|
Dari
segi teologi, penganut paham Zaidiah ini beraliran teologi Muktazilah. Oleh
karena itu, tidak heran kalau sebagian tokoh-tokoh Muktazilah, terutama
Muktazilah Baghdad, berasal dari kelompok Zaidiah. Di antaranya adalah Qadi
Abdul Jabbar, tokoh Muktazilah terkenal yang menulis kitab Syarh al-Ushul al-Khamsah. Hal ini
bisa terjadi karena adanya hubungan yang dekat dengan pendiri Muktazilah,
Wasil bin Ata, dan Imam Zaid bin Ali. Akibatnya muncul kesan bahwa
ajaran-ajaran Muktazilah berasal dari Ahlulbait atau bahkan sebaliknya,
justru Zaid bin Ali yang terpengaruh oleh Wasil bin Ata sehingga ia mempunyai
pandangan-pandangan yang dekat dengan sunah.
Sekte-sekte
yang berasal dari golongan Zaidiah yang muncul kemudian adalah Jarudiyah, Sulaimaniyah,
dan Batriyah atau as-Salihiyah.
Sekte
Jarudiyah adalah pengikut Abi Jarud Ziyad bin Abu Ziyad. Sekte ini menganggap
bahwa Nabi Muhammad SAW telah menentukan Ali sebagai pengganti atau imam
setelahnya. Akan tetapi penentuannya tidak dalam bentuk yang tegas, melainkan
dengan isyarat (menyinggung secara tidak langsung) atau dengan al-wasf (menyebut-nyebut keunggulan
Ali dibandingkan yang lainnya).
Sekte
Sulaimaniyah adalah pengikut Sulaiman bin Jarir. Sekte ini beranggapan bahwa
masalah imamah adalah urusan kaum muslimin, yaitu dengan sistem musyawarah
sekalipun hanya oleh dua tokoh muslim. Bagi mereka, seorang imam tidak harus
merupakan yang terbaik di antara kaum muslimin. Oleh karena itu, sekalipun
yang layak jadi khalifah sesudah Nabi Muhammad SAW adalah Ali bin Abu Talib,
akan tetapi kepemimpinan Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah sah. Hanya
dalam hal ini umat telah melakukan kesalahan karena tidak memilih Ali. Namun,
mereka tidak mengakui kepemimpinan Usman bin Affan karena menurut mereka Usman
telah menyimpang dari ajaran Islam. Sekte Sulaimaniyah ini juga disebut
al-Jaririyah.
Sekte
Batriyah atau as-Salihiyah adalah pengikut Kasir an-Nu'man al-Akhtar atau
pengikut Hasan bin Saleh al-Hayy. Pandangan mereka mengenai imamah sama
dengan pandangan sekte Sulaimaniyah. Hanya saja dalam masalah Usman bin
Affan, sekte Batriyah tidak memberikan sikapnya. Mereka berdiam diri atau tawaqquf. Menurut al-Bagdadi (ahli
usul fikih), sekte ini adalah sekte Syiah yang paling dekat dengan Ahlusunah.
Oleh karena itu, Imam Muslim meriwayatkan beberapa hadis dalam kitabnya Sahih Muslim dari Hasan bin Saleh
al-Hayy.
Golongan
Imamiyah.
Imamiyah
adalah golongan yang meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW telah menunjuk Ali bin
Abi Talib sebagai imam penggantinya dengan penunjukan yang jelas dan tegas.
Oleh karena itu, mereka tidak mengakui keabsahan kepemimpinan Abu Bakar,
Umar, maupun Usman. Bagi mereka, persoalan imamah adalah salah satu persoalan
pokok dalam agama atau ushuluddin.
Sekte
Imamiyah pecah menjadi beberapa golongan. Yang terbesar adalah golongan Itsna
'Asyariyah atau Syiah Dua Belas. Golongan kedua terbesar adalah golongan
Ismailiyah. Dalam sejarah Islam, kedua golongan sekte Imamiyah ini pernah
memegang puncak kepemimpinan politik Islam. Golongan Ismailiyah berkuasa di
Mesir dan Baghdad. Di Mesir, golongan Ismailiyah berkuasa melalui Dinasti
Fatimiyah. Pada waktu yang sama, golongan Itsna 'Asyariyah dengan Dinasti
Buwaihi menguasai kekhalifahan Abbasiyah selama kurang lebih satu abad.
