Thursday, January 1, 2015

Imam Ali dalam Kaca Mata Hadis

Imam Ali dalam Kaca Mata Hadis
Buku-buku literatur hadis, baik Shihâh maupun Sunan, dipenuhi oleh hadis-hadis Nabi saw. yang bagaikan bintang-gumintang gemilang mene-gaskan keutamaan pelopor keadilan Islam, Imam Ali as., dan mengang-katnya tinggi di tengah-tengah masyarakat Islam.
Setiap orang yang mau merenungkan hadis-hadis yang masyhur dan telah tersebar di kalangan para perawi hadis itu pasti memahami tujuan utama Nabi saw. di balik hadis-hadis tersebut. yaitu ia ingin mengangkat Ali as. sebagai khalifah sepeninggalnya sehingga ia menjadi penerus tong-kat estafet kenabian dan tempat rujukan umat yang bertugas menegakkan tonggak kehidupan mereka, memperbaiki kondisi mereka, dan menuntun mereka menapak jalan kehidupannya sehingga umat Islam menjadi pelopor bagi bangsa-bangsa dunia yang lain.
Bila kita mencermati hadis-hadis Nabi saw. mengenai keutamaan Imam Ali as. itu, niscaya kita temukan sekelompok hadis dikhususkan untuk dia secara khusus dan sekelompok hadis yang lain dikhususkan untuk Ahlul Bait Nabi as., yang secara otomatis kelompok hadis kedua ini juga meliputi Imam Ali as. Hal itu lantaran ia adalah junjungan ‘Itrah.
Berikut ini kami nukilkan beberapa hadis tersebut.
1. Kelompok Hadis Pertama
Hadis-hadis kelompok ini memuat berbagai macam bentuk pemuliaan dan pengagungan terhadap Imam Ali as. dan penegasan atas keutamaan-nya. Hadis-hadis tersebut adalah berikut ini:
a. Kedudukan Imam Ali as. di Sisi Nabi saw.
Amirul Mukminin Ali as. adalah satu-satunya orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Ali as. adalah ayah untuk kedua cucunya dan pintu kota ilmunya. Nabi saw. sangat menghormati dan mencintai Ali as. Beberapa hadis Nabi saw. menegaskan betapa kecintaannya saw. kepada Ali as. sangat besar. Mari kita simak bersama beberapa hadis berikut ini.
Imam Ali as. sebagai Diri Nabi saw.
Ayat Mubâhalah menegaskan kepada kita bahwa Imam Ali as. adalah diri dan jiwa Nabi saw. Kami telah memaparkan hal ini pada pembahasan yang lalu. Nabi saw. sendiri telah menjelaskan dalam berbagai hadis bah-wa Ali as. adalah diri dan jiwanya.
Pada suatu hari, Walîd bin ‘Uqbah memberikan informasi kepada Nabi saw. bahwa Bani Walî‘ah telah murtad dari Islam. Mendengar itu, Nabi saw. sangat murka dan bersabda: “Apakah Bani Walî‘ah menghen-tikan perbuatan mereka itu atau aku akan utus kepada mereka seorang laki-laki yang merupakan diri dan jiwaku; ia akan memerangi mereka dan menyandera kaum wanita mereka. Laki-laki itu adalah orang ini.” Setelah bersabda demikian, Nabi saw. menepuk pun-dak Imam Ali as.[1]
Dalam sebuah hadis, ‘Amr bin ‘Ash berkata: “Ketika aku kembali dari perang Dzâtus Salâsil, aku mengira bahwa tidak seorang pun yang lebih dicintai oleh Rasulullah saw. daripada aku. Aku bertanya kepadanya, ‘Ya Rasulallah, siapakah yang paling Anda cintai?’ Rasulullah saw. menyebutkan nama beberapa orang. Aku bertanya lagi, ‘Ya Rasulallah, di manakah Ali?’ Nabi saw. menoleh kepada para sahabat seraya bersabda, ‘Sesungguhnya ia bertanya kepadaku tentang jiwaku.’”[2]
Imam Ali as. sebagai Saudara Nabi saw.
Nabi saw. pernah mengumumkan di hadapan para sahabat bahwa Ali as. adalah saudaranya. Masalah ini telah direkam oleh banyak hadis. Antara lain ialah:
At-Turmudzî meriwayatkan dengan sanad dari Ibn Umar. Ibn Umar berkata: “Rasulullah saw. telah mempersaudarakan para sahabatnya. Ke-mudain datanglah Ali as. dengan air mata yang berlinang seraya berkata: ‘Ya Rasulallah, engkau telah mempersaudarakan para sahabatmu. Tetapi mengapa Anda tidak mempersaudarakanku dengan siapa pun?’ Rasulu-llah saw. Bersabda: ‘Engkau adalah saudaraku di dunia dan di akhirat.’”[3]
Nabi saw. mempersaudarakan Ali dengan dirinya bukan hanya di dunia ini saja. Tetapi persaudaraan antaranya Imam Ali as. ini berlanjut hingga hari akhirat yang tak berbatas.
Anas bin Malik berkata: “Rasulullah saw. naik ke atas mimbar. Setelah usai berpidato, ia bertanya, ‘Di manakah Ali bin Abi Thalib?’ Ali as. segera bangkit dan berkata: “Aku di sini, ya Rasulullah.’ Tak lama kemudian Nabi saw. memeluk Ali as. dan mencium keningnya seraya bersabda dengan suara yang lantang: ‘Wahai kaum Muslimin, Ali adalah saudaraku dan putra pamanku. Dia adalah darah dagingku dan rambutku. Dia adalah ayah kedua cucuku Hasan dan Husain, penghulu para pemu-da penghuni surga.’”[4]
Dalam sebuah riwayat, Ibn Umar berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda pada saat melaksanakan haji Wadâ‘ semen-taranya menunggangi unta sembari menepuk pundak Ali as.: “Ya Allah, saksikanlah. Ya allah, aku telah menyampaikan seruan-Mu bahwa orang ini adalah saudaraku, putra pamanku, menantuku, dan ayah kedua cucu-ku. Ya Allah, sungkurkanlah orang yang memusuhinya ke dalam api ne-raka.’”[5]
Nabi saw. dan Imam Ali as. Berasal dari Satu Pokok
Nabi saw. pernah menegaskan bahwa ia saw. dan Ali as. berasal dari satu pohon yang sama. Hal ini telah disebutkan dalam beberapa hadis. Berikut ini adalah contoh dari hadis-hadis tersebut:
Dalam sebuah hadis, Jâbir bin Abdillah berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda kepada Ali as.: ‘Hai Ali, sesungguh-nya umat manusia berasal dari berbagai pohon yang berbeda. Sementara engkau dan aku berasal dari satu pohon yang sama.’ Kemudian beliau membacakan ayat:
“Dan di atas bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdam-pingan (tapi berbeda-beda), dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercAbâng dan yang tidak bercAbâng, disirami dengan air yang sama ...” (QS. Ar-Ra’d [13]:4)
Rasulullah saw. bersabda: “Aku dan Ali as. berasal dari satu pohon, se-dangkan umat manusia berasal dari pohon yang berbeda-beda.”[6]
Sungguh betapa agung dan mulia pohon tersebut yang telah melahirkan junjungan alam semesta, Rasulullah saw., dan pintu kota ilmunya, Amirul Mukminin Ali as. Pohon ini adalah pohon yang penuh berkah; pohon yang akarnya menghujam ke dalam bumi dan ranting-ran-tingnya menjulang ke langit, dan membuahkan hasil bagi umat manusia pada setiap generasi.
Imam Ali as. sebagai Wazîr Nabi saw.
Dalam beberapa hadis, Nabi saw. sangat menekankan bahwa Ali as. adalah wazîrnya. Di antara hadis-hadis tersebut ialah berikut ini:
Dalam sebuah hadis, Asmâ’ binti ‘Umais berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. Bersabda: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku ber-kata sebagaimana saudaraku, Mûsâ berkata: ‘Ya Allah, jadikanlah untukku seorang wazîr dari keluargaku, yaitu saudaraku Ali. Kokohkanlah aku dengannya, sertakanlah dia dalam urusanku agar kami banyak bertasbih kepada-Mu dan senantiasa mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui kondisi kami”.[7]
Imam Ali as. sebagai Khalifah Nabi saw.
Nabi saw. memproklamasikan bahwa Ali as. adalah khilafah sepeninggal-nya dari sejaknya memulai dakwah. Hal itu terjadi Ketika ia mengundang kaum Quraisy agar memeluk Islam. Di akhir pertemuan tersebut, ia saw. berkata kepada mereka: “Dengan demikian, orang ini—yaitu Ali as.—adalah saudaraku, washî-ku, dan khalifahku setelahku untuk kalian. De-ngarkan dan taatilah dia!”[8]
Rasulullah saw. telah menggandengkan kekhalifahan Ali as. sepe-ninggalnya dengan permulaan dakwah Islam. Ia juga telah menying-kirkan kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala. Banyak sekali riwayat yang telah menegaskan kekhalifahan Ali as. ini. Berikut ini seba-gian darinya:
Rasululllah saw. bersabda: “Hai Ali, engkau adalah khalifahku untuk umatku.”[9]
Beliau saw. juga bersabda: “Di antara mereka, Ali bin Abi Thalib paling dahulu memeluk Islam, paling banyak ilmu pengetahuannya, dan dia adalah imam dan khalifah setelahku.”
Imam Ali as. di Sisi Nabi saw. Sepadan Hârûn di Sisi Mûsâ
Banyak sekali hadis dan riwayat telah diriwayatkan dari Nabi saw. yang memiliki kandungan yang sama. yaitu ia bersabda kepda Ali as.: “Engkau di sisiku seperti kedudukan Harus di sisi Mûsâ as. ...” Berikut ini kami nukilkan sebagian hadis tersebut:
Nabi saw. bersabda kepada Ali as.: “Tidakkah engkau rela bahwa engkau di sisiku sebagaimana kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as., hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku?”[10]
Sa‘îd bin Mûsâyyib meriwayatkan hadis dari ‘Âmir bin Sa‘d bin Abi Waqqâsh, dari ayahnya, Sa’d. Sa‘d berkata: “Rasulullah saw. pernah ber-sabda kepada Ali as.: “Engkau di sisiku seperti kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as., hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku.’”
Sa‘îd berkata: “Aku ingin menyampaikan informasi tersebut kepada Sa‘d. Aku menjumpainya dan kuceritakan apa yang diceritakan oleh ‘Âmir. Sa‘d berkata: “Aku pun telah mendengarnya.’ Aku bertanya: “Sungguh engkau telah mendengarnya?” Ia meletakkan jarinya di kedua telinganya seraya berkata: “Ya, aku telah mendengarnya. Jika tidak, berarti aku tuli.’”[11]
Imam Ali as. sebagai Gerbang Kota Ilmu Nabi saw.
Satu hal lagi tentang ketinggian dan keagungan kedudukan Ali as. yang ditegaskan oleh Nabi saw. adalah bahwa ia telah menjadikannya sebagai pintu kota ilmunya. Hadis-hadis mengenai hal ini telah diriwayatkan melalui beberapa jalur sehingga mencapai peringkat qath‘î (meyakinkan). Hadis-hadis ini telah diriwayatkan dari Rasulullah saw. pada beberapa kesempatan. Di antaranya adalah berikut ini:
Jâbir bin Abdillah berkata: “Pada peristiwa Hudaibiyah, aku mende-ngar Rasulullah saw. bersabda sambil memegang tangan Ali as.: “Orang ini adalah pemimpin orang-orang saleh, pembasmi orang-orang zalim, akan ditolong siapa yang membelanya, dan akan terhina siapa yang menghinanya.’ Lalunya mengeraskan suaranya: “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya. Barang siapa yang ingin memasuki rumah, hendaklah ia masuk melalui pintunya.’”[12]
Ibn Abbâs berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang ingin memasuki kota, maka hendaklah ia mendatangi pintunya.”[13]
Rasulullah saw. bersabda: “Ali adalah pintu ilmuku dan penjelas risalahku kepada umatku sepeninggalku nanti. Mencintainya adalah iman, memurkainya adalah kemunafikan, dan memandangnya adalah kasih sayang.”[14]
Amirul Mukminin Ali as. adalah pintu kota ilmu Nabi saw. Setiap ajaran agama, hukum syariat, akhlak yang mulia, dan tata krama luhur yang datang darinya, semua itu bersumber dari Nabi saw. Konse-kuensinya, kita harus mematuhi dan mengikutinya.
Sesungguhnya Nabi saw. telah meninggalkan sumber ilmu pengetahuan untuk memenuhi kehidupan ini dengan hikmah dan kesejahteraan. Sumber itunya titipkan kepada Ali as. agar umat ini dapat menimba darinya. Tetapi sangat sekali, kekuatan zalim yang dengki kepada Imam Ali as. telah menutup jendela cahaya tersebut, mencegah umat untuk mengambil manfat darinya, dan membiarkan mereka terperosok ke dalam kebodohan hidup ini.
Imam Ali as. Serupa dengan Para Nabi
Suatu ketika Nabi saw. berada di tengah-tengah para sahabat. Ia berkata kepada mereka: “Jika kalian ingin melihat ilmu pengetahuan Adam as., kesedihan Nuh as., ketinggian akhlak Ibrahim as., munajat Mûsâ as., usia Isa as., dan petunjuk serta kelembutan Muhammad saw., maka hendaklah kalian melihat orang yang akan datang sebentar lagi.” Setelah agak lama mereka menanti-nanti siapa yang akan datang, tiba-tiba Amirul Mukmini Ali as. muncul.”
