|
|
Hari Kiamat (Ma'âd)
57. Apakah Argumentasi Rasional atas Kejadian Hari Kiamat?
Di samping ayat-ayat Al-Qur'an yang tidak terbilang jumlahnya tentang Hari
Kiamat (sekitar ratusan ayat), terdapat dalil-dalil rasional ('aqlî) yang
sebagiannya secara garis besar akan kami uraikan di sini.
a. Argumentasi Hikmah
Apabila kita memandang kehidupan dunia ini tanpa adanya kehidupan yang lain,
maka kehidupan dunia ini akan terasa nihil dan tanpa makna. Persis seperti
kita beranggapan bahwa kehidupan di alam rahim tanpa adanya kehidupan dunia
setelahnya adalah hampa.
Berdasarkan tata cipta, apabila manusia pada awal detik-detik penciptaannya
akan binasa dan mati, betapa kehidupan alam rahim akan menjadi sebuah
kehidupan yang tanpa makna? Demikian juga apabila dibayangkan kehidupan dunia
ini terputus dari kehidupan lainnya, kehidupan ini akan mengalami kehampaan.
Haruskah kita hanya hidup selama -kurang-lebih- tujuh puluh tahun di alam
dunia ini dengan segenap masalah yang kita hadapi, lalu kita musnah begitu saja?
Beberapa lamakah kita menjalani masa muda, dan tanpa pengalaman "Hingga
menjadi matang wahai bocah ingusan" usia ini akan berakhir?
Beberapa lama kita harus mengejar ilmu pengetahuan, dan setelah memperoleh
segala pengetahuan, salju ketuaan datang menerpa kita.
Lalu, untuk apa kita hidup? Menyantap beberapa porsi makanan, memakai
beberapa potong pakaian, bangun dan tidur, yang berulang-ulang terus menerus,
melanjutkan aktivitas hidup yang membosankan dan melelahkan?
Sebenarnya, apakah langit yang membentang dan bumi yang menghampar, dan
seluruh pendahuluan dan pengakhiran, seluruh guru, seluruh perpustakaan
besar, dan seluruh pekerjaan-pekerjaan rumit dalam penciptaan kita dan
makhluk-makhluk yang lain; seluruhnya dialokasikan untuk makan, tidur, pakaian,
dan kehidupan materi?
Di sinilah mereka yang menolak kejadian Hari Kiamat harus mengakui kenihilan
dan ketakbermaknaan hidup mereka. Ironisnya, sebagian mereka melakukan bunuh
diri untuk menyelamatkan diri dari kehidupan nihil ini, dan itu malah menjadi
kebanggaan bagi mereka.
Bagaimana mungkin seseorang yang beriman kepada Allah swt. dan
kemahabijaksanaan-Nya yang tak terhingga, meyakini bahwa kehidupan dunia ini
bukan sebagai penduluan untuk memasuki kehidupan abadi di alam lain?
Al-Qur'an berfirman, "Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami
menciptakanmu secara main-main [saja], dan bahwa Kamu tidak akan dikembalikan
kepada Kami?" (QS. Al-Mukminun [23]: 115)
Maksudnya, apabila kamu tidak kembali ke sisi Tuhan, maka dunia ini akan
mengalami kesia-siaan dan ketanpamaknaan.
Ya! Kehidupan dunia ini akan memiliki makna dan sesuai dengan hikmah Ilahi
jika "ad-dunyâ mazra'atul âkhirah" (dunia ini merupakan ladang
akhirat). Kita harus memandang dunia ini sebagai lintasan untuk memasuki alam
yang lebih luas. Dunia ini merupakan lahan persiapan untuk menjelang dunia
lain, dan pasar bagi kehidupan akan datang.
Demikianlah Amirul Mukminin Ali a.s. bersabda dalam kalimat yang sarat makna:
"Dunia ini adalah tempat yang benar bagi orang yang membenarkannya,
tempat aman bagi mereka yang memahaminya; kediaman yang kaya bagi siapa yang
mengumpulkan bekal di dalamnya (untuk kehidupan masa datang), istana nasihat
bagi yang mengambil nasihat darinya, masjid bagi para pecinta Tuhan, kediaman
ibadah para malaikat Allah, rumah bagi wahyu Ilahi, dan tempat perniagaan
bagi yang berbakti kepada Tuhan."
Ringkasnya, menelaah dan mengkaji keadaan dunia ini dengan baik akan
memberikan kesaksian bahwa di balik kehidupan dunia ini masih terdapat
kehidupan yang lain. "Dan sesungguhnya engkau telah mengetahui
penciptaan yang pertama. Maka mengapa engkau tidak mengambil pelajaran [untuk
penciptaan yang kedua]?" (QS. Al-Waqi'ah [56]: 62)
b. Argumentasi Keadilan ('Adâlah)
Dengan memperhatikan sistem semesta dan undang-undang penciptaan, seluruhnya
menunjukkan bahwa segala sesuatunya berlaku sesuai dengan perhitungan yang
matang.
Dalam struktur badan kita, sedemikian sistem itu beroperasi secara adil
sehingga secuil pun perubahan yang terjadi akan menjadi sebab penyakit dan
kematian. Gerakan jantung, sirkulasi darah, kelopak mata, dan bagian sel-sel
badan kita termasuk dalam sistem yang apik dan akurat yang berlaku di alam
semesta. "Wa bil-'adl qâmat as-samâwâti wal-ardh." Dengan
keadilanlah langit dan bumi dapat tegak." Apakah manusia hanyalah sebuah
potongan ganjil di alam semesta yang membentang ini?
Benar bahwa Allah Swt. menganugerahkan kehendak bebas kepada manusia hingga
ia diuji dan dapat melintas dalam perjalanan menuju kesempurnaan. Akan
tetapi, sekiranya manusia menyalahgunakan kebebasan yang dimilikinya, apa
yang akan terjadi? Apabila para tiran dan orang-orang yang tersesat dan
menyesatkan menyalahgunakan anugerah Ilahi ini, apa yang dituntut oleh
keadilan Ilahi?
Benar bahwa sekelompok orang yang buruk perbuatannya di dunia ini akan
dikenakan hukuman atau setidaknya sebagian dari hukuman tersebut. Akan
tetapi, tentu saja tidak seluruh pelaku kejahatan mendapatkan hukuman atas
perbuatannya, atau seluruh orang-orang suci dan baik tidak mendapatkan
ganjaran dari perbuatan baik mereka di dunia ini secara tunai. Lalu, apakah
mungkin kedua kelompok ini berada pada satu telapak keadilan Ilahi? Menurut
Al-Qur'an: "Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama
dengan orang-orang yang berbuat dosa [orang kafir]? Mengapa kamu [berbuat
demikian]; bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" (QS. Al-Qalam [68]:
35-36)
Di tempat lain Al-Qur'an menegaskan, "... Patutkah Kami menganggap
orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?"