Semua
golongan yang bernaung dengan nama Imamiyah ini sepakat bahwa imam pertama
adalah Ali bin Abi Talib, kemudian secara berturut-turut Hasan, Husein, Ali
bin Husein, Muhammad al-Baqir, dan Ja'far as-Sadiq. Sesudah itu mereka
berbeda pendapat mengenai siapa imam pengganti Ja'far as-Sadiq. Di antara
mereka ada yang meyakini bahwa jabatan imamah tersebut pindah ke anaknya,
Musa al-Kazim. Keyakinan ini kemudian melahirkan sekte Itsna 'Asyariyah atau
Syiah Dua Belas. Sementara yang lain meyakini bahwa imamah pindah ke putra
Ja'far as-Sadiq, Isma'il bin Ja'far as-Sadiq, sekalipun ia telah meninggal
dunia sebelum Ja'far as-Sadiq sendiri. Mereka ini disebut golongan
Ismailiyah. Sebagian lain menganggap bahwa jabatan imamah berakhir dengan
meninggalnya Ja'far as-Sadiq. Mereka disebut golongan al-Waqifiyah atau
golongan yang berhenti pada Imam Ja'far as-Sadiq.
Sekte
Itsna 'Asyariyah atau Syiah Dua Belas merupakan sekte terbesar Syiah dewasa
ini. Sekte ini meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW telah menetapkan dua belas
orang imam sebagai penerus risalahnya, yaitu (1) Ali bin Abi Talib, (2) Hasan
bin Ali, (3) Husein bin Ali, (4) Ali bin Husein Zainal Abidin, (5) Muhammad
al-Baqir, (6) Ja'far as-Sadiq, (7) Musa al-Kazim, (8) Ali ar-Rida, (9)
Muhammad al-Jawad, (10) Ali al-Hadi, (11) Hasan al-Askari, dan (12) Muhammad
al-Muntazar (al-Mahdi).
|
Sunday, October 4, 2015
Tarikh Syiah 4
Saturday, October 3, 2015
Tarikh Syiah 3
|
Golongan
Kaisaniyah.
Kaisaniyah adalah sekte Syiah yang mempercayai
kepemimpinan Muhammad bin Hanafiyah setelah wafatnya Husein bin Ali. Nama
Kaisaniyah diambil dari nama seorang bekas budak Ali bin Abi Talib, Kaisan,
atau dari nama Mukhtar bin Abi Ubaid yang juga dipanggil dengan nama Kaisan.
Sekte Kaisaniyah terpecah menjadi dua kelompok. Pertama,
yang mempercayai bahwa Muhammad bin Hanafiyah sebenarnya tidak mati, tetapi
hanya gaib dan akan kembali lagi ke dunia nyata pada akhir zaman. Mereka
menganggap, Muhammad bin Hanafiyah adalah Imam Mahdi yang dijanjikan itu.
Yang termasuk golongan Kaisaniyah di antaranya sekte al-Karabiyah, pengikut
Abi Karb ad-Darir. Kedua, kelompok yang mempercayai bahwa Muhammad bin
Hanafiyah telah mati, tetapi jabatan imamah beralih kepada Abi Hasyim bin
Muhammad bin Hanafiyah. Yang termasuk kelompok ini adalah sekte Hasyimiyah,
pengikut Abi Hasyim. Sekte ini terpecah-pecah setelah meninggalnya Abi
Hasyim.
Menurut Ibnu Khaldun, di antara sekte Hasyimiyah yang
pecah menjadi beberapa kelompok tersebut adalah para penguasa pertama Dinasti
Abbasiyah, yaitu Abu Abbas as-Saffah dan Abu Ja'far al-Mansur. Ibnu Khaldun
selanjutnya menyatakan bahwa setelah meninggalnya Abi Hasyim, jabatan imamah
berpindah kepada Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, kemudian secara
berturut-turut kepada Ibrahim al-Imam, as-Saffah, dan al-Mansur.
Sekte Kaisaniyah ini telah lama musnah. Namun, kebesaran
dan kehebatan nama Muhammad bin Hanafiyah ini masih dapat dijumpai dalam
cerita-cerita rakyat, seperti yang terdapat dalam cerita-cerita rakyat Aceh
dan hikayat Melayu yang terkenal, Hikayat
Muhammad Hanafiah. Hikayat ini telah dikenal di Malaka sejak abad ke-15.
Golongan
Zaidiah.
Zaidiah adalah sekte dalam Syiah yang mempercayai kepemimpinan
Zaid bin Ali bin Husein Zainal Abidin setelah kepemimpinan Husein bin Ali.
Mereka tidak mengakui kepemimpinan Ali bin Husein Zainal Abidin seperti yang
diakui sekte Imamiyah, karena menurut mereka Ali bin Husein Zainal Abidin
dianggap tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin.
Dalam Zaidiah, seseorang baru diangkat sebagai imam
apabila memenuhi lima kriteria, yakni keturunan Fatimah binti Muhammad SAW,
berpengetahuan luas tentang agama, zahid (hidup hanya dengan beribadah),
berjihad di jalan Allah SWT dengan mengangkat senjata, dan berani. Disebutkan
bahwa sekte Zaidiah mengakui keabsahan khilafah
atau imamah Abu Bakar as-Siddiq (khalifah pertama), dan Umar bin Khattab
(khalifah kedua).
Dalam teologi mereka disebutkan bahwa mereka tidak menolak
prinsip imamah al-mafdhul ma'a wujud
al-afdhal, yaitu bahwa seseorang yang lebih rendah tingkat kemampuannya
dibanding orang lain yang sezaman dengannya dapat menjadi imam atau pemimpin,
sekalipun orang yang lebih tinggi dari dia itu masih ada. Dalam hal ini, Ali
bin Abi Talib dinilai lebih tinggi daripada Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Oleh karena itu, sekte Zaidiah ini dianggap sekte Syiah yang paling dekat
dengan sunah.
Dalam persoalan imamah, sekte Zaidiah ini berbeda pendapat
dengan sekte Itsna 'Asyariyah atau Syiah Dua Belas yang mengaggap bahwa
jabatan imamah harus dengan nas. Menurut Zaidiah, imamah tidak harus dengan
nas tetapi boleh dengan ikhtiar atau pemilihan.
|
Friday, October 2, 2015
Amalan Eid Ghadir Khum
📚Amalan Hari Eidul Ghadir :
1. Puasa -
-menghapus dosa selama enam puluh tahun.
-menyamai seratus kali haji dan seratus kali umrah.
2. Mandi.
3. Ziarah Amirul Mukminin as :
-ziarah Aminullah (boleh dibaca dari jarak dekat ataupun jauh),
-ziarah Jâmi’ah Kabîrah.
4. Mandi.
5. Membaca doa Nudbah.
6. Mengucapkan ucapan selamat berikut kepada saudara semukmin:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَنَا مِنَ الْمُتَمَسِّكِينَ
بِوِلاَيَةِ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْأَئِمَّةِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ
Maksud : Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kami dari kalangan orang-orang yang berpegang teguh kepada wilayah Amirul Mu’minin dan Imam-imam yang lain as.
Dan juga mengucapkan :
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَكْرَمَنَا بِهَذَا الْيَوْمِ وَ جَعَلَنَا مِنَ
الْمُوْفِيْنَ بِعَهْدِهِ إِلَيْنَا وَ مِيْثَاقِهِ الَّذِيْ وَاثَقَنَا بِهِ مِنْ
ِوِلاَيَةِ وُلاَةِ أَمْرِه
Segala Puji bagi Allah yang telahmemulyakan kami dengan perantara hari ini dan menjadikan kami orang-orang yangmenepati janji-Nya yang telah diserahkan kepada kami atau janji yang Ia ambildari kami,yaitu berwilayah kepada wali-wali-Nya.