Seorang penyair terkenal, Abu Abdillah Al-Mufajji‘, telah banyak menyusun bait- bait syair tentang keagungan dan kemuliaan Imam Ali as. Ketika mengungkapkan realita tersebut di atas, ia menulis:
Wahai pendengki kekasihku Ali, masuklah ke dalam neraka Jahim dengan terhina.
Masihkah engkau menyindir manusia terbaik, sedang engkau tersingkir-kan dari petunjuk dan cahaya?
Dialah yang mirip para nabi di kala kanak dan muda, di kala menyusu, disapih dan di kala makan.
Ilmunya bagai Adam di kala ia menjelaskan nama-nama dan alam semesta.
Bagai Nuh di kala selamat dari maut ketika ia turun di bukit Jûdî.[15]
Mencintai Ali as. adalah Keimanam; Membencinnya adalah  Kemunafikan
Nabi Muhammad saw. menegaskan kepada umat bahwa mencintai Ali as. adalah tanda keimanan dan ketakwaam. Sementara membencinya adalah kemunafikan dan maksiat. Beriktu ini sebagian riwayat yang telah diri-wayatkan darinya tentang hal ini:
Ali as. berkata: “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan mencip-takan manusia, sesungguhnya janji Nabi yang ummî kepadaku adalah bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali orang mukmin dan tidak membenciku melainkan orang munafik.”[16]
Al-Musâwir Al-Humairî meriwayatkan hadis dari ibunya. Ibunya berkata: “Ummu Salamah datang menjumpaiku dan aku mendengar ia mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang munafik tidak akan mencintai Ali dan orang mukmin tidak akan membencinya.’”[17]
Ibn Abbâs pernah meriwayatkan sebuah hadis. Ia berkata: “Rasu-lullah saw. memandang kepada Ali as. seraya bersabda: “Tidak mencin-taimu melainkan orang mukmin dan tidak membencimu kecuali orang munafik. Barang siapa yang mencintaimu, berarti ia mencintaiku. Barang siapa yang membencimu, berarti ia membenciku. Kekasihku adalah kekasih Allah dan pendengkiku adalah pendengki Allah. Sungguh celaka orang yang mendengkimu setelahku nanti.’”[18]
Dalam sebuah riwayat, Abu Sa‘îd Al-Khudrî berkata: “Rasulullah saw. pernah bersabda kepada Ali as., ‘Mencintaimu adalah keimanan dan membencimu adalah kemunafikan. Orang yang pertama masuk surga adalah pecintamu dan orang pertama yang masuk neraka adalah pen-dengkimu.’”[19]
Hadis-hadis di atas telah tersebar luas di kalangan para sahabat nabi saw. Mereka menerapkan hadis-hadis tersebut kepada orang yang mencintai Ali as. dan menyebutnya sebagai orang mukmin. Sementara orang yang mendengkinya mereka sebut sebagai orang munafik.
Seorang sahabat terkemuka yang bernama Abu Dzar Al-Gifârî pernah berkata: “Kami tidak mengenal orang-orang munafik, kecuali ketika mereka berdusta kepada Allah dan Rasul-Nya, meninggalkan salat, dan mendengki Ali bin Abi Thalib as.”[20]
Seorang sahabat Nabi terkemuka lainnya yang bernama Jâbir bin Abdillah Al-Anshârî juga pernah berkata: “Kami tidak pernah mengenal orang-orang munafik kecuali ketika mereka mendengki Ali bin Abi Thalib as.”[21]
b. Kedudukan Imam Ali as. di Sisi Allah swt.
Selanjutnya kita beralih menjelaskan sebagian hadis yang telah diriwa-yatkan dari Nabi saw. berhubungan dengan keagungan Imam Ali as. di sisi Allah swt. dan kemuliaan-kemuliaan yang ia miliki.
Sejumlah hadis yang telah diriwayatkan dari Rasulullah saw. Ber-hubungan dengan kemuliaan Imam Ali as. di sisi Allah di akhirat kelak. Sebagian hadis tersebut adalah berikut ini:
Imam Ali as. sebagai Pembawa Bendera Pujian
Banyak sekali hadis sahih dari Nabi saw. yang menjelaskan bahwa Imam Ali as. pada Hari Kiamat kelak akan diberikan kemuliaan oleh Allah swt. untuk membawa bendera pujian. Hal ini adalah anugerah khusus yang tidak diberikan kepada siapa pun selainnya. Di antara hadis-hadis terse-but adalah hadis berikut ini:
Rasulullah saw. bersabda kepada Imam Ali as.: “Pada Hari Kiamat kelak, engkau akan berada di hadapanku. Ketika itu aku diberi bendera pujian, lalu bendera tersebut kuserahkan kepadamu. Sementara engkau sedang mengusir orang-orang (yang tidak berhak) dari telagaku.”[22]
Imam Ali as. sebagai Pemilik Telaga Haudh Nabi saw.
Banyak sekali hadis Nabi saw. yang menjelaskan bahwa Imam Ali as. adalah pemilik telaga Haudh Nabi saw., sungai di surga yang paling sejuk, paling manis, dan sangat indah dipandang mata itu. Tak seorang pun da-pat meneguk airnya kecuali orang yang ber-wilâyah dan mencintai Imam Ali as. Berikut ini kami paparkan sebagian hadis tersebut:
Rasulullah saw. bersabda: “Ali bin Abi Thalib as. adalah pemilik te-laga Haudh-ku kelak di Hari Kiamat. Di sekelilingnya berjejer gelas-gelas sebanyak bilangan bintang di langit. Luas telaga Haudh-ku itu sejauh antara Jâbiyah dan Shan’a.”[23]
Imam Ali as. sebagai Pemilah Surga dan Neraka
Di antara posisi agung dan mulia yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada pintu kota ilmunya ini adalah bahwa ia adalah pemilah surga dan nereka. Ibn Hajar pernah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Imam Ali as. pernah berkata kepada anggota Dewan Syura yang telah dipilih oleh Umar: “Demi Allah, apakah di antara kalian ada seseorang yang pernah disebut oleh Rasulullah saw. dengan sabda: ‘Wahai Ali, engkau adalah pe-milah surga dan neraka pada Hari Kiamat kelak’, selainku?”
“Tak seorang pun”, jawab mereka pendek.
Ibn Hajar memberikan catatan atas hadis ini. Ia menulis: “Maksud-nya ialah ucapan yang pernah diriwayatkan dari Imam Ar-Ridhâ as. Sabda Nabi saw. kepada Ali as.: ‘Engkau adalah pemilah surga dan neraka pada Hari Kiamat kelak’, berarti engkau, hai Ali, berkata kepada neraka: ‘Ini adalah bagianku dan yang ini adalah bagianmu.’”[24]
Dapat dipastikan bahwa tak seorang wali Allah pun, baik sebelum maupun setelah Islam, yang pernah memperoleh kemuliaan tak berbatas ini seperti yang pernah diperoleh oleh Imam Ali as. Allah swt. telah menganugerahkan kemulian itu kepadanya sebagai penghargaan atas jerih payah dan jihadnya di jalan Islam, dan atas usahanya dalam mengikis habis egoisme dan kerelaannya berkhidmat kepada kebenaran.
2. Kelompok Hadis Kedua
Tidak sedikit hadis yang telah diriwayatkan dari Nabi saw. tentang keu-tamaan Ahlul Bait Nabi saw. yang suci, keharusan mencintai dan berpegang teguh kepada mereka. Berikut ini adalah sebagian dari hadis-hadis tersebut:
Hadis Tsaqalain        
Hadis Tsaqalain termasuk hadis Nabi saw. yang paling indah, paling sahih, dan paling tersebar luas di kalangan muslimin. Hadis ini telah diabadikan oleh Enam Kitab Sahih (Al-Kutub As-Sittah), dan para ulama juga mene-rimanya.
Perlu diingatkan di sini bahwa Nabi saw. telah menyampaikan hadis tersebut di beberapa tempat dan kesempatan. Di antaranya berikut ini:
Zaid bin Arqam meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Sesung-guhnya aku tinggalkan dua pusaka berharga untuk kalian. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya sepeninggalku nanti. Salah satunya lebih agung daripada yang lainnya. Yaitu Kitab Allah, tali yang membentang dari langit ke bumi, dan yang kedua adalah ‘Itrahku, Ahlul Baitku. Keduanya itu tidak akan per-nah berpisah sampai menjumpaiku di telaga Haudh kelak. Perhatikanlah bagaimana kalian memperlakukan keduanya itu sepeninggalku kelak.”[25]
Nabi saw. juga pernah menyampaikan hadis ini ketika sedang melaksanakan haji Wada’ pada hari Arafah. Jâbir bin Abdillah Al-Anshârî meriwayatkan hadis seraya berkata: “Aku melihat Rasulullah saw. pada haji Wada’ pada hari Arafah. Ketika itunya berpidato sedangnya berdiri di atas punggung untanya yang bernama Al-Qashwâ’. Aku mendengarnya berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang jika kalian mengikutinya, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan ‘Itrahku, Ahlul Baitku.’”[26]
Rasulullah saw. juga pernah berpidato di hadapan para sahabat Ketika ia berada di atas ranjang pada saat mendekati wafat. Ia saw. Ber-sabda: “Wahai manusia, sebentar lagi nyawaku akan diambil dengan cepat, lalu aku pergi. Dan sebelum ini aku pernah menyampaikan suatu ucapan kepada kalian. Yaitu aku tinggalkan untuk kalian Kitab Tuhanku Yang Mulia nan Agung dan ‘Itrahku, Ahlul Baitku.” Kemudian ia saw. memegang tangan Ali as. seraya berkata: “Inilah Ali yang selalu bersama Al-Qur’an dan Al-Qur’an pun senantiasa bersamanya. Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga mendatangiku di telaga Haudh.”[27]
Hadis Bahtera Nuh as.
Dalam sebuah riwayat, Abu Sa‘îd Al-Khudrî berkata: “Aku pernah men-dengar Rasulullah saw. Bersabda: ‘Sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baitku di tengah-tengah kalian bagaikan bahtera Nuh as. selamatlah orang yang menaikinya, dan bnasalah orang yang meninggalkannya, maka ia akan tenggelam. Dan perumpamaan Ahlul Baitku di tengah-tengah kalian bagaikan pintu Hiththah (pengampunan) bagi Bani Isra’il. Barang siapa yang memasukinya, dosanya akan diampuni.”[28]
Hadis tersebut menegaskan agar umat manusia berpegang teguh kepada ‘Itrah suci. Karena mereka adalah kunci keselamatan mereka dari tenggelam dan kebinggungan hidup ini. Ahlul Bait adalah bahtera penye-lamat dan pengaman bagi umat manusia.
Imam Syarafuddin menulis: “Anda tahu bahwa maksud dari penye-rupaan mereka dengan bahtera Nuh as. adalah bahwa barang siapa yang bersandar kepada mereka di dunia dan akhirat; yaitu mengambil ajaran agama, baik pondasi maupun cAbângnya, dari para imam suci, maka ia akan selamat dari azab api neraka. Dan barang siapa mem-belakangi mereka, maka ia seperti orang yang berlindung kepada bukit ketika topan bergemuruh kencang agar selamat dari ketentuan Allah. Perbedaannya, ia hanya tenggelam di air. Sedangkan orang yang mening-galkan para imam suci akan terjerumus ke dalam neraka Jahanam. Semoga Allah melin-dungi kita.
“Adapun sisi penyerupaan mereka dengan pintu pengampunan, artinya adalah Allah swt. menjadikan pintu tersebut sebagai salah satu lambang kerendahan diri terhadap keagungan-Nya dan ketundukan kepa-da ketentuan-Nya. Dengan demikian pintu itu menjadi faktor pengam-punan dosa. Ini adalah rahasia penyerupaan tersebut”.
Akan tetapi Ibn Hajar berupaya mengutarakan rahasia yang lain di balik penyerupaan itu. Setelah memaparkan hadis tersebut dan hadis-hadis lainnya yang serupa, ia menuliskan: “Sisi penyerupaan mereka dengan bahtera Nuh as. yaitu bahwa barang siapa yang mencintai dan menghormati mereka karena mensyukuri nikmat kemuliaan mereka dan mengikuti petunjuk ulama mereka, maka ia akan selamat dari kegelapan pertentangan. Dan barang siapa yang meninggalkan mereka, maka ia akan tenggelam di lautan pengingkaran nikmat dan terjerumus ke dalam lembah kesesatan ... Adapun faktor penyerupaan mereka dengan pintu Hiththah adalah bahwa sesungguhnya Allah swt. telah menjadikan masuk ke pintu Araiha atau Baitul Maqdis dengan rasa rendah hati dan beris-trigfar sebagai faktor pengampunan dosa, dan juga menjadikan kecintaan kepada Ahlul Bait sebagai sebab pengampunan dosa bagi umat ini, (tidak lebih dari itu).[29]
Hadis Ahlul Bait Pengaman Umat
Nabi saw. mewajibkan kecintaan kepada Ahlul Bait atas umat ini. Ia menegaskan bahwa berpegang teguh kepada mereka adalah faktor pengaman dari kehancuran. Ia saw. bersabda: “Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk bumi dari tenggelam. Dan Ahlul Baitku adalah pengaman bagi umatku dari pertentangan dan pertikaian. Apabila salah satu kabilah Arab menentang mereka, ini berarti mereka telah bertikai. Akibatnya, mereka menjadi pengikut Iblis.”[30]