(QS. Ash-Shaf [61]: 28)
Secara umum, tidak ada keraguan tentang perbedaan manusia dalam ketaatannya
kepada Allah swt, sebagaimana juga ganjaran yang dapat diterima dunia ini
tidaklah memadai. Mahkamah fitrah, dan reaksi dosa-dosa dengan sendirinya
(tanpa adanya Kiamat) pun tidaklah cukup. Oleh karena itu, kita mesti
menerima bahwa dalam upaya menegakkan keadilan Ilahi harus terdapat sebuah
mahkamah pengadilan yang bersifat menyeluruh, sehingga sekecil apa pun
kebaikan atau perbuatan buruk harus diperhitungkan di dalamnya. Apabila tidak,
asas keadilan tidak akan pernah dapat tegak.
Dengan demikian, harus kita terima bahwa penerimaan keadilan Tuhan sama
dengan penerimaan adanya Hari Kiamat (ma'âd) dan Hari Kebangkitan. Al-Qur'an
menyebutkan, "Kami akan tegakkan neraca-neraca keadilan pada Hari
Kiamat." (QS. Al-Nabi' [21]: 47)
Al-Qur'an juga menegaskan, "Pada Hari Kiamat mereka akan dihukum
berdasarkan keadilan dan mereka tidak akan dizalimi dan dianiaya." (QS.
Yunus [10]: 54)
c. Argumentasi Tujuan Penciptaan
Berbeda dengan anggapan kaum materialis, manusia dalam pandangan dunia tauhid
memiliki tujuan dalam penciptaannya. Tujuan ini dalam terma filsafat disebut
sebagai takâmul (kesempurnaan), dan dalam bahasa Al-Qur'an dan hadis dikenal
sebagai qurb ilallôh (kedekatan diri kepada Tuhan) atau ibadah (penghambaan).
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah
kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Di bawah cahaya penghambaan
ini, mereka mencapai kesempurnaan dan merengkuh kedekatan kepada Allah swt.
Apakah tujuan agung ini dapat tercapai jika kematian merupakan akhir dari
segalanya? Tanpa ragu, jawaban adalah tidak (negatif).
Kehidupan setelah kematian di dunia ini melazimkan adanya dunia lain dan
penyempurnaan manusia menjalani proses kontiunitas. Dan tempat menuai hasil ladang
dunia ini adalah alam sana. Bahkan, sebagaimana yang telah kami sebutkan
sebelumnya, di dunia yang lain, perjalanan menuju kesempurnaan (takâmul) ini
berlanjut sehingga tujuan akhir ini dapat tergapai.
Konklusinya, pencapaian tujuan penciptaan ini tanpa keberadaan ma'âd tidak
akan dapat terwujud. Dan sekiranya kita memutus relasi kehidupan ini dengan
kehidupan pasca kematian, maka seluruh kehidupan ini misterius, dan kita
tidak akan pernah memiliki jawaban atas pertanyaan mengapa dan mengapa.
58. Apakah Ruh itu, dan Bagaimana Membuktikan Kesejatian Ruh?
Di dalam surat Al-Isra' [17], ayat 85 kita membaca, "Ketika bereka
bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, 'Ruh merupakan urusan-Ku.'"
Para penafsir besar, sejak dulu hingga kini, telah membahas makna ruh. Di
sisi pertama-tama, kita amati makna ruh secara leksikal, lalu penggunaannya
dalam Al-Qur'an, kemudian tafsir ayat dan riwayat yang bertautan dengan
masalah ini.
a. Ruh Secara Leksikal
Ruh secara leksikal berarti "nafs" dan "berlari".
Sebagian mufassir menjelaskan bahwa ruh dan rîh (angin), keduanya berakar
kata satu. Dan apabila ruh manusia yang merupakan substansi mandiri yang
abstrak disebut dengan nama ini, lantaran ia bergerak dan membawa kehidupan.
Selain itu, keduanya (angin dan ruh) tidak terindra secara kasat mata.
b. Ruh di Dalam Al-Qur'an
Penggunaan kalimat ruh dalam Al-Qur'an sangat beragam. Terkadang bermakna ruh
muqaddas yang menguatkan Rasulullah saw. dalam menyampaikan risalah, seperti
yang tertuang dalam ayat, "... Dan Kami menganugerahkan kepada Isa bin
Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat ia dengan Ruhul Qudus ..."
(QS. Al-Baqarah [2]: 253)
Terkadang pula disebut sebagai kekuatan maknawi Ilahi yang menguatkan kaum
mukmin, seperti dalam ayat, "Mereka itulah orang-orang yang telah Allah
tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan
yang datang dari-Nya ...." (QS. Al-Mujadalah [58]: 22).
Arti lain dari ruh itu adalah "malaikat khusus wahyu" dan disifati
sebagai amin, seperti dalam ayat, "... ia dibawa turun oleh ar-Ruh
al-Amin [Jibril] ke dalam hatimu [Muhammad] agar engkau menjadi salah seorang
di antara orang-orang yang memberi peringatan." (QS. Asy-Syu'ara' [26]:
193-194), dan acapkali bermakna malaikat besar dari malaikat-malaikat khusus
Tuhan, atau makhluk agung dari jenis malaikat, seperti dalam ayat, "Dan
pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin
Tuhan-Nya untuk mengatur segala urusan." (QS. Al-Qadr [97]: 4) dan dalam
ayat, "Pada hari itu, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf
...." (QS. An-Naba' [78]: 38).
Terkadang ruh juga bermakna Al-Qur'an dan wahyu samawi, "Dan demikianlah
Kami wahyukan kepadamu wahyu [Al-Qur'an] dengan perintah Kami ...." (QS.
Asy-Syura [42]: 52)
Dan pada akhirnya, ruh terkadang pula bermakna ruh insani, sebagaimana pada
ayat penciptaan Nabi Adam a.s., "Kemudian Ia menyempurnakan dan
meniupkan ke dalam [tubuh]nya ruh [ciptaan]-Nya." Demikian juga pada
surat Al-Hijr, "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan
telah meniupkan ke dalamnya ruh [ciptaan-Ku], maka tunduklah engkau kepadanya
dengan bersujud." (QS. Al-Hijr [15]: 29)
c. Penafsiran Ruh
Inti persoalan kita kali ini adalah apakah yang dimaksudkan dengan ruh? Ruh
manakah yang dimaksudkan sehingga beberapa orang begitu antusias bertanya
tentang hakikatnya. Nabi saw. dalam menjawab pertanyaan ini bersabda,
"Ruh adalah urusan Tuhan-ku dan Kamu tidak memiliki pengetahuan kecuali
sedikit."
Dari beberapa indikasi yang terdapat dalam ayat tersebut dan selainnya, yang
ditanyakan oleh beberapa penanya itu adalah hakikat ruh manusia. Ruh agung
inilah yang membedakan kita dengan hewan-hewan dan menjadi kemuliaan
superlatif kita. Seluruh kekuatan dan aktifitas kita bersumber darinya, dan
dengannya kita dapat melakukan aktifitas dan kehidupan dunia ini. Berkatnya
kita dapat menyingkap rahasia-rahasia ilmu dan menemukan jalan untuk
menyelami kedalaman seluruh wujud. Mereka ingin mengetahui apa hakikat
makhluk yang menakjubkan ini.