وَ الْقُوَّامِ بِقِسْطِهِوَ لَمْ يَجْعَلْنَا مِنَ الْجَاحِدِيْنَ وَ
الْمُكَذِّبِيْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِ
Maksud : Dan para penegak keadilanNya dan tidak menjadikan kami dari orang-orang yang menentang dan mengingkari hari Qiamat.
7. Membaca doa ini sebanyak 100 kali :
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ كَمَالَ دِيْنِهِ وَ تَمَامَ نِعْمَتِهِ
بِوِلاَيَةِ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَعَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ عَلَيْهِ
السَّلاَمُ
Maksud : Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama dan nikmatNya dengan wilayah Amirul Mu’minin Ali bin Abi Talib as.
8. Berbuat kebajikan dan kebaikan.
9. Berhias diri dengan memakai wewangian.
10. Menggembirakan syi’ah Amirul Mukminin as :
-memaafkan kesalahan-kesalahan mereka,
-memenuhi keperluan dan hajat mereka,
-menyambung tali silaturrahmi,
-memberi nafkah kepada keluarga,
-memberi makan kepada para mukminin,
-memberi makan kepada orang yang berpuasa,
-bersalam-salaman dengan para mukminin,
-mengunjungi mereka,
-menghadiahkan senyuman kepada mereka,
-memberi hadiah kepada mereka. 11. Bersyukur kepada Allah atas nikmat wilayah.
12. Memperbanyakkan selawat dan ibadah. Semua amalan dan ibadah memiliki pahala yang luar biasa :
-Satu Dirham yang diberikan seseorang kepada saudaranya yang mukmin pada hari al Ghadir sama dengan memberi seratus ribu Dirham di hari lain,
-memberi makan kepada seorang mukmin pada hari ini seperti memberi makan kepada seluruh para Nabi dan Shiddiqin,
-Dalam khutbah Amirul Mukminin as disebutkan : “Di hari Ghadir Khum, siapa saja yang memberi makan kepada orang mukmin yang berpuasa di waktu berbuka bererti umpama ia telah memberi makan kepada sepuluh FI'AM. Ada yang bertanya kepadanya : Apa makna FI'AM wahai Amiral Mukminin? Baginda as menjawab : 1000 orang Nabi, Shiddiq dan Syahid."
13. Keutamaan hari Eidul Ghadir tidak mampu dihitung. Eidul Ghadir adalah :
-hari diterima amalan para syiah dan disingkapkan kesusahan mereka,
-hari kemenangan Nabi Musa as atas para ahli sihir,
-hari Allah swt mendinginkan api buat Nabi Ibrahim al-Khalil as,
-hari Nabi Musa as melantik Yusya’ bin Nun sebagai wasinya,
-hari Nabi Isa as mengangkat Syam’un al-Shafâ sebagai wasinya,
-hari Nabi Sulaiman as mengambil penyaksian dari kaumnya untuk pengangkatan khalifahnya, 'Asif bin Barkhiya,
-dan hari Rasulullah saw mempersaudarakan para sahabatnya.
14. Oleh kerana itu, amat digalakkan pada hari al Ghadir untuk kita melakukan 'aqad ukhuwwah dengan saudara mukmin yang lain. Caranya seperti yang dinukil oleh Syeikh Thusi ra iaitu dengan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kanan saudara mukminnya sambil mengucapkan :
وَآخَيْتُكَ فِي اللهِ وَصَافَيْتُكَ فِي اللهِ وَ صَافَحْتُكَ
فِي اللَّهِ وَ عَاهَدْتُ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَ كُتُبَهُ وَ رُسُلَهُ
Maksud : Aku bersaudara denganmu demi Allah, berteman denganmu demi Allah, berjabat tangan denganmu demi Allah dan aku berjanji kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya,
وَأَنْبِيَاءَهُ وَ الْأَئِمَّةَ الْمَعْصُومِيْنَ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ عَلَى
أَنِّيْ إِنْ كُنْتُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَ الشَّفَاعَةِ وَ أُذِنَ
لِيْ بِأَنْ
para nabiNya serta para Imam yang maksum, jika aku termasuk dari kalangan ahli syurga dan layak mendapat syafaat serta diizinkan untuk
أَدْخُلَ الْجَنَّةَ لاَ أَدْخُلُهَا إِلاَّ وَ أَنْتَ مَعِيْ
masuk syurga, maka aku tidak akan masuk ke dalamnya kecuali engkau turut bersamaku.