1. [1]Majma‘Az-Zawâ’id, Jil. 7/110. Ternyata Walîd berdusta. Maka turunlah ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan ....” (QS. Al-Hujurât [49]:6)
1. [2]Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/400.
2. [3]Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/299; Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/14.
3. [4]Dzakhâ’ir Al-‘Uqbâ,  hal. 92.
1. [5]Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 3/61.
2. [6]Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/154.
3. [7]Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/163.
1. [8]Târîkh At-Thabarî, Jil. 2/127; Târîkh Ibn Atsîr, Jil. 2/22; Târîkh Abi Al-Fidâ’, Jil. 1/116; Mus-nad Ahmad, Jil. 1/331; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/399.
2. [9]Al-Murâja‘ât, hal. 208.
3. [10]Musnad Abu Daud, Jil. 1/29; Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 7/195; Musykil Al-Âtsâr, Jil. 2/309; Mus-nad Ahmad bin Hanbal, Jil. 1/182; Târîkh Bagdad, Jil. 11/432; Khashâ’ish An-Nasa’î, hal. 16.
1. [11]Usud Al-Ghâbah, Jil. 4/26; Khashâ’ish An-Nisa’î, hal. 15; Shahîh Muslim, kitab Fadhâ’il Al-Ashhâb, Jil. 7/ 120.
2. [12]Târîkh Bagdad, Jil. 2/ 377.
3. [13]Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 401.
4. [14]Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 156; As-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 73.
1. [15]Mu‘jam Al-Udabâ’, Jil. 17/200.
2. [16]Shahîh At-Turmudzî, Jil. 1/ 301; Shahîh Ibn Mâjah, Jil. 12; Târîkh al-Baghdad, Jil. 1/255; Hilyah Al-Awliyâ’, Jil. 4/ 185.
3. [17]Shahîh At-Turmudzî, Jil. 1/ 299.
1. [18]Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/ 133.
2. [19]Nûr Al-Abshâr, hal. 72.
3. [20]Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/ 129.
4. [21]Al-Istî‘âb, Jil. 2/ 464.
1. [22]Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/ 400.
2. [23]Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 1/ 367.
3. [24]Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 75.
1. [25]Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/ 308.
2. [26]Ibid; Jil. 2/ 308; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 1/ 84.
1. [27]Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, hal. 75.
2. [28]Majma‘ Az-Zawâ’id, Jil. 9/168; Al-Mustadrak, Jil. 2/ 43; Târîkh al-Baghdad, Jil. 2/120; Al-Hilyah, Jil. 4/ 306; Adz-Dzakâ’ir, hal. 20.
1. [30]Mustadrak Al-Hâkim, Jil. 3/ 149; Kanz Al-‘Ummâl, Jil. 6/116. Dalam kitab Faidh Al-Qadîr dan Majma‘ Az-Zawâ’id, Nabi saw. bersabda: “Bintang-bintang adalah pengaman bagi penduduk bumi dan Ahlu Baitku adalah pengaman bagi umatku.”
2. [31]Ar-Riyâdh An-Nâdhirah, Jil. 2/ 252. Hadis serupa terdapat dalam Shahîh At-Turmudzî, Jil. 2/ 319 dan Sunan Ibn Mâjah, Jil. 1/ 52.


