Konsep Kenabian
Bagaimana Mungkin Kenabian dan Imâmah
Diperoleh pada Usia Belia?
Di dalam surat Maryam [19], ayat 12 kita membaca, “Hai
Yahya, ambillah al-Kitab [Taurat itu] dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan
kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.”
Berangkat dari ayat ini, soal yang kemudian mengemuka
adalah bagaimana mungkin seorang manusia pada masa kecilnya telah mencapai
kedudukan kenabian dan kerasulan?
Benar bahwa masa berseminya akal manusia biasanya
memiliki batasan dan ukuran khusus. Akan tetapi, kita ketahui bahwa pada
segenap manusia, terdapat orang-orang yang memiliki keistimewaan. Apa halangan
bagi Allah Swt. -dengan alasan maslahat- menyingkat waktu sebagian
hamba-hamba-Nya? Biasanya seseorang memerlukan waktu satu atau dua tahun untuk
dapat berbicara. Sementara kita ketahui bahwa Nabi Isa a.s. telah dapat
berbicara pada hari pertama kelahirannya ke dunia, itu pun dengan ucapan yang
sarat makna yang -menurut kebiasaan umum- sebobot ucapan orang-orang dewasa.
Dari sini akan menjadi jelas bagi sebagian orang yang
mempermasalahkan para Imam Syi’ah, yakni mengapa sebagian para imam maksum
mencapai kedudukan kepemimpinan (imâmah) pada usia yang masih belia?
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa salah seorang
sahabat Imam Al-Jawad bin Ali An-Naqi a.s. yang bernama Ali bin Asbath berkata,
“Aku datang menghadap kepada Imam Al-Jawad a.s. (dan pada waktu itu beliau
masih belia). Aku tegap berdiri di hadapannya dan memandangnya dengan seksama
sehingga aku dapat mencamkan dalam benakku untuk kuceritakan segala apa yang
telah terjadi kepada para sahabat sewaktu aku kembali ke Mesir (bahwa Imam
al-Jawad a.s. masih belia). Pada saat aku berpikiran demikian, Imam Al-Jawad
duduk (seakan-akan beliau dapat membaca seluruh pikiranku). Pandangannya
mengarah kepadaku seraya berkata, ‘Wahai Ali bin Asbath! Apa yang telah
dilakukan oleh Allah Swt. mengenai imâmah persis dengan apa yang telah
dilakukan oleh-Nya mengenai kenabian. Kadang-kadang Ia berfirman, ‘... Kami
berikan kepada Yahya ....’ dan kadang pula Dia berfirman tentang manusia, ‘...
Tatkala manusia mencapai usia empat puluh tahun (masa baligh sempurna)....’
Oleh karena itu, sebagaimana Allah Swt. mampu memberikan "hikmah"
kepada manusia pada masa belianya, demikian juga Ia mampu untuk memberikan
"hikmah" kepada manusia pada usia empat puluh tahun.’”[1]
Sementara itu, ayat ini juga merupakan jawaban tegas bagi
para pengkritik yang berpendapat bahwa Ali bukanlah pria pertama yang beriman
kepada Rasulullah saw., lantaran ketika itu ia adalah seorang bocah kecil yang
berusia sepuluh tahun, dan iman bocah sepuluh tahunan tidak dapat diterima.
Poin ini juga layak disebutkan di sini. Dalam sebuah
hadis dari Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s. kita membaca, “Sekelompok anak kecil
datang kepada Nabi Yahya a.s. (yang masih kecil) seraya berkata, ‘Ayo kita main
bersama!’ Yahya a.s. menjawab: ‘Kita tidak diciptakan untuk bermain.’ Di sini
Allah Swt. berfirman, ‘... Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih
kanak-kanak.’”[2]
Tentu saja, maksud dari bermain di sini adalah
menghabiskan waktu senggang tanpa alasan dan manfaat. Dengan ungkapan lain,
sebuah kekonyolan. Karena, terkadang permainan digunakan untuk mencapai sebuah
tujuan logis dan rasional. Sangat jelas bahwa permainan seperti ini termasuk
pengecualian dalam masalah ini.[3]
No comments:
Post a Comment