Lalu saudara yang mukmin tadi akan menjawab :
قَبِلْتُ (saya terima).
Kemudian mengatakan :
أَسْقَطْتُ عَنْكَ جَمِيْعَ حُقُوْقِ الْأُخُوَّةِ مَا خَلاَ
الشَّفَاعَةَ وَ الدُّعَاءَ وَ الزِّيَارَةَ
Maksud : Aku gugurkan semua hak-hak persaudaraan kecuali syafaat, doa dan ziarah.💐🌷🌹®
Eid Ghadir Khum
Ghadir Khum
Antara Hakkaniyah dan Maqbuliyah
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِيناً
. ( سورة المائدة :3 )
“hari ini Aku telah menyempurnakan untuk kalian agama kalian dan Aku telah melengkapkan ke atas kalian nikmatKu dan Aku telah ridha Islam sebagai agama untuk kalian” ( Al Maidah 3 )
Ayat di atas mengisyarahkan peristiwa penting berlaku pada ‘hari’ ( Al Yaum ):
Kesempurnaan agama
Dilengkapkan nikmat
Allah meredhai Islam sebagai agama
Di sini muncul beberapa pertanyaan: apa makna disempurnakan, apa makna dilengkapkan dan apa makna ridha? Tetapi yang lebih penting dari itu adalah memahami erti Agama dan Islam terlebih dahulu. Apa bila kita kembali melihat di dalam Al Quran, kita akan dapati bahawa satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah hanya Islam.
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الإِسْلامُ ... وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِيناً فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam… Sesiapa yang mengikuti agama selain Islam, tidak akan diterima darinya dan ia di ahkirat termasuk dari mereka yang rugi” ( Ali Imran 85 ).
Nabi Ibrahim as berdoa setelah mendirikan Kaabah bersama dengan puteranya Ismail :
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ
“Tuhan kami, Jadikan kami Muslim untuk Mu dan dari zuriah kami, umat yang muslim untuk Mu” ( Al Baqarah 128 )
Islam adalah agama yang datang dari Allah dan Allah adalah Kesempurnaan Mutlak. Maka agama yang datang dariNya dan satu-satunya agama yang diterimaNya dan juga merupakan agama yang membawa manusia kepada kesempurnaan. Dengan ini Islam memenuhi penantian manusia baik dari sudut keperluan mahupun harapan. Islam sebagai agama yang sempurna dari seluruh sudut. Kesempurnaan ini bukan hanya kepada isi ajaran tetapi termasuk pembawa dari ajaran yang mendapat mandat Ilahi.
لَقَدْ مَنَّ اللهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ
“sesungguhnya Allah telah memberi nikmat besar ke atas orang-orang mukmin ketika di angkat dari mereka mereka seorang Rasul dari diri-diri mereka, membacakan ke atas mereka ayat-ayat Allah dan mensucikan mereka dan mengajar mereka kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya berada di dalam kesesatan yang nyata” ( Ali Imran 164 )
Di dalam ayat mengisyarahkan tasawur kulli/gambaran keseluruhan Islam dengan beberapa hal :
Di utusnya Rasul
Di turunkan Kitab/ayat-ayat Allah
Tugas-tugas Rasul, iaitu :
Membaca / menyampaikan ayat-ayat Allah
Mensucikan
Mengajar ilmu dan hikmah
Mengeluarkan manusia dari kesesatan untuk menuju kepada Allah
Namun pada awal ayat Allah menfirmankan bahawa nikmat teragung yang Allah berikan kepada manusia adalah ketika Dia mengutuskan Rasul. Maka dengan itu keberadaan Rasul itu sendiri adalah nikmat dan yang menyempurnakan Agama. Tanpa ada Rasul, Agama akan menjadi pincang. Hal ini juga dapat difahami dengan ayat-ayat lain di dalam Al Quran Al Karim.
الر. كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“ Alif Lam Ra. Kitab yang kami turunkan kepadamu untuk kau keluarkan manusia dari kegelapan kepada nur dengan izin Tuhan mereka hingga mereka menuju kepada Jalan Yang Mulia lagi Maha Terpuji” ( Ibrahim, 1 )
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيداً عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيداً عَلَى هَؤُلاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شئ وَهُدىً وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
“ Dan hari kami utuskan pada setiap umat shahid / saksi ke atas mereka dari diri mereka sendiri dan Kami datangkan kepada kamu saksi ke atas mereka dan Kami turunkan kepadamu kitab yang menerangkan setiap sesuatu dan sebagai hidayah, Rahmah dan kegembiraan untuk orang-orang muslim” ( An Nahl, 89 ).
Dari ini kita memahami bahawa keberadaan Rasulullah merupakan melengkapkan dan menyempurnakan Islam. Sekarang ini persoalan tentang ayat 3 surah Al Maidah, apa yang dimaksudkan dengan Firman Allah, Allah menyempurnakan Agama, melengkapkan Nikmat dan redhai Islam sebagai Agama. Sudah tentu ia memberi makna yang berbeza dengan diutusnya Rasulullah dan syariat kerana surah Al Maidah adalah antara surah yang terahkir yang diturunkan. Ini bererti sesuatu di luar kerasulan dan Syariat. Berdasarkan kepada ayat-ayat hikmah diutusnya Nabi dan Rasul, kita dapat memahami bahawa sesuatu itu adalah pengemban/penyambung tugas para Nabi dan Rasul walau tanpa gelar Nabi dan Rasul. Islam perlu kekal berada dalam bentuk Muhammadi setelah Rasulullah hingga akhir zaman di bawah kepimpinan Sahibuzaman AJ.
Penyerahan ini perlu bermula pada zaman hidup Rasulullah SAAW. Berdasarkan nas-nas yang mutawatir, Rasulullah dari awal tablighnya telah menunjukkan bahawa kepimpinan selepas beliau adalah hak Imam Ali bin Abi Talib as serta 11 orang Imam dari zuriahnya. Ayat 3 dari surah Al Maidah mengisyarahkan tentang peristiwa Al Ghadir dengan lebih dari 90 sahabat yang meriwayatkannya. Penyataan dan diklerasi Ghadir bermula dengan Rasulullah menyampaikan khutabahnya dan membaca ayat :
النبي أولى بالمؤمنين من أنفسهم
“Nabi lebih berhak kepada orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri”
Ayat ini menegaskan hak Rasulullah dari Allah ke atas diri orang-orang mukmin. Ini adalah hakkaniyah mutlak Rasulullah SAAW. Yang menganugerahkannya adalah Allah SWT. Ini adalah perintah mutlak Allah kepada orang-orang yang beriman untuk menyerahkan jiwa dan raga mereka dalam mentaati Rasulullah SAAW. Setelah itu Rasulullah bertanya kepada yang hadir di Al Ghadir.
ألستُ أولى بالمؤمنين من أنفسهم؟ قالوا: بلى.
‘Apakah aku tidak lebih berhak kepada orang mukmin lebih dari diri mereka sendiri?, yang hadir sepontan menjawab, sudah tentu’
Jawapan ini menunjukkan ‘maqbuliyah’ penerimaan mutlak mukminin bahawa Rasulullah lebih berhak ke atas diri mereka. Ini juga mengisyarahkan bahawa mereka mutlak akan taat kepada perintah Rasulullah SAAW. Setelah itu Rasulullah meneruskan :
من كنتُ مولاه فعليٌّ مولاه
‘sesiapa yang menganggap aku sebagai maulanya/pemimpinnyya, maka Ali adalah Maulanya’
Di Ghadir Khum Rasulullah sekali mendeklarasikan hakkaniyah Amirul Mukminin dan menuntut maqbuliyyah dari yang hadir. Yang pertama bangun untuk menyatakan maqbuliyyah adalah khalifah yang kedua.