Monday, December 22, 2014

Konsep Kenabian


Konsep Kenabian
 Bagaimana Mungkin Kenabian dan Imâmah Diperoleh pada Usia Belia?
Di dalam surat Maryam [19], ayat 12 kita membaca, “Hai Yahya, ambillah al-Kitab [Taurat itu] dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.”
Berangkat dari ayat ini, soal yang kemudian mengemuka adalah bagaimana mungkin seorang manusia pada masa kecilnya telah mencapai kedudukan kenabian dan kerasulan?
Benar bahwa masa berseminya akal manusia biasanya memiliki batasan dan ukuran khusus. Akan tetapi, kita ketahui bahwa pada segenap manusia, terdapat orang-orang yang memiliki keistimewaan. Apa halangan bagi Allah Swt. -dengan alasan maslahat- menyingkat waktu sebagian hamba-hamba-Nya? Biasanya seseorang memerlukan waktu satu atau dua tahun untuk dapat berbicara. Sementara kita ketahui bahwa Nabi Isa a.s. telah dapat berbicara pada hari pertama kelahirannya ke dunia, itu pun dengan ucapan yang sarat makna yang -menurut kebiasaan umum- sebobot ucapan orang-orang dewasa.
Dari sini akan menjadi jelas bagi sebagian orang yang mempermasalahkan para Imam Syi’ah, yakni mengapa sebagian para imam maksum mencapai kedudukan kepemimpinan (imâmah) pada usia yang masih belia?
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa salah seorang sahabat Imam Al-Jawad bin Ali An-Naqi a.s. yang bernama Ali bin Asbath berkata, “Aku datang menghadap kepada Imam Al-Jawad a.s. (dan pada waktu itu beliau masih belia). Aku tegap berdiri di hadapannya dan memandangnya dengan seksama sehingga aku dapat mencamkan dalam benakku untuk kuceritakan segala apa yang telah terjadi kepada para sahabat sewaktu aku kembali ke Mesir (bahwa Imam al-Jawad a.s. masih belia). Pada saat aku berpikiran demikian, Imam Al-Jawad duduk (seakan-akan beliau dapat membaca seluruh pikiranku). Pandangannya mengarah kepadaku seraya berkata, ‘Wahai Ali bin Asbath! Apa yang telah dilakukan oleh Allah Swt. mengenai imâmah persis dengan apa yang telah dilakukan oleh-Nya mengenai kenabian. Kadang-kadang Ia berfirman, ‘... Kami berikan kepada Yahya ....’ dan kadang pula Dia berfirman tentang manusia, ‘... Tatkala manusia mencapai usia empat puluh tahun (masa baligh sempurna)....’ Oleh karena itu, sebagaimana Allah Swt. mampu memberikan "hikmah" kepada manusia pada masa belianya, demikian juga Ia mampu untuk memberikan "hikmah" kepada manusia pada usia empat puluh tahun.’”[1]
Sementara itu, ayat ini juga merupakan jawaban tegas bagi para pengkritik yang berpendapat bahwa Ali bukanlah pria pertama yang beriman kepada Rasulullah saw., lantaran ketika itu ia adalah seorang bocah kecil yang berusia sepuluh tahun, dan iman bocah sepuluh tahunan tidak dapat diterima.
Poin ini juga layak disebutkan di sini. Dalam sebuah hadis dari Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s. kita membaca, “Sekelompok anak kecil datang kepada Nabi Yahya a.s. (yang masih kecil) seraya berkata, ‘Ayo kita main bersama!’ Yahya a.s. menjawab: ‘Kita tidak diciptakan untuk bermain.’ Di sini Allah Swt. berfirman, ‘... Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.’”[2]
Tentu saja, maksud dari bermain di sini adalah menghabiskan waktu senggang tanpa alasan dan manfaat. Dengan ungkapan lain, sebuah kekonyolan. Karena, terkadang permainan digunakan untuk mencapai sebuah tujuan logis dan rasional. Sangat jelas bahwa permainan seperti ini termasuk pengecualian dalam masalah ini.[3]


