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan Aal Ibrahim."
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ka'ah bin Syajarah
menuturkan, "Ketika turun ayat: SesungguhnyaAllah dan para malaikat-Nya bershalawat
untuk Nabi. W'ahai orang-orang beriman, hendaklah kalian bersholawat untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan baginya (QS. al-Ahzab: 56)

Kami, para sahabat; bertanya, `Kami tahu bagaimana cara kami mengucapkan salam kepadamu. Bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu ya Rasulullah?' Beliau
menjawab: ucapkanlah: " Ya Allah, limpahkanlah shalawatkepada Muhammad dan kepada Aal Muhammad."

" Sesungguhnya Do'a dapat terhalang, bisa jadi tertolak, kecuali di sertai sholawat atas
Nabi dan atas keluarga Nabi Muhammad SAW."
( H.R Imam Ad Dailamy )

Hadis yang lain lagi menuturkan bahwasanya Rasulullah saw. mengingatkan para sahabat: " Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat buntung, ."
Para sahabat bertanya, "Apakah yang dimaksud dengan
shalawat buntung.?" Beliau saw. menjawab:
"Kalian mengucapkan: Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, lantas kalian berhenti di situ. Ucapkanlah: Ya Allah Limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada Aal Muhammad ( keluarga muhammad )."
(Hadis diketengahkan oleh Mahmud Syarqawi di dalam kitab Sayyidatu Zainab r.a., halaman 21).

Imam Syafi'i r. a. berkata dalam dua bait syairnya:
Wahai .Ahlul Bait Rasulullah, cinta kepada kalian adalah kewajiban yang diturunkan Allah dalam Al- Quran Cukuplah bukti betapa tinggi nilai kalian. Tiada
salat bagi orang yang salat tanpa shalawat.
Imam Syafi'i berkata lebih jauh, "Para anggota keluarga Rasulullah saw adalah mereka yang diharamkan menerima sedekah/zakat."

Demikian pula yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbali dan para ulama yang lain,
karena Nabi saw. sendiri telah menegaskan hal itu.
"Pribadi beliau sendiri dan para anggota Ahlul Baitnya diharamkan menerima sedekah/zakat. Di dalam Alquran Allah telah berfirman bahwasanya Allah semata-mata
hendak menghapus rijs (noda, kotoran) dari para Ahlul Bait dan hendak menyucikan mereka sesuci-sucinya (ayat 33, surah al Ahzab). Allah mengharamkan mereka
menerima sedekah/zakat, karena sedekah/zakat dapat dipandang sebagai kotoran yang melekat pada orang lain (yakni, sedekah/zakat merupakan sarana untuk membersihkan diri dari dosa)."

Setelah menunjuk beberapa kitab Musnad dan hadis- hadis, Ibnu Taimivyah mengetengahkan jawaban Rasulullah saw. kepada pamannya. `Abbas, ketika la
mengadu kepada beliau saw. tentang perlakuan kasar sementara orang terhadap dirinya. Ketika itu Rasulullah saw. menjawab:
"Demi Allah Yang nyawaku berada di tangan-Nya, mereka
tidak akan masuk surga sebelum mereka mencintai kalian demi karena aku."

Kemudian Ibnu Taimiyyah mengemukakan hadis Rasulullah
yang menegaskan kemuliaan martabat beliau:
"Allah memiiih anak-cucu keturunan (Bani) Ismail, dan anak-cucu keturunan Kinanah dari Bani Ismail, kemudian memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih Bani Hasyim
dari Quraisy, lalu memilihku dari keturunan Bani Hasyim."

Di dalam kitabal-Aqidah al-Wasithiyyah, Ibnu Taimyyah dengan tegas membenarkan sikap dan pandangan kaum Ahli as-Sunnah terhadap Ahlul Bait Rasululiah saw. la
mengatakan, "Mereka rnencintai Ahlul Bait Rasululiah saw. yang oleh mereka dipandang sebagai para pemimpin yang hak-haknya harus dijaga baik-baik berdasarkan wasiat Nabi saw yang diucapkan di Ghadir Khum, :
" Kalian ku ingatkan kepada Allah mengenai Ahlul Baitku."'
IbnuTaimiyyah menegaskan hal itu setelah menyatakan sikapnya yang sama sekali tidak membenarkan pandangan , kaum Rawafidh' yang sangat membenci dan mencerca para
sahabat Nabi pandangan kaum Nawashib yang selalu menggangu Ahlul Bait, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan.

Dalam kitabnya yang berjudul Risalah Darajdh al-Yaqin,
halaman 149, Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Bagi manusia tak ada kecintaan yang lebih besar, lehih sempurna, dan lebih lengkap daripada kecintaan orang-orang beriman yang ditumpahkan kepada Allah, Tuhan mereka. Di alam wujud ini tidak ada apapun yang berhak dicintai tanpa karena Allah. Kecintaan kepada sesuatu wajib berlandaskan semata-mata demi karena Allah, ditaati demi karena Allah, dan
diikutipun demi karena Allah. Yaitu sebagaimana Allah SWT sendiri menegaskan di dalam firman-Nya:

[3.31] Katakanlah: "Jika ...

...kamu (benar- benar) mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa- dosamu." Allah Maha Pengampun lagiMaha Penyayang.

Di dalam Rasalah Tafsir al- Mu'awwidztain, Ibnu Taimiyyah menjelaskan masalah keistimewaan ahlul-kisa' sebagai Ahlul Bait RasuIullah .saw. la mengatakan,
"Sama halnya dengan pernyataan Rasulullah saw. yang menerangkan bahwa masjid yang didirikan atas dasar takwa adalah masjidku.' Padahal mengenai hal itu
Alquran telah memastikan bahwa. yang dimaksud adalah Masjid Quba. Demikian pula ucapan Rasulullah saw.

kepada ahlul-kisa' yang menegaskan bahwa `mereka itu adalah Ahlul Bait-ku.' Padahal ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan Ahlul Bait (ayat 33 surah al-Ahzab),
pengertiannya mencakup para istri Nabi-radhiyallahu `anhuma. Mengenai masalah-masalah seperti itu, pengkhususan sesuatu yang perlu dikhususkan memang lebih baik dari pada hanya diutarakan keumuman sifat-sifatnya saja." 

No comments:

Post a Comment