بخٍ بخٍ لك يا أبا الحسن أصبحت مولايَ ومولى كل مسلم ومسلمة». ( النهاية لابن كثير:7 /386 ).
Taniah taniah wahai Abal Hassan, kamu telah menjadi maulaku dan maula kesemua muslim dan muslimat.
Selama tiga hari mereka berkampung di Ghadir Khum untuk melakukan baiah ‘maqbuliyyah’ kepimpinan Amirul Mukminin as.
Setelah kewafatan Rasulullah, kudeta Saqifah telah menafikan maqbuliyah ini walau hakkaniyah tetap bersama dengan Amirul Mukminin as. Selama 23 tahun Amirul Mukminin as mengasingkan diri hingga semua penduduk Madinah datang meminta beliau menerima kedudukan khalifah. Amirul Mukminin as tidak langsung menerima pemintaan mereka, hingga mereka mendatangi beliau berkali-kali dan Amirul Mukminin as mensyaratkan baiah tersebut mesti dilakukan di Mesjid Nabawi. Hal yang pertama yang dilakukan oleh Amirul Mukminin as adalah meminta penyaksian ahli Badar tentang baiah Ghadir Khum. Dengan Baiah tersebut Amirul Mukminin as dapat menjalankan pemerintahan adil Ilahi dan menghidupkan sunnah nabawi. Ini kerana selain memiliki hakkaniyah, beliau didukung dengan maqbuliyah/penerimaan masyarakat.
Hal ini juga berlaku kepada Imam-imam selepas beliau. Mereka semua memiliki hak dari Allah tetapi kerana tidak mendapat maqbuliyah maka mereka tidak dapat melaksanakan pemerintahan adil Ilahi. Dan ini juga merupakan antara hikmah gaibah Sahibuzam AJ hingga masyarakat dunia siap untuk menerima kehadiran dan kepimpinannya.
Monday, September 28, 2015
Tarikh Syiah 2
|
Tarikh Syiah 2
Pendirian kalangan Syiah bahwa Ali bin Abi Talib adalah
imam atau khalifah yang seharusnya berkuasa setelah wafatnya Nabi Muhammad
SAW telah tumbuh sejak Nabi Muhammad SAW masih hidup, dalam arti bahwa Nabi
Muhammad SAW sendirilah yang menetapkannya. Dengan demikian menurut Syiah,
inti dari ajaran Syiah itu sendiri telah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
Namun demikian, terlepas dari semua pendapat tersebut,
yang jelas adalah bahwa Syiah baru muncul ke permukaan setelah dalam kemelut
antara pasukan Ali dan pasukan Mu'awiyah terjadi pula kemelut antara sesama
pasukan Ali. Di antara pasukan Ali pun terjadi pula pertentangan antara yang
tetap setia kepada Ali dan yang membangkang.
Setelah kematian Ali bin Abi Talib pada tahun 40 H akibat
tusukan benda tajam beracun oleh Abdur Rahman bin Muljam, kursi kekhalifahan
beralih kepada Hasan bin Ali, anak Khalifah Ali dari istrinya, Fatimah
az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW. Kekuasaan Hasan bin Ali tidak bertahan
lama karena pendukungnya makin lama makin berkurang. Sementara itu, para
pendukung Mu'awiyah bin Abu Sufyan yang menuntut kursi kekhalifahan bagi
dirinya semakin bertambah. Melihat gelagat yang kurang baik ini, akhirnya
Hasan bin Ali terpaksa menyerahkan kedudukannya kepada Mu'awiyah dengan persyaratan-persyaratan
yang telah disepakati bersama, yaitu antara lain : kursi kekhalifahan sesudah
Mu'awiyah diserahkan kepada pilihan umat, tidak melaknat Ali bin Abi Talib,
dan tidak mengambil tindakan balas dendam terhadap kaum Syiah. Namun, Mu'awiyah
tidak menepati janji-janjinya itu. Kedudukan sebagai khalifah dialihkannya
kepada putranya (Yazid), Ali bin Abi Talib selalu dikutuknya, dan para Syiah
pengikut Ali diburunya.