Kedudukan ahlulbayt a.s



Kedudukan ahlulbayt a.s

Kedudukan Ahlu l-Bait Rasulullah s.a.w adalah lebih tinggi dari kedudukan para sahabat

Justeru kedudukan Ahlu l-Bait Rasulullah s.a.w adalah lebih tinggi daripada kedudukan sahabat. Rasulullah s.a.w bersabda: “Kami Ahlu l-Bait tidak boleh dibandingkan dengan orang lain” (al-Qundizi al-Hanafi, Yanabi‘ al-Mawaddah, hlm. 206). Meletakkan Ahlu l-Bait Rasulullah s.a.w setaraf dengan sahabat adalah tidak tepat dan bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadis Nabi s.a.w itu sendiri.

(I). Kerana mencintai Ahlu l-Bait Rasulullah s.a.w itu adalah wajib sebagaimana firman-Nya di dalam surah al-Syura (42):23 “Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu suatu upahpun kecuali kasih sayang kepada kerabat(ku)” Maksud dengan kerabat (al-Qurba) di dalam ayat itu adalah Ahlu l-Kisa’: Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Ibn Abbas berkata manakala turun ayat, mereka bertanya: Sapakah kerabat yang diwajibkan ke atas kami kasih sayang terhadap mereka? Rasulullah s.a.w bersabda: Ali, Fatimah dan dua anak lelakinya” (Ibn Kathir, Tafsir, iv, hlm. 122, al-Tabari, Tafsir, xxv, 16, al-Zamakhsyari, Tafsir al-Kasysyaf, iii, 467).

Soalnya (a): Bagaimana saudara kami Ahli Sunnah Wal-Jama‘ah menunjukkan kasih sayang mereka kepada Fatimah al-Zahra’ sepenuhnya (100%) sedangkan mereka menyokong Abu Bakar dan Umar ketika mereka menyerang rumah Fatimah a.s supaya memberi baiah kepada Abu Bakar, kemudian merampas Fadak daripadanya dan menegah pemberian khumus kepadanya?

(b) Bagaimana saudara kami Ahli Sunnah Wal-Jama‘ah menunjukkan kasih sayang mereka sepenuhnya (100%) kepada Ali a.s sedangkan mereka menyokong Abu Bakar dan Umar menjadi Khalifah, walaupun Rasulullah s.a.w melantiknya sebagai Khalifah selepasnya sedangkan Ali as menuntut haknya dan adakah Ali a.s berbohong di dalam tuntutannya itu?

(c) Adakah saudara kami Ahli Sunnah Wal-Jama‘ah merasakan bahawa Fatimah, Ali, Hasan dan Husain a.s telah berbohong ketika mereka menuntut jawatan Khlifah daripada Abu Bakar? Jika mereka berbohong, maka mereka tidak disucikan?

(d) Bagaimana mereka menunjukkan kasih sayang mereka sepenuhnya kepada Husain as ketika beliau diserang dan dibunuh di Karbala’ sedangkan mereka menyokong pembunuh-pembunuhnya? (e) Bagaimana mereka menunjukkan kasih sayang mereka kepada Rasulullah s.a.w sepenuhnya (100%) sedangkan mereka mematuhi Sunnah Abu Bakar, Umar dan Uthman? Soalnya: Adakah cinta dan kebencian boleh bersatu? Jawapannya:

(a). Allah S.W.T berfirman di dalam surah al-Ahzab (33): 4 “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya”
(b). Rasulullah s.a.w bersabda: " Cinta kepada Ali adalah keimanan dan membencinya adalah nifaq” “Kamu cintailah aku kerana kecintaan kamu kepada Allah, cintailah Ahlu Baiti (keluargaku) kerana kamu mencintaiku” (Sunan al-Turmudhi,v/622/3789, Tarikh Baghdad, iv/160, al-Mustadrak, iii/4716, Usd al-Ghabah, ii,/18).
(c). Amir al-Mukminin Ali bin Abi Talib as berkata: Tidak akan berhimpun cinta kami (hubbu-na) dan cinta musuh kami (hubbu ‘aduwwi-na) di dalam rongga seseorang. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.

Justeru cinta dan kebencian tidak akan bertemu. Adapun pencinta kami (muhibbu-na), maka cintanya bersih sepertilah emas yang dibersihkan dengan api, tanpa sebarang kekotoran padanya. Lantaran itu sesiapa yang ingin mengetahui cinta kami, maka hendaklah dia memeriksa hatinya. Jika cintanya kepada kami dikongsi bersama oleh cintanya kepada musuh kami, maka dia bukanlah dari kami, dan kami bukanlah daripadanya. Allah adalah musuh mereka, Jibrail , Mika’il dan Allah adalah musuh bagi mereka yang ingkar”
(Bihar al-Anwar, 27, hlm. 51, hadis no.1). Ini bererti cinta dan kebencian tidak boleh bersatu.

(d) Ketiga-tiga Khalifah tersebut wajib menunjukkan kasih sayang mereka kepada Fatimah, Hasan Husain dan Ali as sepenuhnya (100%) kerana mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Mereka terikat dengan ayat Mawaddah tersebut. Soalnya: Adakah Ahli Sunnah Wal-Jama‘ah percaya bahawa mereka tidak terikat dengan ayat tersebut?

(II). Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesiapa yang mati kerana mencintai keluarga Muhammad (ali Muhammad), maka dia akan mati sebagai syahid”. “Sesiapa yang mati kerana mencintai kelauarga Muhammad, maka dia akan diampun dosanya” (al-Zamakhsyari, Tafsir Kasysyaf, iv, hlm.220) dan sabdanya: Cintailah Ahlu Baitku kerana kalian mencintaiku” (Sunan al-Turmudhi, v, 622/3789, Tarikh Baghdad, iv, hlm.160). Oleh itu, wajib mencintai Ahlu l-Bait Rasulullah s.a.w kerana mereka adalah manusia yang suci yang dicintai oleh Rasulullah s.a.w.

(III). Rasulullah s.a.w bersabda: “Umpama Ahlu l-Baitku adalah pada kamu adalah seperti bahtera Nuh, siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang tidak menaikinya akan tenggelam” (al-Hakim, al-Mustadrak, ii, hlm.343, al-Tabrani, al-Ausat, hlm.216). Hadis ini menunjukkan bahawa Khalifah adalah daripada Ahlu l-Bait as yang mana ketuanya adalah nabi s.a.w dan ketika wafat, baginda berjanji kepada Ahlu l-Baitnya supaya memudinya. Anak lelaki nabi Nuh as tidak berjaya kerana dia tidak bersama bahtera bapanya.

