|
|
Konsep Kenabian
29. Apakah Berakhirnya Silsilah Kenabian Selaras dengan Cara Manusia
untuk Meniti Kesempurnaan?
Tidakkah mungkin aktifitas masyarakat akan berhenti? Tidakkah jalan
kesempurnaan itu memiliki batas? Tidakkah kita melihat dengan mata kepala
kita sendiri bahwa manusia sekarang ini telah mencapai ilmu pengatahuan yang
lebih tinggi dibandingkan dengan manusia masa lalu?
Oleh karena itu, bagaimana mungkin kantor kenabian secara keseluruhan tutup
dan manusia dalam meniti jalan kesempurnaannya akan kehilangan kepemimpinan
nabi-nabi baru?
Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi jelas bila kita perhatikan bahwa
acapkali manusia mencapai tingkatan kedewasaan berpikir dan berbudaya, ia
dapat melanjutkan perjalanannya menuju kesempurnaan dengan senantiasa
memanfaatkan prinsip dan ajaran yang secara umum telah diberikan oleh nabi
pamungkas, tanpa perlu lagi kepada syariat baru.
Ketika seseorang telah mencapai suatu jenjang pendidikan, ia masih memerlukan
seorang pengajar dan arahan baru sehingga ia dapat menempuh jenjang
berikutnya. Namun, tatkala ia mencapai jenjang doktoral, mujtahid dan
spesialis di suatu bidang ilmu, ia tidak lagi menjalani pendidikannya di
bawah bimbingan dosen atau guru baru, tetapi bersandar pada apa yang telah
didapatkannya dari para dosennya yang terakhir. Ia meluangkan waktunya untuk
kembali melakukan penelitian dan pengkajian ilmu yang telah diraihnya selama
ini.
Dengan kata lain, ia memecahkan persoalan-persoalannya berdasarkan
kaidah-kaidah umum yang telah diperolehnya dari dosen-dosen terakhir. Oleh
karena itu, dengan berlalunya waktu, ia tidak memerlukan lagi agama dan
ajaran baru. (Perhatikan baik-baik).
Setiap nabi terdahulu telah memberikan kepada manusia peta dari setiap bagian
perjalanan ini sehingga ia dapat mencapai kesempurnaan. Sangat jelas bahwa
dengan mendapatkan peta perjalanan secara umum, ia tidak lagi memerlukan peta
baru. Uraian ini merupakan penjelasan atas redaksi riwayat tentang
berakhirnya silsilah para nabi. Dan Nabi saw. adalah peletak batu terakhir
istana menawan dan kokoh risalah Ilahi ini.
Semua ini adalah pembahasan ihwal tidak perlu adanya ajaran dan agama baru.
Akan tetapi, masalah kepemimpinan dan imâmah yang merupakan konsep universal
untuk mengimplementasikan fondasi dan hukum-hukum serta menolong orang-orang
yang lemah di tengah perjalanan, adalah masalah lain. Manusia sekali-kali
tidak akan dapat melepaskan diri dari keperluan ini. Atas dasar inilah,
berakhirnya silsilah konsep kenabian tidak berarti berakhirnya silsilah
konsep imâmah, sebab penjelasan konsep kenabian dan implementasi praktisnya
tanpa keberadaan seorang pemimpin maksum Ilahi mustahil dapat terwujud.
30. Apakah Ajaran yang Dimiliki oleh Nabi saw. sebelum Diutus sebagai
Nabi?
Tidak syak lagi bahwa sebelum diutus menjadi nabi (bi'tsah), Nabi saw. tidak
pernah sujud kepada berhala dan menyimpang dari garis tauhid. Dan sejarah
kehidupannya dengan baik merefleksikan makna ini. Akan tetapi, ajaran manakah
yang menjadi ikutan Nabi saw. sebelum periode pengutusan? Hal ini masih menjadi
bahan dialog di antara ulama.
Sebagaian berpendapat bahwa Nabi saw. mengikuti ajaran Nabi Isa a.s.,
lantaran sebelum periode bi'tsah, ajaran yang resmi dan belum dihapus oleh
ajaran lain adalah ajaran Nabi Isa a.s.
Sebagaian yang lain berpendapat bahwa Nabi saw. adalah pengikut ajaran Nabi
Ibrahim a.s., karena Nabi Ibrahim a.s. merupakan Syaikh Al-Anbiyâ'; bapak
para nabi. Sebagian ayat pun menerangkan Islam sebagai ajaran Nabi Ibrahim
a.s., "... agama orang tuamu Ibrahim ...." (QS. Al-Hajj [22]: 78)
Sebagian lagi mengungkapkan ketidaktahuan mereka dan berkata, "Kita tahu
bahwa Nabi saw. memiliki ajaran. Namun, ajaran apa? Hal ini tidak jelas bagi
kita."
Meski masing-masing pendapat itu memiliki alasan, tetapi tidak satu pun yang
dapat dipastikan. Namun, yang lebih mendekati kebenaran di antara ketiga
pendapat di atas adalah pendapat yang keempat; bahwa Nabi saw. secara pribadi
memiliki program khusus dari sisi Allah Swt. dan beramal berdasarkan program
tersebut. Program khusus ini adalah ajaran khusus Nabi saw. hingga masa Islam
diturunkan untuknya.
Dalil pendapat ini bertolak dari sebuah hadis yang terdapat di dalam Nahjul
Balâghah: "Sejak masa Rasul saw. disapih, Allah menugaskan malaikatnya
yang terbesar guna membinanya sesuai jalan-jalan kemuliaan dan budi pekerti,
siang dan malam." Penugasan malaikat ini adalah dalil atas adanya
program khusus bagi Nabi saw.
Dalil lain adalah tidak satu pun sejarah yang melaporkan bahwa Nabi saw.
sibuk beribadah di dalam sinagog (peribadatan agama Yahudi) dan gereja.
Beliau tidak pernah berada di samping seorang kafir, dan juga tidak di sisi
Ahli Kitab untuk beribadah di tempat-tempat ibadah mereka. Sementara itu,
beliau harus melanjutkan tongkat estafet dari nabi-nabi sebelumnya di atas
jalan tauhid. Dan Nabi saw. konsisten pada prinsip akhlak mulia dan
penyembahan kepada Tuhan.
Di samping itu, terdapat riwayat yang mutawatir sebagaimana yang dinukil oleh
Allamah al-Majlisi dalam Bihâr al-Anwâr, bahwa Nabi saw. sejak usia belia
ditopang oleh Ruhul Kudus. Berkat penopangan ini, beliau hidup berdasarkan
ilham dari Ruhul Kudus.
Allamah Al-Majlisi secara pribadi meyakini bahwa Nabi saw. sebelum memegang
kedudukan risalah telah menjadi seorang nabi. Terkadang para malaikat
bercakap dengannya dan beliau juga mendengarkan suara mereka. Dan terkadang
beliau memperoleh ilham dari Allah Swt. dalam mimpi. Setelah genap berusia
empat puluh tahun, beliau mencapai kedudukan pengemban risalah, dan Al-Qur'an
serta Islam secara resmi diturunkan kepada beliau. Allamah Al-Majlisi mengajukan
enam dalil atas pendapat yang terakhir ini. Sebagian dalil-dalil tersebut
sesuai dengan apa yang telah kami uraikan di atas.
31. Apa Perbedaan antara Kenabian (nubuwah), Kepemimpinan (imâmah) dan
Kerasulan (risâlah)?
Berdasarkan arahan-arahan Al-Qur'an dan beberapa hadis yang menjelaskan
orang-orang yang ditugaskan oleh Allah Swt., mereka memiliki kedudukan yang
berbeda-beda:
a. Kedudukan Kenabian (Nubuwah)
Kedudukan kenabian adalah sebuah kedudukan penerimaan wahyu dari Allah Swt..
Oleh karena itu, nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu dan menyampaikannya
kepada orang-orang yang menghendakinya.
b. Kedudukan Kerasulan (Risâlah)
Kedudukan kerasulan adalah kedudukan yang mengemban tugas penyampaian wahyu,
penyebaran hukum-hukum Tuhan, dan pembinaan jiwa-jiwa manusia melalui
pengajaran ilmu dan menyucian diri. Oleh karena itu, rasul adalah orang yang
bertugas untuk mengajak manusia kepada Tuhan dengan segenap upaya serta
memanfaatkan segala fasilitas yang ada. Ia berusaha untuk mengusung sebuah revolusi
budaya, pemikiran dan ideologi.
c. Kedudukan Kepemimpinan (Imâmah)
Imâmah adalah kepemimpinan umat. Sejatinya, imam adalah seorang yang -dengan
membentuk sebuah pemerintahan Ilahi dan memperoleh kekuasaan yang diperlukan-
berupaya untuk menerapkan hukum-hukum Tuhan di muka bumi. Dan sekiranya tidak
mampu secara resmi mendirikan pemerintahan, ia tetap harus berupaya
semaksimal kemampuan yang dimilikinya.
Dengan kata lain, tugas-tugas imam adalah menjalankan ketentuan Ilahi,
sementara tugas-tugas rasul adalah menyampaikan ketentuan-ketentuan ini.
Atau, rasul "menunjukkan jalan", dan imam "mengantarkan sampai
ke tujuan".
Jelas bahwa kebanyakan para nabi, seperti Nabi saw., memiliki ketiga
kedudukan di atas. Nabi saw., di samping memperoleh wahyu dan
menyampaikannya, juga bertugas dan berupaya membentuk sebuah pemerintahan
dalam rangka penerapan hukum-hukum Ilahi, dan menggelontorkanya melalui jalan
batin dalam pembinaan jiwa.
Singkatnya, imâmah merupakan kepemimpinan yang berdimensi bendawi dan
maknawi, jasmani dan ruhani, lahir dan batin. Imam adalah kepala pemerintahan
dan pemimpin masyarakat, pemimpin agama, pembina akhlak, pemimpin lahir dan
batin.
Dari satu sisi, imam memimpin orang-orang yang memiliki kelayakan menempuh
jalan kesempurnaan dengan kekuatan spiritual. Dengan kekuatannya, ia
mengajarkan orang-orang yang buta aksara dan dengan kekuasaan pemerintahannya
atau kekuatan hukum lainnya, ia menerapkan asas keadilan.
32. Bagaimana Mungkin Kenabian dan Imâmah Diperoleh pada Usia Belia?
Di dalam surat Maryam [19], ayat 12 kita membaca, "Hai Yahya, ambillah
al-Kitab [Taurat itu] dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya
hikmah selagi ia masih kanak-kanak."
Berangkat dari ayat ini, soal yang kemudian mengemuka adalah bagaimana mungkin
seorang manusia pada masa kecilnya telah mencapai kedudukan kenabian dan
kerasulan?
Benar bahwa masa berseminya akal manusia biasanya memiliki batasan dan ukuran
khusus. Akan tetapi, kita ketahui bahwa pada segenap manusia, terdapat
orang-orang yang memiliki keistimewaan. Apa halangan bagi Allah Swt. -dengan
alasan maslahat- menyingkat waktu sebagian hamba-hamba-Nya? Biasanya
seseorang memerlukan waktu satu atau dua tahun untuk dapat berbicara.
Sementara kita ketahui bahwa Nabi Isa a.s. telah dapat berbicara pada hari
pertama kelahirannya ke dunia, itu pun dengan ucapan yang sarat makna yang
-menurut kebiasaan umum- sebobot ucapan orang-orang dewasa.