Akibat perlakuan Mu'awiyah, kaum Syiah hidup dalam suasana
tegang dengan para penguasa. Ketegangan ini memuncak pada tanggal 10 Muharam
61, yaitu ketika Husein bin Ali dan sebagian kerabat Nabi Muhammad SAW
dibantai di Padang Karbala, Irak. Peristiwa ini melahirkan aksi-aksi
pemberontakan yang berkepanjangan di kalangan sebagian pengikut Syiah di
kemudian hari, seperti pemberontakan Mukhtar as-Saqafi, pemberontakan Zaid
bin Ali bin Husein, pemberontakan Yahya bin Zaid, dan pemberontakan Nafs
az-Zakiyyah.
Persoalan Imamah.
Sejalan dengan perkembangan zaman dan sesuai dengan
keadaan umat Islam lainnya, dalam Syiah pun berkembang berbagai pemikiran
keislaman yang pada intinya berpusat pada tokoh-tokoh Ahlulbait (keluarga
Nabi Muhammad SAW), seperti Ali bin Husein Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir,
Zaid bin Ali, dan Ja'far as-Sadiq. Pemikiran yang paling menonjol terletak
pada persoalan imamah atau kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Nabi
Muhammad SAW. Hampir semua sekte Syiah menekankan arti penting kepemimpinan
Ali bin Abi Talib. Persoalan imamah inilah yang membedakan Syiah dari aliran-aliran
Islam lainnya seperti Khawarij, Muktazilah, dan Ahlusunah waljamaah.
Dalam hal ini, golongan Syiah mengajukan berbagai alasan
atas keyakinan mereka itu, baik berupa alasan-alasan 'aqliyyah (secara rasio) maupun alasan-alasan naqliyyah (berdasarkan yang tertulis,
yakni Al-Qur'an dan hadis). Alasan-alasan naqliyyah
yang mreka ajukan di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, surah al-Ma'idah ayat 55 yang artinya :
"Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang
yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka
tunduk (kepada Allah)." Menurut Syiah, orang yang beriman yang dimaksud
pada ayat tersebut adalah Ali bin Abi Talib. Kedua, sabda Nabi SAW dalam
hadis al-Gadir yang artinya : "Barangsiapa yang menganggap aku ini
adalah pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya." (HR. Ahmad)
Sekte-Sekte dalam Syiah.
Selain membedakan Syiah dengan aliran-aliran Islam
lainnya, persoalan imamah juga menimbulkan sekte-sekte dalam Syiah itu
sendiri. Semua sekte Syiah sepakat bahwa imam yang pertama adalah Ali bin Abi
Talib, kemudian Hasan bin Ali, lalu Husein bin Ali. Namun, setelah itu muncul
perselisihan mengenai siapa pengganti Imam Husein. Dalam hal ini muncul dua
kelompok dalam Syiah. Kelompok pertama meyakini imamah beralih kepada Ali bin
Husein - Zainal Abidin, putra Husein bin Ali. Sedangkan kelompok lainnya
meyakini bahwa imamah beralih kepada Muhammad bin Hanafiyah, putra Ali bin
Abi Talib dari istri bukan Fatimah.
Akibat perbedaan antara kedua kelompok ini, muncullah
berbagai sekte dalam Syiah. Sebagian di antara sekte-sekte ini sebetulnya
tidak dapat disebut sebagai sekte atau aliran karena hanya merupakan
pandangan seseorang atau sekelompok kecil saja. Para penulis klasik
berselisih tajam mengenai jumlah sekte dalam Syiah. Akan tetapi, para ahli
umumnya membagi sekte Syiah dalam empat golongan besar, yaitu Kaisaniyah,
Zaidiah, Imamiyah, dan Kaum Gulat.
|