Nuh a.s telah menyeru anak lelakinya supaya menaiki bahtera bersamanya surah Hud (11):42 “Wahai anakku! Naiklah (ke bahtera) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang yang kafir” Anak lelakinya menjawab dia akan menaiki gunung bagi mengilakkan dari air bah. Surah Hud (11): 43“Dia menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!” (Nuh) berkata, “Tidak ada yang melindungi dari seksaan Allah pada hari ini selain Allah Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan”

(IV). Rasulullah s.a.w bersabda: Umpama Ahlu i-Baitku pada kamu sepertilah pintu taubat Bani Israel (bab hittah Bani Israil), sesiapa yang memasukinya diampun dosanya” (al-Sawa‘iq al-Muhriqah, 125, al-Mu‘jam al-Ausat,vi, hlm.85, al-Mu‘jam al-Saghir, ii, hlm.22). Hadis ini menunjukkan bahawa

Ahlu l-Bait as merupakan tempat untuk untuk mendapat keampunan ilahi seperti pintu taubat Bani Israel.

(V). Rasulullah s.a.w bersabda: “Aku adalah bandar ilmu dan Ali adalah pintunya” Justeru sesiapa yang mahukan ilmu, hendaklah dia datang melalui pintunya (Ali). (al-Mustadrak, iii,126, Tarikh Baghdad, 377, al-Sawa‘iq al-Muhriqah, hlm.37).

(VI) Rasulullah s.a.w bersabda: “Ini Ali saudaraku, wazirku, wasiku dan Khalifahku selepasku” (al-Tabari, Tarikh, ii, hlm.216, Ahmad bin Hanbal. al-Musnad, I, hlm.111, al-Muttaqi al-Hindi, al-Kanz al- ‘Ummal, vi,hlm.401). Hadis ini menunjukkan Ali a.s adalah Khalifah secara langsung selepas kewafatan Rasulullah s.a.w.

(VII) Rasulullah s.a.w bersabda: Tidakkah anda meridhai, wahai Ali, anda di sisiku sepertilah kedudukan Harun di sisi Musa hanya tidak ada nabi selepasku” (al-Bukhari, Sahih, iii, hlm. 54 (peperangan Tabuk), Muslim, Sahih, ii, hlm. 236 (Fadha’il al-Sahabah), Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm. 98, al-Hakim, al-Mustadrak, iii, hlm. 109).


(VIII) Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya Ali adalah daripadaku dan aku adalah daripadanya dan dialah wali bagi setiap mukmin selepasku” (Sahih al-Turmudhi, v, 632, Musnad Ahmad, v, 356, Khasa’is al-Nasa’i, 61-64).

Saturday, December 20, 2014


As-Siddiq adalah milik Ali a.s. Sabda Rasul s.a.w:
ستكون بعدي فتنة, فاذا ذاك فالزموا عليّ ابن أبي طالب! فانّه أوّل من يصافحني يوم القيامة, وهو الصدّيق الأكبر, وهوفاروق هذه الأمة يفرّق بين الحقّ والباطل وهو يعسوب المؤمنين والمال يعسوب المنافقين

"Akan berlaku fitnah sesudah pemergianku kelak. Maka ketika itu, hendaklah kamu semua bersama Ali bin Abi Thalib. Sesungguhnya dia adalah manusia pertama yang akan berjabat tangan denganku di akhirat kelak, dan dia juga adalah (as-Siddiq) Orang yang sentiasa benar dalam percakapan dan perbuatan, dia juga adalah (al-Faruq) Orang yang bijak membezakan diantara haq dan batil dikalangan umat ini, dan dia adalah pemimpin orang-orang yang beriman, dan harta adalah pemimpin orang-orang munafik"

Riwayat hadits ini telah dikeluarkan oleh sebahagian besar ulama Ahlus Sunnah di dalam kitab-kitab mereka diantaranya:

1- Al-Isabah: Ibnu Hajar al-Asqallani: Jil. 7 bhgn. 1. Hal. 167. Beliau mengulas bahawa hadits ini juga dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Mandih dan selain dari keduanya menerusi rantaian sanad Ishaq bin Basyir al-Asadi dari Khalid bin Harits dari `Auf dari al-Hasan dari Abi Laila al-Ghiffariyyah.

2- Majma`uz Zawaid: Nuruddin al-Haitsami: Juz. 9 Hal. 102. Hadits diriwayatkan dari Abu Dzar dan Salman. Manakala ath-Thabrani dan al-Bazzar pula meriwayatkan dari Abu Dzar sahaja.

3- Kanzul Ummal: Muttaqi al-Hindi: Jil. 6 Hal. 156. Beliau mengulas bahawa hadits ini diriwayatkan oleh Thabrani dari Salman dan Abu Dzar (secara bersama). Sementara Baihaqi dan Ibnu `Adi meriwayatkan dari Huzaifah.

4- Riyadhun Nadhrah: Muhib Thabari: Jil. 2 hal. 155. Beliau berkata bahawa hadits tersebut telah diriwayatkan dari Abu Dzar dan dikeluarkan juga oleh al-Hakim. 

(Sila rujuk juga: Al-Isti`ab: 2/657, Usudul Ghabah5/287 dan Faidhul Qadir: 4/358.)

Rasulullah s.a.w bersabda lagi sambil menghalakan jarinya kepada Ali a.s:
انّ هذا أوّل من آمن بي, وأوّل من يصافحني يوم القيامة, وهو الصديق الأكبر, وهو فاروق هذه الأمة يفرّق بين الحقّ والباطل, وهو يعسوب المؤمنين


"Sesungguhnya Ali adalah yang terawal beriman padaku, dan dia adalah manusia pertama yang akan berjabat tangan denganku di akhirat kelak, dan dia juga adalah (as-Siddiq) Orang yang sentiasa benar dalam percakapan dan perbuatan, dia juga adalah (al-Faruq) Orang yang bijak membezakan diantara haq dan batil dikalangan umat ini, dan dia adalah pemimpin orang-orang yang beriman"


(Rujuk: Kanzul Ummal: 6/156. Bil Hadits 2608, Tarikh Dimasyq: 1/76. Bil. 121-124&126, Majma`uz Zawaid: 9/102, Kifayatuth Thalib: Hal. 187, Al-Isabah: 4/171, Usudul Ghabah: 5/287, Mizanul I`itidal: 2/417, Ihqaqul Haq: 4/29, Faraidus Simthin: 1/39-40, Syarh Nahjul Balaghah: 3/261, Zakhairul Uqba: Hal. 56 dan Riyadhun Nadhrah: 2/204.)

Dengan pengiktirafan dari Nabi s.a.w ini, maka jelaslah bahawa "Orang yang sentiasa dalam kebenaran samada dari sudut percakapan mahupun perbuatan" (as-Siddiq) dan "Manusia yang paling arif tentang haq dan batil" (al-Faruq) adalah Ali a.s.

Monday, December 15, 2014


Cara Selawat kepada Nabi SAW dalam Sahih Bukhari

Allah swt berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَ مَلَئكتَهُ يُصلُّونَ عَلى النَّبىّ‏ِ يَأَيهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صلُّوا عَلَيْهِ وَ سلِّمُوا تَسلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi; wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya.” (Al-Ahzab/33: 56)

Ulama dari kalangan mazhab Ahlul bait (sa) sepakat bahwa ayat ini diturunkan untuk menegaskan hak Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa), yaitu perintah bershalawat kepada mereka dan cara bershalawat. Ulama Ahlussunnah juga sepakat kecuali hanya beberapa penulis.

Cara bershalawat

Dalam shahih Bukhari, kitab doa, bab bershalawat kepada Nabi saw:

Abdurrahman bin Abi Layli berkata: Ka’b bin Ujrah menemui aku lalu berkata: Tidakkah kamu diberi hadiah? Nabi saw datang kepada kami, lalu kami berkata: Ya Rasulallah, engkau telah mengajari kami cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: Kalian ucapkan:

اللهمّ صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد، كما صلّيت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللّهمّ بارك على محمّد وعلى آل محمّد، كما باركت على إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Dalam Shihih Bukhari, kitab tafsir, bab ayat ini:
Abu Said Al-Khudri berkata, kami berkata: Ya Rasulallah, ini adalah cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: kalian ucapkan:

اللّهمّ صلّ على محمّد عبدك ورسولك كما صلّيت على آل إبراهيم، وبارك على محمّد 
وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu sebagaimana Engkau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim.

Shahih Muslim, kitab shalawat kepada Nabi saw sesudah tasyahhud:

Abu Mas’ud Al-Anshari berkata: Rasulullah saw pernah mendatangi kami ketika kami berada di majlis Sa’d bin Ubadah. Kemudian Basyir bin Sa’d berkata kepadanya: Allah Azza wa Jalla memerintahkan pada kami agar bershalawat kepadamu ya Rasulallah, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu? Lalu beliau diam sepertinya beliau menghendaki kami tidak bertanya tentang hal itu. Kemudian beliau bersabda: Kalian ucapkan:

اللّهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صليت على آل إبراهم، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميدٌ مجيد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada keluarga Ibrahim, dan berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi keluarga Ibrahim di alam semesta, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Sunan An-Nasa’i 1/190, bab 52, hadis ke 1289:

Musa bin Thalhah dari ayahnya, ia berkata: kami berkata, ya Rasulallah, bagaimana cara bershalawat kepadamu? Beliau menjawab: Kalian ucapkan:
اللّهمّ صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صلّيت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد ، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وآل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia; berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Sunan An-Nasa’i 1: 190, bab 52, hadis ke 1291:
Musa bin Thalhah berkata, aku bertanya kepada Zaid bin Kharijah, ia berkata, aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Kemudian beliau bersabda: Bershalawatlah kalian kepadaku dan bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdoa, dan kalian ucapkan:
اللّهم صلِّ على محمّد وعلى آل محمّد

Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Shahih Ibnu Majah 65, kitab shalat, bab shalawat kepada Nabi saw, hadis ke 906:
Abdullah bin Mas’ud berkata: Jika kalian bershalawat kepada Rasulullah saw, hendaknya kalian memperbaiki shalawat kepadanya, karena kalian tidak tahu kalau shalawat itu hukumnya wajib. Lalu dikatakan kepadanya: ajarkan kepada kami (tentang cara bershalawat). Ia berkata: kalian ucapkan:
اللهم اجعل صلاتك ورحمتك وبركاتك على سيد المرسلين. اللّهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد كما صلّيت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد ، اللهم بارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, curahkan shalawat-Mu, rahmat-Mu dan keberkahan-Mu kepada penghulu para Rasul. Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia. Ya Allah, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.

Fathul Bari 13: 441, kitab doa, bab 32, hadis ke 6358:
Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang shalawat ini, pada hari kiamat aku akan menjadi saksi baginya dan memberi syafaat padanya:
اللهم صل على محمّد وعلى آل محمّد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، وبارك على محمّد وعلى آل محمّد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم ، وترحم على محمّد وعلى آل محمّد كما ترحمت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sayangi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau sayangi Ibrahim dan keluarga Ibrahim.

Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i meriwayatkan dalam Musnadnya:
Abu Hurairah bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, bagaimana cara kami bershalawat kepadamu? Nabi saw menjawab: kalian ucapkan:
اللّهم صل على محمد وآل محمد كما صليت على ابراهيم وبارك على محمد وآل محمد كما باركت على ابراهيم وآل ابراهيم، ثم تسلمون علي
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau sampaikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, dan berkahi Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Kau berkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim; kemudian ucapkan salam kepadaku. (Musnad, jilid 2, halaman 97).
Ash-Sha’iqul Muhriqah, hlm 144:

Ibnu Hajar meriwayatkan bahwa Ka’b bin Ujrah berkata: ketika ayat ini turun kami bertanya kepada Rasulullah saw: Ya Rasulallah, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, tapi bagaimana cara bershalawat kepadamu. Nabi saw menjawab: kalian ucapkan:
اللّهم صل على محمد وآل محمد
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Kemudian beliau bersabda: Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat yang batra’ (puntung). Lalu para sahabat bertanya: Apa shalawat yang batra’ itu. Beliau menjawab: Kalian hanya mengucapkan:
اللّهم صل على محمد
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad. Tetapi, hendaknya kalian mengucapkan:
اللّهم صل على محمد وآل محمد
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Dalam tafsirnya Al-Qurthubi menyebutkan beberapa riwayat bahwa ayat ini adalah keharusan menyertakan Ahlul bait ketika bershalawat kepada Nabi saw. (Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an 14: 233 dan 234).

Ibnul Arabi Al-Andalusi Al-Maliki juga menyebutkan beberapa riwayat bahwa ayat ini diturunkan untuk menegaskan hak Nabi saw dan keluarganya yang suci (sa). (Ahkamul Qur’an 2: 84).

Jabir (ra) berkata: Sekiranya kamu melakukan shalat dan tidak bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, maka aku tidak melihat shalatnya diterima. (Dzakhairul Uqba:19).

Al-Qadhi ‘Iyadh meriwayatkan dalam Asy-Syifa’, dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat dan dalam shalatnya tidak membaca shalawat kepadaku dan Ahlul baitku, maka shalatnya tidak diterima.” (Al-Ghadir 2: 303).

Ibnu Hajar mengatakatan: Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat dan dalam shalatnya tidak membaca shalawat kepadaku dan Ahlul baitku, maka shalatnya tidak diterima.” (Ash-Shawaiqul Muhriqah: 139).

Ar-Razi mengatakan: Doa untuk keluarga Nabi saw menunjukkan keagungan kedudukan mereka, karena doa ini ditempatkan di akhir Tasyahhud dalam shalat, yaitu: Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa âli Muhammad, warham Muhammadan wa âla Muhammad (Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan sayangi Muhammad dan keluarga Muhammad). Pengagungan ini tidak akan didapatkan pada selain keluarga Muhammad. Hal ini menunjukkan bahwa mencintai keluarga Muhammad adalah wajib. Keagungan kedudukan Ahlul bait Nabi saw terdapat dalam lima hal: Tasyahhud dalam shalat, salam, kesucian, diharamkannya sedekah bagi mereka, dan kewajiban mencintai mereka. (Tafsir Ar-Razi 7: 391).

Hadis-hadis tersebut dan yang semakna juga terdapat dalam:

1. Shahih Bukhari, jilid 6, halaman 12.
2. Asbabun Nuzul, Al-Wahidi, halaman 271.
3. Ma’alim At-Tanzil, Al-Baghawi, catatan pinggir Tafsir Al-Khazin, jilid 5, halaman 225.
4. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, halaman 148.
5. Tafsir Fakhrur Razi, jilid 25, halaman 226.
6. Al-Hafizh Abu Na’im Al-Isfahani, Akhbar Isfahan, jilid 1, halaman 131.
7. Al-Hafizh Abu Bakar Al-Khathib, Tarikh Baghdad, jilid 6, halaman 216.
8. Ibnu Abd Al-Birr Al-Andalusi, Tajrid At-Tamhid, halaman 185.
9. Tafsir Ruh Al-Ma’ani, Al-Alusi, jilid 22, halaman 32.
10. Dzakhairul Uqba, Muhibuddin Ath-Thabari, halaman 19.
11. Riyadhush Shalihin, An-Nawawi, halaman 455.
12. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3, halaman 506.
13. Tafsir Ath-Thabari, jilid 22, halaman 27.
14. Tafsir Al-Khazin, jilid 5, halaman 226.
15. Ad-Durrul Mantsur, As-Suyuthi, jilid 5, halaman 215.
16. Fathul Qadir, Asy-Syaukani, jilid 4, halaman 293.

Shalat tidak akan diterima tanpa shalawat

Sunan Al-Baihaqi 2: 379, kitab shalat, bab 471, hadis 3968:
Abu Mas’ud berkata: Sekiranya aku melakukan shalat tanpa bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, niscaya aku memandang shalatku tidak sempurna.

Dalam Sunan Ad-Daruquthni 136, kitab shalat, bab kewajiban shalawat dalam tasyahhud, hadis ke 6:
Ibnu Mas’ud berkata bahwa Rasululah saw bersabda:
من صلى صلاة لم يصل فيها عليّ ولا على أهل بيتي لم تقبل منه
“Barangsiapa yang melakukan shalat, dan di dalamnya tidak bershalawat kepada ku dan Ahlul baitku, maka shalatnya tidak diterima.”

