|
|
Keadilan Ilahi
24. Apakah Perbedaan Natural Manusia Sesuai dengan Prinsip Keadilan?
Pada ayat 32, surat An-Nisa' [4] kita membaca, "Janganlah Kamu iri hati
terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari
sebagian yang lain."
Dengan memperhatikan ayat suci ini, banyak di antara kita bertanya, mengapa
sebagian orang memiliki bakat lebih dan bakat sebagian lainnya kurang,
sebagaian rupawan dan sebagian lagi tidak demikian. Ada sebagian orang yang
kuat tubuhnya,ada pula yang tubuhnya biasa-biasa saja. Apakah perbedaan
natural ini sejalan dengan prinsip keadilan?
Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan dua poin di bawah
ini.
1. Bagian pertama dari perbedaan antara raga dan ruh manusia merupakan akibat
dari perbedaan strata dan kezaliman kehidupan sosial, atau sikap menganggap
remeh setiap orang, dan sama sekali tidak berhubungan dengan dunia
penciptaan. Umpamanya, kebanyakan putra-putri kaum hartawan dibandingkan
dengan putra-putri kaum miskin, baik dari sudut pandang jasmani, lebih indah
dan lebih kuat, juga dari sisi potensi dan talenta lebih besar. Semua ini
dikarenakan mereka mendapatkan makanan dan kesehatan yang memadai, sementara
putra-putri orang miskin berada dalam keserbakurangan. Atau sebagian orang karena
sikap malas dan acuh tak acuhnya, kekuatan jasmani dan ruhnya sirna begitu
saja. Perbedaan-perbedaan ini harus diyakini sebagai
"perbedaan-perbedaan rekaan (diciptakan) dan tanpa dalil". Dengan
hilangnya sistem strata yang korup, pengadaan keadilan sosial juga akan
sirna, dan Islam dan Al-Qur'an tidak menyetujui perbedaan-perbedaan semacam
ini.
2. Bagian lain dari perbedaan itu bersifat natural dan suatu kelaziman
penciptaan manusia. Maksudnya, sekiranya sebuah masyarakat bersinggungan
dengan keadilan sosial secara sempurna, setiap anggotanya ibarat sebuah
pabrik; produknya tidak akan berbentuk dan bercorak sama. Tentu saja
masing-masing akan memiliki kperbedaan dan keunikan yang khas. Namun, harus
diketahui bahwa galibnya, anugerah-anugerah Ilahi, potensi jasmani dan ruhani
manusia sedemikian sudah dibagikan kepada mereka sehingga masing-masing
memiliki bagian-bagian tertentu dari potensi ruh dan jasmani tersebut.
Maksudnya, sangat jarang dijumpai anugerah-anugerah Ilahi ini terdapat pada
satu tempat atau satu orang. Sebagian memiliki kekuatan badan yang kuat,
sebagian memiliki potensi dan talenta matematika yang baik, sebagian memiliki
bakat bersyair, dan sebagian lainnya menyukai bidang perniagaan, sebagian
peduli pada bidang agrikultur. Alhasil, setiap orang memiliki potensi dan
talenta yang khas. Yang penting adalah masyarakat atau individu harus
menemukan potensi dan talentanya tersebut serta membinanya dalam lingkungan
yang sehat, sehingga setiap orang dapat menunjukkan dan mengeksplorasi kekuatannya.
Subjek ini juga harus diingat bahwa sebuah masyarakat ibarat sebuah raga
manusia yang memerlukan tekstur-tekstur, urat dan sel-sel yang beraneka
ragam. Maksudnya, sekiranya satu badan, seluruh sel-sel subtil dibuat seperti
sel-sel mata dan otak, maka keberadaannya tidak akan berlangsung lama. Atau
apabila seluruh sel-sel itu keras dan tidak fleksibel sebagaimana sel-sel
tulang, dia tidak dapat melakukan pekerjaan yang memikul tanggungjawab yang
beragam. Akan tetapi, seluruh sel-sel yang ada pada diri manusia harus
dibentuk dari sel-sel yang beragam. Setiap sel memiliki tugas khusus; ada
yang memiliki tugas berpikir, yang lainnya memiliki tugas melihat, tugas
mendengarkan, tugas berkata-kata.
Demikian juga untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang sempurna diperlukan
potensi-potensi, talenta-talenta dan struktur raga dan pikiran yang beragam.
Namun, hal ini tidak berarti bahwa sebagian anggota masyarakat harus
menjalani hidupnya di bawah garis kemiskinan, atau pelayanan mereka tidak
dianggap khidmat yang besar atau malah dihina. Sebagaimana sel-sel yang ada
pada tubuh dengan perbedaan-perbedaan yang dimilikinya, semuanya mendapatkan
manfaat dari makanan dan udara serta kebutuhan-kebutuhan lainnya sesuai
dengan kapasitasnya.
Dengan kata lain, perbedaan struktur ruh dan jasmani pada bagian-bagian yang
bersifat natural (bukan karena kekuatan paksa) menuntut kemahabijaksanaan
(hikmah) Sang Pencipta, dan keadilan Ilahi tidak dapat dipisahkan dari
kemahabijaksanaan Ilahi tersebut. Seperti contoh, sekiranya seluruh sel-sel
badan manusia diciptakan dalam satu bentuk, hal itu tidak sesuai dengan
kemahabijaksanaan Ilahi, begitu pula keadilan -yang bermakna menempatkan
segala sesuatu pada tempat yang selayaknya- tidak akan pernah terwujud.
Demikian juga apabila suatu hari, seluruh masyarakat berpikiran yang sama dan
memiliki potensi yang sama, pada hari itu juga kondisi mereka akan mengalami
kekacauan.
25. Apakah Perbedaan Rezeki di Tengah Masyarakat Sesuai dengan Prinsip
Keadilan?
Pada surat An-Naml [16], ayat 71 kita membaca, "Allah melebihkan
sebagian atas yang sebagian lainnya di antara Kamu dalam urusan rezeki".
Pertanyaan yang muncul adalah apakah adanya perbedaan rezeki di antara
masyarakat sejalan dengan asas keadilan Ilahi dan kesetaraan yang harus
berlaku terhadap sistem kemasyarakatan manusia?
Dalam menjawab pertanyaan ini kita harus memperhatikan dua poin di bawah ini
secara cermat.
1. Tidak diragukan bahwa bagian penting perbedaan yang ada di antara
masyarakat dari sisi keuntungan materi dan pendapatan, bertalian dengan
perbedaan potensi yang ada pada diri mereka. Perbedaan potensi dan talenta
jasmani dan ruhani yang menjadi sumber perbedaan pada kuantitas dan kualitas
kegiatan ekonomi menyebabkan berbedanya pendapatan yang mereka peroleh;
sebagian meraup keuntungan yang banyak dan yang lainnya memperoleh keuntungan
yang sedikit. Tentu saja, acap kali kejadian yang hanya menurut kita bersifat
aksidental, malah membuat sebagian orang mendapatkan rezeki yang lebih
banyak. Akan tetapi, hal ini dapat dihitung sebagai pengecualian. Yang
menjadi dasar dan parameter asli pada kebanyakan urusan hidup ialah perbedaan
kuantitas dan kualitas usaha. (Tentu saja tema pembahasan kita adalah sebuah
masyarakat yang sehat dan bebas dari eksploitasi kaum tiran, bukan masyarakat
yang menyimpang jauh dari aturan-aturan penciptaan dan nilai kemanusiaan).
Bahkan orang-orang yang kita jumpai cacat tangan dan kaki, kerapkali
mendapatkan pendapatan banyak yang membuat kita takjub. Sekiranya kita
merenungkan moralitas, ruh dan jasmani mereka dengan seksama dan melepaskan
diri dari penilaian dangkal, kita akan melihat bahwa mereka -galibnya-
memiliki kekuatan yang membuat mereka memperoleh apa yang sepatutnya.
(Kembali kami tekankan, tema pembahasan kita adalah masyarakat sehat dan tidak
korup).
Secara umum, perbedaan pendapatan bersumber dari perbedaan potensi dan
talenta. Potensi dan talenta ini juga merupakan anugerah Ilahi. Boleh jadi
dalam sebagian masalah bersifat perolehan (iktisâbi, dapat dicapai) namun
dalam sebagian lainnya tidak. Bahkan dalam sebuah masyarakat sehat dari aspek
ekonomi, perbedaan pendapatan juga sebuah realita yang tidak dapat diingkari.
Kecuali jika kita mampu menciptakan manusia-manusia yang sejenis; satu warna
dan satu potensi yang tidak memiliki satu pun perbedaan, justru masalah lain
yang akan muncul.
2. Tidak diragukan juga bahwa ketika kita merenungkan nasib seseorang, batang
sebuah pohon, dan sekuntum bunga, apakah mungkin struktur yang setimbang di
antara anggota dan tubuh, dapat dijumpai persamaannya dari aspek apapun?
Apakah kekuatan resistensi dan potensi akar pohon dari aspek apapun dapat
disatukan dengan dedaunan bunga mawar yang lembut dan sedang bersemi, dan
juga tulang tumit kaki dengan kelopak mata? Sekiranya Anda mampu menyatukan
mereka, apakah Anda berpikir Anda telah melakukan pekerjaan yang benar?
Jika kita kesampingkan terlebih dahulu slogan-slogan yang mengecoh nalar
(yang selalu menuntut persamaan di semua bidang), dan anggaplah suatu hari
kita dapatkan manusia-manusia rekaan, dapat kita buat imaginer dari berbagai
sudut pandang, dan menjejali planet bumi dengan manusia sebanyak lima miliar
dalam satu bentuk, satu figur, satu talenta, satu pikiran, dan satu rupa dari
setiap sisi, persis seperti kretek-kretek yang ditawarkan dari satu pabrik,
apakah pada hari itu manusia memiliki kehidupan yang lebih baik? Tentu saja
tidak. Alih-alih menjadi lebih baik, kehidupan manusia akan menjadi neraka
yang di dalamnya setiap orang akan merasakan kejemuan. Semuanya akan bergerak
kepada satu titik dan menghendaki sesuatu yang sama. Semuanya menghendaki
satu kedudukan, menyukai satu jenis makanan, dan ingin mengerjakan satu
pekerjaan.
Sangat jelas, usia kehidupan seperti ini segera akan berakhir. Dan seandainya
kehidupan ini harus tetap berlangsung, kehidupan yang mereka alami adalah
kehidupan kehilangan ruh; menjemukan, monoton, tidak ada bedanya dengan
kematian.
Oleh karena itu, perbedaan potensi adalah demi memelihara keutuhan sistem
masyarakat, bahkan membina potensi-potensi yang beragam adalah suatu kelaziman.
Adapaun slogan-slogan kosong itu tidak dapat mengantisipasi kenyataan ini.
Namun, jangan sampai uraian ini ditafsirkan bahwa kami menerima masyarakat
strata dan sistem eksploitasi. Tidak! Sama sekali tidak demikian! Maksud dari
strata ini adalah strata alami, bukan rekayasa (baca : palsu). Perbedaan
tidak hanya berfungsi sebagai penyempurna satu potensi dengan yang lainnya,
akan tetapi juga berperan sebagai pendukung, bukan penghalang bagi kemajuan
dan melanggar serta menganiaya yang lain.
Perbedaan strata (harap diperhatikan makna strata di sini adalah makna
teknis; strata pengeksploitasi dan tereksploitasi) sekali-kali tidak sesuai
dengan sistem penciptaan. Sistem yang sejalan dengan sistem penciptaan adalah
perbedaan potensi dan usaha. Perbedaan antara sistem yang sejalan dengan
penciptaan dan sistem yang tidak sejalan dengannya ibarat perbedaan antara
bumi dan langit. (Perhatikan baik-baik!)
Dengan ungkapan lain, perbedaan pelbagai potensi harus digunakan pada rangka
membangun, persis seperti perbedaan struktur anggota tubuh, atau sekuntum
bunga. Dalam perbedaannya, ia saling membantu; tidak saling menggangu.
Singkatnya, perbedaan pelbagai potensi yang ada tidak seyogyanya
disalahgunakan sehingga menjadi sebab terciptanya masyarakat strata.
Pada akhir ayat yang menjadi tema pembahasan kita kali ini Ia menegaskan,
"Afabini'matillâhi yajhadûn."
Ayat ini menyiratkan bahwa perbedaan pada bentuk naturalnya, (bukan bentuk
rekayasa dan cara-cara paksa) adalah limpahan anugerah Ilahi untuk menjaga
sistem kehidupan masyarakat manusia.
26. Apakah Falsafah dari Musibah yang Kerap Menimpa Kehidupan Manusia?
Dalam surat Asy-Syura [42], ayat 30, kita membaca, "Dan musibah apa saja
yang menimpa Kamu, maka semua itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri."
Dengan memperhatikan ayat ini, pertanyaan yang kemudian muncul adalah: dari
manakah asal pelbagai musibah yang menghampiri kehidupan kita?
Pada ayat ini terdapat beberapa poin yang layak mendapat perhatian:
1. Ayat ini dengan baik mengindikasikan bahwa musibah-musibah yang menimpa
manusia adalah salah satu jenis hukuman dan peringatan Ilahi (betapapun
memiliki eksepsi, sebagaimana akan kami singgung pada kesempatan mendatang).
Dengan demikian, salah satu falsafah terjadinya peristiwa yang mengerikan itu
akan menjadi jelas.
Menariknya, dalam hadis yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin a.s., yang
menukil dari Nabi saw., beliau bersabda, "Wahai Ali, ayat ini (Tidaklah
menimpa Kamu musibah…) merupakan ayat yang terbaik dalam Al-Qur'an Al-Karim.
Setiap goresan kayu yang menghujam ke dalam raga manusia dan setiap lalai
dalam langkah terjadi akibat dosa yang dia perbuat. Dan apa yang dimaafkan
oleh Tuhan di dunia ini lebih santun dari apa yang dimaafkan oleh-Nya di
akhirat. Di akhirat sana terjadi peninjauan kembali, dan apa yang ditimpakan
kepada manusia di dunia ini lebih adil ketimbang di akhirat, di mana Tuhan
sekali lagi memberikan hukuman kepadanya.
Dengan demikian, musibah semacam ini selain meringankan beban manusia dalam
kaitannya dengan masa mendatang, dia juga akan terkendali.
2. Meski ayat ini secara lahiriah bersifat umum, dan seluruh musibah termasuk
di dalamnya, akan tetapi pada kebanyakan urusan yang bersifat umum terdapat
pengecualian. Umpamanya, musibah-musibah dan kesulitan-kesulitan yang menimpa
para nabi dan imam a.s. yang berfungsi untuk meninggikan derajat atau menguji
mereka. Demikian juga musibah berupa ujian yang menimpa selain para ma'shum
a.s.
Dengan ungkapan lain, seluruh ayat Al-Qur'an dan riwayat menjawab bahwa ayat
ini secara umum merupakan masalah yang mendapatkan takhshîsh (pengecualian),
dan tema ini bukanlah sesuatu yang baru di kalangan para mufassir.
Ringkasnya, berbagai musibah dan kesulitan memiliki falsafah yang khas,
sebagaimana yang telah disiratkan dalam pembahasan tauhid dan keadilan Ilahi.
Berseminya potensi-potensi di bawah tekanan musibah, peringatan akan masa
mendatang, ujian Ilahi, sadar dari kelalaian dan arogansi, dan penebus dosa
adalah salah satu corak dari falsafah tersebut.
Akan tetapi, kebanyakan musibah yang harus diterima oleh kebanyakan orang
-seperti telah terurai pada ayat di atas- secara umum memiliki sisi
pembalasan dan tebusan.
Oleh karena itu, kita membaca dalam hadis, tatkala Imam Ali bin Husain a.s.
telah memasuki istana Yazid, Yazid menoleh kepadanya dan berucap, "Wahai
Ali! Musibah yang menimpamu berasal dari apa yang telah engkau lakukan."
(Isyarat bahwa tragedi Karbala adalah hasil dari perbuatanmu sendiri).
Akan tetapi, Imam Ali bin Husain dengan segera menukas, "Tidaklah
demikian! Turunnya ayat ini tidak berkenaan dengan kami. Ayat yang turun
berkenaan dengan kami adalah ayat yang menegaskan bahwa, 'Setiap musibah di
atas bumi, entah terjadi pada badan atau ruh Kamu, telah tercatat pada kitab
Lauh Mahfuzh sebelum engkau diciptakan. Dan pengetahuan tentang urusan ini
bagi Tuhan adalah mudah.' Ayat ini diturunkan untuk menjelaskan bahwa apa
yang telah hilang dari tanganmu, jangan engkau tangisi, dan apa yang datang
kepadamu, jangan membuatmu terlalu bergembira. (Tujuan dari musibah-musibah
ini adalah supaya hatimu tidak hanyut dalam kesenangan dunia yang sementara,
dan ini merupakan satu jenis pendidikan untukmu)."
Lalu, Imam menambahkan, "Kami adalah orang yang apabila sesuatu hilang
dari tangan kami, kami tidak bersedih, dan apabila sesuatu datang ke tangan
kami, kami tidak bergembira (Kami menganggap semua ini bersifat sementara dan
kami hanya menambatkan hati kami kepada kasih (luthf) dan pertolongan
(inayah) Tuhan)."
3. Terkadang musibah-musibah memiliki dimensi kolektif. Hal ini merupakan
hasil dari dosa kolektif. Sebagaimana yang tertuang dalam ayat 41, surat
Ar-Rum (30), "Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan
karena perbuatan tangan manusia ...."
jelas bahwa ayat ini berkenaan dengan sekelompok anak manusia yang -lantaran
perbuatan-perbuatan mereka sendiri- terjerembab ke dalam musibah.
Dan pada ayat 11, surat Ar-Ra'd (13) disebutkan, "Allah tidak akan
mengubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri yang mengubahnya."
Ayat-ayat yang senada ini memberikan kesaksian bahwa antara
perbuatan-perbuatan manusia dan sistem penciptaan dan kehidupannya memiliki
hubungan yang berjalin erat, sehingga sekiranya ia menjejakkan kaki
berdasarkan kaidah fitrah dan hukum-hukum penciptaan, keberkahan Ilahi akan
meliputi kehidupannya. Dan apabila ia berbuat kerusakan, niscaya kehidupannya
juga akan mengalami kerusakan.
Barangkali keterangan ini benar dalam hubungannya dengan setiap individu
manusia; barangsiapa melakukan dosa, ia sendiri akan terpuruk ke dalam
musibah dan petaka, baik jiwa, raga maupun harta dan segala sesuatu yang
menjadi miliknya. Demikianlah kisah ayat di atas.
Dalam kaitannya dengan pembahasan ini, terdapat banyak riwayat di dalam
sumber-sumber Islam. Kami sebutkan sebagiannya di sini sebagai
pelengkap.
a. Dalam salah satu khutbah Nahjul Balaghah disebutkan, "… Demi Allah!
Tidak ada satu kaum yang tercampakkan dari kehidupan mewah, setelah mereka
nikmati, kecuali sebagai hasil dari dosa-dosa yang mereka lakukan. Karena
sesungguhnya Allah swt. tidak akan berbuat aniaya terhadap para hamba-Nya.
Meskipun, tatkala musibah datang menimpa mereka dan kesenangan menjauh dari
kehidupan mereka, mereka berpaling kepada Allah swt. dengan niat yang tulus
dan hati berharap semoga Ia mengembalikan segala yang telah sirna dari mereka
dan mengobati segala sakit yang mereka derita."
b. Dalam Jâmi' al-Akhbâr, hadis yang dinukil dari Amirul Mukminin a.s.,
beliau berkata, "Musibah yang menimpa kaum penindas adalah untuk memberi
pelajaran kepada mereka. Musibah yang menimpa kaum mukmin adalah ujian.
Musibah yang menimpa para nabi adalah untuk peningkatan derajat. Dan musibah
yang menimpa para wali adalah untuk karamah dan maqam (kedudukan
maknawi)." Hadis ini adalah saksi nyata untuk hal-hal pengecualian yang
telah kami jelaskan sebelumnya.
c. Dalam Ushûl al-Kâfî, hadis yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s.,
beliau berkata, "Tatkala manusia bertambah dosa-dosanya dan tidak
memiliki perbuatan yang bisa menebus dosa-dosa itu, Allah swt. akan
mengazabnya sehingga azab itu menjadi tebusan atas dosa-dosanya itu."
d. Dalam kitab al-Kâfî terdapat bab tentang tema ini yang telah diringkas,
dan ia memuat 12 hadis mengenai pembahasan yang sama.
Lagi pula, semua dosa ini adalah selain dosa-dosa yang -berdasarkan ayat yang
jelas di atas- Allah akan meliputinya dengan maaf dan rahmat-Nya, dosa-dosa
itu sendiri sangatlah banyak.
Mengoreksi Sebuah Kesalahan
Barangkali ada orang-orang yang menyalahgunakan ajaran Qur'anik ini; lalu
setiap jenis musibah yang menimpanya, dia sambut dengan lapang dada seraya berkata,
"Pasrahlah dalam menghadapi setiap kejadian yang tidak
menyenangkan", dan mengambil kesimpulan reaktif, yaitu kesimpulan yang
menakutkan dari kaidah edukatif dan semangat kreatif Al-Qur'an. Perbuatan ini
adalah perbuatan yang sangat berbahaya.
Tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Qur'an yang memerintahkan kita pasrah
diri dalam menghadapi setiap musibah dan melarang kita untuk berusaha
memecahkan segala kesulitan. Atau ia memerintahkan kita untuk menyerahkan
raga kita kepada para tiran, despot dan setiap peyakit. Akan tetapi, yang
ditegaskan oleh Al-Qur'an adalah sekiranya segenap upaya engkau lakukan,
namun kesulitan-kesuitan tetap menemanimu, ketahuilah bahwa engkau telah
melakukan dosa. Dan hasil kesulitan-kesulitan yang menimpamu itu merupakan tebusan
dan hasil dari perbuatanmu sendiri. Tengoklah kembali perbuatan-perbuatan
yang telah kau lakukan pada masa-masa lalu, dan bertaubatlah atas
dosa-dosamu, bangunlah dirimu dan perbaikilah kelemahanmu.
Dan apabila kita melihat di sebagian riwayat bahwa ayat ini diperkenalkan
sebagai ayat yang terbaik, hal itu disebabkan oleh aspek pendidikan yang
ditanamkan oleh musibah-musibah ini. Dari satu sisi, musibah itu dapat
meringankan beban manusia dari pundaknya dan dari sisi lain, ia dapat
menghidupkan pelita harapan dan cinta kepada Tuhan di sanubari dan
jiwanya.
27. Mengapa Tuhan Menciptakan Setan?
Banyak yang bertanya bahwa sekiranya manusia diciptakan untuk mencapai
kesempurnaan dan kebahagiaan melalui jalan penyembahan (ibadah), keberadaan
setan sebagai makhluk pembinasa adalah oposisi kesempurnaan. Apakah alasannya
sehingga setan mesti ada? Ia adalah makhluk yang licik, penuh dendam, makar,
penuh tipu-daya, dan beracun!
Apabila kita sedikit merenung, kita akan ketahui bahwa kehadiran musuh ini
adalah untuk mendukung pencapaian manusia ke tingkat kesempurnaan.
Kita tak perlu pergi jauh. Kekuatan resistensi dalam menghadapi musuh-musuh
senantiasa ada pada jiwa manusia dan ia dapat mengantarkannya ke jalan
kesempurnaan.
Para komandan dan prajurit-prajurit tangguh dan terlatih adalah orang-orang
yang berjibaku dengan musuh-musuh berat pada pertempuran-pertempuran
besar.
Para politikus yang berpengalaman dan berpengaruh adalah mereka yang
bertarung dengan musuh-musuh yang kuat dalam dunia politik yang kritis dan
pelik.
Para jawara besar gulat adalah pegulat-pegulat yang berjajal dengan
rival-rival tangguh dan berat.
Oleh karena itu, tidak perlu takjub bila kita menyaksikan para hamba Tuhan
setiap hari semakin kuat dan gairah dalam bertempur secara berkesinambungan
dengan setan.
Dewasa ini, para ilmuwan berkomentar tentang filsafat adanya mikroba-mikroba
penggangu, "Sekiranya mikroba-mikroba tidak ada, maka sel-sel badan
manusia pada suatu keadaan akan lemah dan kebas (karena kedinginan), dan
kemungkinan tingginya postur manusia tidak akan melewati 80 sentimeter;
semuanya dalam bentuk manusia-manusia cebol. Dengan demikian, manusia hari
ini memperoleh kekuatan dan tinggi tubuh yang lebih karena mereka selalu
dalam kontraksi dengan mikroba-mikroba pengganggu itu.
Demikian juga ruh manusia dalam berkonfrontasi dengan setan dan hawa nafsu.
Namun, hal ini tidak berarti bahwa setan memiliki tugas untuk menyelewengkan
para hamba Tuhan. Setan sejak awal penciptaannya memiliki kekudusan
sebagaimana makhluk-makhluk lainnya. Setan dengan ikhtiar penuhnya jatuh,
menyimpang dan memilih sendiri untuk celaka. Oleh karena itu, Tuhan tidak
menciptakan iblis sebagai setan. Ia sendiri yang menghendaki dirinya menjadi
setan. Namun, tindakan setaninya itu tidak sekedar mencelakakan para hamba
Tuhan, tetapi juga merupakan tangga kesempurnaan mereka. (Perhatikan
baik-baik)
Kendati demikian, pertanyaan yang tersisa adalah mengapa Tuhan mengabulkan
permohonannya untuk tetap hidup? Mengapa Tuhan tidak melenyapkannya sejak
dahulu?
Jawaban pertanyaan ini sama dengan jawaban yang telah kami sebutkan di atas.
Dengan ungkapan lain, alam semesta adalah arena ujian dan cobaan. (Ujian ini
adalah wasilah pembinaan dan penyempurnaan manusia). Dan kita ketahui, ujian
hanya berarti bila berhadapan dengan musuh-musuh besar, krisis-krisis
kehidupan yang datang menekan.
Tentu saja, sekiranya setan tidak ada, hawa nafsu dan sifat was-was manusia
akan ditempatkan menjadi medan ujian baginya. Namun, dengan kehadiran setan,
tanur ujian ini semakin membara, lantaran setan adalah pelaku eksoteris
(lahir), sementara hawa nafsu adalah pelaku esoteris (batin).
Jawaban atas Sebuah Pertanyaan
Satu pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana mungkin Tuhan membiarkan
kita sendiri berkonfrontasi dengan musuh tanpa welas asih dan kuat ini?
Jawaban pertanyaan ini dapat diperoleh dengan menaruh perhatian terhadap satu
poin, yaitu -sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an- bahwa Allah
swt. mempersenjatai mukminin dengan para malaikat sebagai lasykar mereka
untuk membangun dunia bersama kekuatan-kekuatan gaib dan maknawi yang mereka
miliki dalam rangka memerangi diri sendiri (jihâd an-nafs) dan bertempur
melawan musuh.
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah",
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada
mereka [dengan mengatakan], 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu
merasa sedih; gembirakanlah mereka dengan [memperoleh] surga yang telah
dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan
dunia dan akhirat ....'" (QS. Fushshilat [33]: 30-31)
Poin penting lainnya adalah setan sekali-kali tidak akan masuk ke relung hati
kita. Dan ia tidak akan dibiarkan melewati batas negara ruh tanpa memegang
pasport. Serangannya tidak pernah membuat manusia lalai. Ia masuk ke dalam
kediaman hati kita dengan ijin kita. Ya! Ia masuk melalui pintu, tidak
melalui celah-celah rumah hati kita. Dan kitalah yang membuka pintu baginya
untuk masuk. Demikianlah di dalam Al-Qur'an ditegaskan, "Sesungguhnya
setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal
kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya [setan] hanyalah atas orang-orang
yang menjadikannya pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya
dengan Allah." (QS.An-Nahl [16]: 99-100)
Secara asasi, perbuatan-perbuatan manusialah yang menyediakan lapangan bagi
setan untuk melakukan infiltrasi. Sebagaimana disinggung dalam Al-Qur'an,
"Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan
setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra' [17]: 27)
Namun di atas segalanya, untuk meraih keselamatan dari jerat-jerat setan dan
prajuritnya dalam bentuk yang beraneka ragam, seperti syahwat, pusat-pusat
kerusakan, politik-politik busuk, sekte-sekte yang menyimpang, budaya-budaya
rusak (fâsid) dan merusak (mufsid), jalan untuk selamat hanyalah berlindung
kepada iman dan takwa, serta sinar kasih Tuhan Yang Mahakasih, dan
menyerahkan diri kepada Dzat Yang Mahakudus. Al-Qur'an berfirman, "...
kalau tidaklah karena rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan,
kecuali sebagian kecil saja [di antaramu]." (QS. An-Nisa [4]: 83)
28. Apakah Keabadian di dalam Neraka Selaras dengan Keadilah Ilahi?
Di dalam surat Hud [11], ayat 106 kita membaca, "Adapun orang-orang yang
celaka, maka [tempatnya] di dalam neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan dan
menarik nafas [dengan merintih]. Mereka kekal di dalamnya ...."
Dengan menyimak ayat suci di atas, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana
kita dapat menerima manusia yang selama hidupnya -maksimal usianya seratus
tahun, misalnya-melakukan pekerjaan buruk, dan lenyap dalam kekufuran dan
dosa, namun usia seratus tahun ini harus dibayar dengan siksa seribu tahun?
Mereka yang mengajukan pertanyaan ini lalai akan satu poin penting, yaitu
perbedaan antara hukuman konvensional dan hukuman penciptaan yang merupakan
hasil dari rangkaian realitas perbuatan dan kehidupan.
Penjelasan
Terkadang pembuat hukum merumuskan sebuah hukum sehingga setiap orang yang
melanggarnya harus membayar tebusan uang dalam jumlah tertentu, atau harus
berdiam di dalam penjara selama beberapa waktu. Tentu, dalam asumsi seperti
ini kesesuaian antara pelanggaran dan hukuman harus diperhatikan. Hanya
lantaran pelanggaran kecil, ia tidak akan dieksekusi atau mendapatkan hukuman
abadi. Dan sebaliknya, karena perbuatan seperti membunuh, lalu ia dikenakan
hukuman sehari penjara saja, hukuman seperti ini tidaklah memiliki arti
baginya. Hikmah dan keadilan menjawab bahwa kedua hukuman ini harus setimpal.
Akan tetapi, hukuman yang pada hakikatnya adalah efek natural sebuah
perbuatan dan termasuk tipologi penciptaan, atau hasil langsung perbuatan
tersebut di hadapan manusia, ia tidak menerima asumsi tersebut di atas, baik
dalam kaitannya dengan efek-efek perbuatan di alam dunia ini ataupun di alam
yang lain.
Contoh, seseorang melanggar aturan lalu-lintas; melaju melebihi batas
kecepatan yang telah ditentukan, berlomba tanpa sebab, dan melintas zona
terlarang. Barangkali karena beberapa kali melanggar aturan, ia mengalami
tabrakan dan patah tangan serta kakinya, atau akan menderita kelumpuhan
seusia hidupnya. Resiko buruk akibat sebuah kesalahan kecil ini jelas tidak
mencerminkan keadilan (jika ditinjau dari sisi hukuman konvensional). Tapi,
hal ini tidak berasal dari sisi hukuman-hukuman konvensional lalu-lintas
jalan raya yang di dalamnya keseimbangan antara pelanggaran dan hukuman harus
mendapatkan perhatian. Kondisi ini merupakan dampak alami dari perbuatan yang
secara sadar dilakukan oleh manusia. Dan ia sendirilah yang membuat dirinya
terpuruk ke dalam kondisi tersebut.
Demikian juga ketika dianjurkan kepada Anda agar jangan mengkonsumsi
minuman-minuman beralkohol atau bahan-bahan psikotropika lainnya. Lantaran
dalam waktu yang singkat, semua jenis minuman itu akan mengoyak hati, perut,
otak dan syaraf Anda. Kini sekiranya Anda mengkonsumsinya, niscaya Anda akan
menderita syaraf lemah, penyakit-penyakit hati, perut luka dan kerusakan
pembuluh darah. Hanya beberapa hari menuruti hawa nafsu, Anda terpaksa menjalani
sisa hidup Anda di dalam siksa yang pedih. Di sini tak seorang pun akan
keberatan dengan ketaksetimbangan antara pelanggaran dan hukuman
tersebut.
Kini anggaplah orang seperti ini -alih-alih seratus tahun usianya- seribu
tahun atau sejuta tahun sekalipun ia bermukim di dunia ini, tentu saja ia
harus menahan derita dan azab selama waktu yang panjang ini lantaran beberapa
hari saja menuruti hawa nafsunya.
Tentang banyaknya azab dan hukuman kehidupan ukhrawi adalah masalah yang
melebihi masalah duniawi. Dampak-dampak riel sebuah perbuatan dan hasil-hasil
pembawa mautnya barangkali senantiasa bersandar kepada manusia.
Perbuatan-perbuatan itu sendirilah nanti yang akan menjelma di hadapan
manusia (tajassum al-a'mâl). Dan lantaran kehidupan alam sana adalah
kehidupan abadi, perbuatan baik dan buruk juga abadi.
Sebelumnya telah kami singgung bahwa hukuman dan siksa pada Hari Kiamat
memiliki dampak riel yang lebih kuat. Al-Qur'an berfirman, "Dan nyatalah
bagi mereka keburukan-keburukan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka
diliputi oleh [azab] yang mereka selalu memperolok-olokkannya." (QS.
al-Jatsiyah [45]: 33)
Al-Qur'an juga berfirman, "... dan kamu tidak dibalas kecuali dengan apa
yang telah Kamu kerjakan." (QS. Yasin [36]: 54)
Muatan ayat ini, kendati terdapat sedikit perbedaan, juga terkandung dalam
ayat-ayat yang lain.
Dengan demikian, ruang untuk pertanyaan ini tidak tersisa lagi, bahwa mengapa
kesetimbangan antara hukuman dan pelanggaran tidak diperhatikan?
Manusia harus terbang dengan dua sayap iman dan amal saleh demi mendapatkan
kenikmatan surgawi dan kebahagiaan berada di hadirat Tuhan Yang Mahakuasa.
Kini, dengan menuruti hawa nafsu barang sedetik atau seratus tahun lamanya,
ia telah mematahkan kedua sayapnya sendiri dan untuk selamanya ia harus
menderita dalam kehinaan. Di sini, aspek ruang dan waktu, serta ukuran
pelanggaran tidak menjadi pokok persoalan. Yang menjadi tolok ukur adalah
sebab dan akibat serta dampak lama dan singkatnya. Sebuah korek kecil boleh
jadi dapat membakar seisi kota. Dan dengan menanam satu gram duri, barangkali
setelah beberapa waktu, sahara yang luas penuh dengan duri dan dapat
menggangu manusia selamanya. Demikian juga dengan menanam satu gram bunga,
barangkali dengan berlalunya sang waktu, akan tercipta sahara yang dihiasi
bunga-bunga yang begitu indah mewangi sehingga semerbak baunya menggairahkan
jiwa dan memuaskan hati.
Kini sekiranya seseorang bertanya apa keseimbangan antara sebatang korek
dengan terbakarnya sebuah kota, dan antara beberapa tanaman kecil dengan
sebuah sahara duri. Maka, perbuatan-perbuatan baik dan buruk juga demikian
adanya. Dan barangkali dampak keabadian yang teramat panjang menjadi kenangan
dan memori baginya. (Perhatikan baik-baik)
Masalah yang penting di sini adalah, para nabi besar dan washi Ilahi telah
memberikan peringatan kepada kita bahwa dampak maksiat dan dosa ini adalah
azab yang abadi, dan dampak ketaatan dan kebajikan adalah kenikmatan abadi.
Persis seperti peringatan para penjaga taman yang telah menjelaskan kepada
kita dampak keluasan tanaman berduri dan bunga tersebut. Dan kita sendiri
dengan sadar yang memilih jalan ini.
Di sini kepada siapa kita harus ajukan keberatan, dan kesalahan siapa yang
harus kita cari, serta hukum mana yang kita harus protes, selain pada diri
kita sendiri?
CATATAN KAKI:
Tafsir-e Nemuneh, jilid 3, hal. 365.
Tafsir-e Nemuneh, jilid 11, hal. 312.
Majma' al-Bayân, jilid 9, hal. 31. Hadis yang serupa juga terdapat dalam
ad-Durr al-Mantsûr dan Tafsir Rûh al-Ma'ânî dengan sedikit perbedaan. Hadis
tentang masalah ini banyak jumlahnya.
Tafsir Ali bin Ibrahim, menukil dari Nûr ats-Tsaqalain, jilid 4, hal. 580.
Al-Mîzân, jilid 18, hal. 61.
Nahjul Balâghahh, khutbah 178.
Tafsir-e Nemuneh, jilid 20, hal. 440.
Tafsir-e Payâm-e Qur'ân, jilid 1, hal. 423.
Tafsir-e Payâm-e Qur'ân, jilid 6, hal. 501.
|
|
|
|
|
No comments:
Post a Comment