Dari sini akan menjadi jelas bagi sebagian orang yang mempermasalahkan para
Imam Syi'ah, yakni mengapa sebagian para imam maksum mencapai kedudukan
kepemimpinan (imâmah) pada usia yang masih belia?
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa salah seorang sahabat Imam Al-Jawad bin
Ali An-Naqi a.s. yang bernama Ali bin Asbath berkata, "Aku datang
menghadap kepada Imam Al-Jawad a.s. (dan pada waktu itu beliau masih belia).
Aku tegap berdiri di hadapannya dan memandangnya dengan seksama sehingga aku
dapat mencamkan dalam benakku untuk kuceritakan segala apa yang telah terjadi
kepada para sahabat sewaktu aku kembali ke Mesir (bahwa Imam al-Jawad a.s.
masih belia). Pada saat aku berpikiran demikian, Imam Al-Jawad duduk
(seakan-akan beliau dapat membaca seluruh pikiranku). Pandangannya mengarah
kepadaku seraya berkata, 'Wahai Ali bin Asbath! Apa yang telah dilakukan oleh
Allah Swt. mengenai imâmah persis dengan apa yang telah dilakukan oleh-Nya
mengenai kenabian. Kadang-kadang Ia berfirman, '... Kami berikan kepada Yahya
....' dan kadang pula Dia berfirman tentang manusia, '... Tatkala manusia
mencapai usia empat puluh tahun (masa baligh sempurna)....' Oleh karena itu,
sebagaimana Allah Swt. mampu memberikan "hikmah" kepada manusia
pada masa belianya, demikian juga Ia mampu untuk memberikan
"hikmah" kepada manusia pada usia empat puluh tahun.'"
Sementara itu, ayat ini juga merupakan jawaban tegas bagi para pengkritik
yang berpendapat bahwa Ali bukanlah pria pertama yang beriman kepada
Rasulullah saw., lantaran ketika itu ia adalah seorang bocah kecil yang
berusia sepuluh tahun, dan iman bocah sepuluh tahunan tidak dapat diterima.
Poin ini juga layak disebutkan di sini. Dalam sebuah hadis dari Imam Ali bin
Musa Ar-Ridha a.s. kita membaca, "Sekelompok anak kecil datang kepada
Nabi Yahya a.s. (yang masih kecil) seraya berkata, 'Ayo kita main bersama!'
Yahya a.s. menjawab: 'Kita tidak diciptakan untuk bermain.' Di sini Allah
Swt. berfirman, '... Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih
kanak-kanak.'"
Tentu saja, maksud dari bermain di sini adalah menghabiskan waktu senggang
tanpa alasan dan manfaat. Dengan ungkapan lain, sebuah kekonyolan. Karena,
terkadang permainan digunakan untuk mencapai sebuah tujuan logis dan
rasional. Sangat jelas bahwa permainan seperti ini termasuk pengecualian
dalam masalah ini.
33. Apakah Hakikat Wahyu yang Serbamisteri itu?
Tidak syak lagi, kita tidak dapat menemukan data yang banyak tentang wahyu
dan hakikatnya. Lantaran wahyu adalah salah satu jenis pengetahuan di luar
jangkauan pengetahuan kita. Di samping itu, wahyu merupakan salah satu bentuk
hubungan yang berada di luar hubungan-hubungan yang telah kita ketahui. Ranah
wahyu bagi kita adalah sebuah ranah yang asing dan berada di luar pengetahuan
kita.
Sebenarnya, bagaimana seorang manusia bumi dapat menjalin hubungan dengan
Sumber Awal alam semesta? Bagaimana Tuhan Yang Azali dan Abadi serta
Nir-batas dari segala dimensi dapat menjalin hubungan dengan makhluk yang
serba terbatas dan mumkin al-wujud? Dan pada detik-detik turunnya wahyu,
bagaimana Nabi saw. mendapatkan keyakinan bahwa hubungan ini bersumber
dari-Nya?
Segenap soal yang diuraikan di atas merupakan pertanyaan-pertanyaan yang
pelik bagi kita untuk menjawabnya. Dan bersikeras untuk memahaminya adalah
sangat tidak beralasan.
Satu-satunya pembahasan yang rasional dan dapat diuraikan bagi kita adalah
wujudnya atau kemungkinan adanya hubungan seperti ini bersifat misterius.
Kita berasumsi bahwa tidak satu pun dalil rasional yang dapat menafikan
masalah seperti ini. Akan tetapi, sebaliknya, kita melihat dalam kosmos diri
kita sendiri terdapat hubungan-hubungan batin yang tidak dapat kita
interpretasikan. Hubungan-hubungan ini menunjukkan bahwa apa yang ada di atas
rasa dan hubungan-hubungan kita juga memiliki cerapan dan pandangan-pandangan
yang lain.
Tidak ada salahnya kita menjelaskan masalah ini dengan menyebutkan
perumpamaan.
Anggaplah kita hidup di kota orang-orang buta -tentu saja orang-orang buta
semenjak lahir- dengan dua mata yang mampu melihat. Segenap penduduk kota
bercatur indra (seperti yang kita ketahui bahwa keseluruhan indra lahiriah
manusia berjumlah lima) dan hanya kitalah orang yang berpanca indra. Dengan
mata, kita melihat banyak kejadian yang terjadi di kota itu dan mewartakan
kepada penduduk kota tersebut. Namun, mereka semuanya akan merasa takjub,
apakah kelima indra misterius ini memiliki aktifitas yang sedemikian luas dan
lapang? Semampu apa pun kita membahas indra penglihatan ini berikut
aplikasinya, tidaklah berguna, kecuali kebingungan yang tersisa di benak
mereka. Dari satu sisi, mereka tidak dapat mengingkari keberadaan panca indra
ini, lantaran mereka mendapatkan efek beragam darinya dan merasakannya. Di
sisi lain, mereka tidak dapat mendapatkan hakikat penglihatan tersebut, sebab
mereka tidak pernah melihat seumur hidup mereka.
Kita tidak berasumsi bahwa wahyu merupakan indra keenam. Akan tetapi, kita
berasumsi bahwa wahyu ini merupakan satu jenis pengetahuan dan hubungan
dengan alam gaib dan Dzat Kudus Ilahi. Karena kita tidak memiliki pengetahuan
dan hubungan tersebut, kita tidak dapat mengetahui hakikatnya. Betapa pun
kita beriman kepada keberadaannya melalui efeknya.
Maka sebatas ini, yang dapat kita lihat adalah adanya seorang manusia agung
yang datang kepada umat manusia dengan membawa dakwah yang muatannya berada
di luar pikiran mereka. Ia mengajak mereka kepada Tuhan dan ajaran-Nya dengan
bukti mukjizat dan kekuatan supra-natural yang berada di luar kemampuan umat
manusia, sehingga ia dapat mengadakan hubungan dengan dunia gaib. Efeknya
tampak, namun hakikatnya laten.
Apakah kita telah mampu menyingkap seluruh rahasia jagad ini sehingga ketika
kita bisa bersinggungan dengan fenomena wahyu dan sulit memahami hakikatnya,
lalu mengingkarinya?
Kita bahkan di dunia ini melihat fenomena misterius yang tidak dapat kita
interpretasikan. Coba perhatikan burung-burung yang suka eksplorasi, yang
dalam perjalanan jauhnya melintasi angkasa dengan jarak delapan belas ribu
kilometer dalam setahun, terbang dari kutub utara menuju kutub selatan dan
demikian juga sebaliknya. Apakah kehidupan burung-burung yang sarat misteri
itu sudah jelas bagi kita?
Bagaimana burung-burung ini menentukan arah terbangnya dan mengenal dengan
baik jalan lintasnya? Terkadang pada waktu malam gelap gulita atau siang
hari, mereka melanjutkan perjalanan panjang. Sementara ketika kita -tanpa
alat-alat teknis dan penunjuk jalan- hendak melintasi bahkan satu per seratus
jarak perjalanan mereka, segera kita akan kesasar. Hal ini merupakan sesuatu
yang belum dapat disingkap oleh ilmu dan sains.
Sekelompok ikan yang habitatnya berada di kedalaman laut, biasanya pada saat
bertelur mereka kembali ke tempat bertelur aslinya yang barangkali berjarak
ribuan kilometer darinya. Dari mana mereka tahu dengan mudah tempatnya
bertelur itu?
Fenomena-fenomena misterius seperti ini di alam yang kita huni ini sangatlah
banyak. Dan segenap fenomena inilah yang mencegah kita untuk mengingkari dan
menafikannya. Dan kita teringat penjelasan Ibnu Sina yang berkata,
"Apabila Anda mendengar sesuatu yang aneh, janganlah segera Anda
ingkari. Berikanlah sedikit kemungkinan sepanjang dalil pasti belum tersedia.
Maka hal itu tidak akan menjadi kendala bagi Anda."
Kini lihatlah bagaimana upaya sia-sia kaum materialis dalam mengingkari
masalah wahyu?
Logika Para Pengingkar Wahyu
Ketika masalah wahyu diuraikan, sebagian kaum materialis dengan tergesa-gesa
seraya menyangkal: "Hal ini bertentangan dengan sains."
Dan ketika kita bertanya di manakah letak pertentanganannya dengan sains?
Begitu yakin dan arogannya mereka mereka menjawab: "sekedar sesuatu
tidak dapat dibuktikan oleh ilmu sains, sudah cukup bagi kami untuk
mengingkarinya. Prinsip kami adalah asumsi bahwa segala sesuatu itu terbukti
dengan standar empiris!"
Terlepas dari masalah ini, dalam menelaah penelitian-penelitian ilmiah
tentang jiwa dan raga manusia, kita tidak bersinggungan dengan indra
misterius yang dapat menghubungkan kita dengan dunia supranatural. Para nabi
itu sejenis kita. Bagaimana dapat diyakini bahwa mereka memiliki pengetahuan
dan indra di atas pengetahuandan indra kita?
Isykalan Dawam dan Jawaban Dawam
Keterlibatan kaum materialis tidak terbatas pada masalah ini saja. Dalam
segenap urusan yang berkenaan dengan dunia metafisika, mereka bersikap
seperti ini. Dalam mengoreksi kesalahan mereka, perlu kita sampaikan:
"Janganlah Anda lupakan ruang lingkup ilmu. (Tentu saja bila maksud
mereka adalah ilmu empirik). Parameter dan alat-alat yang digunakan untuk
penelitian ilmiah, laboratorium, teleskop, mikroskop, ruang anatomi, semuanya
bekerja dalam keterbatasan ini. Ilmu-ilmu dengan alat-alat dan
parameter-parameter ini secara mutlak tidak dapat memberikan komentar di luar
penelitian ilmu empirik; tidak menafikannya juga tidak memastikannya.
Mengapa? Jawabannya juga jelas, bahwa parameter dan alat ilmu-ilmu itu
memiliki kemampuan dan ruang lingkup aplikasi yang terbatas.
Instrumen setiap ilmu-ilmu alam juga khusus dalam ruang lingkupnya sendiri.
Lebih dari itu, ia tidak memiliki kemampuan dan aplikasi. Sebagai contoh,
apabila kita tidak melihat mikroba sel yang kita letakkan di balik teleskop
raksasa astronomi, kita tidak dapat mengingkari keberadaan mikroba tersebut.
Demikian juga, kita tidak dapat mempersoalkan apabila kita tidak dapat
melihat planet Pluto dengan menggunakan mikroskop kecil.
Instrumen penelitian pada setiap subjek sesuai dengan disiplin ilmunya
sendiri. Dan instrumen untuk mengenal dunia metafisik tidak lain adalah
menggunakan penalaran akal yang membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dunia
tersebut.
Mereka yang mengeluarkan ilmu dari ruang lingkupnya, sejatinya bukanlah
seorang ilmuwan, juga bukan seorang filsuf. Melainkan seorang pendakwa yang
berbuat kekeliruan dan menyimpang dari jalannya.
Sebatas ini, kita melihat bahwa orang-orang besar datang dan mengetengahkan
kepada kita masalah yang berada di luar kekuatan manusia dan menjalin
hubungan dengan dunia di luar dunia materi. Namun, bagaimana hubungan
misterius ini? Tidak jelas bagi kita. Yang terpenting adalah bahwa kita
mengetahui adanya hubungan demikian.
34. Benarkah Nabi saw. itu seorang yang ummi?
Ada tiga kemungkinan yang populer ihwal pengertian "ummi": pertama,
orang yang tidak belajar, kedua, orang yang lahir di bumi Makkah dan bangkit
sebagai rasul (bi'tsah) dari Makkah, dan ketiga, orang yang bangkit dari
tengah-tengah umat dan masyarakat (yang buta huruf). Pengertian yang paling
akrab adalah kemungkinan yang pertama, karena lebih sesuai dengan penggunaan
kalimat ini. Sebagaiman yang telah kami sebutkan, boleh jadi yang dimaksud
adalah ketiga kemungkinan tersebut.
Realita bahwa Nabi saw. tidak pernah pergi ke suatu tempat belajar-mengajar
dan tidak pernah menulis, dapat diterima oleh para sejarawan. Dan Al-Qur'an
juga dengan tegas menyebutkan kondisi beliau sebelum bi'tsah.
Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya [Al-Qur'an] sesuatu kitab pun dan
kamu tidak [pernah] menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Sekiranya
[kamu pernah membaca dan menulis], benar-benar ragulah orang yang
mengingkarimu. (QS. Al-'Ankabut [29]: 48)
Pada dasarnya, di lingkungan Hijaz, orang-orang yang pandai sangat sedikit
sehingga mereka dengan mudah dikenal. Termasuk di Makkah, ibu kota Hijaz,
jumlah orang-orang yang mampu membaca dan menulis tidak lebih dari 17 orang
dan hanya seorang wanita yang pandai membaca dan menulis.
Tentu saja di lingkungan seperti ini, sekiranya Nabi saw. belajar membaca dan
menulis pada seorang guru, beliau akan terkenal saat itu. Seandainya kita
tidak menerima kenabiannya, bagaimana mungkin beliau dalam kitabnya
menjelaskan keummian dirinya dengan tegas? Apakah masyarakat tidak akan
protes kepadanya seraya barkata, "Kamu kan pernah belajar"? Hal ini
merupakan indikasi yang jelas akan keummiannya.
Bagaimanapun, adanya sifat ummi ini pada diri Nabi saw. merupakan penegas
kenabian beliau, sehingga seluruh kemungkinan selain hubungan dengan Tuhan
dan dunia metafisik dalam ranah dakwahnya dapat ternafikan.
Kedua hal ini merupakan pembahasan sebelum masa kenabian. Demikian juga,
setelah periode bi'tsah, tidak ada catatan sejarah bahwa beliau pernah
mendapatkan pelajaran membaca dan menulis dari seseorang. Dengan demikian,
keummian berlangsung hingga akhir hayat beliau.
Akan tetapi, kesalahan besar yang harus dihindari di sini adalah, bahwa tidak
belajar bukan berarti tidak berpendidikan (tidak pandai). Dan orang yang
menafsirkan bahwa ummi itu bermakna tidak berpendidikan, ia telah beranggapan
bahwa kedua-duanya tidak berbeda.
Melalui pengajaran Ilahi, tidak satu pun kendala yang menghadang Nabi saw.
untuk mampu membaca dan menulis, tanpa harus mendapatkannya dari orang lain,
lantaran tak syak lagi bahwa kemampuan ini merupakan kesempurnaan insani dan
penyempurna kenabian.
Argumentasinya adalah sebagaimana yang dinukil dalam riwayat dari para imam
Ahlul Bait a.s., "Nabi saw. dapat membaca dan atau memiliki kemampuan
untuk membaca, juga kemampuan untuk menulis." Namun, Nabi saw. tidak
menggunakannya lantaran tidak ingin menyisakan secuil pun keraguan orang atas
dakwahnya kepadanya.
Adapun klaim sebagian orang bahwa kemampuan membaca dan menulis tidaklah
termasuk kesempurnaan seseorang, melainkan kedua hal ini merupakan kunci
untuk mencapai kesempurnaan ilmu, bukan ilmu sejati dan kesempurnaan hakiki,
pada hakikatnya jawaban atasnya tersisip di dalam klaim itu sendiri, karena
mengetahui sesuatu merupakan salah satu perantara mencapai kesempurnaan.
Beliau sendiri adalah kesempurnaan yang nyata.
Atau klaim sebagian orang bahwa ayat, "Membacakan kepada mereka
ayat-ayat-Nya, membersihkan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan
hikmah...." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 2) dan ayat-ayat lain dengan redaksi
yang sama merupakan dalil bahwa Nabi saw. membacakan Al-Qur'an kepada
masyarakat melalui tulisan. Klaim ini merupakan kesalahan besar. Karena, kosa
kata tilâwah (membacakan, yang terdapat dalam ayat tersebut) dapat diartikan
dengan membaca melalui tulisan dan membaca melalui hafalan. Mereka yang
membaca Al-Qur'an, syair-syair, atau doa-doa melalui hafalan, dapat dikatakan
bahwa mereka sedang melakukan tilâwah. Dan penggunaan semacam ini umum
sekali.
35. Apakah Tujuan dari Mikraj?
Sudah jelas bagi kita bahwa Mikraj Rasulullah saw. tidaklah bermaksud untuk
melihat Tuhan di atas langit sebagaimana anggapan orang-orang awam.
Sayangnya, sebagian cendekiawan Barat, lantaran ketidaktahuannya atau ingin
menggoncang Islam, menyoroti sedemikian rupa akan perjumpaan dengan Tuhan
ini. Di antara mereka, Georgia dalam buku, Muhammad Payambariy keh az Nou Bayad
Shenâkht berkata, "Dalam perjalanan Mikraj, Muhammad sampai di suatu
tempat sehingga ia dapat mendengar suara pena Tuhan dan memahami bahwa Tuhan
sedang sibuk menjaga hisâb (perhitungan) umat manusia. Akan tetapi, meskipun
ia mendengar pena Tuhan, ia tidak melihat-Nya! Karena tidak seorang pun yang
dapat melihat Tuhan meskipun ia adalah seorang nabi."
Hal ini menunjukkan bahwa jenis pena adalah pena kayu. Ketika bergerak di
atas kertas pena itu bergerak kasar dan menimbulkan suara. Inilah salah satu
contoh dari sekian khurafat dan takahayul.
Sebenarnya, tujuan Mikraj adalah agar ruh Nabi saw. menyaksikan rahasia
keagungan Tuhan di jagad raya, khususnya menyaksikan alam atas yang merupakan
kumpulan tanda-tanda keagungan-Nya. Selain itu, supaya beliau kembali
menemukan pemahaman dan wawasan baru dalam memberikan petunjuk dan memimpin
umat manusia.
Tujuan ini secara jelas tertuang di dalam surat Al-Isra' [17], ayat 1 dan
surat An-Najm [53], ayat 18.
Terdapat juga riwayat yang menarik mengenai tema ini yang bersumber dari Imam
Ash-Shadiq a.s. dalam menjawab pertanyaan sebab Mikraj Rasul saw. Beliau
berkata, "Allah Swt. sama sekali tidak memiliki ruang, dan tidak berada
dalam lintasan waktu. Akan tetapi, Ia menghendaki para malaikat dan para
penghuni langit menghormati Nabi saw. yang melintas di antara mereka. Dan
juga ingin menunjukkan kepada Nabi-Nya akan keagungan-Nya yang serba
menakjubkan, sehingga Nabi saw. menerangkannya kepada masyarakat setelah
kembali."
36. Apakah Mi'raj Sejalan dengan Perkembangan Sains Dewasa ini?
Dahulu, sebagian filsuf meyakini objek selestial (planet-planet) sembilan
pandangan Ptolemius yang berada di balik garis yang menyerupai irisan bawang.
Mereka beranggapan bahwa penghalang utama Mikraj ditinjau dari sisi ilmu
pengetahuan adalah adanya objek selestial ini dan kemestian Kharq wa Ilitiyâm
(conglutination).
Namun, dengan runtuhnya fondasi pandangan astronomi Ptolemius, masalah Kharq
dan Ilitiyâm telah dilupakan. Akan tetapi, dengan kemajuan yang dicapai oleh
ilmu astronomi, permasalahan baru muncul sekaitan dengan tema Mikraj dan
tertuang dalam bentuk statemen-statemen sebagai berikut:
a. Untuk melakukan perjalanan ke angkasa, kendala pertama yang harus dihadapi
adalah adanya kekuatan gravitasi bumi. Dan untuk mengalahkan kekuatan
gravitasi ini, kita harus menggunakan peralatan super canggih
(sophisticated). Sebab, untuk lari dari "domain gravitasi bumi"
diperlukan kecepatan minimal sama dengan empat puluh ribu kilometer setiap
jam.
b. Kendala yang lain, hampa udara di luar ruang bumi yang tanpa itu manusia
tidak dapat hidup.
c. Kendala ketiga, panas terik matahari dan dingin yang membekukan pada
bagian matahari bersinar secara langsung dan bagian yang tidak terkena sinar
matahari.
d. Kendala keempat, sinar-sinar yang berbahaya yang berada di luar atmosfer,
seperti sinar-sinar kosmos, sinar ultra violet, dan sinar X (X-Ray). Jika
sinar ini berukuran kecil dan mengenai badan manusia, ia tidak akan
membahayakan organisme badan manusia. Namun, di luar atmosfer bumi sinar ini
sangat luar biasa banyaknya dan pembawa maut. Akan tetapi, dengan adanya
lapisan ozon, kita penghuni bumi terlindung dari pendarannya.
e. Problema kondisi tanpa beban. Meskipun manusia secara gradual dapat
membiasakan diri dengan kondisi tanpa beban, akan tetapi bagi kita penduduk
bumi apabila pindah ke atmosfir lain tanpa adanya pendahuluan dan berhadapan
dengan kondisi tanpa beban, sangat sulit -kalau tidak mustahil- bagi kita
untuk dapat bertahan.
f. Dan pada akhirnya, kesulitan waktu adalah halangan keenam dan merupakan
halangan utama bagi manusia untuk dapat menembus atmosfir. Lantaran sains
dewasa ini mengklaim bahwa tidak ada kecepatan yang melebihi kecepatan
cahaya. Dan apabila seseorang hendak melancong ke seantero langit, kecepatan
yang dimilikinya haruslah melebihi kecepatan cahaya.
Dalam menanggapi statemen-statemen seperti ini perlu kiranya kita
memperhatikan beberapa poin di bawah ini:
a. Kita mengetahui bahwa dengan segenap kesulitan yang ada dalam perjalanan
ruang angkasa, pada akhirnya manusia dapat memecahkan kesulitan ini dengan
kekuatan sains yang dimilikinya. Dan selain kesulitan waktu, segenap
kesulitan lainnya telah terpecahkan, dan kesulitan waktu juga berkaitan
dengan perjalanan ke tempat-tempat jauh.
b. Tanpa syak lagi bahwa masalah Mikraj tidak berdimensi biasa, melainkan
terjadi berkat kekuatan dan kekuasaan nir-batas Tuhan. Dan seluruh mukjizat
para nabi terjadi dengan cara seperti ini. Dengan ungkapan lain, hal itu
dapat terjadi secara rasional dan terselesaikan dengan kekuatan Tuhan.
