Saturday, December 13, 2014

hakikat menyintai AhlulBAit rasulallah saww








Hakikat Ahlul bait dan kecintaan kepada nya ( 1 )
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى الهم وازوجه وذريته واهل بيته واصحا به وبا رك وسلم

Kepada kaum Muslimin beliau Rasulullah saw. menganjurkan agar berdoa:
"Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada Aal Muhammad , sebagaimana yang telah Engkau limpahkam shalawat kepada Ibrahim dan Aal Ibrahim.
Sungguhlah Engkau Maha Terpuji dan Maha agung. Berkatilah Muhammad dan Aal Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan Aal Ibrahim."
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ka'ah bin Syajarah
menuturkan, "Ketika turun ayat: SesungguhnyaAllah dan para malaikat-Nya bershalawat
untuk Nabi. W'ahai orang-orang beriman, hendaklah kalian bersholawat untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan baginya (QS. al-Ahzab: 56)

Kami, para sahabat; bertanya, `Kami tahu bagaimana cara kami mengucapkan salam kepadamu. Bagaimanakah cara kami bershalawat kepadamu ya Rasulullah?' Beliau
menjawab: ucapkanlah: " Ya Allah, limpahkanlah shalawatkepada Muhammad dan kepada Aal Muhammad."

" Sesungguhnya Do'a dapat terhalang, bisa jadi tertolak, kecuali di sertai sholawat atas
Nabi dan atas keluarga Nabi Muhammad SAW."
( H.R Imam Ad Dailamy )

Hadis yang lain lagi menuturkan bahwasanya Rasulullah saw. mengingatkan para sahabat: " Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat buntung, ."
Para sahabat bertanya, "Apakah yang dimaksud dengan
shalawat buntung.?" Beliau saw. menjawab:
"Kalian mengucapkan: Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad, lantas kalian berhenti di situ. Ucapkanlah: Ya Allah Limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada Aal Muhammad ( keluarga muhammad )."
(Hadis diketengahkan oleh Mahmud Syarqawi di dalam kitab Sayyidatu Zainab r.a., halaman 21).

Imam Syafi'i r. a. berkata dalam dua bait syairnya:
Wahai .Ahlul Bait Rasulullah, cinta kepada kalian adalah kewajiban yang diturunkan Allah dalam Al- Quran Cukuplah bukti betapa tinggi nilai kalian. Tiada
salat bagi orang yang salat tanpa shalawat.
Imam Syafi'i berkata lebih jauh, "Para anggota keluarga Rasulullah saw adalah mereka yang diharamkan menerima sedekah/zakat."

Demikian pula yang dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbali dan para ulama yang lain,
karena Nabi saw. sendiri telah menegaskan hal itu.
"Pribadi beliau sendiri dan para anggota Ahlul Baitnya diharamkan menerima sedekah/zakat. Di dalam Alquran Allah telah berfirman bahwasanya Allah semata-mata
hendak menghapus rijs (noda, kotoran) dari para Ahlul Bait dan hendak menyucikan mereka sesuci-sucinya (ayat 33, surah al Ahzab). Allah mengharamkan mereka
menerima sedekah/zakat, karena sedekah/zakat dapat dipandang sebagai kotoran yang melekat pada orang lain (yakni, sedekah/zakat merupakan sarana untuk membersihkan diri dari dosa)."

Setelah menunjuk beberapa kitab Musnad dan hadis- hadis, Ibnu Taimivyah mengetengahkan jawaban Rasulullah saw. kepada pamannya. `Abbas, ketika la
mengadu kepada beliau saw. tentang perlakuan kasar sementara orang terhadap dirinya. Ketika itu Rasulullah saw. menjawab:
"Demi Allah Yang nyawaku berada di tangan-Nya, mereka
tidak akan masuk surga sebelum mereka mencintai kalian demi karena aku."

Kemudian Ibnu Taimiyyah mengemukakan hadis Rasulullah
yang menegaskan kemuliaan martabat beliau:
"Allah memiiih anak-cucu keturunan (Bani) Ismail, dan anak-cucu keturunan Kinanah dari Bani Ismail, kemudian memilih Quraisy dari Kinanah, dan memilih Bani Hasyim
dari Quraisy, lalu memilihku dari keturunan Bani Hasyim."

Di dalam kitabal-Aqidah al-Wasithiyyah, Ibnu Taimyyah dengan tegas membenarkan sikap dan pandangan kaum Ahli as-Sunnah terhadap Ahlul Bait Rasululiah saw. la
mengatakan, "Mereka rnencintai Ahlul Bait Rasululiah saw. yang oleh mereka dipandang sebagai para pemimpin yang hak-haknya harus dijaga baik-baik berdasarkan wasiat Nabi saw yang diucapkan di Ghadir Khum, :
" Kalian ku ingatkan kepada Allah mengenai Ahlul Baitku."'
IbnuTaimiyyah menegaskan hal itu setelah menyatakan sikapnya yang sama sekali tidak membenarkan pandangan , kaum Rawafidh' yang sangat membenci dan mencerca para
sahabat Nabi pandangan kaum Nawashib yang selalu menggangu Ahlul Bait, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan.

Dalam kitabnya yang berjudul Risalah Darajdh al-Yaqin,
halaman 149, Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Bagi manusia tak ada kecintaan yang lebih besar, lehih sempurna, dan lebih lengkap daripada kecintaan orang-orang beriman yang ditumpahkan kepada Allah, Tuhan mereka. Di alam wujud ini tidak ada apapun yang berhak dicintai tanpa karena Allah. Kecintaan kepada sesuatu wajib berlandaskan semata-mata demi karena Allah, ditaati demi karena Allah, dan
diikutipun demi karena Allah. Yaitu sebagaimana Allah SWT sendiri menegaskan di dalam firman-Nya:

[3.31] Katakanlah: "Jika ...

...kamu (benar- benar) mencintai
Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa- dosamu." Allah Maha Pengampun lagiMaha Penyayang.

Di dalam Rasalah Tafsir al- Mu'awwidztain, Ibnu Taimiyyah menjelaskan masalah keistimewaan ahlul-kisa' sebagai Ahlul Bait RasuIullah .saw. la mengatakan,
"Sama halnya dengan pernyataan Rasulullah saw. yang menerangkan bahwa masjid yang didirikan atas dasar takwa adalah masjidku.' Padahal mengenai hal itu
Alquran telah memastikan bahwa. yang dimaksud adalah Masjid Quba. Demikian pula ucapan Rasulullah saw.

kepada ahlul-kisa' yang menegaskan bahwa `mereka itu adalah Ahlul Bait-ku.' Padahal ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan Ahlul Bait (ayat 33 surah al-Ahzab),
pengertiannya mencakup para istri Nabi-radhiyallahu `anhuma. Mengenai masalah-masalah seperti itu, pengkhususan sesuatu yang perlu dikhususkan memang lebih baik dari pada hanya diutarakan keumuman sifat-sifatnya saja." 

Friday, December 12, 2014

assalamualaikum... alhamdulillah.... di izinkan oleh allah.... saya boleh post lagi...
skrang ini ada sesuatu saya nak berkongsi  pada semua alhamdulillah..
 
TAJUK NAFSU 
     Nafsu adalah sebahgian diri dari kita... Nafsu jugak dijadikan  sebagai kehendak kemahuan kita terhadap sesuatu.. sama ada ia perkara baik mahupun sebaliknya.
memang lumrah hidup ini .. setiap perbuatan kita selalu berlandaskn nafsu.

Jadi 
   Pasti anda semua terfikir bagaimana cara nak elakkan diri dari nafsu durjana kan kan..
bukan anda semua sahaja berfikir begitu ... saya sendiri pun terfikir begitu jugak....bila nafsu kita
mula berkusasa.... kita akan lemah... x dapat elak daripada berlaku...... 
tapi pernahkah kita terfikir ... mngapa perkara itu sering berlaku pada diri kita.... mngapa begitu susah.. nak elakkan perkara itu terjadi...

   Jadi apabila akal ini berfikir macam tu... oh .. baru kita tahu.... yang sebanarnya .. iman kita
x begitu kukuh.. x begitu kuat... jadi hanya satu sahaja penawar kita... akan tahu..
selalulah kita berzikir pada allah ... berdoa dan selalu bertahjjud .. dan sentiasa mengingati allah... dan mngingati akan kematian  kita... 

Wednesday, December 10, 2014

NASYID ARAB = nasyid Zeynab_pembela wanita islam

ya allah.. andai kata dia melihatku...
sampaikan salamku untuknya(Ya zeynab)

TAKWIL AYAT WA'ULIL AMR dan kepimpinan


nasheed = ASMA UL HUSNA 99

INDAHNYA NAMAMU YA ALLAH...

KEMULIAAN FATIMAH AZ ZAHRA

FATIMAH AZ-ZAHRA AS, PENGHULU WANITA SEMESTA
ALLAHUMMA SOLLI'ALA MUHAMMAD WA'ALIMUHAMMAD
Mukadimah
Dahulu kala, masyarakat memandang perempuan bagaikan hewan atau bagian dari kekayaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki. Demikian pula masyarakat Arab pada masa Jahiliyah. Mereka senantiasa memandang wanita sebagai makhluk yang hina. Bahkan, sebagian di antara mereka ada yang menguburkan anak perempuan mereka hidup-hidup.
Ketika fajar mentari Islam terbit, Islam memberikan hak kepada kaum hawa dan telah menentukan pula batas-batasnya, seperti hak sebagai ibu, hak sebagai istri, dan hak sebagai pemudi.
Tentu kita semua sering mendengar hadis Nabi saw yang menyatakan, “Surga itu terletak di bawah kaki ibu.”
Di lain kesempatan, beliau bersabda, "Kerelaan Allah terletak pada kerelaan orang tua." (Dan perempuan termasuk salah satu dari orang tua).
Islam telah memberikan batasan kemanusiaan kepada wanita dan memberikan aturan, undang-undang yang menjamin perlindungan, penjagaan terhadap kemuliaan wanita dan kehormatannya.
Sebagai contoh yang jelas ialah hijab atau jilbab. Jilbab bukanlah penjara bagi wanita, tapi ia merupakan kebanggaan baginya, sebagaimana kita selalu melihat permata yang tersimpan rapi di dalam kotaknya, atau buah-buahan yang tersembunyi di balik kulitnya.
Sedangkan bagi wanita muslimah, Allah SWT telah memberikan aturan yang dapat melindunginya dan menjaga diriya, yaitu jilbab. Bahkan tidak hanya sekedar pelindung, jilbab dapat menambah ketenangan dan keindahan pada diri wanita tersebut.
Wanita dalam pandangan Islam berbeda secara mencolok dari apa yang terjadi di Barat. Dunia Barat memandang wanita laksana benda atau materi yang layak untuk diiklankan, diperdagangkan, dan bisa diambil keuntungan materinya, dengan dalih memelihara etika dan kemuliaan wanita sebagai manusia.
Pandangan ini benar-benar telah membuat nilai wanita terpuruk dan terpisah dari naluri serta nilai-nilai kemanusiaan. Kita juga menyaksikan keretakan keluarga, perceraian yang terjadi di dalam masyarakat Barat telah sedemikian mengkuatirkan.
Dalam pandangan dunia Barat, wanita telah berubah menjadi seonggok barang yang tidak berharga lagi, baik dalam dunia perfilman, iklan, promosi, ataupun dalam dunia kontes kecantikan.
Teman-teman, marilah kita sejenak menengok sosok teladan kaum wanita dalam Islam yang terwujud dalam kehidupan putri Rasulullah tercinta.
Dialah Siti Fatimah Az-Zahra as.
Putri tersayang Nabi Muhammad saw.
Istri tercinta Imam Ali as.
Bunda termulia Hasan, Husain, dan Zainab as.
Hari Lahir
Fatimah as dilahirkan pada tahun ke-5 setelah Muhammad saw diutus menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isra' dan Mikraj beliau.
Sebelumnya, Jibril as telah memberi kabar gembira kepada Rasulullah akan kelahiran Fatimah. Ia lahir pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir, di kota suci Makkah.
Fatimah di Rumah Wahyu
Fatimah as hidup dan tumbuh besar di haribaan wahyu Allah dan kenabian Muhammad saw. Beliau dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah SWT dan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Acapkali Rasulullah saw melihat Fatimah masuk ke dalam rumahnya, beliau langsung menyambut dan berdiri, kemudian mencium kepala dan tangannya.
Pada suatu hari, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang sebab kecintaan beliau yang sedemikian besar kepada Fatimah as.
Beliau menegaskan, “Wahai ‘Aisyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fatimah, niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fatimah adalah darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya, maka ia telah membenciku, dan barang siapa membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku.”
Kaum muslimin telah mendengar sabda Rasulullah yang menyatakan, bahwa sesungguhnya Fatimah diberi nama Fatimah karena dengan nama itu Allah SWT telah melindungi setiap pecintanya dari azab neraka.
Fatimah Az-Zahra’ as menyerupai ayahnya Muhammad saw dari sisi rupa dan akhlaknya.
Ummu Salamah ra, istri Rasulullah, menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Aisyah. Ia pernah menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan pikirannya.
Fatimah as mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun.
Setelah ibunda kinasihnya, Khadijah as wafat, beliaulah yang merawat ayahnya ketika masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya itu.
Pada usianya yang masih belia itu, Fatimah menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Makkah terhadapnya. Dialah yang membalut luka-luka sang ayah, dan yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah ayahanda tercinta.
Fatimah senantiasa mengajak bicara sang ayah dengan kata-kata dan obrolan yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hatinya. Untuk itu, Rasulullah saw memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.
Pernikahan Fatimah as
Setelah Fatimah as mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak pindah ke rumah suaminya (menikah), banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah as).”
Kemudian, Jibril as datang untuk mengkabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib as. Tak lama setelah itu, Ali as datang menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah as. Sang ayah pun menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya seraya menyatakan, “Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah kau kenali kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah memohonkan pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang pecinta sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana pendapatmu atas pinangan ini?"
Fatimah as diam, lalu Rasulullah pun mengangkat suaranya seraya bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”
Acara Pernikahan
Rasulullah saw kembali menemui Ali as sambil mengangkat tangan sang menantu seraya berkata, “Bangunlah! 'Bismillah, bi barakatillah, masya’ Allah la quwwata illa billah, tawakkaltu 'alallah.”
Kemudian, Nabi saw menuntun Ali dan mendudukkannya di samping Fatimah. Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka cintailah keduanya, berkahilah keturunannya, dan peliharalah keduanya. Sesungguhnya aku menjaga mereka berdua dan keturunannya dari setan yang terkutuk.”
Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia. Kepada Ali, beliau berkata, “Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu.”
Dan kepada Fatimah, beliau menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu”.
Di tengah-tengah keramaian dan kerumunan wanita yang berasal dari kaum Anshar, Muhajirin, dan Bani Hasyim, telah lahir sesuci-suci dan seutama-utamanya keluarga dalam sejarah Islam yang kelak menjadi benih bagi Ahlulbait Nabi yang telah Allah bersihkan kotoran jiwa dari mereka dan telah sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.
Acara pernikahan kudus itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu, Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada sang istri selain pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia bermaksud menjual pedangnya. Tetapi Rasulullah saw mencegahnya, karena Islam memerlukan pedang itu, dan setuju apabila Ali menjual perisainya.
Setelah menjual perisai, Ali menyerahkan uangnya kepada Rasulullah saw. Dengan uang tersebut beliau menyuruh Ali untuk membeli minyak wangi dan perabot rumah tangga yang sederhana guna memenuhi kebutuhan keluarga yang baru ini.
Kehidupan mereka sangat bersahaja. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar, letaknya di samping masjid Nabi saw.
Hanya Allah SWT saja yang mengetahui kecintaan yang terjalin di antara dua hati, Ali dan Fatimah. Kecintaan mereka hanya tertumpahkan demi Allah dan di atas jalan-Nya.
Fatimah as senantiasa mendukung perjuangan Ali as dan pembelaannya terhadap Islam sebagai risalah ayahnya yang agung nan mulia. Dan suaminya senantiasa berada di barisan utama dan terdepan dalam setiap peperangan. Dialah yang membawa panji Islam dalam setiap peperangan kaum muslimin. Ali pula yang senantiasa berada di samping mertuanya, Rasulullah saw.
Fatimah as senantiasa berusaha untuk berkhidmat dan membantu suami, juga berupaya untuk meringankan kepedihan dan kesedihannya. Beliau adalah sebaik-baik istri yang taat. Beliau bangkit untuk memikul tugas-tugas layaknya seorang ibu rumah tangga. Setiap kali Ali pulang ke rumah, ia mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan di sisi sang istri tercinta.
Fatimah as merupakan pokok yang baik, yang akarnya menghujam kokoh ke bumi, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Fatimah dibesarkan dengan cahaya wahyu dan beranjak dewasa dengan didikan Al-Qur'an.
Keluarga Teladan
Kehidupan suami istri adalah ikatan yang sempurna bagi dua kehidupan manusia untuk menjalin kehidupan bersama.
Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.
Kehidupan Ali dan Fatimah merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. Ali senantiasa membantu Fatimah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Begitu pula sebaliknya, Fatimah selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan Ali, serta senantiasa memberikan rasa gembira kepada suaminya.
Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. "Ya binta Rasulillah"; wahai putri Rasul, adalah panggilan yang biasa digunakan Imam Ali setiap kali ia menyapa Fatimah. Sementara Sayidah Fatimah sendiri menyapanya dengan panggilan “Ya Amirul Mukminin”; wahai pemimpin kaum mukmin.
Demikianlah kehidupan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah as.
Keduanya adalah teladan bagi kedua pasangan suami-istri, atau pun bagi orang tua terhadap anak-anaknya.
Buah Hati
Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah as melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah saw diberi nama “Hasan”. Rasul saw sangat gembira sekali atas kelahiran cucunda ini. Beliau pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur'an.
Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah saw dari Fatimah Az-Zahra as. Rasul mengasuh kedua cucunya dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.
Bila Rasulullah saw keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan.
Suatu hari Rasul saw lewat di depan rumah Fatimah as. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan, “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”
Satu tahun berselang, Fatimah as melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir. Sepertinya Rasul saw teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah as itu dengan nama-nama tersebut.
Dan begitulah Allah SWT menghendaki keturunan Rasul saw berasal dari putrinya Fatimah Zahra as.
Kedudukan Fatimah Az-Zahra’ as
Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita. Beliau adalah pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni Penghulu Wanita Alam Semesta.
Bila Maryam binti ‘Imran, Asiyah istri Firaun, dan Khadijah binti Khuwalid, mereka semua adalah penghulu kaum wanita pada zamannya, tetapi Sayidah Fatimah as adalah penghulu kaum wanita di sepanjang zaman, mulai dari wanita pertama hingga wanita akhir zaman.
Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal. Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat menjadi istri Ali as, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta menyelesaikan segala urusan rumah tangganya, hingga suaminya merasa tentram bahagia di dalamnya.
Demikian pula ketika beliau menjadi seorang ibu. Beliau mendidik anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan, keutamaan, dan akhlak yang luhur dan mulia. Hasan, Husain, dan Zainab as adalah anak-anak teladan yang tinggi akhlak dan kemanusiaan mereka.
Kepergian Sang Ayah
Sekembalinya dari Haji Wada‘, Rasulullah saw jatuh sakit, bahkan beliau sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya. Fatimah as bergegas menghampiri beliau dan berusaha untuk memulihkan kondisinya. Dengan air mata yang luruh berderai, Fatimah berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya sebagai tebusan jiwa ayahandanya.
Tidak lama kemudian Rasul saw membuka kedua matanya dan mulai memandang putri semata wayang itu dengan penuh perhatian. Lantas beliau meminta kepadanya untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Fatimah pun segera membacakan Al-Qur'an dengan suara yang khusyuk.
Sementara sang ayah hayut dalam kekhusukan mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur'an, Fatimah pun memenuhi suasana rumah Nabi. Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan suara putrinya yang telah menjaganya dari usia yang masih kecil dan berada di samping ayahnya di saat dewasa.
Rasul saw meninggalkan dunia dan ruhnya yang suci mi’raj ke langit.
Kepergian Rasul saw merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya, sampai hatinya tidak kuasa memikul besarnya beban musibah tersebut. Siang dan malam, beliau selalu menangis.
Belum lagi usai musibah itu, Fatimah as mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang berebut kekuasaan dan kedudukan.
Setelah mereka merampas tanah Fadak dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam perkara khilafah (kepemimpinan), Fatimah Az-Zahra’ as berupaya untuk mempertahankan haknya dan merebutnya dengan keberanian yang luar biasa.
Imam Ali as melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayidah Fatimah as secara terus menerus bisa menyebabkan negara terancam bahaya besar, hingga dengan begitu seluruh perjuangan Rasul saw akan sirna, dan manusia akan kembali ke dalam masa Jahiliyah.
Atas dasar itu, Ali as meminta istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci.
Akhirnya, Sayidah Fatimah as pun berdiam diri dengan menyimpan kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin akan sabda Nabi, “Kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah, dan kemarahan Rasulullah adalah kemarahan Allah SWT.”
Sayidah Fatimah as diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau berwasiat agar dikuburkan di tengah malam secara rahasia.
Kepergian Putri Tercinta Rasul
Bagaikan cahaya lilin yang menyala kemudian perlahan-lahan meredup. Demikianlah ihwal Fatimah Az-Zahra’ as sepeninggal Rasul saw. Ia tidak kuasa lagi hidup lama setelah ditinggal wafat oleh sang ayah tercinta. Kesedihan senantiasa muncul setiap kali azan dikumandangkan, terlebih ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammadan(r) Rasulullah.
Kerinduan Sayidah Fatimah untuk segera bertemu dengan sang ayah semakin menyesakkan dadanya. Bahkan kian lama, kesedihannya pun makin bertambah. Badannya terasa lemah, tidak lagi sanggup menahan renjana jiwanya kepada ayah tercinta.
Demikianlah keadaan Sayidah Fatimah as saat meninggalkan dunia. Beliau tinggalkan Hasan yang masih 7 tahun, Husain yang masih 6 tahun, Zainab yang masih 5 tahun, dan Ummi Kultsum yang baru saja memasuki usia 3 tahun.
Yang paling berat dalam perpisahan ini, ia harus meninggalkan suami termulia, Ali as, pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.
Sayidah Fatimah as memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiatkan kepada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil. Beliau pun mewasiatkan kepada sang suami agar menguburkannya secara rahasia. Hingga sekarang pun makam suci beliau masih misterius. Dengan demikian terukirlah tanda tanya besar dalam sejarah tentang dirinya.
Fatimah Az-Zahra’ as senantiasa memberikan catatan kepada sejarah akan penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah dirampas. Sehingga umat Islam pun kian bertanya-tanya terhadap rahasia dan kemisterian kuburan beliau.
Dengan penuh kesedihan, Imam Ali as duduk di samping kuburannya, diiringi kegelapan yang menyelimuti angkasa. Kemudian Imam as mengucapkan salam, “Salam sejahtera bagimu duhai Rasulullah ... dariku dan dari putrimu yang kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu.
"Duhai Rasulullah! Telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu, dan telah berkurang pula kekuatanku ... Putrimu akan mengabarkan kepadamu akan umatmu yang telah menghancurkan hidupnya. Pertanyaan yang meliputinya dan keadaan yang akan menjawab. Salam sejahtera untuk kalian berdua!”[]
Riwayat Singkat Sayidah Fatimah as
Nama        : Fatimah.
Julukan    : Az-Zahra’, Al-Batul, At-Thahirah.
Ayah         : Mahammad.
Ibu            : Khadijah binti Khuwailid.
Kelahiran : Jumat 20 Jummadil Akhir.
Tempat     : Makkah Al-Mukarramah.
Wafat       : MadinahAl-Munawarah, Tahun 11 H.
Makam    : Tidak diketahui.