Dalam Dzakhair Al-‘Uqba 19, bab Fadhail Ahlul bait (sa):
Jabir berkata: Sekiranya aku melakukan shalat, dan di dalamnya aku tidak bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, niscaya aku memandang shalatku tidak diterima.

Dalam Syarah Al-Mawahib halaman 7:
Imam Syafi’i berkata:
يا آل بيت رسول الله حبكم فرض من الله في القرآن أنزله
كفا كم من عظيم القدر انكم من لم يصل عليكم لا صلاة له
Wahai Ahlul bait Rasulullah,
mencintaimu diwajibkan oleh Allah dalam Al-Qur’an yang diturunkan
 
Cukuplah keagungan kedudukanmu

orang yang tidak bershalawat kepadamu (dalam shalatnya)
shalatnya tidak sah.
Perkataan Imam Syafi’i tersebut juga terdapat dalam:

1. Musnad Ahmad, jilid 6 halaman 323.
2. Ash-Shawaiqul Muhriqah, Ibnu hajar, halaman 88.
3. Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn Al-Abshar, Asy-Syablanji, halaman 104, bab 2 manaqib Al-Hasan dan Al-Husayn.

Doa tidak akan diijabah tanpa shalawat
Dalam Kanzul Ummal 1: 173, pasal 2 Adab Doa:
Tidak ada suatupun doa kecuali ada hijab (penghalang) antara doa itu dan Allah sehingga dibacakan shalawat. Ketika shalawat dibacakan, maka robeklah hijab itu dan sampailah doa itu kepada Allah swt. Dan jika tidak dibacakan shalawat, maka kembalilah doa itu.
Pernyataan ini diriwayatkan oleh Ad-daylami dari Ali bin Abi Thalib (sa).

Dalam Ash-Shawaiq Al-Muhriqah haaman 88:

Ad-Daylami meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
الدعاء محجوب حتى يُصلّى على محمّد وأهل بيته ، اللّهم صلِّ على محمّد وآله
“Doa itu akan terhijabi sehingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan Ahlul baitnya, yaitu: Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.”

Dalam Faydh Al-Qadhir 5: 19, hadis ke 6303:

Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
كل دعاء محجوب حتى يُصلّى على محمّد وآل محمّد
“Semua doa akan terhalangi sehingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”

Al-Haitsami mengatakan: Tokoh-tokoh hadis tersebut dapat dipercaya.
 
Al-Muttaqi Al-Hindi juga menyebutkan dalam kitabnya Kanzul Ummal 1/314, mengutip dari Ubaidillah bin Abi Hafsh 

Al-‘Aysyi. Abdul Qadir Ar-Rahawi menyebutkan dalam Al-Arbain, Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, Al-Baihaqi dalam Syu’b Al-Iman.

Dalam Faydh Al-Qadir 3: 543:

Abu Syaikh meriwayatkan Ali bin Abi Thalib (sa):
الدعاء محجوب عن الله حتى يصلّى على محمّد وأهل بيته
“Doa itu akan terhijabi dari Allah sehingga dibacakan shalawat kepada Muhammad dan Ahlul baitnya.”

Hadis ini juga diriwayatkan Al-Baihaqi dari Asy-Sya’b, At-Tirmidzi dari Ibnu Umar.

Dalam Kanzul Ummal 1: 181:

Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (sa): Jika disedihkan oleh suatu persoalan, maka bacalah:
اللّهم احرسني بعينك التي لا تنام، واكنفني بكنفك الذي لا يرام. أسألك أن تُصلّي على محمّد وعلى آل محمّد، وبك أدرأ في نحور الأعداء والجبابرة
“Ya Allah, jagalah daku dengan mata-Mu yang tak pernah tidur, dan jagalah daku dengan benteng-Mu yang tak pernah hancur. Aku bermohon pada-Mu sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dengan-Mu aku berlindung dari permusuhan musuh-musuhku dan orang-orang yang sombong.”

Ali, Fatimah, Hasan dan Husein (sa) adalah keluarga Nabi saw

Dalam Musnad Ahmad 6: 324, hadis ke 26206:

Ummu Salam berkata bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Fatimah (sa): “Bawalah kepadaku suamimu dan kedua anakmu.” Kemudian Fatimah (sa) bersama mereka datang kepada Nabi saw. Lalu beliau memayungi mereka dengan kain kisa’ dan meletakkan tangannya pada mereka, lalu bersabda:
اللّهم إن هؤلاء آل محمّد ، فاجعل صلواتك وبركاتك على محمّد وعلى آل محمّد إنّك حميد مجيد
“Ya Allah, sesungguhnya mereka adalah keluarga Muhammad, curahkan shalawat-Mu dan keberkahan-Mu kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.”

Ummu Salamah berkata: Kemudian aku mengangkat kain kisa’ itu untuk berkumpul bersama mereka, kemudian Nabi saw menarik kain kisa’ itu (melarang masuk ke dalam kain kisa’) dan bersabda: “Engkau adalah orang yang baik.”

Dalam Mustadrak Al-Hakim 3: 147, kitab ma’rifah Shahabah:

Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib berkata: Ketika Rasulullah saw melihat rahmat Allah turun, beliau bersabda: “Datangkan padaku, datangkan padaku.” Shafiyah bertanya: Siapa yang Rasulallah? Beliau menjawab: “Ahlul baitku, yaitu Ali, Fatimah, Al-Hasan dan Al-Husayn.” Lalu mereka datang kepada Nabi saw, kemudian beliau memayungi mereka dengan kain kisa’, kemudian berdoa dengan mengangkat tangannya:
اللّهمّ هؤلاء آلي ، فصلِّ على محمّد وعلى آل محمّد
“Ya Allah, mereka adalah keluargaku, curahkan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.” Kemudian Allah Azza wa jalla menurunkan surat Al-Ahzab: 33.
 
Al-Hakim mengatakan hadis ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim.

Hadis ini dan yang semakna juga terdapat dalam:
1. Kanzul Ummal, Al-Muttaqi Al-Hindi, jilid 7 halaman 103, bab Fadhail Ahlul bait, hadis ke 37629.

2. Musykil Al-Atsar, Ath-Thahawi, jilid 1 halaman 334.
3. Tafsir Ad-Durrul Mantsur, tentang surat Al-Ahzab: 33.
4. Musnad Ahmad, jilid 6 halaman 296.
5. Majma’ Az-Zawaid, Al-Haitsami, jilid 9 halaman 167, bab keutamaan Ahlul bait (sa).

Larangan shalawat batra’ (terputus)

Shalawat ba’tra’ adalah shalawat yang tidak menyertakan keluarga Nabi saw dalam bershalawat kepadanya.

Dalam Ash-Shawaiq Al-Muhriqah 87, bab 11:
Ibnu Hajar berkata bahwa Nabi saw bersabda: “Janganlah kalian bershalawat kepadaku dengan shalawat batra’.” Kemudian sahabat bertanya: Apakah shalawat batra’ itu? Nabi saw menjawab: Kalian hanya mengucapkan:
اللّهم صلِّ على محمّد
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad. Tetapi hendaknya kalian mengucapkan:
اللّهم صلّ على محمّد وعلى آل محمّد
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.

Disini terdapat hal yang mengherankan: Mengapa umumnya ummat Islam bershalawat kepada Nabi saw dengan shalawat batra’ yaitu Shallallahu ‘alayhi wa sallam (semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada Muhammad). Padahal para ulama dan para imam ahli hadis dari Ahlussunnah telah meriwayatkan hadis-hadis bahwa doa itu tidak diijabah tanpa bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, shalat tidak diterima tanpa bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, cara bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan hadis-hadis bahwa Nabi saw melarang bershalawat dengan shalawat batra’ (yang terputus).
Wassalam
Dikutip dari blog Syamsuri Rifai


Dan jika engkau menurut kebanyakan orang yang ada di muka bumi, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah; tiadalah yang mereka turut melainkan sangkaan semata-mata, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta. (al-an'aam 116)

== maka seseungguhnye jika kita ikut orng ramai tanpa mencari yang hak ... maka kita akan hidup kita hanya sia sia