Tatkala manusia dengan kemajuan sains memiliki kemampuan untuk menciptakan
peralatan-peralatan super cepat, sedemikian cepat sehingga keluar dari domain
gravitasi bumi; manusia menciptakan beraneka macam pesawat sehingga sinar
laser pembawa maut di luar lapisan ozon dapat terkendali, ia mengenakan
pakaian-pakaian yang dapat menjaganya dari panas dan dingin yang luar biasa,
dengan latihan ia dapat membiasakan dirinya dalam kondisi tanpa beban.
Ringkasnya, manusia dengan memanfaatkan kekuataannya yang terbatas dapat
mengatasi kesulitan-kesulitan ini. Lalu, mengapa dengan kekuatan nir-batas
Ilahi, kesulitan-kesulitan ini tidak dapat terpecahkan?!
Kita percaya bahwa Allah Swt. telah menganugerahkan kepada Nabi saw.
kendaraan super cepat yang layak untuk meniti perjalanan ruang angkasa ini
dan melindungi beliau dari bahaya-bahaya yang ada selama dalam perjalanan.
Bagaimana kendaraan ini dan apa namanya? Buraq? Rafraf? Atau kendaraan yang
lain? Pokoknya, kendaraan yang dikendarai oleh Nabi saw. adalah kendaraan
misterius dan asing di telinga kita.
Terlepas dari semua itu, asumsi kecepatan maksimal yang telah disebutkan di
atas telah mengguncang kalangan para ilmuwan, meskipun seorang Einstein
dengan asumsinya yang kesohor dengan susah payah mempercayai asumsi tersebut.
Para ilmuwan hari ini berpendapat bahwa gelombang gravitasi tidak memerlukan
waktu, berpindah dari satu sudut dunia ke sudut dunia lainnya dan menyisakan
efek, dan bahkan, ada kemungkinan bahwa gerakan gravitasi ini berhubungan
dengan luasnya jagad raya. (Kita ketahui bahwa jagad raya ini mengalami
perkembangan, bintang dan sistem tata surya [kosmos] dengan cepat saling
menjauh satu sama lainnya). Dan terdapat sistem tata surya (kosmos) yang
kecepatannya melebihi kecepatan cahaya menjauh dari pusat alam semesta.
(Perhatikan baik-baik).
Singkatnya, kesulitan-kesulitan yang telah disebutkan di atas tidak satu pun
yang menyebabkan akal menganggap Mikraj sebagai kejadian yang mustahil.
Kesulitan-kesulitan tersebut dapat terpecahkan dengan menggunakan peralatan dan
kekuatan yang ada.
Di atas segalanya, masalah Mikraj tidak hanya tidak mustahil secara rasional,
juga tidak mustahil secara empirik dan sains dewasa ini. Semua dapat menerima
ihwal supranaturalnya Mikraj ini. Dengan demikian, meskipun masalah ini
dibuktikan melalui dalil naratif (naqli) yang definitif, tentu kita harus
menerimanya dengan lapang dada.
37. Apakah Kemaksuman Para Nabi Berdimensi Jabr (Determinasi)?
Tatkala menelaah pembahasan ihwal ''ishmah", sebagian besar orang akan
segera bertanya kepada diri mereka sendiri bahwa kedudukan 'ishmah merupakan
sebuah anugerah Ilahi yang secara mesti diberikan kepada para nabi dan para
imam. Dan seseorang yang menerima anugerah ini mendapat jaminan terjaga dari
dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, kemaksuman mereka tidak termasuk sebagai
keutamaan dan kehormatan bagi mereka. Siapa saja telah terliputi anugerah
ini, ia akan terjaga dari segala dosa dan kesalahan, dan hal ini merupakan
kemestian dari Allah swt.
Dengan demikian, berkat kedudukan 'ishmah, mustahil bagi mereka untuk dapat
melakukan dosa dan kesalahan. Dan jelas bahwa meninggalkan kemustahilan tidak
termasuk sebagai sebuah keutamaan. Umpamanya, sekiranya kita tidak berbuat
aniaya terhadap orang-orang yang datang dalam kurun waktu seratus tahun yang
akan datang atau seratus tahun sebelumnya, hal itu tidak akan menjadi
kebanggaan bagi kita, lantaran tidak mungkin bagi kita untuk melakukan
perbuatan ini.
Meskipun pembahasan ini tidak terfokus pada masalah pokok 'ishmah para nabi,
akan tetapi mereka mempertanyakan keutamaan para nabi tersebut. Kini dengan
memperhatikan beberapa poin di bawah ini, pertanyaan ini dapat terjawab
dengan jelas:
a. Mereka yang menguraikan masalah ini tidak memperhatikan akar-akar 'ishmah
para nabi. Mereka beranggapan bahwa kedudukan 'ishmah, misalnya, 'ishmah
(kekebalan) terhadap sebagian penyakit yang bisa melalui jalan suntik dan
bisa juga melalui jalan imunisasi. Dan barangsiapa telah diberikan suntikan,
ia tidak akan pernah menderita penyakit, suka atau tidak suka.
Akan tetapi, kekebalan para maksum dari dosa bersumber dari derajat
pengetahuan dan ketakwaan mereka. Persis seperti menghindar dari dosa-dosa
yang dilakukan oleh setiap orang di antara kita berkat ilmu dan iman yang
kita miliki. Ibarat seekor kancil dengan badan telanjang tidak akan
melangkahkan kakinya di lorong dan di jalan. Demikian juga orang yang
memiliki informasi cukup ihwal unsur-unsur destruktif obat-obat terlarang
(psikotropika) bahwa pengaruh obat-obatan ini akan menyebabkan kematian
secara perlahan. Maka, ia tidak akan pernah mau menjamahnya. Tentu saja,
meninggalkan obat-obat terlarang ini merupakan sebuah keutamaan baginya yang
bersumber dari ilmu yang dimilikinya. Dan pengetahuan ini -meskipun sedikit-
tidak menimbulkan unsur pamaksaan, karena ia masih memiliki kemampuan untuk
mengkonsumsi obat-obat terlarang tersebut.
Atas alasan ini, kita berupaya meningkatkan derajat ilmu kita melalui
pendidikan dan pengajaran, sehingga sekurang-kurangnya ilmu ini dapat
melindungi diri dari dosa-dosa besar, perbuatan-perbuatan buruk dan tercela.
Apakah mereka yang meninggalkan perbuatan dosa lantaran pendidikan dan
pengajaran ini bukanlah sebuah keutamaan dan kebanggaan?
Dengan ungkapan lain, meninggalkan dosa bagi para nabi adalah mustahil secara
praktis (muhâl 'âdî), bukan mustahil secara rasional (muhâl aqlî). Dan kita
ketahui bahwa kemustahilan praktis selaras dengan kebebasan (ikhtiyar).
Contoh, seorang alim dan mukmin membawa minuman keras ke masjid dan
meminumnya di tengah-tengah barisan jamaah. Perbuatan ini tentu saja secara
praktis mustahil, tidak secara rasional.
Singkatnya, ketinggian derajat ilmu dan iman para nabi sebagai sebuah
kebanggaan dan keutamaan mereka, menjadi sebab utama sebuah kebangaan dan
keutamaan lain, yaitu kedudukan 'ishmah. (Perhatikan baik-baik!).
Dan sekiranya seseorang bertanya; dari manakah mereka mendapatkan ilmu dan
iman demikian itu? kita akan menjawab bahwa mereka mendapatkannya melalui
inayah Allah Swt. Akan tetapi, dengan catatan (qaid) bahwa inayah-inayah
Allah itu bukannya tanpa alasan. Mereka mendapatkan inayah Ilahi ini karena
mereka memiliki kelayakan untuk itu. Sebagaimana Al-Qur'an menegaskan perihal
Nabi Ibrahim, "Dan [ingatlah], tatkala Ibrahim diuji Tuhannya dengan
beberapa kalimat [perintah dan larangan], lalu Ibrahim menunaikannya. Allah
berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia
....'". (QS. Al-Baqarah [2]: 124)
Ihwal Nabi Yusuf a.s., Al-Qur'an menuturkan, "Dan tatkala ia cukup
dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberikan
balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf [12]: 22)
Redaksi "Kadzâlika Nujzil Muhsinin (demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang-orang yang berbuat baik) merupakan bukti atas apa yang kita
maksudkan; bahwa mereka mendapatkan itu karena kelayakan tersebut. Nabi Yusuf
telah menyiapkan dirinya sehingga layak menerima anugerah agung Ilahi.
Tentang Nabi Musa a.s., terdapat redaksi yang menjelaskan realitas ini.
Al-Qur'an menyebutkan, "...Kami telah menguji dengan beberapa ujian;
maka tinggallah engkau selama beberapa tahun di antara penduduk Madyan,
kemudian engkau datang menurut waktu yang ditetapkan, wahai Musa." (QS.
Thaha [20]: 40)
Jelas bahwa dalam diri para nabi ini terdapat berbagai kelayakan dan potensi.
Namun, mengaktualkan potensi dan kelayakan ini bukan karena determinasi
(ijbâr), tetapi berdasarkan kehendak bebas mereka sendiri sehingga dapat
melintasi jalan ini. Dan betapa banyak orang yang memiliki berbagai
kelayakan, tetapi ia tidak mengaktualkannya dan tidak mengoptimalkannya. Ini
dari satu sisi.
Dari sisi lain, para nabi mendapatkan anugerah mulia ini lantaran mereka
memikul tanggung jawab yang berat di pundak mereka. Dengan kata lain, Allah
Swt. memberikan kekuatan dan kemampuan kepada mereka sesuai dengan kadar
tanggung jawab yang mereka emban, dan hendak menguji mereka dengan tanggun
jawab ini.
b. Jawaban yang lain yang dapat diberikan atas pertanyaan di atas adalah,
meskipun dengan dukungan inayah Ilahi ('ishmah) tersebut para nabi telah
kebal dari perbuatan dosa dan kesalahan sehingga mereka dapat menarik
kepercayaan umat dan menjadi pelita hidayah bagi mereka, namun pada saat yang
sama, pintu "tark al-aulâ" (meninggalkan yang lebih utama); yaitu
sebuah pekerjaan yang tidak termasuk sebagai perbuatan dosa dan bukan kelas
mereka untuk melakukannya, masih terbuka di hadapan mereka.
Kebanggaan mereka terletak pada upaya meninggalkan tark al-aulâ, dan upaya
ini merupakan ikhtiar penuh mereka. Apabila tark al-aulâ datang menyapa
kehidupan mereka, tak ayal lagi mereka akan mendapatkan celaan ('itâb) Ilahi
secara setimpal. Dan terkadang mereka tersandung dari pelbagai deprivasi.
Keutamaan apakah yang lebih besar dari realita bahwa lantaran menaati
perintah Ilahi mereka meninggalkanidak melakukan tark al-aulâ?
Oleh karena itu, kebanggaan para nabi terletak pada penerimaan tanggung jawab
sesuai dengan kadar anugerah dari Tuhan. Dan bahkan terletak pada keengganan
mereka untuk menjamah ladang tark al-aulâ. Dan sekiranya tark al-aulâ
mendatangi mereka, mereka dengan segera harus menebusnya.
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment