Monday, October 5, 2015

Tarikh Syiah 5




Golongan Itsna 'Asyariyah percaya bahwa kedua belas imam tersebut adalah maksum (manusia-manusia suci). Apa yang dikatakan dan dilakukan mereka tidak akan bertentangan dengan kebenaran karena mereka selalu dijaga Allah SWT dari perbuatan-perbuatan salah dan bahkan dari kelupaan.
Menurut Syiah Dua Belas, jabatan imamah berakhir pada Imam Muhammad al-Muntazar bin Hasan al-Askari. Sesudah itu, tidak ada imam-imam lagi sampai hari kiamat. Namun, Imam Muhammad al-Muntazar bin Hasan al-Askari ini atau yang lebih dikenal dengan sebutan Imam Mahdi, diyakini belum mati sampai saat ini. Menurut mereka Imam Mahdi masih hidup, tetapi tidak dapat dijangkau oleh umum dan nanti pada akhir zaman Imam Mahdi akan muncul kembali. Dengan kata lain, Imam Muhammad al-Muntazar diyakini gaib.
Menurut Syiah Dua Belas, selama dalam masa kegaiban Imam Mahdi, jabatan kepemimpinan umat, baik dalam urusan keagamaan maupun urusan kemasyarakatan dilimpahkan kepada fukaha (ahli hukum Islam) atau mujtahid (ahli agama Islam yang telah mencapai tingkat ijtihad mutlak). Fukaha atau mujtahid ini harus memenuhi tiga kriteria. Pertama, faqahah, yaitu ahli dalam bidang agama Islam. Kedua, 'adalah (adil), takwa, dan istiqamah (konsisten) dalam menjalankan aturan-aturan agama. Ketiga, kafa'ah, yaitu memiliki kemampuan memimpin dengan baik. Mujtahid atau fakih yang menggantikan jabatan Imam Mahdi itu disebut na'ib al-imam, atau wakil imam. Ayatullah Rohullah Khomeini, misalnya, adalah salah seorang na'ib al-imam tersebut.
Sebagai sekte Syiah terbesar, kelompok Syiah Dua Belas sebenarnya bukan golongan Imamiyah atau golongan yang hanya memusatkan perhatian pada persoalan imamah semata, tetapi juga merupakan golongan yang terlibat aktif dalam pemikiran-pemikiran keislaman lainnya seperti teologi, fikih dan filsafat. Dalam teologi, sekte Itsna 'Asyariyah ini dekat dengan golongan Muktazilah, tetapi dalam persoalan pokok-pokok agama mereka berbeda. Pokok-pokok agama menurut Syiah Dua Belas ini adalah at-tauhid (tauhid), al-'adl (keadilan), an-nubuwwah (wahyu, kenabian), al-imamah (kepemimpinan), dan al-ma'ad (tempat kembali setelah meninggal). Sementara itu dalam bidang fikih, mereka tidak terikat pada satu mazhab fikih mana pun. Menurut sekte ini, selama masa kegaiban Imam Mahdi urusan penetapan hukum Islam harus melalui ijtihad dengan berlandaskan pada Al-Qur'an, hadis atau sunah Nabi Muhammad SAW, hadis atau sunah Imam Dua Belas, ijmak, dan akal.
Sekte Ismailiyah, sekte terbesar kedua dalam golongan Imamiyah, adalah golongan yang mengakui bahwa Ja'far as-Sadiq telah menunjuk Isma'il, anaknya, sebagai imam penggantinya sesudah ia wafat. Akan tetapi, karena Isma'il bin Ja'far as-Sadiq telah meninggal lebih dahulu maka sebenarnya penunjukan itu dimaksudkan kepada anak Isma'il, yaitu Muhammad bin Isma'il. Muhammad bin Isma'il lebih dikenal dengan sebutan Muhammad al-Maktum (Ar.: al-maktum = menyembunyikan diri). 
Golongan Ismailiyah berpendapat, selama seorang imam belum mempunyai kekuatan yang cukup untuk mendirikan kekuasaan maka imam tersebut perlu menyembunyikan diri; baru setelah merasa cukup kuat ia akan keluar dari persembunyiannya. Selama masa persembunyiannya itu, sang imam memerintahkan utusan-utusannya untuk menggalang kekuatan. Oleh karena itu, beberapa imam sesudah Muhammad al-Maktum selalu menyembunyikan diri sampai masa Abdullah al-Mahdi yang kemudian berhasil mendirikan dan menjadi khalifah pertama Dinasti Fatimiyah di Mesir. Imam yang menyembunyikan diri ini disebut al-imam al-maur.
Sebagian dari penganut sekte ini percaya bahwa sebenarnya Isma'il bin Ja'far tidak meninggal dunia, melainkan hanya gaib dan akan kembali lagi ke dunia nyata pada akhir zaman. Mereka disebut sekte as-Sab'iyah atau golongan yang mempercayai tujuh imam. Untuk sekte ini, imam terakhir adalah Isma'il bin Ja'far.
Golongan Ismailiyah sampai saat ini masih ada, namun jumlah mereka sedikit sekali. Pengikut sekte ini terutama di India. Aga Khan adalah salah seorang imam Ismailiyah.

Kaum Gulat.

Kaum Gulat adalah golongan yang berlebih-lebihan dalam memuja Ali bin Abi Talib atau imam-imam lain dengan menganggap bahwa para imam tersebut bukan manusia biasa, melainkan jelmaan Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri. Menurut al-Bagdadi, kaum Gulat telah ada sejak masa Ali bin Abi Talib. Mereka memanggil Ali dengan sebutan "anta, anta" yang berarti "engkau, engkau". Yang dimaksud di sini adalah : engkau adalah Tuhan. Menurut al-Bagdadi, sebagian dari mereka sempat dibakar hidup-hidup oleh Ali bin Abi Talib. Tetapi pemimpin mereka, Abdullah bin Saba, hanya dibuang ke Madain.


Sunday, October 4, 2015

Tarikh Syiah 4




Dari segi teologi, penganut paham Zaidiah ini beraliran teologi Muktazilah. Oleh karena itu, tidak heran kalau sebagian tokoh-tokoh Muktazilah, terutama Muktazilah Baghdad, berasal dari kelompok Zaidiah. Di antaranya adalah Qadi Abdul Jabbar, tokoh Muktazilah terkenal yang menulis kitab Syarh al-Ushul al-Khamsah. Hal ini bisa terjadi karena adanya hubungan yang dekat dengan pendiri Muktazilah, Wasil bin Ata, dan Imam Zaid bin Ali. Akibatnya muncul kesan bahwa ajaran-ajaran Muktazilah berasal dari Ahlulbait atau bahkan sebaliknya, justru Zaid bin Ali yang terpengaruh oleh Wasil bin Ata sehingga ia mempunyai pandangan-pandangan yang dekat dengan sunah.
Sekte-sekte yang berasal dari golongan Zaidiah yang muncul kemudian adalah Jarudiyah, Sulaimaniyah, dan Batriyah atau as-Salihiyah.
Sekte Jarudiyah adalah pengikut Abi Jarud Ziyad bin Abu Ziyad. Sekte ini menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW telah menentukan Ali sebagai pengganti atau imam setelahnya. Akan tetapi penentuannya tidak dalam bentuk yang tegas, melainkan dengan isyarat (menyinggung secara tidak langsung) atau dengan al-wasf (menyebut-nyebut keunggulan Ali dibandingkan yang lainnya).
Sekte Sulaimaniyah adalah pengikut Sulaiman bin Jarir. Sekte ini beranggapan bahwa masalah imamah adalah urusan kaum muslimin, yaitu dengan sistem musyawarah sekalipun hanya oleh dua tokoh muslim. Bagi mereka, seorang imam tidak harus merupakan yang terbaik di antara kaum muslimin. Oleh karena itu, sekalipun yang layak jadi khalifah sesudah Nabi Muhammad SAW adalah Ali bin Abu Talib, akan tetapi kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah sah. Hanya dalam hal ini umat telah melakukan kesalahan karena tidak memilih Ali. Namun, mereka tidak mengakui kepemimpinan Usman bin Affan karena menurut mereka Usman telah menyimpang dari ajaran Islam. Sekte Sulaimaniyah ini juga disebut al-Jaririyah.
Sekte Batriyah atau as-Salihiyah adalah pengikut Kasir an-Nu'man al-Akhtar atau pengikut Hasan bin Saleh al-Hayy. Pandangan mereka mengenai imamah sama dengan pandangan sekte Sulaimaniyah. Hanya saja dalam masalah Usman bin Affan, sekte Batriyah tidak memberikan sikapnya. Mereka berdiam diri atau tawaqquf. Menurut al-Bagdadi (ahli usul fikih), sekte ini adalah sekte Syiah yang paling dekat dengan Ahlusunah. Oleh karena itu, Imam Muslim meriwayatkan beberapa hadis dalam kitabnya Sahih Muslim dari Hasan bin Saleh al-Hayy.



Golongan Imamiyah.

Imamiyah adalah golongan yang meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW telah menunjuk Ali bin Abi Talib sebagai imam penggantinya dengan penunjukan yang jelas dan tegas. Oleh karena itu, mereka tidak mengakui keabsahan kepemimpinan Abu Bakar, Umar, maupun Usman. Bagi mereka, persoalan imamah adalah salah satu persoalan pokok dalam agama atau ushuluddin.
Sekte Imamiyah pecah menjadi beberapa golongan. Yang terbesar adalah golongan Itsna 'Asyariyah atau Syiah Dua Belas. Golongan kedua terbesar adalah golongan Ismailiyah. Dalam sejarah Islam, kedua golongan sekte Imamiyah ini pernah memegang puncak kepemimpinan politik Islam. Golongan Ismailiyah berkuasa di Mesir dan Baghdad. Di Mesir, golongan Ismailiyah berkuasa melalui Dinasti Fatimiyah. Pada waktu yang sama, golongan Itsna 'Asyariyah dengan Dinasti Buwaihi menguasai kekhalifahan Abbasiyah selama kurang lebih satu abad.
Semua golongan yang bernaung dengan nama Imamiyah ini sepakat bahwa imam pertama adalah Ali bin Abi Talib, kemudian secara berturut-turut Hasan, Husein, Ali bin Husein, Muhammad al-Baqir, dan Ja'far as-Sadiq. Sesudah itu mereka berbeda pendapat mengenai siapa imam pengganti Ja'far as-Sadiq. Di antara mereka ada yang meyakini bahwa jabatan imamah tersebut pindah ke anaknya, Musa al-Kazim. Keyakinan ini kemudian melahirkan sekte Itsna 'Asyariyah atau Syiah Dua Belas. Sementara yang lain meyakini bahwa  imamah pindah ke putra Ja'far as-Sadiq, Isma'il bin Ja'far as-Sadiq, sekalipun ia telah meninggal dunia sebelum Ja'far as-Sadiq sendiri. Mereka ini disebut golongan Ismailiyah. Sebagian lain menganggap bahwa jabatan imamah berakhir dengan meninggalnya Ja'far as-Sadiq. Mereka disebut golongan al-Waqifiyah atau golongan yang berhenti pada Imam Ja'far as-Sadiq.
Sekte Itsna 'Asyariyah atau Syiah Dua Belas merupakan sekte terbesar Syiah dewasa ini. Sekte ini meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW telah menetapkan dua belas orang imam sebagai penerus risalahnya, yaitu (1) Ali bin Abi Talib, (2) Hasan bin Ali, (3) Husein bin Ali, (4) Ali bin Husein Zainal Abidin, (5) Muhammad al-Baqir, (6) Ja'far as-Sadiq, (7) Musa al-Kazim, (8) Ali ar-Rida, (9) Muhammad al-Jawad, (10) Ali al-Hadi, (11) Hasan al-Askari, dan (12) Muhammad al-Muntazar (al-Mahdi).


Saturday, October 3, 2015

Tarikh Syiah 3




Golongan Kaisaniyah.

Kaisaniyah adalah sekte Syiah yang mempercayai kepemimpinan Muhammad bin Hanafiyah setelah wafatnya Husein bin Ali. Nama Kaisaniyah diambil dari nama seorang bekas budak Ali bin Abi Talib, Kaisan, atau dari nama Mukhtar bin Abi Ubaid yang juga dipanggil dengan nama Kaisan.
Sekte Kaisaniyah terpecah menjadi dua kelompok. Pertama, yang mempercayai bahwa Muhammad bin Hanafiyah sebenarnya tidak mati, tetapi hanya gaib dan akan kembali lagi ke dunia nyata pada akhir zaman. Mereka menganggap, Muhammad bin Hanafiyah adalah Imam Mahdi yang dijanjikan itu. Yang termasuk golongan Kaisaniyah di antaranya sekte al-Karabiyah, pengikut Abi Karb ad-Darir. Kedua, kelompok yang mempercayai bahwa Muhammad bin Hanafiyah telah mati, tetapi jabatan imamah beralih kepada Abi Hasyim bin Muhammad bin Hanafiyah. Yang termasuk kelompok ini adalah sekte Hasyimiyah, pengikut Abi Hasyim. Sekte ini terpecah-pecah setelah meninggalnya Abi Hasyim.
Menurut Ibnu Khaldun, di antara sekte Hasyimiyah yang pecah menjadi beberapa kelompok tersebut adalah para penguasa pertama Dinasti Abbasiyah, yaitu Abu Abbas as-Saffah dan Abu Ja'far al-Mansur. Ibnu Khaldun selanjutnya menyatakan bahwa setelah meninggalnya Abi Hasyim, jabatan imamah berpindah kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, kemudian secara berturut-turut kepada Ibrahim al-Imam, as-Saffah, dan al-Mansur.
Sekte Kaisaniyah ini telah lama musnah. Namun, kebesaran dan kehebatan nama Muhammad bin Hanafiyah ini masih dapat dijumpai dalam cerita-cerita rakyat, seperti yang terdapat dalam cerita-cerita rakyat Aceh dan hikayat Melayu yang terkenal, Hikayat Muhammad Hanafiah. Hikayat ini telah dikenal di Malaka sejak abad ke-15.

Golongan Zaidiah.

Zaidiah adalah sekte dalam Syiah yang mempercayai kepemimpinan Zaid bin Ali bin Husein Zainal Abidin setelah kepemimpinan Husein bin Ali. Mereka tidak mengakui kepemimpinan Ali bin Husein Zainal Abidin seperti yang diakui sekte Imamiyah, karena menurut mereka Ali bin Husein Zainal Abidin dianggap tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin.
Dalam Zaidiah, seseorang baru diangkat sebagai imam apabila memenuhi lima kriteria, yakni keturunan Fatimah binti Muhammad SAW, berpengetahuan luas tentang agama, zahid (hidup hanya dengan beribadah), berjihad di jalan Allah SWT dengan mengangkat senjata, dan berani. Disebutkan bahwa sekte Zaidiah mengakui keabsahan khilafah atau imamah Abu Bakar as-Siddiq (khalifah pertama), dan Umar bin Khattab (khalifah kedua).
Dalam teologi mereka disebutkan bahwa mereka tidak menolak prinsip imamah al-mafdhul ma'a wujud al-afdhal, yaitu bahwa seseorang yang lebih rendah tingkat kemampuannya dibanding orang lain yang sezaman dengannya dapat menjadi imam atau pemimpin, sekalipun orang yang lebih tinggi dari dia itu masih ada. Dalam hal ini, Ali bin Abi Talib dinilai lebih tinggi daripada Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Oleh karena itu, sekte Zaidiah ini dianggap sekte Syiah yang paling dekat dengan sunah.
Dalam persoalan imamah, sekte Zaidiah ini berbeda pendapat dengan sekte Itsna 'Asyariyah atau Syiah Dua Belas yang mengaggap bahwa jabatan imamah harus dengan nas. Menurut Zaidiah, imamah tidak harus dengan nas tetapi boleh dengan ikhtiar atau pemilihan.


Friday, October 2, 2015

Amalan Eid Ghadir Khum

📚Amalan Hari Eidul Ghadir :

1. Puasa -
-menghapus dosa selama enam puluh tahun.
-menyamai seratus kali haji dan seratus kali umrah.
2. Mandi.
3. Ziarah Amirul Mukminin as :
-ziarah Aminullah (boleh dibaca dari jarak dekat ataupun jauh),
-ziarah Jâmi’ah Kabîrah.
4. Mandi.
5. Membaca doa Nudbah.
6. Mengucapkan ucapan selamat berikut kepada saudara semukmin:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَنَا مِنَ الْمُتَمَسِّكِينَ

بِوِلاَيَةِ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْأَئِمَّةِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ

Maksud : Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kami dari kalangan orang-orang yang berpegang teguh kepada wilayah Amirul Mu’minin dan Imam-imam yang lain as.

Dan juga mengucapkan :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَكْرَمَنَا بِهَذَا الْيَوْمِ وَ جَعَلَنَا مِنَ

الْمُوْفِيْنَ بِعَهْدِهِ إِلَيْنَا وَ مِيْثَاقِهِ الَّذِيْ وَاثَقَنَا بِهِ مِنْ

   ِوِلاَيَةِ وُلاَةِ أَمْرِه

Segala Puji bagi Allah yang telahmemulyakan kami dengan perantara hari ini dan menjadikan kami orang-orang yangmenepati janji-Nya yang telah diserahkan kepada kami atau janji yang Ia ambildari kami,yaitu berwilayah kepada wali-wali-Nya.

وَ الْقُوَّامِ بِقِسْطِهِوَ لَمْ يَجْعَلْنَا مِنَ الْجَاحِدِيْنَ وَ

الْمُكَذِّبِيْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِ

Maksud : Dan para penegak keadilanNya dan tidak menjadikan kami dari orang-orang yang menentang dan mengingkari hari Qiamat.
7. Membaca doa ini sebanyak 100 kali :

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ كَمَالَ دِيْنِهِ وَ تَمَامَ نِعْمَتِهِ

بِوِلاَيَةِ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَعَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ عَلَيْهِ

السَّلاَمُ

Maksud : Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama dan nikmatNya dengan wilayah Amirul Mu’minin Ali bin Abi Talib as.
8. Berbuat kebajikan dan kebaikan.
9. Berhias diri dengan memakai wewangian.
10. Menggembirakan syi’ah Amirul Mukminin as :
-memaafkan kesalahan-kesalahan mereka,
-memenuhi keperluan dan hajat mereka,
-menyambung tali silaturrahmi,
-memberi nafkah kepada keluarga,
-memberi makan kepada para mukminin,
-memberi makan kepada orang yang berpuasa,
-bersalam-salaman dengan para mukminin,
-mengunjungi mereka,
-menghadiahkan senyuman kepada mereka,
-memberi hadiah kepada mereka. 11. Bersyukur kepada Allah atas nikmat wilayah.
12. Memperbanyakkan selawat dan ibadah. Semua amalan dan ibadah memiliki pahala yang luar biasa :
-Satu Dirham yang diberikan seseorang kepada saudaranya yang mukmin pada hari al Ghadir sama dengan memberi seratus ribu Dirham di hari lain,
-memberi makan kepada seorang mukmin pada hari ini seperti memberi makan kepada seluruh para Nabi dan Shiddiqin,
-Dalam khutbah Amirul Mukminin as disebutkan : “Di hari Ghadir Khum, siapa saja yang memberi makan kepada orang mukmin yang berpuasa di waktu berbuka bererti umpama ia telah memberi makan kepada sepuluh FI'AM. Ada yang bertanya kepadanya : Apa makna FI'AM wahai Amiral Mukminin? Baginda as menjawab : 1000 orang Nabi, Shiddiq dan Syahid."
13. Keutamaan hari Eidul Ghadir tidak mampu dihitung. Eidul Ghadir adalah :
-hari diterima amalan para syiah dan disingkapkan kesusahan mereka,
-hari kemenangan Nabi Musa as atas para ahli sihir,
-hari Allah swt mendinginkan api buat Nabi Ibrahim al-Khalil as,
-hari Nabi Musa as melantik Yusya’ bin Nun sebagai wasinya,
-hari Nabi Isa as mengangkat Syam’un al-Shafâ sebagai wasinya,
-hari Nabi Sulaiman as mengambil penyaksian dari kaumnya untuk pengangkatan khalifahnya, 'Asif bin Barkhiya,
-dan hari Rasulullah saw mempersaudarakan para sahabatnya.
14. Oleh kerana itu, amat digalakkan pada hari al Ghadir untuk kita melakukan 'aqad ukhuwwah dengan saudara mukmin yang lain. Caranya seperti  yang dinukil oleh Syeikh Thusi ra iaitu dengan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kanan saudara mukminnya sambil mengucapkan :

وَآخَيْتُكَ فِي اللهِ وَصَافَيْتُكَ فِي اللهِ وَ صَافَحْتُكَ

فِي اللَّهِ وَ عَاهَدْتُ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَ كُتُبَهُ وَ رُسُلَهُ

Maksud : Aku bersaudara denganmu demi Allah, berteman denganmu demi Allah, berjabat tangan denganmu demi Allah dan aku berjanji kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya,

وَأَنْبِيَاءَهُ وَ الْأَئِمَّةَ الْمَعْصُومِيْنَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ عَلَى

أَنِّيْ إِنْ كُنْتُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَ الشَّفَاعَةِ وَ أُذِنَ

لِيْ بِأَنْ

para nabiNya serta para Imam yang maksum, jika aku termasuk dari kalangan ahli syurga dan layak mendapat syafaat serta diizinkan untuk

أَدْخُلَ الْجَنَّةَ لاَ أَدْخُلُهَا إِلاَّ وَ أَنْتَ مَعِيْ

masuk syurga, maka aku tidak akan masuk ke dalamnya kecuali engkau turut bersamaku.

Lalu saudara yang mukmin tadi akan menjawab :

قَبِلْتُ (saya terima).

Kemudian mengatakan :

أَسْقَطْتُ عَنْكَ جَمِيْعَ حُقُوْقِ الْأُخُوَّةِ مَا خَلاَ

الشَّفَاعَةَ وَ الدُّعَاءَ وَ الزِّيَارَةَ

Maksud : Aku gugurkan semua hak-hak persaudaraan kecuali syafaat, doa dan ziarah.💐🌷🌹®

Eid Ghadir Khum

Ghadir Khum
Antara Hakkaniyah dan Maqbuliyah

 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِيناً 
. ( سورة المائدة :3 )
“hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian dan Aku telah melengkapkan ke atas kalian nikmatKu dan Aku telah ridha Islam sebagai agama untuk kalian” ( Al Maidah 3 )
Ayat di atas mengisyarahkan peristiwa penting berlaku pada ‘hari’ ( Al Yaum ):
Kesempurnaan agama
Dilengkapkan nikmat
Allah meredhai Islam sebagai agama
Di sini muncul beberapa pertanyaan: apa makna disempurnakan, apa makna dilengkapkan dan apa makna ridha?  Tetapi yang lebih penting dari itu adalah memahami erti Agama dan Islam terlebih dahulu.  Apa bila kita kembali melihat di dalam Al Quran, kita akan dapati bahawa satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah hanya Islam.
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلامُ ... وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam… Sesiapa yang mengikuti agama selain Islam, tidak akan diterima darinya dan ia di ahkirat termasuk dari mereka yang rugi” ( Ali Imran 85 ).

Nabi Ibrahim as berdoa setelah mendirikan Kaabah bersama dengan puteranya Ismail :
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ
“Tuhan kami, Jadikan kami Muslim untuk Mu dan dari zuriah kami, umat yang muslim untuk Mu” ( Al Baqarah 128 )

Islam adalah agama yang datang dari Allah dan Allah adalah Kesempurnaan Mutlak.  Maka agama yang datang dariNya dan satu-satunya agama yang diterimaNya dan juga merupakan agama yang membawa manusia kepada kesempurnaan.  Dengan ini Islam memenuhi penantian manusia baik dari sudut keperluan mahupun harapan.  Islam sebagai agama yang sempurna dari seluruh sudut.  Kesempurnaan ini bukan hanya kepada isi ajaran tetapi termasuk pembawa dari ajaran yang mendapat mandat Ilahi.
لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ 
“sesungguhnya Allah telah memberi nikmat besar ke atas orang-orang mukmin ketika di angkat dari mereka mereka seorang Rasul dari diri-diri  mereka, membacakan ke atas mereka ayat-ayat Allah dan  mensucikan mereka dan mengajar mereka kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya berada di dalam kesesatan yang nyata” ( Ali Imran 164 )

Di dalam ayat mengisyarahkan tasawur kulli/gambaran keseluruhan Islam dengan beberapa hal :
Di utusnya Rasul
Di turunkan Kitab/ayat-ayat Allah
Tugas-tugas Rasul, iaitu :
Membaca / menyampaikan ayat-ayat Allah
Mensucikan
Mengajar ilmu dan hikmah
Mengeluarkan manusia dari kesesatan untuk menuju kepada Allah
Namun pada awal ayat Allah menfirmankan bahawa nikmat teragung yang Allah berikan kepada manusia adalah ketika Dia mengutuskan Rasul.  Maka dengan itu keberadaan Rasul itu sendiri adalah nikmat dan yang menyempurnakan Agama.  Tanpa ada Rasul, Agama akan menjadi pincang.  Hal ini juga dapat difahami dengan ayat-ayat lain di dalam Al Quran Al Karim.

الر. كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“ Alif Lam Ra.  Kitab yang kami turunkan kepadamu untuk kau keluarkan manusia dari kegelapan kepada nur dengan izin Tuhan mereka hingga mereka menuju kepada Jalan Yang  Mulia lagi Maha Terpuji” ( Ibrahim, 1 )

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيداً عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيداً عَلَى هَؤُلاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شئ وَهُدىً وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ 
“ Dan hari kami utuskan pada setiap umat shahid / saksi ke atas mereka dari diri mereka sendiri dan Kami datangkan kepada kamu saksi ke atas mereka dan Kami turunkan kepadamu kitab yang menerangkan setiap sesuatu dan sebagai hidayah, Rahmah dan kegembiraan untuk orang-orang muslim”  ( An Nahl, 89 ).

Dari ini kita memahami bahawa keberadaan Rasulullah merupakan melengkapkan dan menyempurnakan Islam.  Sekarang ini persoalan tentang ayat 3 surah Al Maidah, apa yang dimaksudkan dengan Firman Allah, Allah menyempurnakan Agama, melengkapkan Nikmat dan redhai Islam sebagai Agama.  Sudah tentu ia memberi makna yang berbeza dengan diutusnya Rasulullah dan syariat kerana surah Al Maidah adalah antara surah yang terahkir yang diturunkan.  Ini bererti sesuatu di luar kerasulan dan Syariat.  Berdasarkan kepada ayat-ayat hikmah diutusnya Nabi dan Rasul, kita dapat memahami bahawa sesuatu itu adalah pengemban/penyambung tugas para Nabi dan Rasul walau tanpa gelar Nabi dan Rasul.  Islam perlu kekal berada dalam bentuk Muhammadi setelah Rasulullah hingga akhir zaman di bawah kepimpinan Sahibuzaman AJ. 

Penyerahan ini perlu bermula pada zaman hidup Rasulullah SAAW.  Berdasarkan nas-nas yang mutawatir, Rasulullah dari awal tablighnya telah menunjukkan bahawa kepimpinan selepas beliau adalah hak Imam Ali bin Abi Talib as serta 11 orang Imam dari zuriahnya.  Ayat 3 dari surah Al Maidah mengisyarahkan tentang peristiwa Al Ghadir dengan lebih dari 90 sahabat yang meriwayatkannya.  Penyataan dan diklerasi Ghadir bermula dengan Rasulullah menyampaikan khutabahnya dan membaca ayat :
النبي أولى بالمؤمنين من أنفسهم
“Nabi lebih berhak kepada orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri”
Ayat ini menegaskan hak Rasulullah dari Allah ke atas diri orang-orang mukmin. Ini adalah hakkaniyah mutlak Rasulullah SAAW.  Yang menganugerahkannya adalah Allah SWT. Ini adalah perintah mutlak Allah kepada orang-orang yang beriman untuk menyerahkan jiwa dan raga mereka dalam mentaati Rasulullah SAAW.  Setelah itu Rasulullah bertanya kepada yang hadir di Al Ghadir.
ألستُ أولى بالمؤمنين من أنفسهم؟ قالوا: بلى.
‘Apakah aku tidak lebih berhak kepada orang mukmin lebih dari diri mereka sendiri?, yang hadir sepontan menjawab, sudah tentu’
Jawapan ini menunjukkan ‘maqbuliyah’ penerimaan mutlak mukminin bahawa Rasulullah lebih berhak ke atas diri mereka.  Ini juga mengisyarahkan bahawa mereka mutlak akan taat kepada perintah Rasulullah SAAW.   Setelah itu Rasulullah meneruskan :
من كنتُ مولاه فعليٌّ مولاه
‘sesiapa yang menganggap aku sebagai maulanya/pemimpinnyya, maka Ali adalah Maulanya’

Di Ghadir Khum Rasulullah sekali mendeklarasikan hakkaniyah Amirul Mukminin dan menuntut maqbuliyyah dari yang hadir.  Yang pertama bangun untuk menyatakan maqbuliyyah adalah khalifah yang kedua.
بخٍ بخٍ لك يا أبا الحسن أصبحت مولايَ ومولى كل مسلم ومسلمة». ( النهاية لابن كثير:7 /386 ).
Taniah taniah wahai Abal Hassan, kamu telah menjadi maulaku dan maula kesemua muslim dan muslimat.

Selama tiga hari mereka berkampung di Ghadir Khum untuk melakukan baiah ‘maqbuliyyah’ kepimpinan Amirul Mukminin as. 

Setelah kewafatan Rasulullah, kudeta Saqifah telah menafikan maqbuliyah ini walau hakkaniyah tetap bersama dengan Amirul Mukminin as.  Selama 23 tahun Amirul Mukminin as mengasingkan diri hingga semua penduduk Madinah datang meminta beliau menerima kedudukan khalifah.  Amirul Mukminin as tidak langsung menerima pemintaan mereka, hingga mereka mendatangi beliau berkali-kali dan Amirul Mukminin as mensyaratkan baiah tersebut mesti dilakukan di Mesjid Nabawi.  Hal yang pertama yang dilakukan oleh Amirul Mukminin as adalah meminta penyaksian ahli Badar tentang baiah Ghadir Khum.  Dengan Baiah tersebut Amirul Mukminin as dapat menjalankan pemerintahan adil Ilahi dan menghidupkan sunnah nabawi.  Ini kerana selain memiliki hakkaniyah, beliau didukung dengan maqbuliyah/penerimaan masyarakat.

Hal ini juga berlaku kepada Imam-imam selepas beliau.  Mereka semua memiliki hak dari Allah tetapi kerana tidak mendapat maqbuliyah maka mereka tidak dapat melaksanakan pemerintahan adil Ilahi.  Dan ini juga merupakan antara hikmah gaibah Sahibuzam AJ hingga masyarakat dunia siap untuk menerima kehadiran dan kepimpinannya.

Monday, September 28, 2015

Tarikh Syiah 2


Tarikh Syiah 2

Pendirian kalangan Syiah bahwa Ali bin Abi Talib adalah imam atau khalifah yang seharusnya berkuasa setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW telah tumbuh sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup, dalam arti bahwa Nabi Muhammad SAW sendirilah yang menetapkannya. Dengan demikian menurut Syiah, inti dari ajaran Syiah itu sendiri telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
Namun demikian, terlepas dari semua pendapat tersebut, yang jelas adalah bahwa Syiah baru muncul ke permukaan setelah dalam kemelut antara pasukan Ali dan pasukan Mu'awiyah terjadi pula kemelut antara sesama pasukan Ali. Di antara pasukan Ali pun terjadi pula pertentangan antara yang tetap setia kepada Ali dan yang membangkang.
Setelah kematian Ali bin Abi Talib pada tahun 40 H akibat tusukan benda tajam beracun oleh Abdur Rahman bin Muljam, kursi kekhalifahan beralih kepada Hasan bin Ali, anak Khalifah Ali dari istrinya, Fatimah az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW. Kekuasaan Hasan bin Ali tidak bertahan lama karena pendukungnya makin lama makin berkurang. Sementara itu, para pendukung Mu'awiyah bin Abu Sufyan yang menuntut kursi kekhalifahan bagi dirinya semakin bertambah. Melihat gelagat yang kurang baik ini, akhirnya Hasan bin Ali terpaksa menyerahkan kedudukannya kepada Mu'awiyah dengan persyaratan-persyaratan yang telah disepakati bersama, yaitu antara lain : kursi kekhalifahan sesudah Mu'awiyah diserahkan kepada pilihan umat, tidak melaknat Ali bin Abi Talib, dan tidak mengambil tindakan balas dendam terhadap kaum Syiah. Namun, Mu'awiyah tidak menepati janji-janjinya itu. Kedudukan sebagai khalifah dialihkannya kepada putranya (Yazid), Ali bin Abi Talib selalu dikutuknya, dan para Syiah pengikut Ali diburunya.
Akibat perlakuan Mu'awiyah, kaum Syiah hidup dalam suasana tegang dengan para penguasa. Ketegangan ini memuncak pada tanggal 10 Muharam 61, yaitu ketika Husein bin Ali dan sebagian kerabat Nabi Muhammad SAW dibantai di Padang Karbala, Irak. Peristiwa ini melahirkan aksi-aksi pemberontakan yang berkepanjangan di kalangan sebagian pengikut Syiah di kemudian hari, seperti pemberontakan Mukhtar as-Saqafi, pemberontakan Zaid bin Ali bin Husein, pemberontakan Yahya bin Zaid, dan pemberontakan Nafs az-Zakiyyah.

Persoalan Imamah.

Sejalan dengan perkembangan zaman dan sesuai dengan keadaan umat Islam lainnya, dalam Syiah pun berkembang berbagai pemikiran keislaman yang pada intinya berpusat pada tokoh-tokoh Ahlulbait (keluarga Nabi Muhammad SAW), seperti Ali bin Husein Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Zaid bin Ali, dan Ja'far as-Sadiq. Pemikiran yang paling menonjol terletak pada persoalan imamah atau kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Hampir semua sekte Syiah menekankan arti penting kepemimpinan Ali bin Abi Talib. Persoalan imamah inilah yang membedakan Syiah dari aliran-aliran Islam lainnya seperti Khawarij, Muktazilah, dan Ahlusunah waljamaah.
Dalam hal ini, golongan Syiah mengajukan berbagai alasan atas keyakinan mereka itu, baik berupa alasan-alasan 'aqliyyah (secara rasio) maupun alasan-alasan naqliyyah (berdasarkan yang tertulis, yakni Al-Qur'an dan hadis). Alasan-alasan naqliyyah yang mreka ajukan di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, surah al-Ma'idah ayat 55 yang artinya : "Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah)." Menurut Syiah, orang yang beriman yang dimaksud pada ayat tersebut adalah Ali bin Abi Talib. Kedua, sabda Nabi SAW dalam hadis al-Gadir yang artinya : "Barangsiapa yang menganggap aku ini adalah pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya." (HR. Ahmad)

Sekte-Sekte dalam Syiah.

Selain membedakan Syiah dengan aliran-aliran Islam lainnya, persoalan imamah juga menimbulkan sekte-sekte dalam Syiah itu sendiri. Semua sekte Syiah sepakat bahwa imam yang pertama adalah Ali bin Abi Talib, kemudian Hasan bin Ali, lalu Husein bin Ali. Namun, setelah itu muncul perselisihan mengenai siapa pengganti Imam Husein. Dalam hal ini muncul dua kelompok dalam Syiah. Kelompok pertama meyakini imamah beralih kepada Ali bin Husein - Zainal Abidin, putra Husein bin Ali. Sedangkan kelompok lainnya meyakini bahwa imamah beralih kepada Muhammad bin Hanafiyah, putra Ali bin Abi Talib dari istri bukan Fatimah.
Akibat perbedaan antara kedua kelompok ini, muncullah berbagai sekte dalam Syiah. Sebagian di antara sekte-sekte ini sebetulnya tidak dapat disebut sebagai sekte atau aliran karena hanya merupakan pandangan seseorang atau sekelompok kecil saja. Para penulis klasik berselisih tajam mengenai jumlah sekte dalam Syiah. Akan tetapi, para ahli umumnya membagi sekte Syiah dalam empat golongan besar, yaitu Kaisaniyah, Zaidiah, Imamiyah, dan Kaum Gulat.


Sunday, September 20, 2015

Syaikh Syarif: Mufti Agung Saudi Nyatakan Syiah Imamiyah adalah Muslim


syarif1
Mosleminfo, Riyadl—Para hari Jumat (22/5) kemarin sebuah bom bunuh diri meledak di sebuah masjid Syiah di Arab Saudi. Diduga kuat bom itu dilakukan guna memicu konflik antara Sunni-Syiah yang dalam beberapa hari ini semakin memburuk pasca serangan Arab Saudi ke Syiah Houthi di Yaman.
Menanggapi hal itu, Mufti Agung Arab Saudi Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh mengatakan bahwa tragedi yang terjadi di Qatif sengaja dilakukan demi memecah persatuan warga Arab Saudi.
“Apa yang terjadi di Qatif adalah sebuah tragedi yang menyakitkan dan sebuah aksi kriminal yang disengaja. Para pelakunya sengaja ingin menciptakan ketidak-harmonian antar anak bangsa. Mereka ingin memprovokasi antar anak bangsa di saat negara sedang mempertahankan wilayah Selatan dari serangan musuh. Para pelaku itu ingin memecah-belah kita dan mencerai-beraikan persatuan kita. Akan tetapi ini tidak akan mempengaruhi kita. Karena kita adalah umat yang satu yang kuat dan saling mencintai. Kita harus bersatu padu,” demikian ungkap Syaikh Abdul Aziz, sebagaimana dikutip oleh media-media Arab Saudi.
Pernyataan Mufti Agung ini, meski kental muatan politisnya, namun mendapatkan respon dari seorang ulama pakar ilmu hadis Arab Saudi Syaikh Syarif Hatim al-Auni. Menurutnya, pernyataan mufti tersebut secara jelas menunjukkan bahwa Syiah masih dianggap muslim, padahal mereka adalah Syiah Imamiyah Ja’fariyah, dan ini membatalkan berbagai pandangan mufti sebelumnya.
“Ini sebuah pernyataan yang sangat jelas bahwa Syiah Qatif adalah muslim, padahal mereka Syiah Imamiyah Ja’fariyah. Ini jelas dalam pernyataan mufti “umat yang satu”. Karenanya siapapun setelah ini  dari kalangan ulama yang mengafirkan mereka maka sejatinya ia telah menyelisihi mufti agung dalam hal itu!!”, tulis Syaikh Syarif Hatim dalam akun facebooknya. Beliau dikenal sebagai ulama Sunni Arab Saudi yang kerap memberikan pandangan yang berbeda dari ulama-ulama Saudi pada umumnya.
“Jika demikian, maka perlu dilakukan telaah ulang terhadap berbagai permasalahan yang selama ini dijadikan landasan untuk mengafirkan Syiah, seperti gemar ziarah kubur, istighatsah, mendustakan Al-Quran, mengubah Al-Quran, atau mengafirkan sahabat Nabi SAW.. Karena semua itu menurut mufti agung tidak layak dijadikan landasan untuk mengafirkan mereka,” pungkas Syaikh Syarif Hatim. (am/mosleminfo.com)
#sumber
http://mosleminfo.com/berita/internasional/syaikh-syarif-mufti-agung-saudi-nyatakan-syiah-imamiyah-adalah-muslim/