Ruh memiliki struktur yang berbeda dengan struktur materi. Asas yang berlaku
atasnya bukanlah asas yang berlaku atas materi, serta tipologi fisis dan
kimawi. Nabi saw. ditugaskan dalam satu kalimat yang ringkas dan padat:
"Ruh berasal dari alam amr." Artinya, ruh merupakan ciptaan yang sarat
dengan rahasia.
Lalu, supaya tidak terkejut dengan jawaban yang diberikan, ditambahkan bahwa
ilmu Anda dan manfaat yang Anda peroleh darinya bukanlah apa-apa (nothing).
Oleh karena itu, sangat menakjubkan sekali Anda tidak mengetahui
rahasia-rahasia ruh, betapa pun ia lebih dekat kepada Anda dari segala
sesuatu.
Dalam Tafsir 'Ayyâs diriwayatkan dari Imam Al-Baqir a.s. dan Imam Ash-Shadiq
a.s. pernah ditanya tentang tafsir ayat tersebut. Mereka menjawab,
"Sesungguhnya ruh adalah makhluk Tuhan yang memiliki penglihatan,
kekuatan, dan kekuasaan. Tuhan meletakkan ruh di dalam hati para nabi dan
kaum mukmin."
Dalam hadis yang lain, diriwayatkan dari salah satu dari kedua imam tersebut:
"Ruh berasal dari alam malakût dan kekuasaan Tuhan."
Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari sumber Syi'ah dan Ahli Sunnah, kita
membaca bahwa musyrikin Quraisy menukil pertanyaan dari Ahli Kitab dan hendak
menguji Nabi saw. Ahli Kitab berkata kepada mereka bahwa apabila Muhammad
memberikan kabar yang banyak tentang ruh kepada Kamu, itu merupakan indikasi
ketidakbenarannya. Namun, Nabi saw. menyampaikan ucapan yang singkat dan
sarat makna kepada mereka. Sebuah ucapan yang sangat menakjubkan.
Akan tetapi, dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ahlul Bait, ihwal
tafsir ayat di atas yang sampai kepada kita, dijumpai bahwa ruh diterangkan
sebagai makhluk yang agung; Malaikat Jibril dan Mikail. Ruh ini yang
menyertai Nabi saw. dan para imam a.s., dan mencegah mereka dari
perbuatan-perbuatan yang menyeleweng.
Riwayat-riwayat ini tidak hanya tidak bertentangan dengan tafsir ayat yang
kami utarakan di atas, bahkan selaras satu dengan yang lainnya. Hal itu
lantaran ruh manusia memiliki derajat. Derajat ruh yang melekat pada diri
Nabi saw. dan para imam a.s. adalah derajat paling tinggi. Dan berkat ruh
itu, mereka terjaga dari segala bentuk dosa dan kesalahan, serta memberikan
pengetahuan dan ilmu yang luar biasa. Tentu saja derajat ruh mereka ini lebih
tinggi dari seluruh malaikat, termasuk Jibril dan Mikail. (Perhatikan
baik-baik)
Primordialitas dan Kemandirian Ruh
Sejarah ilmu dan pengetahuan manusia menunjukkan, permasalahan ruh,
struktrur, tipologi, dan rahasia-rahasianya senantiasa menjadi perhatian para
ilmuwan. Setiap ilmuwan berupaya untuk mendekati hakikatnya.
Dengan alasan ini, ulama dan kaum cendekiawan banyak melontarkan pendapat
mereka tentang ruh. Barangkali ilmu dan pengetahuan kita hari ini, bahkan
ilmu dan pengetahuan orang-orang di masa mendatang, tidaklah akan memadai
untuk dapat menyingkap seluruh rahasia ruh. Dan meskipun ruh lebih dekat
kepada kita dari segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, tetapi
bagaimana substansi ruh dan apa yang ada di alam materi dengan kedekatan kita
dengannya, dapat berbeda secara total. Kita tidak perlu terlalu kaget! Kita
tidak dapat memahami rahasia dan kerumitan ciptaan yang menakjubkan dan
makhluk metafisis ini.
Akan tetapi, secara umum, kendala ini tidak berasal dari ruh. Dengan
pandangan akal yang tajam, kita dapat melihat lanskap ruh. Kita dapat
mengetahui asas dan sistem universal yang belaku atas ruh.
Asas yang paling penting yang harus kita ketahui di sini adalah masalah
primordialitas dan kemandirian ruh. Para penganut aliran-aliran materialis
beranggapan bahwa ruh itu adalah materi dan bersumber dari tipologi materi
otak dan sel-sel syaraf, dan segala sesuatu yang berada di balik itu adalah
nihil. Hanya ini yang dapat kita bahas, tidak lebih. Sebab, persoalan
"keabadian ruh" dan masalah "tajarrud sempurna atau tajarrud
barzakhi" bersandar kepadanya.
Akan tetapi, sebelum memasuki pembahasan ini, kami memandang perlu untuk
menjelaskan satu poin. Yaitu, melekatnya ruh pada badan manusia -sebagaimana
sebagian orang beranggapan demikian- tidak sebagaimana hulul (menitis)
sebagaimana angin merasuk ke dalam kesturi. Akan tetapi, hal itu adalah
sebuah bentuk hubungan sebentuk hegemoni, kepemilikan, dan pengaturan ruh
atas tubuh; yang diibaratkan oleh sebagian orang dengan melekatnya makna pada
sebuah kata.
Tentu saja masalah ini akan menjadi jelas di sela-sela pembahasan kemandirian
ruh. Kini kita kembali kepada pembicaraan utama kita.
Tak syak lagi bahwa ada perbedaan antara manusia dan batu dan kayu yang tidak
memiliki ruh. Karena, kita merasakannya dengan jelas bahwa antara kita,
manusia dengan wujud-wujud yang lain yang tanpa ruh, bahkan tumbuh-tumbuhan
yang tanpa jiwa terdapat perbedaan. Kita, manusia memahami, mengkonsepsi,
mengambil keputusan, berkehendak, mencinta, membenci dan .... Akan tetapi,
tumbuh-tumbuhan dan bebatuan tidak satu pun memiliki kualitas perasaan
(sense) ini. Oleh karena itu, antara kita, manusia dengan mereka terdapat
satu perbedaan prinsipal, yaitu kepemilikan ruh insani.
Baik kaum materialis juga mazhab lain tidak mengingkari orisinilitas
keberadaan ruh dan jiwa. Dan atas alasan keduanya (jiwa dan ruh), mereka
menyebut psikologi dan psikoanalisis sebagai ilmu positif. Kedua ilmu ini,
meskipun kira-kira keduanya telah melalui masa infant (balita), akan tetapi
keduanya merupakan ilmu yang digunakan oleh para dosen dan peneliti di
pusat-pusat pendidikan besar dunia. Dan sebagaimana yang akan kita lihat,
jiwa dan ruh merupakan dua realitas yang tidak terpisah, melainkan merupakan
tingkatan-tingkatan yang berbeda satu realitas.
Pada pembicaraan hubungan antara ruh dan raga dan efek mutual (saling
mempengaruhi) di antara keduanya, akan menggunakan istilah "jiwa"
untuknya. Dan pada pembahasan fenomena-fenomena ruh yang terpisah dari raga,
kita menggunakan istilah ruh.
Kesimpulannya adalah tidak seorang pun yang mengingkari realitas yang bernama
ruh dan jiwa yang berada dalam relung diri kita.
Kini harus kita lihat di manakah letak pertikaian yang melelahkan antara kaum
materialis dan filsuf metafisika itu terjadi?
Jawabannya adalah, para cendekiawan Ilahi dan filsuf metafisika berkeyakinan
bahwa selain materi-materi yang membentuk jasad manusia itu, terdapat sebuah
realitas dan substansi yang tidak berasal dari dimensi materi, melainkan
jasad manusia berada di bawah pengaruh langsungnya.
Dengan kata lain, ruh merupakan sebuah realitas metafisis. Struktur dan
aktifitasnya bukan struktur dan aktifitas materi (fisik). Benar bahwa ruh ini
senantiasa bertaut dengan materi, akan tetapi ia bukan materi dan tidak
bercirikan materi.
Sebaliknya, para filsuf materialis berpendapat bahwa kita adalah suatu wujud
yang mandiri dari materi yang bernama ruh, atau kita tidak memiliki nama lain
selain materi. Apa pun yang ada merupakan materi benda dan atau efek fisik
dan kimia darinya.
Organ-organ yang kita miliki yang bernama syaraf (nerve) dan otak (brain)
yang memberikan aktifitas-aktifitas hidup adalah seperti organ-organ tubuh
materi lainnya dan bekerja berada di bawah hukum-hukum materi.
Kelenjar yang berada di bawah lisan kita yang bernama "kelenjar
saliva" (air liur) di samping melakukan aktifitas fisika, ia juga
melakukan aktifitas kimia. Ketika makanan masuk ke dalam mulut, lubang-lubang
artaziyan (lubang yang di dalamnya air meluap-luap) secara otomatis akan
bekerja. Sedemikian lembabnya sehingga dengan ukuran itu, air itu digunakan
untuk mengunyah dan menghaluskan makanan. Makanan-makanan berkuah, berkuah
sedikit, dan kering, masing-masing -sesuai dengan kebutuhannya- mendapatkan
bagian dari air liur (saliva) ini.
Bahan acid (asam) khususnya ketika terlalu tebal, acid ini menambahkan
aktifitas terhadap saliva-saliva ini. Hingga saliva ini mendapatkan jatah
yang lebih banyak dari air dengan ukuran yang cukup berair dan tidak akan
mencederai dinding -dinding perut.Dan bila kita menelan makanan, aktifitas
lubang-lubang ini akan menjadi diam.
Singkatnya, sistem yang berlaku atas mata-mata air yang meluap-luap ini
sangat menakjubkan, sehingga sekiranya sesaat saja keseimbangan atau
hitungannya saling berbenturan, air liur di mulut kita yang curam, dan atau
seukuran lisan dan tenggorakan akan menjadi kering dan butiran-butiran
makanan akan mengganjal di tenggorokan kita.
Pekerjaan fisik ini merupakan pekerjaan saliva. Akan tetapi, kita ketahui
pekerjaan utama saliva (air liur) adalah pekerjaan kimiawi. Bahan-bahan yang
beragam akan bergantung bersamanya dan akan tersintesakan dengan makanan,
serta akan mengurangi pekerjaan perut.
Kaum materialis berkata, "rangkaian syaraf dan otak kita mirip dengan
rangkaian kelenjar air liur (saliva), dan memiliki aktifitas-aktifitas fisis
dan kimiawi (yang secara keseluruhan disebut sebagai fisis-kimiawi) dan kegiatan-kegiatan
ini kita sebut dengan nama fenomena-fenomena ruh atau ruh."
Mereka berkata, "Manakala kita tenggelam dalam kegiatan berpikir, akan
muncul satu rangkaian gelombang elektrik, khususnya dari otak kita. Hari ini,
gelombang dengan intrumen-instrumennya diambil dan direkam di atas kertas,
khususnya pada rumah-rumah sakit jiwa. Dengan menelaah gelombang ini, mereka
menemukan terapi-terapi untuk mendiagnosa dan mengobati orang-orang yang
menderita penyakit kejiwaan. Kegiatan ini adalah kegiatan fisis otak kita.
Di samping itu, sel-sel ketika berpikir atau melakukan kegiatan-kegiatan
kejiwaan lainnya memiliki satu fakultas perbuatan dan infialat kimiawi.
Oleh karena itu, ruh dan fenomena-fenomena ruh tidak lain adalah bagian
tipikal fisik dan perbuatan, serta reaksi kimiawi sel-sel otak dan syaraf
kita.
Dari uraian ini, mereka mengambil kesimpulan sebagai berikut:
a. Kegiatan kelenjar-kelenjar air liur dan efek-efeknya yang beragam tidak
terdapat pada badan, sebelum atau pun setelahnya. Kegiatan-kegiatan ruh kita
juga akan lahir seiring dengan dijumpainya otak dan instrument-instrumen
syaraf, dan akan hilang seiring dengan datangnya kematian.
b. Ruh merupakan ciri benda. Maka ia adalah materi dan tidak memiliki dimensi
metafisis.
c. Ruh termasuk seluruh hukum-hukum yang berkuasa atas badan kita.
d. Tanpa raga, ruh tidak memiliki wujud yang mandiri. Ruh tidak dapat lepas
dari raga.
Argumentasi Kaum Materialis atas Ketakmandirian Ruh
Untuk membuktikan bahwa ruh dan seluruh fenomena-fenomenanya adalah materi;
dan bahwa ruh berasal dari ciri-ciri fisis dan kimiawi sel-sel otak dan
syaraf, aliran-aliran materialis membawakan beberapa bukti yang kita catat di
bawah ini:
1. Dapat dibuktikan dengan mudah bahwa dengan non-aktifnya satu fungsi
sentral syaraf, satu bagian efek ruh akan tidak bekerja dengan aktif.
Misalnya, burung kakatua yang telah diobservasi. Bila kita ambil
bagian-bagian khusus dari otaknya, ia tidak akan mati. Namun, kebanyakan
pengetahuan yang dimilikinya akan hilang. Apabila ia disuap, ia akan memakan
dan mengunyahnya. Dan apabila ia tidak disuap dan makanan itu hanya
ditumpahkan di hadapannya, ia tidak akan menyetuhnya dan ia akan mati karena
kelaparan.
Demikian juga, serangan-serangan otak yang menyerang manusia. Atau karena
faktor sebagian penyakit, otaknya tidak akan bekerja. Survei telah
membuktikan bahwa bagian pengetahuannya akan hilang dari ingatannya.
Beberapa waktu yang lalu, kita membaca dalam surat kabar, seorang pemuda yang
menuntut ilmu. Lantaran serangan otak yang menimpanya pada sebuah kecelakaan
di daerah sekitar Ahwaz (nama sebuah provinsi di bagian selatan Iran-AK.),
pemuda ini lupa segalanya setelah beberapa waktu kejadian ini berlalu.
Bahkan, ia tidak mengenal ibu dan saudara perempuannya. Ketika ia dibawa ke
kampung halamannya; tempat ia dibesarkan, ia merasa asing di tempat itu.
Kejadian ini dan semisalnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan dekat antara
"kegiatan-kegiatan sel-sel otak" dan "fenomena-fenomena
ruh".
2. Tatkala manusia berpikir, perubahan-perubahan fisis pada tataran otak akan
semakin banyak. Otak lebih banyak mengkonsumsi makanan dan mengeluarkan bahan
fosfor. Ketika kita tidur, lantaran otak tidak menjalankan aktifitas
berpikir, ia hanya menkonsumsi sedikit makanan. Dan hal ini sendiri adalah
dalil atas kematerian efek-efek berpikir.
3. Sekian banyak observasi menunjukkan bahwa beban otak setiap pemikir
galibnya lebih dari ukuran medium. (Ukuran medium otak pria kira-kira 1400
gram dan ukuran medium otak wanita sedikit kurang dari ukuran medium otak
pria).
4. Apabila kekuatan berpikir dan pengetahuan adalah dalil atas keberadaan ruh
yang independen, maka hal ini juga harus kita terima pada binatang. Lantaran
mereka pada kadar tertentu juga memiliki pengetahuan.
Kesimpulannya, kami merasa bahwa ruh kita bukanlah wujud yang mandiri dan
independen. kemajuan-kemajuan pengetahuan yang bertalian dengan hakikat
manusia juga memberikan penegasan atas realitas ini.
Dari rangkaian di atas ini, kaum materialis mengambil kesimpulan bahwa
kemajuan dan perkembangan fisiologi manusia dan hewan -hari demi hari-
semakin mengukuhkan realitas ini. Mereka berpandangan bahwa antara
fenomena-fenomena ruh dan sel-sel otak terdapat hubungan yang erat.
Poin-poin Lemah Penalaran ini
Kesalahan besar yang menjadi petaka bagi kaum materialis dalam penalaran
seperti ini adalah kesalahan mereka dalam menempatkan antara "instrumen
kerja" dan "pelaku kerja". Untuk mengetahui kesalahan ini,
kami akan bawakan sebuah perumpamaan ke hadapan Anda. (Perhatikan baik-baik)
Semenjak masa Galileo, telah muncul pendukung gagasan perubahan pada
penelitian ruang angkasa. Galileo yang berkebangsaan Italia bersama pembuat
kaca mata, berhasil menciptakan teropong kecil. Namun, tentu saja Galileo
sangat gembira. Di malam hari, ia mengamati bintang-bintang di langit dengan
menggunakan teropong. Ia menemukan panggung yang menakjubkan di hadapan
matanya, yang hingga saat itu, tidak seorang pun yang pernah melihatnya. Ia
sadar bahwa ia telah menemukan sesuatu yang penting. Dan sejak hari itu,
seluruh penelitian atas rahasia-rahasia dunia atas (baca: tata surya) jatuh
ke tangan manusia.
Hingga hari itu, seluruh manusia serupa dengan seekor kupu-kupu yang hanya
dapat melihat di sekelilingnya. Akan tetapi, tatkala menggunakan teropong,
mereka juga dapat menyaksikan pepohonan di sekeliling hutan besar penciptaan
ini.
Masalah ini mengalami modifikasi hingga teropong-teropong raksasa dibuat.
Ukuran lensanya lima meter atau lebih. Mereka memasang teropong-teropong ini
di dataran-dataran tinggi atau gunung-gunung yang sesuai dan memiliki udara
segar. Teropong yang menjadi peralatan mereka ini, terkadang seukuran satu
bangunan beberapa lantai. Dengan media teropong tersebut, manusia dapat
melihat alam-alam yang terdapat di dunia atas yang selama itu -meskipun
seperseribu alam atas tersebut- tidak pernah disaksikan oleh mata biasa.
Kini Anda pikirkan, apabila suatu hari teknologi manusia memungkinkan untuk
membuat teropong-teropong seukuran seratus meter dengan perlatan-peralatan
yang mampu meliput satu kota, betapa dunia yang akan kita jumpai.
Sekarang, pertanyaan yang muncul adalah, jika Anda ambil apabila
teropong-teropong ini, niscaya bagian atau bagian-bagian pengetahuan dan
penyaksian kita akan benda-benda langit itu akan tidak lagi aktif. Yakni,
apakah kita yang menyaksikan benda langit itu atau teropong? Apakah teropong
dan teleskop sekedar media kerja pengamatan kita yang dengannya kita melihat
atau pelaku kerja dan yang dengan sendirinya melihat dan mengamati?
Pada kaitannya dengan otak, juga tidak seorang pun yang mengingkari bahwa
tanpa sel-sel otak, proses berpikir menjadi mustahil. Akan tetapi, apakah
otak adalah media kerja bagi ruh atau ruh itu sendiri?
Singkatnya, seluruh dalil-dalil kaum materialis yang telah diketengahkan di
sini hanya dapat membuktikan bahwa di antara sel-sel otak dan kerja
pencerapan kita, terdapat hubungan. Akan tetapi, tidak satu pun dari
dalil-dalil itu yang membuktikan bahwa otak adalah pelaku, bukan sekedar
media pencerapan. (Perhatikan baik-baik).
Berangkat dari sini, jelas bahwa orang-orang mati tidak dapat memahami
sesuatu, karena hubungan ruh mereka telah terputus dengan badan mereka, bukan
lantaran ruh telah binasa. Seumpama bahtera atau pesawat yang seluruh
instrumen nir-kabelnya tidak lagi berfungsi. Di sini bahtera, para pemandu, dan
nakhoda tetap ada. Namun, orang-orang yang tinggal di tepi pantai tidak dapat
mengadakan hubungan dengan mereka, lantaran media komunikasi di antara mereka
telah terputus.
Argumentasi Kemandirian Ruh
Dalam masalah ruh, kaum materialis bersiteguh bahwa fenomena-fenomena ruh
merupakan ciri dan gejala sel-sel otak. Pikiran, hafalan, inovasi, cinta,
kebencian, dan amarah, serta ilmu dan pengetahuan, seluruhnya berada dalam
jajaran masalah laboratorium dan di bawah hukum-hukum materi. Akan tetapi,
filsuf yang mendukung kemandirian ruh memiliki bukti-bukti kuat dalam menolak
pandangan kaum materialis. Kami akan uraikan bukti-bukti tersebut dalam
beberapa poin di bawah ini:
a. Gejala Realistik (Pengetahuan tentang Inner World)
Pertanyaan pertama yang dapat diajukan kepada kaum materialis adalah,
sekiranya pikiran-pikiran dan fenomena-fenomena ruh adalah gejala
"fisis-kimiawi" otak, pasti tidak akan ada perbedaan mendasar
antara aktifitas otak dan aktifitas perut, ginjal, atau hati. Hal itu
lantaran aktifitas perut, misalnya, adalah mensintesakan antara
aktifitas-aktifitas fisik dan kimia dengan prosedur khasnya melalui mengunyah
dan mempersiapkan badan untuk mengeluarkan acid-acid makanan. Demikian juga
aktifitas saliva (air liur) -sebagaimana yang telah disebutkan di atas-
merupakan sintesa antara aktifitas fisik dan aktifitas kimia. Sementara kita
melihat aktifitas ruh berbeda dengan semua itu.
Seluruh aktifitas anggota badan masing-masing -kurang-lebih- serupa dengan
yang lainnya, kecuali otak. Semua ini bersangkutan dengan dimensi-dimensi
internal. Sementara fenomena-fenomena ruh memiliki dimensi eksternal dan
menerangkan kepada kita ihwal keadaan eksternal keberadaan kita.
Untuk lebih jelasnya, kita renungkan beberapa poin di bawah ini:
Pertama, apakah dunia luar (diri kita) ada atau tidak? Tentu saja, ada. Kaum
idealis yang mengingkari keberadaan dunia luar berpendapat, apa pun yang ada
hanyalah kita dan konsep kita. Dunia luar ibarat panggung yang kita lihat
dalam dunia mimpi; hanyalah sebuah khayalan. Mereka cukup getol dengan
kesalahannya. Dan kesalahan mereka telah kami telah buktikan di tempat yang
lain. Pembuktian ini berkisar tentang bagaimana kaum idealis pada tataran
praktis menjadi kaum realis. Dan apa yang dipikirkan pada lingkungan
perpustakaan, tatkala melangkahkan kaki ke lorong, jalan dan kehidupan umum,
mereka melupakan semua idenya.
Kedua, apakah kita mengetahui kehidupan dunia luar atau tidak? Tentu saja
jawaban pertanyaan ini adalah afirmatif (iya). Karena kita memiliki data yang
melimpah tentang dunia luar. Dan kita memiliki informasi yang banyak tentang
makhluk-makhluk yang berada di seputar kita atau bahkan, makhluk-makhluk yang
mendiami tempat yang jauh dari kita namun berada di luar jangkuan kita.
Pertanyaannya, apakah dunia luar dapat masuk ke dalam ruang internal wujud
kita? Tentu saja tidak. Akan tetapi, kita dapat memahami keberadaan dunia
luar dengan menggunakan gejala yang nyata dan riel. Gambaran dunia luar
berada dalam benak kita.
Gejala nyata ini bukan gejala fisis-kimia otak. Lantaran gejala fisis-kimia
otak ini merupakan reaksi efek-efek kita atas dunia luar. Istilahnya,
merupakan akibat dari aktifitas fisis-kimia otak. Persis dengan efek-efek
yang disisakan oleh makanan pada perut kita; hanya efek makanan atas perut,
aksi dan reaksi fisis dan kimia tersebut yang membuat perut mengetahui
makanan-makanan yang disodorkan kepadanya. Lalu bagaimana otak kita dapat
mengetahui dunia luar?
Dengan kata lain, untuk mengetahui wujud-wujud eksternal, ia memerlukan satu
jenis pengetahuan tentangnya. Dan lingkungan kerja ini bukanlah pekerjaan
sel-sel otak. Sel-sel otak hanya dapat menerima efek dari luar. Dan efek ini
seperti efek-efek anggota badan lainnya dari keadaan dunia luar. Kita dapat
memahami perkara ini dengan baik.
Apabila efek dari dunia luar adalah dalil atas pengetahuan kita terhadap
dunia luar, mestinya kita dapat memahaminya dengan perut dan lisan kita,
sementara tidaklah demikian adanya.
Kesimpulannya, keadaan unik perangkat pengetahuan kita merupakan dalil bahwa
terdapat suatu hakikat lain di sana, yang hukum-hukumnya sama sekali berbeda
dengan hukum-hukum fisik dan materi. (Perhatikan baik-baik).
b. Kesatuan Pribadi
Argumentasi lain tentang kemandirian ruh yang dapat disebutkan di sini
adalah kesatuan pribadi sepanjang usia seorang manusia.
Penjelasan
Apabila kita dalam segala hal dapat sangsi dan ragu, dalam perkara ini kita
tidak akan merasa ragu bahwa kita ini ada.
Tentang "Aku ada dan dalam keberadaanku", aku tidak memiliki
keraguan. Pengetahuanku tentang keberadaanku disebut sebagai ilmu hudhûrî
(pengetahuan dengan kehadiran), bukan ilmu hushûlî (pengetahuan dengan
perolehan). Maksudnya adalah bahwa aku hadir dalam diriku dan tidak terpisah
dariku.
Bagaimanapun, pengetahuan kita tentang diri kita merupakan pengetahuan yang
paling jelas. Pengetahuan ini tidak memerlukan penalaran. Penalaran yang
terkenal adalah penalaran yang dilakukan oleh Descartes, seorang filsuf besar
Prancis, yaitu "Aku berpikir, maka aku ada". Tampaknya penalaran
ini bukan penalaran yang benar dan hanya bersifat lateral. Lantaran sebelum
ia membuktikan wujudnya, ia sudah mengakui wujudnya sendiri! (Sekali ia
berkata "aku", kembali ia berkata "aku berpikir"). Ini
dari satu sisi.
Dari sisi lain, "aku" ini sejak awal hingga akhir usia hanya memiliki
satu kesatuan (pribadi), tidak lebih. "Aku hari ini" adalah
"aku kemarin" dan "aku dua puluh tahun yang lalu". Sejak
kecil sampai sekarang ini, Aku adalah seorang, tidak lebih. Aku adalah orang
yang dulu dan hingga akhir usia juga aku tetap orang yang sama, bukan orang
lain. Tentu saja, aku belajar, aku telah memiliki ilmu, aku telah mencapai
kesempurnaan, dan aku akan tetap mencapainya, akan tetapi aku tidak menjadi
orang lain.
Dengan demikian, seluruh manusia sepanjang hidupnya dikenal sebagai seorang
manusia; aku memiliki satu nama, aku memiliki satu tanda pengenal, dan
sebagainya.
Kini kita lihat, apakah wujud satu yang telah memenuhi segenap usia kita ini?
Apakah ini merupakan partikel atom, sel-sel badan, atau kumpulan sel-sel
otak, serta aksi dan reaksi otak? Di sepanjang usia kita, semua ini berulang
kali akan berganti. Kira-kira dalam setiap tujuh tahun, seluruh sel-sel akan
mengalami pergantian (shift). Lantaran kita ketahui bahwa jutaan sel dalam
badan kita setiap hari akan mati, dan jutaan sel baru akan tumbuh
menggantikannya. Sebagaimana sebuah bangunan yang batu batanya secara gradual
keluar, dan batu-batu bata yang baru akan datang menggantikan pekerjaan
batu-batu bata yang lama. Setelah beberapa waktu, bangunan ini secara
keseluruhan akan berganti meskipun orang-orang awam tidak mengetahuinya. Tak
ubahnya seperti kolam renang besar. Dari satu sisi, air baru secara perlahan
akan masuk ke dalam kolam renang, dan dari sisi lainnya, air yang lama akan
keluar. Jelas bahwa setelah beberapa lama, seluruh air yang ada dalam kolam
tersebut akan berganti, meskipun orang-orang yang melihatnya secara lahiriah
tidak mengetahui perubahan ini, bahkan mereka melihat bahwa kolam renang
tersebut tetap pada keadaaanya semula.
Secara umum, setiap wujud yang menerima makanan dan dari sisi lainnya
menkonsumsi makanan tersebut, secara perlahan-lahan akan mengalami pembaruan
dan pergantian.
Oleh karena itu, seorang anak manusia yang berusia tujuh puluh tahun,
perubahan yang terjadi pada anggota badannya kira-kira sebanyak sepuluh kali
(mengingat setiap tujuh tahun mengalami perubahan-AK.). Atas perhitungan ini,
apabila kita -sebagaimana kaum materialis- harus memandang manusia sebagai
jasad dan kumpulan organisme otak dan syaraf, serta akumulasi ciri-ciri
fisis-kimiawi, maka "aku" ini dalam masa tujuh puluh tahun
mengalami sepuluh kali pergantian dan bukan lagi orang yang sebelumnya,
padahal tidak satu pun fitrah (wijdân) yang akan menerima asumsi ini.
Berangkat dari sini, jelas bahwa selain bagian-bagian material, terdapat satu
hakikat tunggal yang permanen pada segenap usia kita, dan ia tidak akan
pernah berubah sebagaimana bergantinya bagian-bagian materi. Ia adalah bentuk
dasar wujudnya, maka standar kesatuan pribadi kita adalah hakikat tunggal
tersebut.
Menghindari Sebuah Kekeliruan
Sebagian orang beranggapan bahwa sel-sel otak tidak akan berganti. Mereka
berkata, "Dalam buku fisiologi, kami membaca bahwa jumlah sel-sel otak
sejak semula hingga akhir usia adalah satu jenis saja. Maksudnya, sel-sel ini
tidak akan bertambah dan juga tidak akan berkurang selamanya. Sel-sel ini
hanya akan menjadi besar. Akan tetapi, sel-sel ini tidak akan melahirkan sel
baru untuk meneruskan keturunannya. Dari sudut pandang ini, tidak dapat
diilustrasikan kerusakan pada sel-sel ini. Oleh karena itu, kita percaya
bahwa dalam keseluruhan badan kita terdapat satu kesatuan yang permanen yang
merupakan sel-sel otak itu sendiri. Dan sel-sel inilah yang menjadi standar
kesatuan pribadi kita.
Namun, pandangan ini merupakan sebuah kesalahan besar, karena mereka telah
mencampur-adukkan dua masalah. Yang telah dibuktikan oleh sains dewasa ini
ialah bahwa dari sisi jumlah, sel-sel otak semenjak semula hingga akhir usia
bersifat permanen; tidak bertambah, tidak pula berkurang, bukan atom yang menjadi
pembentuk sel-sel ini yang tidak akan berubah. Sebab, bagaimana yang telah
kami sebutkan, sel-sel badan menerima makanan secara terus-menerus dan
atom-atom (dzarrât) yang telah tua akan hilang secara bertahap. Persis
seperti seorang yang senantiasa dari satu sisi menerima dan dari sisi lain
memberi. Tentu saja modal orang seperti ini akan berganti secara perlahan,
betapa pun banyaknya. Sebagaimana kolam renang, yang dari satu sisi air yang
baru dialirkan ke dalamnya dan dari sisi lain, air yang lama dialirkan
keluar. Dengan demikian, dalam beberapa waktu, muatan-muatan kolam akan
berganti secara keseluruhan, meskipun ukuran air tetap dan tidak
berubah.
Begitu pula, sel-sel otak itu tidak permanen. Sebagaimana sel-sel yang lain,
sel-sel ini akan mengalami pergantian dan perubahan.
c. Ketidaksesuaian antara Kecil dan Besar
Anggaplah, Anda duduk di tepi pantai yang indah. Beberapa perahu kecil dan
sebuah kapal besar bergerak di atas ombak. Dari satu sisi, kita melihat
matahari terbenam di sebelah barat dan dari sisi lain, kita melihat bulan
berada dalam keadaan bersinar (terbit). Burung-burung menawan di pantai
selalu bermain di atas air dan berdiri, dan gunung menjulang tinggi,
puncaknya mencapai langit.
Kini, untuk beberapa detik, kita pejamkan mata kita. Lalu, kita ilustrasikan
apa yang telah kita saksikan itu di dalam benak kita. Gunung dengan segala
ketinggiannya, laut dengan segala keluasannya, dan kapal raksasa dengan
segala kebesarannya kini menjelma dalam benak kita. Artinya layar pemandangan
yang luar biasa besarnya itu berhadapan dengan ruh kita, atau papan gambar
itu kini berada dalam ruh kita.
Pertanyaannya di sini adalah, di manakah tempat gambar raksasa ini? Apakah
sel-sel maha mikro otak dapat menerima peta yang maha makro seperti ini?
Tentu saja tidak. Oleh karena itu, kita harus memiliki bagian lain dari diri
kita di balik badan fisis ini; bagian yang sedemikian luasnya sehingga
meliput seluruh pemandangan itu di dalamnya.
Apakah gambaran satu bangunan yang tingginya 500 meter dapat dilukiskan pada
satu tanah yang berukuran beberapa millimeter? Tentu saja, tidak. Sebab, satu
wujud yang lebih besar dengan tetap menjaga kebesarannya tidak akan sesuai
dengan wujud yang lebih kecil. Kelaziman persesuaian ini, baik sama dengannya
atau lebih kecil darinya, dapat diterapkan di sini.
Kini, bagaimana kita dapat memberikan ruang bagi gambaran-gambaran mental
yang luar biasa besarnya di dalam sel-sel mikro otak?
Kita dapat mengilustrasikan planet bumi yang berukuran 40.000.000 meter dalam
benak kita. Kita dapat menjelmakan planet matahari yang berukuran 1.200.000
lebih besar daripada planet bumi. Demikian juga, galaksi-galaksi yang
ukurannya jutaan lebih luas dari matahari kita. Seluruhnya ada dalam pikiran
kita., apabila mereka ingin menggambarkan ilustrasi-ilustrasi ini dalam
sel-sel kecil otak, sesuai dengan hukum ketidaksesuaian besar dan kecil,
tidak akan mungkin dapat terjadi. Maka, kita harus mengakui suatu wujud yang
lebih unggul di atas otak fisis ini yang merupakan sentral penerimaan
gambaran-gambaran raksasa ini.
Sebuah Pertanyaan Penting
Barangkali disebutkan bahwa gambaran-gambaran benak kita adalah
mikrofilm-mikrofilm atau peta-peta geografis, dan di dalam peta-peta ini
telah ditulis satu angka fraksional seperti berikut: 1 per 1.000.000 atau 1
per 100.000.000 yang menunjukkan skala mikronya. Hal itu memberikan pemahaman
kepada kita bahwa gambar ini harus kita besarkan sesuai dengan rasio di atas
hingga peta yang real dapat kita peroleh. Dan juga banyak kita lihat
potret-potret kapal raksasa yang telah diambil yang tidak dapat menunjukkan
kebesaran kapal tersebut. Oleh karena itu, untuk menunjukkan kebesaran kapal
itu, maka sebelum mengambil foto tersebut, kita menempatkan manusia di atas
kapal tersebut, dan foto keduanya dapat diambil, sehingga berdasarkan
perbandingan, kebesaran kapal tersebut semakin jelas.
Melalui gambaran-gambaran mental, kita juga dapat memperoleh
gambaran-gambaran mikro yang dengan skala-skala tertentu telah dimikrokan
dengan rasio yang sama. Dengan memakrokan gambaran tersebut, gambaran yang
sebenarnya dapat diperoleh. Dan tentu saja, peta-peta mikro ini dapat
memiliki ruang pada sel-sel otak kita. (Perhatikan baik-baik).
Jawaban
Masalah penting di sini ihwal mikrofilm-mikrofilm yang biasanya mereka
besarkan dengan media projector dan memberikan reaksi di atas layar atau pada
peta-peta geografi angka yang ditulis di bawahnya membantu kita mengalikan
peta tersebut dengan angka yang telah ditentukan itu. Dan gambaran besar yang
sebenarnya kita refleksikan dalam benak kita. Kini pertanyaan yang muncul
adalah di manakah layar besar yang digunakan oleh mikrofilm-mikrofilm mental
untuk merefleksikan gambar raksasa tersebut? Apakah layar besar ini adalah
sel-sel otak itu sendiri? Tentu saja, tidak. Dan peta mikro geografi yang kita
kalikan dengan angka besar itu dan kita merubahnya menjadi gambaran raksasa,
tentu saja memerlukan tempat. Apakah tempat ini adalah sel-sel mikro otak itu
sendiri?
Dengan kata lain, dalam perumpamaan mikrofilm dan peta geografi yang berada
pada dunia luar, tempat film dan gambar-gambar yang berbentuk mikro itu
adalah layar yang telah menerima gambar tersebut. Akan tetapi, pada gambaran
mental kita, gambaran-gambaran ini persis seperti ukuran wujud luarnya. Dan
tentu saja gambaran-gambaran ini memerlukan tempat seukuran dirinya, dan kita
ketahui bahwa sel-sel otak lebih kecil dari gambaran dan mikrofim tersebut
untuk dapat merefleksikan gambaran dan mikrofilim itu dengan segala
kebesarannya.
Ringkasnya, kita mengilustrasikan gambaran-gambaran benak ini sebesar
ukurannya yang terdapat di dunia luar. Dan gambar raksasa ini tidak dapat
terefleksikan dalam sel-sel mikro. Dengan demikian, ia memerlukan tempat dan
dari sini kita dapat memahami adanya suatu wujud hakiki di balik sel-sel ini.
d. Gejala-gejala Ruh bukan Kualitas materi
Dalil lain yang dapat menuntun kita kepada kemandirian dan kenonmaterian ruh
adalah bahwa pada gejala-gejala ruh, kita melihat kualitas-kualitas yang
tidak serupa dengan kualitas-kualitas materi. Karena:
Pertama, makhluk-makhluk memerlukan (waktu) dan berdimensi gradual
(berproses).
Kedua, dengan berlalunya waktu, makhluk-makhluk tersebut akan menjadi usang
(out of date).
Ketiga, materi dapat dianalisa atau dipecah kepada bagian-bagian wujud
lainnya.
Akan tetapi, gejala-gejala mental tidak memiliki ciri-ciri dan efek-efek yang
tersebut di atas. Kita dapat menggambarkan semesta persis dengan semesta yang
kita huni sekarang ini dalam benak kita, tanpa melewati lintasan waktu dan
tidak perlu berproses gradual.
Terlepas dari masalah ini, potret-potret masa lalu yang kita gambarkan dalam
benak kita semasa kita kecil, dengan berlalunya waktu tidak mengalami
antiquasi (kekunoan), tidak usang, dan tetap seperti ukuran aslinya. Boleh
jadi otak manusia mengalami keusangan. Akan tetapi, dengan usangnya otak,
rumah yang merupakan gambaran dua puluh tahun sebelumnya dalam benak kita
terekam dengan baik dan tidak usang, dan memiliki konstansi yang merupakan
ciri khas dunia metafisis.
Ruh kita dalam hubungannya dengan gambaran dan potret-potret, memiliki
ciptaan yang menakjubkan dan pada detik itu kita dapat menggambarkan segala
jenis peta dalam benak kita tanpa memerlukan sedikit pun pendahuluan.
Gambaran benda-benda langit, galaksi-galaksi dan makhluk-makhluk bumi, laut,
pegunungan, dan semisalnya bukanlah ciri khas satu wujud materi, akan tetapi
ciri khas wujud metafisis.
Di samping itu, kita ketahui misalnya, 2+2=4, dan kita dapat menganalisa
salah satu dari dua ekuivalen ini; angka dua atau angka empat. Akan tetapi,
kita tidak dapat menganalisa equivalensi seraya mengatakan ada equivalensi
seperdua dan setiap setengah bukan setengah yang lainnya. Equivalensi
merupakan satu pemahaman yang tidak dapat dianalisis; ada atau tiada.
Sekali-kali tidak dapat dibagi menjadi dua. (Antara ada dan tiada tidak dapat
dibagi, setengah ada atau setengah tidak. Proposisi ini mustahil adanya-AK.)
Oleh karena itu, pemahaman mental ini tidak dapat dianalisa. Atas dasar ini,
ia tidak dapat bersifat materi, sebab apabila ia materi, ia tersusun. Begitu
pula,ruh kita yang merupakan pusat pemahaman ini bukanlah materi dan tidak
dapat bersifat materi. Maka, ruh adalah wujud nonmateri. (Perhatikan
baik-baik).
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment