Monday, January 19, 2015

RUKUN IMAN BGI pecinta ahlulbait=Hari Kiamat (Ma'âd)



Hari Kiamat (Ma'âd)

57. Apakah Argumentasi Rasional atas Kejadian Hari Kiamat?

Di samping ayat-ayat Al-Qur'an yang tidak terbilang jumlahnya tentang Hari Kiamat (sekitar ratusan ayat), terdapat dalil-dalil rasional ('aqlî) yang sebagiannya secara garis besar akan kami uraikan di sini.

a. Argumentasi Hikmah

Apabila kita memandang kehidupan dunia ini tanpa adanya kehidupan yang lain, maka kehidupan dunia ini akan terasa nihil dan tanpa makna. Persis seperti kita beranggapan bahwa kehidupan di alam rahim tanpa adanya kehidupan dunia setelahnya adalah hampa.
Berdasarkan tata cipta, apabila manusia pada awal detik-detik penciptaannya akan binasa dan mati, betapa kehidupan alam rahim akan menjadi sebuah kehidupan yang tanpa makna? Demikian juga apabila dibayangkan kehidupan dunia ini terputus dari kehidupan lainnya, kehidupan ini akan mengalami kehampaan. Haruskah kita hanya hidup selama -kurang-lebih- tujuh puluh tahun di alam dunia ini dengan segenap masalah yang kita hadapi, lalu kita musnah begitu saja? Beberapa lamakah kita menjalani masa muda, dan tanpa pengalaman "Hingga menjadi matang wahai bocah ingusan" usia ini akan berakhir?
Beberapa lama kita harus mengejar ilmu pengetahuan, dan setelah memperoleh segala pengetahuan, salju ketuaan datang menerpa kita.
Lalu, untuk apa kita hidup? Menyantap beberapa porsi makanan, memakai beberapa potong pakaian, bangun dan tidur, yang berulang-ulang terus menerus, melanjutkan aktivitas hidup yang membosankan dan melelahkan?
Sebenarnya, apakah langit yang membentang dan bumi yang menghampar, dan seluruh pendahuluan dan pengakhiran, seluruh guru, seluruh perpustakaan besar, dan seluruh pekerjaan-pekerjaan rumit dalam penciptaan kita dan makhluk-makhluk yang lain; seluruhnya dialokasikan untuk makan, tidur, pakaian, dan kehidupan materi?
Di sinilah mereka yang menolak kejadian Hari Kiamat harus mengakui kenihilan dan ketakbermaknaan hidup mereka. Ironisnya, sebagian mereka melakukan bunuh diri untuk menyelamatkan diri dari kehidupan nihil ini, dan itu malah menjadi kebanggaan bagi mereka.
Bagaimana mungkin seseorang yang beriman kepada Allah swt. dan kemahabijaksanaan-Nya yang tak terhingga, meyakini bahwa kehidupan dunia ini bukan sebagai penduluan untuk memasuki kehidupan abadi di alam lain?
Al-Qur'an berfirman, "Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakanmu secara main-main [saja], dan bahwa Kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Mukminun [23]: 115)
Maksudnya, apabila kamu tidak kembali ke sisi Tuhan, maka dunia ini akan mengalami kesia-siaan dan ketanpamaknaan.
Ya! Kehidupan dunia ini akan memiliki makna dan sesuai dengan hikmah Ilahi jika "ad-dunyâ mazra'atul âkhirah" (dunia ini merupakan ladang akhirat). Kita harus memandang dunia ini sebagai lintasan untuk memasuki alam yang lebih luas. Dunia ini merupakan lahan persiapan untuk menjelang dunia lain, dan pasar bagi kehidupan akan datang.
Demikianlah Amirul Mukminin Ali a.s. bersabda dalam kalimat yang sarat makna: "Dunia ini adalah tempat yang benar bagi orang yang membenarkannya, tempat aman bagi mereka yang memahaminya; kediaman yang kaya bagi siapa yang mengumpulkan bekal di dalamnya (untuk kehidupan masa datang), istana nasihat bagi yang mengambil nasihat darinya, masjid bagi para pecinta Tuhan, kediaman ibadah para malaikat Allah, rumah bagi wahyu Ilahi, dan tempat perniagaan bagi yang berbakti kepada Tuhan."
Ringkasnya, menelaah dan mengkaji keadaan dunia ini dengan baik akan memberikan kesaksian bahwa di balik kehidupan dunia ini masih terdapat kehidupan yang lain. "Dan sesungguhnya engkau telah mengetahui penciptaan yang pertama. Maka mengapa engkau tidak mengambil pelajaran [untuk penciptaan yang kedua]?" (QS. Al-Waqi'ah [56]: 62)

b. Argumentasi Keadilan ('Adâlah)

Dengan memperhatikan sistem semesta dan undang-undang penciptaan, seluruhnya menunjukkan bahwa segala sesuatunya berlaku sesuai dengan perhitungan yang matang.
Dalam struktur badan kita, sedemikian sistem itu beroperasi secara adil sehingga secuil pun perubahan yang terjadi akan menjadi sebab penyakit dan kematian. Gerakan jantung, sirkulasi darah, kelopak mata, dan bagian sel-sel badan kita termasuk dalam sistem yang apik dan akurat yang berlaku di alam semesta. "Wa bil-'adl qâmat as-samâwâti wal-ardh." Dengan keadilanlah langit dan bumi dapat tegak." Apakah manusia hanyalah sebuah potongan ganjil di alam semesta yang membentang ini?
Benar bahwa Allah Swt. menganugerahkan kehendak bebas kepada manusia hingga ia diuji dan dapat melintas dalam perjalanan menuju kesempurnaan. Akan tetapi, sekiranya manusia menyalahgunakan kebebasan yang dimilikinya, apa yang akan terjadi? Apabila para tiran dan orang-orang yang tersesat dan menyesatkan menyalahgunakan anugerah Ilahi ini, apa yang dituntut oleh keadilan Ilahi?
Benar bahwa sekelompok orang yang buruk perbuatannya di dunia ini akan dikenakan hukuman atau setidaknya sebagian dari hukuman tersebut. Akan tetapi, tentu saja tidak seluruh pelaku kejahatan mendapatkan hukuman atas perbuatannya, atau seluruh orang-orang suci dan baik tidak mendapatkan ganjaran dari perbuatan baik mereka di dunia ini secara tunai. Lalu, apakah mungkin kedua kelompok ini berada pada satu telapak keadilan Ilahi? Menurut Al-Qur'an: "Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berbuat dosa [orang kafir]? Mengapa kamu [berbuat demikian]; bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" (QS. Al-Qalam [68]: 35-36)
Di tempat lain Al-Qur'an menegaskan, "... Patutkah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?" (QS. Ash-Shaf [61]: 28)
Secara umum, tidak ada keraguan tentang perbedaan manusia dalam ketaatannya kepada Allah swt, sebagaimana juga ganjaran yang dapat diterima dunia ini tidaklah memadai. Mahkamah fitrah, dan reaksi dosa-dosa dengan sendirinya (tanpa adanya Kiamat) pun tidaklah cukup. Oleh karena itu, kita mesti menerima bahwa dalam upaya menegakkan keadilan Ilahi harus terdapat sebuah mahkamah pengadilan yang bersifat menyeluruh, sehingga sekecil apa pun kebaikan atau perbuatan buruk harus diperhitungkan di dalamnya. Apabila tidak, asas keadilan tidak akan pernah dapat tegak.
Dengan demikian, harus kita terima bahwa penerimaan keadilan Tuhan sama dengan penerimaan adanya Hari Kiamat (ma'âd) dan Hari Kebangkitan. Al-Qur'an menyebutkan, "Kami akan tegakkan neraca-neraca keadilan pada Hari Kiamat." (QS. Al-Nabi' [21]: 47)
Al-Qur'an juga menegaskan, "Pada Hari Kiamat mereka akan dihukum berdasarkan keadilan dan mereka tidak akan dizalimi dan dianiaya." (QS. Yunus [10]: 54)

c. Argumentasi Tujuan Penciptaan

Berbeda dengan anggapan kaum materialis, manusia dalam pandangan dunia tauhid memiliki tujuan dalam penciptaannya. Tujuan ini dalam terma filsafat disebut sebagai takâmul (kesempurnaan), dan dalam bahasa Al-Qur'an dan hadis dikenal sebagai qurb ilallôh (kedekatan diri kepada Tuhan) atau ibadah (penghambaan). "Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56). Di bawah cahaya penghambaan ini, mereka mencapai kesempurnaan dan merengkuh kedekatan kepada Allah swt.
Apakah tujuan agung ini dapat tercapai jika kematian merupakan akhir dari segalanya? Tanpa ragu, jawaban adalah tidak (negatif).
Kehidupan setelah kematian di dunia ini melazimkan adanya dunia lain dan penyempurnaan manusia menjalani proses kontiunitas. Dan tempat menuai hasil ladang dunia ini adalah alam sana. Bahkan, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya, di dunia yang lain, perjalanan menuju kesempurnaan (takâmul) ini berlanjut sehingga tujuan akhir ini dapat tergapai.
Konklusinya, pencapaian tujuan penciptaan ini tanpa keberadaan ma'âd tidak akan dapat terwujud. Dan sekiranya kita memutus relasi kehidupan ini dengan kehidupan pasca kematian, maka seluruh kehidupan ini misterius, dan kita tidak akan pernah memiliki jawaban atas pertanyaan mengapa dan mengapa. 
58. Apakah Ruh itu, dan Bagaimana Membuktikan Kesejatian Ruh?

Di dalam surat Al-Isra' [17], ayat 85 kita membaca, "Ketika bereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, 'Ruh merupakan urusan-Ku.'"
Para penafsir besar, sejak dulu hingga kini, telah membahas makna ruh. Di sisi pertama-tama, kita amati makna ruh secara leksikal, lalu penggunaannya dalam Al-Qur'an, kemudian tafsir ayat dan riwayat yang bertautan dengan masalah ini.

a. Ruh Secara Leksikal

Ruh secara leksikal berarti "nafs" dan "berlari". Sebagian mufassir menjelaskan bahwa ruh dan rîh (angin), keduanya berakar kata satu. Dan apabila ruh manusia yang merupakan substansi mandiri yang abstrak disebut dengan nama ini, lantaran ia bergerak dan membawa kehidupan. Selain itu, keduanya (angin dan ruh) tidak terindra secara kasat mata.

b. Ruh di Dalam Al-Qur'an

Penggunaan kalimat ruh dalam Al-Qur'an sangat beragam. Terkadang bermakna ruh muqaddas yang menguatkan Rasulullah saw. dalam menyampaikan risalah, seperti yang tertuang dalam ayat, "... Dan Kami menganugerahkan kepada Isa bin Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat ia dengan Ruhul Qudus ..." (QS. Al-Baqarah [2]: 253)
Terkadang pula disebut sebagai kekuatan maknawi Ilahi yang menguatkan kaum mukmin, seperti dalam ayat, "Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya ...." (QS. Al-Mujadalah [58]: 22).
Arti lain dari ruh itu adalah "malaikat khusus wahyu" dan disifati sebagai amin, seperti dalam ayat, "... ia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin [Jibril] ke dalam hatimu [Muhammad] agar engkau menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 193-194), dan acapkali bermakna malaikat besar dari malaikat-malaikat khusus Tuhan, atau makhluk agung dari jenis malaikat, seperti dalam ayat, "Dan pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhan-Nya untuk mengatur segala urusan." (QS. Al-Qadr [97]: 4) dan dalam ayat, "Pada hari itu, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf ...." (QS. An-Naba' [78]: 38).
Terkadang ruh juga bermakna Al-Qur'an dan wahyu samawi, "Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu [Al-Qur'an] dengan perintah Kami ...." (QS. Asy-Syura [42]: 52)
Dan pada akhirnya, ruh terkadang pula bermakna ruh insani, sebagaimana pada ayat penciptaan Nabi Adam a.s., "Kemudian Ia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam [tubuh]nya ruh [ciptaan]-Nya." Demikian juga pada surat Al-Hijr, "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya ruh [ciptaan-Ku], maka tunduklah engkau kepadanya dengan bersujud." (QS. Al-Hijr [15]: 29)

c. Penafsiran Ruh

Inti persoalan kita kali ini adalah apakah yang dimaksudkan dengan ruh? Ruh manakah yang dimaksudkan sehingga beberapa orang begitu antusias bertanya tentang hakikatnya. Nabi saw. dalam menjawab pertanyaan ini bersabda, "Ruh adalah urusan Tuhan-ku dan Kamu tidak memiliki pengetahuan kecuali sedikit."
Dari beberapa indikasi yang terdapat dalam ayat tersebut dan selainnya, yang ditanyakan oleh beberapa penanya itu adalah hakikat ruh manusia. Ruh agung inilah yang membedakan kita dengan hewan-hewan dan menjadi kemuliaan superlatif kita. Seluruh kekuatan dan aktifitas kita bersumber darinya, dan dengannya kita dapat melakukan aktifitas dan kehidupan dunia ini. Berkatnya kita dapat menyingkap rahasia-rahasia ilmu dan menemukan jalan untuk menyelami kedalaman seluruh wujud. Mereka ingin mengetahui apa hakikat makhluk yang menakjubkan ini.
Ruh memiliki struktur yang berbeda dengan struktur materi. Asas yang berlaku atasnya bukanlah asas yang berlaku atas materi, serta tipologi fisis dan kimawi. Nabi saw. ditugaskan dalam satu kalimat yang ringkas dan padat: "Ruh berasal dari alam amr." Artinya, ruh merupakan ciptaan yang sarat dengan rahasia.
Lalu, supaya tidak terkejut dengan jawaban yang diberikan, ditambahkan bahwa ilmu Anda dan manfaat yang Anda peroleh darinya bukanlah apa-apa (nothing). Oleh karena itu, sangat menakjubkan sekali Anda tidak mengetahui rahasia-rahasia ruh, betapa pun ia lebih dekat kepada Anda dari segala sesuatu.
Dalam Tafsir 'Ayyâs diriwayatkan dari Imam Al-Baqir a.s. dan Imam Ash-Shadiq a.s. pernah ditanya tentang tafsir ayat tersebut. Mereka menjawab, "Sesungguhnya ruh adalah makhluk Tuhan yang memiliki penglihatan, kekuatan, dan kekuasaan. Tuhan meletakkan ruh di dalam hati para nabi dan kaum mukmin."
Dalam hadis yang lain, diriwayatkan dari salah satu dari kedua imam tersebut: "Ruh berasal dari alam malakût dan kekuasaan Tuhan."
Dalam sebuah riwayat yang bersumber dari sumber Syi'ah dan Ahli Sunnah, kita membaca bahwa musyrikin Quraisy menukil pertanyaan dari Ahli Kitab dan hendak menguji Nabi saw. Ahli Kitab berkata kepada mereka bahwa apabila Muhammad memberikan kabar yang banyak tentang ruh kepada Kamu, itu merupakan indikasi ketidakbenarannya. Namun, Nabi saw. menyampaikan ucapan yang singkat dan sarat makna kepada mereka. Sebuah ucapan yang sangat menakjubkan.
Akan tetapi, dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Ahlul Bait, ihwal tafsir ayat di atas yang sampai kepada kita, dijumpai bahwa ruh diterangkan sebagai makhluk yang agung; Malaikat Jibril dan Mikail. Ruh ini yang menyertai Nabi saw. dan para imam a.s., dan mencegah mereka dari perbuatan-perbuatan yang menyeleweng.
Riwayat-riwayat ini tidak hanya tidak bertentangan dengan tafsir ayat yang kami utarakan di atas, bahkan selaras satu dengan yang lainnya. Hal itu lantaran ruh manusia memiliki derajat. Derajat ruh yang melekat pada diri Nabi saw. dan para imam a.s. adalah derajat paling tinggi. Dan berkat ruh itu, mereka terjaga dari segala bentuk dosa dan kesalahan, serta memberikan pengetahuan dan ilmu yang luar biasa. Tentu saja derajat ruh mereka ini lebih tinggi dari seluruh malaikat, termasuk Jibril dan Mikail. (Perhatikan baik-baik)

Primordialitas dan Kemandirian Ruh

Sejarah ilmu dan pengetahuan manusia menunjukkan, permasalahan ruh, struktrur, tipologi, dan rahasia-rahasianya senantiasa menjadi perhatian para ilmuwan. Setiap ilmuwan berupaya untuk mendekati hakikatnya.
Dengan alasan ini, ulama dan kaum cendekiawan banyak melontarkan pendapat mereka tentang ruh. Barangkali ilmu dan pengetahuan kita hari ini, bahkan ilmu dan pengetahuan orang-orang di masa mendatang, tidaklah akan memadai untuk dapat menyingkap seluruh rahasia ruh. Dan meskipun ruh lebih dekat kepada kita dari segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, tetapi bagaimana substansi ruh dan apa yang ada di alam materi dengan kedekatan kita dengannya, dapat berbeda secara total. Kita tidak perlu terlalu kaget! Kita tidak dapat memahami rahasia dan kerumitan ciptaan yang menakjubkan dan makhluk metafisis ini.
Akan tetapi, secara umum, kendala ini tidak berasal dari ruh. Dengan pandangan akal yang tajam, kita dapat melihat lanskap ruh. Kita dapat mengetahui asas dan sistem universal yang belaku atas ruh.
Asas yang paling penting yang harus kita ketahui di sini adalah masalah primordialitas dan kemandirian ruh. Para penganut aliran-aliran materialis beranggapan bahwa ruh itu adalah materi dan bersumber dari tipologi materi otak dan sel-sel syaraf, dan segala sesuatu yang berada di balik itu adalah nihil. Hanya ini yang dapat kita bahas, tidak lebih. Sebab, persoalan "keabadian ruh" dan masalah "tajarrud sempurna atau tajarrud barzakhi" bersandar kepadanya.
Akan tetapi, sebelum memasuki pembahasan ini, kami memandang perlu untuk menjelaskan satu poin. Yaitu, melekatnya ruh pada badan manusia -sebagaimana sebagian orang beranggapan demikian- tidak sebagaimana hulul (menitis) sebagaimana angin merasuk ke dalam kesturi. Akan tetapi, hal itu adalah sebuah bentuk hubungan sebentuk hegemoni, kepemilikan, dan pengaturan ruh atas tubuh; yang diibaratkan oleh sebagian orang dengan melekatnya makna pada sebuah kata.
Tentu saja masalah ini akan menjadi jelas di sela-sela pembahasan kemandirian ruh. Kini kita kembali kepada pembicaraan utama kita.
Tak syak lagi bahwa ada perbedaan antara manusia dan batu dan kayu yang tidak memiliki ruh. Karena, kita merasakannya dengan jelas bahwa antara kita, manusia dengan wujud-wujud yang lain yang tanpa ruh, bahkan tumbuh-tumbuhan yang tanpa jiwa terdapat perbedaan. Kita, manusia memahami, mengkonsepsi, mengambil keputusan, berkehendak, mencinta, membenci dan .... Akan tetapi, tumbuh-tumbuhan dan bebatuan tidak satu pun memiliki kualitas perasaan (sense) ini. Oleh karena itu, antara kita, manusia dengan mereka terdapat satu perbedaan prinsipal, yaitu kepemilikan ruh insani.
Baik kaum materialis juga mazhab lain tidak mengingkari orisinilitas keberadaan ruh dan jiwa. Dan atas alasan keduanya (jiwa dan ruh), mereka menyebut psikologi dan psikoanalisis sebagai ilmu positif. Kedua ilmu ini, meskipun kira-kira keduanya telah melalui masa infant (balita), akan tetapi keduanya merupakan ilmu yang digunakan oleh para dosen dan peneliti di pusat-pusat pendidikan besar dunia. Dan sebagaimana yang akan kita lihat, jiwa dan ruh merupakan dua realitas yang tidak terpisah, melainkan merupakan tingkatan-tingkatan yang berbeda satu realitas.
Pada pembicaraan hubungan antara ruh dan raga dan efek mutual (saling mempengaruhi) di antara keduanya, akan menggunakan istilah "jiwa" untuknya. Dan pada pembahasan fenomena-fenomena ruh yang terpisah dari raga, kita menggunakan istilah ruh.
Kesimpulannya adalah tidak seorang pun yang mengingkari realitas yang bernama ruh dan jiwa yang berada dalam relung diri kita.
Kini harus kita lihat di manakah letak pertikaian yang melelahkan antara kaum materialis dan filsuf metafisika itu terjadi?
Jawabannya adalah, para cendekiawan Ilahi dan filsuf metafisika berkeyakinan bahwa selain materi-materi yang membentuk jasad manusia itu, terdapat sebuah realitas dan substansi yang tidak berasal dari dimensi materi, melainkan jasad manusia berada di bawah pengaruh langsungnya.
Dengan kata lain, ruh merupakan sebuah realitas metafisis. Struktur dan aktifitasnya bukan struktur dan aktifitas materi (fisik). Benar bahwa ruh ini senantiasa bertaut dengan materi, akan tetapi ia bukan materi dan tidak bercirikan materi.
Sebaliknya, para filsuf materialis berpendapat bahwa kita adalah suatu wujud yang mandiri dari materi yang bernama ruh, atau kita tidak memiliki nama lain selain materi. Apa pun yang ada merupakan materi benda dan atau efek fisik dan kimia darinya.
Organ-organ yang kita miliki yang bernama syaraf (nerve) dan otak (brain) yang memberikan aktifitas-aktifitas hidup adalah seperti organ-organ tubuh materi lainnya dan bekerja berada di bawah hukum-hukum materi.
Kelenjar yang berada di bawah lisan kita yang bernama "kelenjar saliva" (air liur) di samping melakukan aktifitas fisika, ia juga melakukan aktifitas kimia. Ketika makanan masuk ke dalam mulut, lubang-lubang artaziyan (lubang yang di dalamnya air meluap-luap) secara otomatis akan bekerja. Sedemikian lembabnya sehingga dengan ukuran itu, air itu digunakan untuk mengunyah dan menghaluskan makanan. Makanan-makanan berkuah, berkuah sedikit, dan kering, masing-masing -sesuai dengan kebutuhannya- mendapatkan bagian dari air liur (saliva) ini.
Bahan acid (asam) khususnya ketika terlalu tebal, acid ini menambahkan aktifitas terhadap saliva-saliva ini. Hingga saliva ini mendapatkan jatah yang lebih banyak dari air dengan ukuran yang cukup berair dan tidak akan mencederai dinding -dinding perut.Dan bila kita menelan makanan, aktifitas lubang-lubang ini akan menjadi diam.
Singkatnya, sistem yang berlaku atas mata-mata air yang meluap-luap ini sangat menakjubkan, sehingga sekiranya sesaat saja keseimbangan atau hitungannya saling berbenturan, air liur di mulut kita yang curam, dan atau seukuran lisan dan tenggorakan akan menjadi kering dan butiran-butiran makanan akan mengganjal di tenggorokan kita.
Pekerjaan fisik ini merupakan pekerjaan saliva. Akan tetapi, kita ketahui pekerjaan utama saliva (air liur) adalah pekerjaan kimiawi. Bahan-bahan yang beragam akan bergantung bersamanya dan akan tersintesakan dengan makanan, serta akan mengurangi pekerjaan perut.
Kaum materialis berkata, "rangkaian syaraf dan otak kita mirip dengan rangkaian kelenjar air liur (saliva), dan memiliki aktifitas-aktifitas fisis dan kimiawi (yang secara keseluruhan disebut sebagai fisis-kimiawi) dan kegiatan-kegiatan ini kita sebut dengan nama fenomena-fenomena ruh atau ruh."
Mereka berkata, "Manakala kita tenggelam dalam kegiatan berpikir, akan muncul satu rangkaian gelombang elektrik, khususnya dari otak kita. Hari ini, gelombang dengan intrumen-instrumennya diambil dan direkam di atas kertas, khususnya pada rumah-rumah sakit jiwa. Dengan menelaah gelombang ini, mereka menemukan terapi-terapi untuk mendiagnosa dan mengobati orang-orang yang menderita penyakit kejiwaan. Kegiatan ini adalah kegiatan fisis otak kita.
Di samping itu, sel-sel ketika berpikir atau melakukan kegiatan-kegiatan kejiwaan lainnya memiliki satu fakultas perbuatan dan infialat kimiawi.
Oleh karena itu, ruh dan fenomena-fenomena ruh tidak lain adalah bagian tipikal fisik dan perbuatan, serta reaksi kimiawi sel-sel otak dan syaraf kita.
Dari uraian ini, mereka mengambil kesimpulan sebagai berikut:
a. Kegiatan kelenjar-kelenjar air liur dan efek-efeknya yang beragam tidak terdapat pada badan, sebelum atau pun setelahnya. Kegiatan-kegiatan ruh kita juga akan lahir seiring dengan dijumpainya otak dan instrument-instrumen syaraf, dan akan hilang seiring dengan datangnya kematian.
b. Ruh merupakan ciri benda. Maka ia adalah materi dan tidak memiliki dimensi metafisis.
c. Ruh termasuk seluruh hukum-hukum yang berkuasa atas badan kita.
d. Tanpa raga, ruh tidak memiliki wujud yang mandiri. Ruh tidak dapat lepas dari raga.

Argumentasi Kaum Materialis atas Ketakmandirian Ruh

Untuk membuktikan bahwa ruh dan seluruh fenomena-fenomenanya adalah materi; dan bahwa ruh berasal dari ciri-ciri fisis dan kimiawi sel-sel otak dan syaraf, aliran-aliran materialis membawakan beberapa bukti yang kita catat di bawah ini:
1. Dapat dibuktikan dengan mudah bahwa dengan non-aktifnya satu fungsi sentral syaraf, satu bagian efek ruh akan tidak bekerja dengan aktif. Misalnya, burung kakatua yang telah diobservasi. Bila kita ambil bagian-bagian khusus dari otaknya, ia tidak akan mati. Namun, kebanyakan pengetahuan yang dimilikinya akan hilang. Apabila ia disuap, ia akan memakan dan mengunyahnya. Dan apabila ia tidak disuap dan makanan itu hanya ditumpahkan di hadapannya, ia tidak akan menyetuhnya dan ia akan mati karena kelaparan.
Demikian juga, serangan-serangan otak yang menyerang manusia. Atau karena faktor sebagian penyakit, otaknya tidak akan bekerja. Survei telah membuktikan bahwa bagian pengetahuannya akan hilang dari ingatannya.
Beberapa waktu yang lalu, kita membaca dalam surat kabar, seorang pemuda yang menuntut ilmu. Lantaran serangan otak yang menimpanya pada sebuah kecelakaan di daerah sekitar Ahwaz (nama sebuah provinsi di bagian selatan Iran-AK.), pemuda ini lupa segalanya setelah beberapa waktu kejadian ini berlalu. Bahkan, ia tidak mengenal ibu dan saudara perempuannya. Ketika ia dibawa ke kampung halamannya; tempat ia dibesarkan, ia merasa asing di tempat itu.
Kejadian ini dan semisalnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan dekat antara "kegiatan-kegiatan sel-sel otak" dan "fenomena-fenomena ruh".
2. Tatkala manusia berpikir, perubahan-perubahan fisis pada tataran otak akan semakin banyak. Otak lebih banyak mengkonsumsi makanan dan mengeluarkan bahan fosfor. Ketika kita tidur, lantaran otak tidak menjalankan aktifitas berpikir, ia hanya menkonsumsi sedikit makanan. Dan hal ini sendiri adalah dalil atas kematerian efek-efek berpikir.
3. Sekian banyak observasi menunjukkan bahwa beban otak setiap pemikir galibnya lebih dari ukuran medium. (Ukuran medium otak pria kira-kira 1400 gram dan ukuran medium otak wanita sedikit kurang dari ukuran medium otak pria).
4. Apabila kekuatan berpikir dan pengetahuan adalah dalil atas keberadaan ruh yang independen, maka hal ini juga harus kita terima pada binatang. Lantaran mereka pada kadar tertentu juga memiliki pengetahuan.
Kesimpulannya, kami merasa bahwa ruh kita bukanlah wujud yang mandiri dan independen. kemajuan-kemajuan pengetahuan yang bertalian dengan hakikat manusia juga memberikan penegasan atas realitas ini.
Dari rangkaian di atas ini, kaum materialis mengambil kesimpulan bahwa kemajuan dan perkembangan fisiologi manusia dan hewan -hari demi hari- semakin mengukuhkan realitas ini. Mereka berpandangan bahwa antara fenomena-fenomena ruh dan sel-sel otak terdapat hubungan yang erat.

Poin-poin Lemah Penalaran ini

Kesalahan besar yang menjadi petaka bagi kaum materialis dalam penalaran seperti ini adalah kesalahan mereka dalam menempatkan antara "instrumen kerja" dan "pelaku kerja". Untuk mengetahui kesalahan ini, kami akan bawakan sebuah perumpamaan ke hadapan Anda. (Perhatikan baik-baik)
Semenjak masa Galileo, telah muncul pendukung gagasan perubahan pada penelitian ruang angkasa. Galileo yang berkebangsaan Italia bersama pembuat kaca mata, berhasil menciptakan teropong kecil. Namun, tentu saja Galileo sangat gembira. Di malam hari, ia mengamati bintang-bintang di langit dengan menggunakan teropong. Ia menemukan panggung yang menakjubkan di hadapan matanya, yang hingga saat itu, tidak seorang pun yang pernah melihatnya. Ia sadar bahwa ia telah menemukan sesuatu yang penting. Dan sejak hari itu, seluruh penelitian atas rahasia-rahasia dunia atas (baca: tata surya) jatuh ke tangan manusia.
Hingga hari itu, seluruh manusia serupa dengan seekor kupu-kupu yang hanya dapat melihat di sekelilingnya. Akan tetapi, tatkala menggunakan teropong, mereka juga dapat menyaksikan pepohonan di sekeliling hutan besar penciptaan ini.
Masalah ini mengalami modifikasi hingga teropong-teropong raksasa dibuat. Ukuran lensanya lima meter atau lebih. Mereka memasang teropong-teropong ini di dataran-dataran tinggi atau gunung-gunung yang sesuai dan memiliki udara segar. Teropong yang menjadi peralatan mereka ini, terkadang seukuran satu bangunan beberapa lantai. Dengan media teropong tersebut, manusia dapat melihat alam-alam yang terdapat di dunia atas yang selama itu -meskipun seperseribu alam atas tersebut- tidak pernah disaksikan oleh mata biasa.
Kini Anda pikirkan, apabila suatu hari teknologi manusia memungkinkan untuk membuat teropong-teropong seukuran seratus meter dengan perlatan-peralatan yang mampu meliput satu kota, betapa dunia yang akan kita jumpai.
Sekarang, pertanyaan yang muncul adalah, jika Anda ambil apabila teropong-teropong ini, niscaya bagian atau bagian-bagian pengetahuan dan penyaksian kita akan benda-benda langit itu akan tidak lagi aktif. Yakni, apakah kita yang menyaksikan benda langit itu atau teropong? Apakah teropong dan teleskop sekedar media kerja pengamatan kita yang dengannya kita melihat atau pelaku kerja dan yang dengan sendirinya melihat dan mengamati?
Pada kaitannya dengan otak, juga tidak seorang pun yang mengingkari bahwa tanpa sel-sel otak, proses berpikir menjadi mustahil. Akan tetapi, apakah otak adalah media kerja bagi ruh atau ruh itu sendiri?
Singkatnya, seluruh dalil-dalil kaum materialis yang telah diketengahkan di sini hanya dapat membuktikan bahwa di antara sel-sel otak dan kerja pencerapan kita, terdapat hubungan. Akan tetapi, tidak satu pun dari dalil-dalil itu yang membuktikan bahwa otak adalah pelaku, bukan sekedar media pencerapan. (Perhatikan baik-baik).
Berangkat dari sini, jelas bahwa orang-orang mati tidak dapat memahami sesuatu, karena hubungan ruh mereka telah terputus dengan badan mereka, bukan lantaran ruh telah binasa. Seumpama bahtera atau pesawat yang seluruh instrumen nir-kabelnya tidak lagi berfungsi. Di sini bahtera, para pemandu, dan nakhoda tetap ada. Namun, orang-orang yang tinggal di tepi pantai tidak dapat mengadakan hubungan dengan mereka, lantaran media komunikasi di antara mereka telah terputus.

Argumentasi Kemandirian Ruh

Dalam masalah ruh, kaum materialis bersiteguh bahwa fenomena-fenomena ruh merupakan ciri dan gejala sel-sel otak. Pikiran, hafalan, inovasi, cinta, kebencian, dan amarah, serta ilmu dan pengetahuan, seluruhnya berada dalam jajaran masalah laboratorium dan di bawah hukum-hukum materi. Akan tetapi, filsuf yang mendukung kemandirian ruh memiliki bukti-bukti kuat dalam menolak pandangan kaum materialis. Kami akan uraikan bukti-bukti tersebut dalam beberapa poin di bawah ini:

a. Gejala Realistik (Pengetahuan tentang Inner World)

Pertanyaan pertama yang dapat diajukan kepada kaum materialis adalah, sekiranya pikiran-pikiran dan fenomena-fenomena ruh adalah gejala "fisis-kimiawi" otak, pasti tidak akan ada perbedaan mendasar antara aktifitas otak dan aktifitas perut, ginjal, atau hati. Hal itu lantaran aktifitas perut, misalnya, adalah mensintesakan antara aktifitas-aktifitas fisik dan kimia dengan prosedur khasnya melalui mengunyah dan mempersiapkan badan untuk mengeluarkan acid-acid makanan. Demikian juga aktifitas saliva (air liur) -sebagaimana yang telah disebutkan di atas- merupakan sintesa antara aktifitas fisik dan aktifitas kimia. Sementara kita melihat aktifitas ruh berbeda dengan semua itu.
Seluruh aktifitas anggota badan masing-masing -kurang-lebih- serupa dengan yang lainnya, kecuali otak. Semua ini bersangkutan dengan dimensi-dimensi internal. Sementara fenomena-fenomena ruh memiliki dimensi eksternal dan menerangkan kepada kita ihwal keadaan eksternal keberadaan kita.
Untuk lebih jelasnya, kita renungkan beberapa poin di bawah ini:
Pertama, apakah dunia luar (diri kita) ada atau tidak? Tentu saja, ada. Kaum idealis yang mengingkari keberadaan dunia luar berpendapat, apa pun yang ada hanyalah kita dan konsep kita. Dunia luar ibarat panggung yang kita lihat dalam dunia mimpi; hanyalah sebuah khayalan. Mereka cukup getol dengan kesalahannya. Dan kesalahan mereka telah kami telah buktikan di tempat yang lain. Pembuktian ini berkisar tentang bagaimana kaum idealis pada tataran praktis menjadi kaum realis. Dan apa yang dipikirkan pada lingkungan perpustakaan, tatkala melangkahkan kaki ke lorong, jalan dan kehidupan umum, mereka melupakan semua idenya.
Kedua, apakah kita mengetahui kehidupan dunia luar atau tidak? Tentu saja jawaban pertanyaan ini adalah afirmatif (iya). Karena kita memiliki data yang melimpah tentang dunia luar. Dan kita memiliki informasi yang banyak tentang makhluk-makhluk yang berada di seputar kita atau bahkan, makhluk-makhluk yang mendiami tempat yang jauh dari kita namun berada di luar jangkuan kita. Pertanyaannya, apakah dunia luar dapat masuk ke dalam ruang internal wujud kita? Tentu saja tidak. Akan tetapi, kita dapat memahami keberadaan dunia luar dengan menggunakan gejala yang nyata dan riel. Gambaran dunia luar berada dalam benak kita.
Gejala nyata ini bukan gejala fisis-kimia otak. Lantaran gejala fisis-kimia otak ini merupakan reaksi efek-efek kita atas dunia luar. Istilahnya, merupakan akibat dari aktifitas fisis-kimia otak. Persis dengan efek-efek yang disisakan oleh makanan pada perut kita; hanya efek makanan atas perut, aksi dan reaksi fisis dan kimia tersebut yang membuat perut mengetahui makanan-makanan yang disodorkan kepadanya. Lalu bagaimana otak kita dapat mengetahui dunia luar?
Dengan kata lain, untuk mengetahui wujud-wujud eksternal, ia memerlukan satu jenis pengetahuan tentangnya. Dan lingkungan kerja ini bukanlah pekerjaan sel-sel otak. Sel-sel otak hanya dapat menerima efek dari luar. Dan efek ini seperti efek-efek anggota badan lainnya dari keadaan dunia luar. Kita dapat memahami perkara ini dengan baik.
Apabila efek dari dunia luar adalah dalil atas pengetahuan kita terhadap dunia luar, mestinya kita dapat memahaminya dengan perut dan lisan kita, sementara tidaklah demikian adanya.
Kesimpulannya, keadaan unik perangkat pengetahuan kita merupakan dalil bahwa terdapat suatu hakikat lain di sana, yang hukum-hukumnya sama sekali berbeda dengan hukum-hukum fisik dan materi. (Perhatikan baik-baik).

b. Kesatuan Pribadi

Argumentasi lain tentang kemandirian ruh yang dapat disebutkan di sini adalah kesatuan pribadi sepanjang usia seorang manusia.

Penjelasan

Apabila kita dalam segala hal dapat sangsi dan ragu, dalam perkara ini kita tidak akan merasa ragu bahwa kita ini ada.
Tentang "Aku ada dan dalam keberadaanku", aku tidak memiliki keraguan. Pengetahuanku tentang keberadaanku disebut sebagai ilmu hudhûrî (pengetahuan dengan kehadiran), bukan ilmu hushûlî (pengetahuan dengan perolehan). Maksudnya adalah bahwa aku hadir dalam diriku dan tidak terpisah dariku.
Bagaimanapun, pengetahuan kita tentang diri kita merupakan pengetahuan yang paling jelas. Pengetahuan ini tidak memerlukan penalaran. Penalaran yang terkenal adalah penalaran yang dilakukan oleh Descartes, seorang filsuf besar Prancis, yaitu "Aku berpikir, maka aku ada". Tampaknya penalaran ini bukan penalaran yang benar dan hanya bersifat lateral. Lantaran sebelum ia membuktikan wujudnya, ia sudah mengakui wujudnya sendiri! (Sekali ia berkata "aku", kembali ia berkata "aku berpikir"). Ini dari satu sisi.
Dari sisi lain, "aku" ini sejak awal hingga akhir usia hanya memiliki satu kesatuan (pribadi), tidak lebih. "Aku hari ini" adalah "aku kemarin" dan "aku dua puluh tahun yang lalu". Sejak kecil sampai sekarang ini, Aku adalah seorang, tidak lebih. Aku adalah orang yang dulu dan hingga akhir usia juga aku tetap orang yang sama, bukan orang lain. Tentu saja, aku belajar, aku telah memiliki ilmu, aku telah mencapai kesempurnaan, dan aku akan tetap mencapainya, akan tetapi aku tidak menjadi orang lain.
Dengan demikian, seluruh manusia sepanjang hidupnya dikenal sebagai seorang manusia; aku memiliki satu nama, aku memiliki satu tanda pengenal, dan sebagainya.
Kini kita lihat, apakah wujud satu yang telah memenuhi segenap usia kita ini? Apakah ini merupakan partikel atom, sel-sel badan, atau kumpulan sel-sel otak, serta aksi dan reaksi otak? Di sepanjang usia kita, semua ini berulang kali akan berganti. Kira-kira dalam setiap tujuh tahun, seluruh sel-sel akan mengalami pergantian (shift). Lantaran kita ketahui bahwa jutaan sel dalam badan kita setiap hari akan mati, dan jutaan sel baru akan tumbuh menggantikannya. Sebagaimana sebuah bangunan yang batu batanya secara gradual keluar, dan batu-batu bata yang baru akan datang menggantikan pekerjaan batu-batu bata yang lama. Setelah beberapa waktu, bangunan ini secara keseluruhan akan berganti meskipun orang-orang awam tidak mengetahuinya. Tak ubahnya seperti kolam renang besar. Dari satu sisi, air baru secara perlahan akan masuk ke dalam kolam renang, dan dari sisi lainnya, air yang lama akan keluar. Jelas bahwa setelah beberapa lama, seluruh air yang ada dalam kolam tersebut akan berganti, meskipun orang-orang yang melihatnya secara lahiriah tidak mengetahui perubahan ini, bahkan mereka melihat bahwa kolam renang tersebut tetap pada keadaaanya semula.
Secara umum, setiap wujud yang menerima makanan dan dari sisi lainnya menkonsumsi makanan tersebut, secara perlahan-lahan akan mengalami pembaruan dan pergantian.
Oleh karena itu, seorang anak manusia yang berusia tujuh puluh tahun, perubahan yang terjadi pada anggota badannya kira-kira sebanyak sepuluh kali (mengingat setiap tujuh tahun mengalami perubahan-AK.). Atas perhitungan ini, apabila kita -sebagaimana kaum materialis- harus memandang manusia sebagai jasad dan kumpulan organisme otak dan syaraf, serta akumulasi ciri-ciri fisis-kimiawi, maka "aku" ini dalam masa tujuh puluh tahun mengalami sepuluh kali pergantian dan bukan lagi orang yang sebelumnya, padahal tidak satu pun fitrah (wijdân) yang akan menerima asumsi ini.
Berangkat dari sini, jelas bahwa selain bagian-bagian material, terdapat satu hakikat tunggal yang permanen pada segenap usia kita, dan ia tidak akan pernah berubah sebagaimana bergantinya bagian-bagian materi. Ia adalah bentuk dasar wujudnya, maka standar kesatuan pribadi kita adalah hakikat tunggal tersebut.

Menghindari Sebuah Kekeliruan

Sebagian orang beranggapan bahwa sel-sel otak tidak akan berganti. Mereka berkata, "Dalam buku fisiologi, kami membaca bahwa jumlah sel-sel otak sejak semula hingga akhir usia adalah satu jenis saja. Maksudnya, sel-sel ini tidak akan bertambah dan juga tidak akan berkurang selamanya. Sel-sel ini hanya akan menjadi besar. Akan tetapi, sel-sel ini tidak akan melahirkan sel baru untuk meneruskan keturunannya. Dari sudut pandang ini, tidak dapat diilustrasikan kerusakan pada sel-sel ini. Oleh karena itu, kita percaya bahwa dalam keseluruhan badan kita terdapat satu kesatuan yang permanen yang merupakan sel-sel otak itu sendiri. Dan sel-sel inilah yang menjadi standar kesatuan pribadi kita.
Namun, pandangan ini merupakan sebuah kesalahan besar, karena mereka telah mencampur-adukkan dua masalah. Yang telah dibuktikan oleh sains dewasa ini ialah bahwa dari sisi jumlah, sel-sel otak semenjak semula hingga akhir usia bersifat permanen; tidak bertambah, tidak pula berkurang, bukan atom yang menjadi pembentuk sel-sel ini yang tidak akan berubah. Sebab, bagaimana yang telah kami sebutkan, sel-sel badan menerima makanan secara terus-menerus dan atom-atom (dzarrât) yang telah tua akan hilang secara bertahap. Persis seperti seorang yang senantiasa dari satu sisi menerima dan dari sisi lain memberi. Tentu saja modal orang seperti ini akan berganti secara perlahan, betapa pun banyaknya. Sebagaimana kolam renang, yang dari satu sisi air yang baru dialirkan ke dalamnya dan dari sisi lain, air yang lama dialirkan keluar. Dengan demikian, dalam beberapa waktu, muatan-muatan kolam akan berganti secara keseluruhan, meskipun ukuran air tetap dan tidak berubah.
Begitu pula, sel-sel otak itu tidak permanen. Sebagaimana sel-sel yang lain, sel-sel ini akan mengalami pergantian dan perubahan.

c. Ketidaksesuaian antara Kecil dan Besar

Anggaplah, Anda duduk di tepi pantai yang indah. Beberapa perahu kecil dan sebuah kapal besar bergerak di atas ombak. Dari satu sisi, kita melihat matahari terbenam di sebelah barat dan dari sisi lain, kita melihat bulan berada dalam keadaan bersinar (terbit). Burung-burung menawan di pantai selalu bermain di atas air dan berdiri, dan gunung menjulang tinggi, puncaknya mencapai langit.
Kini, untuk beberapa detik, kita pejamkan mata kita. Lalu, kita ilustrasikan apa yang telah kita saksikan itu di dalam benak kita. Gunung dengan segala ketinggiannya, laut dengan segala keluasannya, dan kapal raksasa dengan segala kebesarannya kini menjelma dalam benak kita. Artinya layar pemandangan yang luar biasa besarnya itu berhadapan dengan ruh kita, atau papan gambar itu kini berada dalam ruh kita.
Pertanyaannya di sini adalah, di manakah tempat gambar raksasa ini? Apakah sel-sel maha mikro otak dapat menerima peta yang maha makro seperti ini? Tentu saja tidak. Oleh karena itu, kita harus memiliki bagian lain dari diri kita di balik badan fisis ini; bagian yang sedemikian luasnya sehingga meliput seluruh pemandangan itu di dalamnya.
Apakah gambaran satu bangunan yang tingginya 500 meter dapat dilukiskan pada satu tanah yang berukuran beberapa millimeter? Tentu saja, tidak. Sebab, satu wujud yang lebih besar dengan tetap menjaga kebesarannya tidak akan sesuai dengan wujud yang lebih kecil. Kelaziman persesuaian ini, baik sama dengannya atau lebih kecil darinya, dapat diterapkan di sini.
Kini, bagaimana kita dapat memberikan ruang bagi gambaran-gambaran mental yang luar biasa besarnya di dalam sel-sel mikro otak?
Kita dapat mengilustrasikan planet bumi yang berukuran 40.000.000 meter dalam benak kita. Kita dapat menjelmakan planet matahari yang berukuran 1.200.000 lebih besar daripada planet bumi. Demikian juga, galaksi-galaksi yang ukurannya jutaan lebih luas dari matahari kita. Seluruhnya ada dalam pikiran kita., apabila mereka ingin menggambarkan ilustrasi-ilustrasi ini dalam sel-sel kecil otak, sesuai dengan hukum ketidaksesuaian besar dan kecil, tidak akan mungkin dapat terjadi. Maka, kita harus mengakui suatu wujud yang lebih unggul di atas otak fisis ini yang merupakan sentral penerimaan gambaran-gambaran raksasa ini.
Sebuah Pertanyaan Penting
Barangkali disebutkan bahwa gambaran-gambaran benak kita adalah mikrofilm-mikrofilm atau peta-peta geografis, dan di dalam peta-peta ini telah ditulis satu angka fraksional seperti berikut: 1 per 1.000.000 atau 1 per 100.000.000 yang menunjukkan skala mikronya. Hal itu memberikan pemahaman kepada kita bahwa gambar ini harus kita besarkan sesuai dengan rasio di atas hingga peta yang real dapat kita peroleh. Dan juga banyak kita lihat potret-potret kapal raksasa yang telah diambil yang tidak dapat menunjukkan kebesaran kapal tersebut. Oleh karena itu, untuk menunjukkan kebesaran kapal itu, maka sebelum mengambil foto tersebut, kita menempatkan manusia di atas kapal tersebut, dan foto keduanya dapat diambil, sehingga berdasarkan perbandingan, kebesaran kapal tersebut semakin jelas.
Melalui gambaran-gambaran mental, kita juga dapat memperoleh gambaran-gambaran mikro yang dengan skala-skala tertentu telah dimikrokan dengan rasio yang sama. Dengan memakrokan gambaran tersebut, gambaran yang sebenarnya dapat diperoleh. Dan tentu saja, peta-peta mikro ini dapat memiliki ruang pada sel-sel otak kita. (Perhatikan baik-baik).

Jawaban

Masalah penting di sini ihwal mikrofilm-mikrofilm yang biasanya mereka besarkan dengan media projector dan memberikan reaksi di atas layar atau pada peta-peta geografi angka yang ditulis di bawahnya membantu kita mengalikan peta tersebut dengan angka yang telah ditentukan itu. Dan gambaran besar yang sebenarnya kita refleksikan dalam benak kita. Kini pertanyaan yang muncul adalah di manakah layar besar yang digunakan oleh mikrofilm-mikrofilm mental untuk merefleksikan gambar raksasa tersebut? Apakah layar besar ini adalah sel-sel otak itu sendiri? Tentu saja, tidak. Dan peta mikro geografi yang kita kalikan dengan angka besar itu dan kita merubahnya menjadi gambaran raksasa, tentu saja memerlukan tempat. Apakah tempat ini adalah sel-sel mikro otak itu sendiri?
Dengan kata lain, dalam perumpamaan mikrofilm dan peta geografi yang berada pada dunia luar, tempat film dan gambar-gambar yang berbentuk mikro itu adalah layar yang telah menerima gambar tersebut. Akan tetapi, pada gambaran mental kita, gambaran-gambaran ini persis seperti ukuran wujud luarnya. Dan tentu saja gambaran-gambaran ini memerlukan tempat seukuran dirinya, dan kita ketahui bahwa sel-sel otak lebih kecil dari gambaran dan mikrofim tersebut untuk dapat merefleksikan gambaran dan mikrofilim itu dengan segala kebesarannya.
Ringkasnya, kita mengilustrasikan gambaran-gambaran benak ini sebesar ukurannya yang terdapat di dunia luar. Dan gambar raksasa ini tidak dapat terefleksikan dalam sel-sel mikro. Dengan demikian, ia memerlukan tempat dan dari sini kita dapat memahami adanya suatu wujud hakiki di balik sel-sel ini.

d. Gejala-gejala Ruh bukan Kualitas materi

Dalil lain yang dapat menuntun kita kepada kemandirian dan kenonmaterian ruh adalah bahwa pada gejala-gejala ruh, kita melihat kualitas-kualitas yang tidak serupa dengan kualitas-kualitas materi. Karena:
Pertama, makhluk-makhluk memerlukan (waktu) dan berdimensi gradual (berproses).
Kedua, dengan berlalunya waktu, makhluk-makhluk tersebut akan menjadi usang (out of date).
Ketiga, materi dapat dianalisa atau dipecah kepada bagian-bagian wujud lainnya.
Akan tetapi, gejala-gejala mental tidak memiliki ciri-ciri dan efek-efek yang tersebut di atas. Kita dapat menggambarkan semesta persis dengan semesta yang kita huni sekarang ini dalam benak kita, tanpa melewati lintasan waktu dan tidak perlu berproses gradual.
Terlepas dari masalah ini, potret-potret masa lalu yang kita gambarkan dalam benak kita semasa kita kecil, dengan berlalunya waktu tidak mengalami antiquasi (kekunoan), tidak usang, dan tetap seperti ukuran aslinya. Boleh jadi otak manusia mengalami keusangan. Akan tetapi, dengan usangnya otak, rumah yang merupakan gambaran dua puluh tahun sebelumnya dalam benak kita terekam dengan baik dan tidak usang, dan memiliki konstansi yang merupakan ciri khas dunia metafisis.
Ruh kita dalam hubungannya dengan gambaran dan potret-potret, memiliki ciptaan yang menakjubkan dan pada detik itu kita dapat menggambarkan segala jenis peta dalam benak kita tanpa memerlukan sedikit pun pendahuluan. Gambaran benda-benda langit, galaksi-galaksi dan makhluk-makhluk bumi, laut, pegunungan, dan semisalnya bukanlah ciri khas satu wujud materi, akan tetapi ciri khas wujud metafisis.
Di samping itu, kita ketahui misalnya, 2+2=4, dan kita dapat menganalisa salah satu dari dua ekuivalen ini; angka dua atau angka empat. Akan tetapi, kita tidak dapat menganalisa equivalensi seraya mengatakan ada equivalensi seperdua dan setiap setengah bukan setengah yang lainnya. Equivalensi merupakan satu pemahaman yang tidak dapat dianalisis; ada atau tiada. Sekali-kali tidak dapat dibagi menjadi dua. (Antara ada dan tiada tidak dapat dibagi, setengah ada atau setengah tidak. Proposisi ini mustahil adanya-AK.)
Oleh karena itu, pemahaman mental ini tidak dapat dianalisa. Atas dasar ini, ia tidak dapat bersifat materi, sebab apabila ia materi, ia tersusun. Begitu pula,ruh kita yang merupakan pusat pemahaman ini bukanlah materi dan tidak dapat bersifat materi. Maka, ruh adalah wujud nonmateri. (Perhatikan baik-baik).


RUKUN IMAN BGI pecinta ahlulbait= NUBUWWAH



Konsep Kenabian

29. Apakah Berakhirnya Silsilah Kenabian Selaras dengan Cara Manusia untuk Meniti Kesempurnaan?

Tidakkah mungkin aktifitas masyarakat akan berhenti? Tidakkah jalan kesempurnaan itu memiliki batas? Tidakkah kita melihat dengan mata kepala kita sendiri bahwa manusia sekarang ini telah mencapai ilmu pengatahuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan manusia masa lalu?
Oleh karena itu, bagaimana mungkin kantor kenabian secara keseluruhan tutup dan manusia dalam meniti jalan kesempurnaannya akan kehilangan kepemimpinan nabi-nabi baru?
Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi jelas bila kita perhatikan bahwa acapkali manusia mencapai tingkatan kedewasaan berpikir dan berbudaya, ia dapat melanjutkan perjalanannya menuju kesempurnaan dengan senantiasa memanfaatkan prinsip dan ajaran yang secara umum telah diberikan oleh nabi pamungkas, tanpa perlu lagi kepada syariat baru.
Ketika seseorang telah mencapai suatu jenjang pendidikan, ia masih memerlukan seorang pengajar dan arahan baru sehingga ia dapat menempuh jenjang berikutnya. Namun, tatkala ia mencapai jenjang doktoral, mujtahid dan spesialis di suatu bidang ilmu, ia tidak lagi menjalani pendidikannya di bawah bimbingan dosen atau guru baru, tetapi bersandar pada apa yang telah didapatkannya dari para dosennya yang terakhir. Ia meluangkan waktunya untuk kembali melakukan penelitian dan pengkajian ilmu yang telah diraihnya selama ini.
Dengan kata lain, ia memecahkan persoalan-persoalannya berdasarkan kaidah-kaidah umum yang telah diperolehnya dari dosen-dosen terakhir. Oleh karena itu, dengan berlalunya waktu, ia tidak memerlukan lagi agama dan ajaran baru. (Perhatikan baik-baik).
Setiap nabi terdahulu telah memberikan kepada manusia peta dari setiap bagian perjalanan ini sehingga ia dapat mencapai kesempurnaan. Sangat jelas bahwa dengan mendapatkan peta perjalanan secara umum, ia tidak lagi memerlukan peta baru. Uraian ini merupakan penjelasan atas redaksi riwayat tentang berakhirnya silsilah para nabi. Dan Nabi saw. adalah peletak batu terakhir istana menawan dan kokoh risalah Ilahi ini.
Semua ini adalah pembahasan ihwal tidak perlu adanya ajaran dan agama baru. Akan tetapi, masalah kepemimpinan dan imâmah yang merupakan konsep universal untuk mengimplementasikan fondasi dan hukum-hukum serta menolong orang-orang yang lemah di tengah perjalanan, adalah masalah lain. Manusia sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri dari keperluan ini. Atas dasar inilah, berakhirnya silsilah konsep kenabian tidak berarti berakhirnya silsilah konsep imâmah, sebab penjelasan konsep kenabian dan implementasi praktisnya tanpa keberadaan seorang pemimpin maksum Ilahi mustahil dapat terwujud. 
30. Apakah Ajaran yang Dimiliki oleh Nabi saw. sebelum Diutus sebagai Nabi?

Tidak syak lagi bahwa sebelum diutus menjadi nabi (bi'tsah), Nabi saw. tidak pernah sujud kepada berhala dan menyimpang dari garis tauhid. Dan sejarah kehidupannya dengan baik merefleksikan makna ini. Akan tetapi, ajaran manakah yang menjadi ikutan Nabi saw. sebelum periode pengutusan? Hal ini masih menjadi bahan dialog di antara ulama.
Sebagaian berpendapat bahwa Nabi saw. mengikuti ajaran Nabi Isa a.s., lantaran sebelum periode bi'tsah, ajaran yang resmi dan belum dihapus oleh ajaran lain adalah ajaran Nabi Isa a.s.
Sebagaian yang lain berpendapat bahwa Nabi saw. adalah pengikut ajaran Nabi Ibrahim a.s., karena Nabi Ibrahim a.s. merupakan Syaikh Al-Anbiyâ'; bapak para nabi. Sebagian ayat pun menerangkan Islam sebagai ajaran Nabi Ibrahim a.s., "... agama orang tuamu Ibrahim ...." (QS. Al-Hajj [22]: 78)
Sebagian lagi mengungkapkan ketidaktahuan mereka dan berkata, "Kita tahu bahwa Nabi saw. memiliki ajaran. Namun, ajaran apa? Hal ini tidak jelas bagi kita."
Meski masing-masing pendapat itu memiliki alasan, tetapi tidak satu pun yang dapat dipastikan. Namun, yang lebih mendekati kebenaran di antara ketiga pendapat di atas adalah pendapat yang keempat; bahwa Nabi saw. secara pribadi memiliki program khusus dari sisi Allah Swt. dan beramal berdasarkan program tersebut. Program khusus ini adalah ajaran khusus Nabi saw. hingga masa Islam diturunkan untuknya.
Dalil pendapat ini bertolak dari sebuah hadis yang terdapat di dalam Nahjul Balâghah: "Sejak masa Rasul saw. disapih, Allah menugaskan malaikatnya yang terbesar guna membinanya sesuai jalan-jalan kemuliaan dan budi pekerti, siang dan malam." Penugasan malaikat ini adalah dalil atas adanya program khusus bagi Nabi saw.
Dalil lain adalah tidak satu pun sejarah yang melaporkan bahwa Nabi saw. sibuk beribadah di dalam sinagog (peribadatan agama Yahudi) dan gereja. Beliau tidak pernah berada di samping seorang kafir, dan juga tidak di sisi Ahli Kitab untuk beribadah di tempat-tempat ibadah mereka. Sementara itu, beliau harus melanjutkan tongkat estafet dari nabi-nabi sebelumnya di atas jalan tauhid. Dan Nabi saw. konsisten pada prinsip akhlak mulia dan penyembahan kepada Tuhan.
Di samping itu, terdapat riwayat yang mutawatir sebagaimana yang dinukil oleh Allamah al-Majlisi dalam Bihâr al-Anwâr, bahwa Nabi saw. sejak usia belia ditopang oleh Ruhul Kudus. Berkat penopangan ini, beliau hidup berdasarkan ilham dari Ruhul Kudus.
Allamah Al-Majlisi secara pribadi meyakini bahwa Nabi saw. sebelum memegang kedudukan risalah telah menjadi seorang nabi. Terkadang para malaikat bercakap dengannya dan beliau juga mendengarkan suara mereka. Dan terkadang beliau memperoleh ilham dari Allah Swt. dalam mimpi. Setelah genap berusia empat puluh tahun, beliau mencapai kedudukan pengemban risalah, dan Al-Qur'an serta Islam secara resmi diturunkan kepada beliau. Allamah Al-Majlisi mengajukan enam dalil atas pendapat yang terakhir ini. Sebagian dalil-dalil tersebut sesuai dengan apa yang telah kami uraikan di atas. 
31. Apa Perbedaan antara Kenabian (nubuwah), Kepemimpinan (imâmah) dan Kerasulan (risâlah)?

Berdasarkan arahan-arahan Al-Qur'an dan beberapa hadis yang menjelaskan orang-orang yang ditugaskan oleh Allah Swt., mereka memiliki kedudukan yang berbeda-beda:

a. Kedudukan Kenabian (Nubuwah)

Kedudukan kenabian adalah sebuah kedudukan penerimaan wahyu dari Allah Swt.. Oleh karena itu, nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu dan menyampaikannya kepada orang-orang yang menghendakinya.

b. Kedudukan Kerasulan (Risâlah)

Kedudukan kerasulan adalah kedudukan yang mengemban tugas penyampaian wahyu, penyebaran hukum-hukum Tuhan, dan pembinaan jiwa-jiwa manusia melalui pengajaran ilmu dan menyucian diri. Oleh karena itu, rasul adalah orang yang bertugas untuk mengajak manusia kepada Tuhan dengan segenap upaya serta memanfaatkan segala fasilitas yang ada. Ia berusaha untuk mengusung sebuah revolusi budaya, pemikiran dan ideologi.

c. Kedudukan Kepemimpinan (Imâmah)

Imâmah adalah kepemimpinan umat. Sejatinya, imam adalah seorang yang -dengan membentuk sebuah pemerintahan Ilahi dan memperoleh kekuasaan yang diperlukan- berupaya untuk menerapkan hukum-hukum Tuhan di muka bumi. Dan sekiranya tidak mampu secara resmi mendirikan pemerintahan, ia tetap harus berupaya semaksimal kemampuan yang dimilikinya.
Dengan kata lain, tugas-tugas imam adalah menjalankan ketentuan Ilahi, sementara tugas-tugas rasul adalah menyampaikan ketentuan-ketentuan ini. Atau, rasul "menunjukkan jalan", dan imam "mengantarkan sampai ke tujuan".
Jelas bahwa kebanyakan para nabi, seperti Nabi saw., memiliki ketiga kedudukan di atas. Nabi saw., di samping memperoleh wahyu dan menyampaikannya, juga bertugas dan berupaya membentuk sebuah pemerintahan dalam rangka penerapan hukum-hukum Ilahi, dan menggelontorkanya melalui jalan batin dalam pembinaan jiwa.
Singkatnya, imâmah merupakan kepemimpinan yang berdimensi bendawi dan maknawi, jasmani dan ruhani, lahir dan batin. Imam adalah kepala pemerintahan dan pemimpin masyarakat, pemimpin agama, pembina akhlak, pemimpin lahir dan batin.
Dari satu sisi, imam memimpin orang-orang yang memiliki kelayakan menempuh jalan kesempurnaan dengan kekuatan spiritual. Dengan kekuatannya, ia mengajarkan orang-orang yang buta aksara dan dengan kekuasaan pemerintahannya atau kekuatan hukum lainnya, ia menerapkan asas keadilan. 
32. Bagaimana Mungkin Kenabian dan Imâmah Diperoleh pada Usia Belia?

Di dalam surat Maryam [19], ayat 12 kita membaca, "Hai Yahya, ambillah al-Kitab [Taurat itu] dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak."
Berangkat dari ayat ini, soal yang kemudian mengemuka adalah bagaimana mungkin seorang manusia pada masa kecilnya telah mencapai kedudukan kenabian dan kerasulan?
Benar bahwa masa berseminya akal manusia biasanya memiliki batasan dan ukuran khusus. Akan tetapi, kita ketahui bahwa pada segenap manusia, terdapat orang-orang yang memiliki keistimewaan. Apa halangan bagi Allah Swt. -dengan alasan maslahat- menyingkat waktu sebagian hamba-hamba-Nya? Biasanya seseorang memerlukan waktu satu atau dua tahun untuk dapat berbicara. Sementara kita ketahui bahwa Nabi Isa a.s. telah dapat berbicara pada hari pertama kelahirannya ke dunia, itu pun dengan ucapan yang sarat makna yang -menurut kebiasaan umum- sebobot ucapan orang-orang dewasa.
Dari sini akan menjadi jelas bagi sebagian orang yang mempermasalahkan para Imam Syi'ah, yakni mengapa sebagian para imam maksum mencapai kedudukan kepemimpinan (imâmah) pada usia yang masih belia?
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa salah seorang sahabat Imam Al-Jawad bin Ali An-Naqi a.s. yang bernama Ali bin Asbath berkata, "Aku datang menghadap kepada Imam Al-Jawad a.s. (dan pada waktu itu beliau masih belia). Aku tegap berdiri di hadapannya dan memandangnya dengan seksama sehingga aku dapat mencamkan dalam benakku untuk kuceritakan segala apa yang telah terjadi kepada para sahabat sewaktu aku kembali ke Mesir (bahwa Imam al-Jawad a.s. masih belia). Pada saat aku berpikiran demikian, Imam Al-Jawad duduk (seakan-akan beliau dapat membaca seluruh pikiranku). Pandangannya mengarah kepadaku seraya berkata, 'Wahai Ali bin Asbath! Apa yang telah dilakukan oleh Allah Swt. mengenai imâmah persis dengan apa yang telah dilakukan oleh-Nya mengenai kenabian. Kadang-kadang Ia berfirman, '... Kami berikan kepada Yahya ....' dan kadang pula Dia berfirman tentang manusia, '... Tatkala manusia mencapai usia empat puluh tahun (masa baligh sempurna)....' Oleh karena itu, sebagaimana Allah Swt. mampu memberikan "hikmah" kepada manusia pada masa belianya, demikian juga Ia mampu untuk memberikan "hikmah" kepada manusia pada usia empat puluh tahun.'"
Sementara itu, ayat ini juga merupakan jawaban tegas bagi para pengkritik yang berpendapat bahwa Ali bukanlah pria pertama yang beriman kepada Rasulullah saw., lantaran ketika itu ia adalah seorang bocah kecil yang berusia sepuluh tahun, dan iman bocah sepuluh tahunan tidak dapat diterima.
Poin ini juga layak disebutkan di sini. Dalam sebuah hadis dari Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s. kita membaca, "Sekelompok anak kecil datang kepada Nabi Yahya a.s. (yang masih kecil) seraya berkata, 'Ayo kita main bersama!' Yahya a.s. menjawab: 'Kita tidak diciptakan untuk bermain.' Di sini Allah Swt. berfirman, '... Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.'"
Tentu saja, maksud dari bermain di sini adalah menghabiskan waktu senggang tanpa alasan dan manfaat. Dengan ungkapan lain, sebuah kekonyolan. Karena, terkadang permainan digunakan untuk mencapai sebuah tujuan logis dan rasional. Sangat jelas bahwa permainan seperti ini termasuk pengecualian dalam masalah ini. 
33. Apakah Hakikat Wahyu yang Serbamisteri itu?

Tidak syak lagi, kita tidak dapat menemukan data yang banyak tentang wahyu dan hakikatnya. Lantaran wahyu adalah salah satu jenis pengetahuan di luar jangkauan pengetahuan kita. Di samping itu, wahyu merupakan salah satu bentuk hubungan yang berada di luar hubungan-hubungan yang telah kita ketahui. Ranah wahyu bagi kita adalah sebuah ranah yang asing dan berada di luar pengetahuan kita.
Sebenarnya, bagaimana seorang manusia bumi dapat menjalin hubungan dengan Sumber Awal alam semesta? Bagaimana Tuhan Yang Azali dan Abadi serta Nir-batas dari segala dimensi dapat menjalin hubungan dengan makhluk yang serba terbatas dan mumkin al-wujud? Dan pada detik-detik turunnya wahyu, bagaimana Nabi saw. mendapatkan keyakinan bahwa hubungan ini bersumber dari-Nya?
Segenap soal yang diuraikan di atas merupakan pertanyaan-pertanyaan yang pelik bagi kita untuk menjawabnya. Dan bersikeras untuk memahaminya adalah sangat tidak beralasan.
Satu-satunya pembahasan yang rasional dan dapat diuraikan bagi kita adalah wujudnya atau kemungkinan adanya hubungan seperti ini bersifat misterius.
Kita berasumsi bahwa tidak satu pun dalil rasional yang dapat menafikan masalah seperti ini. Akan tetapi, sebaliknya, kita melihat dalam kosmos diri kita sendiri terdapat hubungan-hubungan batin yang tidak dapat kita interpretasikan. Hubungan-hubungan ini menunjukkan bahwa apa yang ada di atas rasa dan hubungan-hubungan kita juga memiliki cerapan dan pandangan-pandangan yang lain.
Tidak ada salahnya kita menjelaskan masalah ini dengan menyebutkan perumpamaan.
Anggaplah kita hidup di kota orang-orang buta -tentu saja orang-orang buta semenjak lahir- dengan dua mata yang mampu melihat. Segenap penduduk kota bercatur indra (seperti yang kita ketahui bahwa keseluruhan indra lahiriah manusia berjumlah lima) dan hanya kitalah orang yang berpanca indra. Dengan mata, kita melihat banyak kejadian yang terjadi di kota itu dan mewartakan kepada penduduk kota tersebut. Namun, mereka semuanya akan merasa takjub, apakah kelima indra misterius ini memiliki aktifitas yang sedemikian luas dan lapang? Semampu apa pun kita membahas indra penglihatan ini berikut aplikasinya, tidaklah berguna, kecuali kebingungan yang tersisa di benak mereka. Dari satu sisi, mereka tidak dapat mengingkari keberadaan panca indra ini, lantaran mereka mendapatkan efek beragam darinya dan merasakannya. Di sisi lain, mereka tidak dapat mendapatkan hakikat penglihatan tersebut, sebab mereka tidak pernah melihat seumur hidup mereka.
Kita tidak berasumsi bahwa wahyu merupakan indra keenam. Akan tetapi, kita berasumsi bahwa wahyu ini merupakan satu jenis pengetahuan dan hubungan dengan alam gaib dan Dzat Kudus Ilahi. Karena kita tidak memiliki pengetahuan dan hubungan tersebut, kita tidak dapat mengetahui hakikatnya. Betapa pun kita beriman kepada keberadaannya melalui efeknya.
Maka sebatas ini, yang dapat kita lihat adalah adanya seorang manusia agung yang datang kepada umat manusia dengan membawa dakwah yang muatannya berada di luar pikiran mereka. Ia mengajak mereka kepada Tuhan dan ajaran-Nya dengan bukti mukjizat dan kekuatan supra-natural yang berada di luar kemampuan umat manusia, sehingga ia dapat mengadakan hubungan dengan dunia gaib. Efeknya tampak, namun hakikatnya laten.
Apakah kita telah mampu menyingkap seluruh rahasia jagad ini sehingga ketika kita bisa bersinggungan dengan fenomena wahyu dan sulit memahami hakikatnya, lalu mengingkarinya?
Kita bahkan di dunia ini melihat fenomena misterius yang tidak dapat kita interpretasikan. Coba perhatikan burung-burung yang suka eksplorasi, yang dalam perjalanan jauhnya melintasi angkasa dengan jarak delapan belas ribu kilometer dalam setahun, terbang dari kutub utara menuju kutub selatan dan demikian juga sebaliknya. Apakah kehidupan burung-burung yang sarat misteri itu sudah jelas bagi kita?
Bagaimana burung-burung ini menentukan arah terbangnya dan mengenal dengan baik jalan lintasnya? Terkadang pada waktu malam gelap gulita atau siang hari, mereka melanjutkan perjalanan panjang. Sementara ketika kita -tanpa alat-alat teknis dan penunjuk jalan- hendak melintasi bahkan satu per seratus jarak perjalanan mereka, segera kita akan kesasar. Hal ini merupakan sesuatu yang belum dapat disingkap oleh ilmu dan sains.
Sekelompok ikan yang habitatnya berada di kedalaman laut, biasanya pada saat bertelur mereka kembali ke tempat bertelur aslinya yang barangkali berjarak ribuan kilometer darinya. Dari mana mereka tahu dengan mudah tempatnya bertelur itu?
Fenomena-fenomena misterius seperti ini di alam yang kita huni ini sangatlah banyak. Dan segenap fenomena inilah yang mencegah kita untuk mengingkari dan menafikannya. Dan kita teringat penjelasan Ibnu Sina yang berkata, "Apabila Anda mendengar sesuatu yang aneh, janganlah segera Anda ingkari. Berikanlah sedikit kemungkinan sepanjang dalil pasti belum tersedia. Maka hal itu tidak akan menjadi kendala bagi Anda."
Kini lihatlah bagaimana upaya sia-sia kaum materialis dalam mengingkari masalah wahyu?

Logika Para Pengingkar Wahyu

Ketika masalah wahyu diuraikan, sebagian kaum materialis dengan tergesa-gesa seraya menyangkal: "Hal ini bertentangan dengan sains."
Dan ketika kita bertanya di manakah letak pertentanganannya dengan sains? Begitu yakin dan arogannya mereka mereka menjawab: "sekedar sesuatu tidak dapat dibuktikan oleh ilmu sains, sudah cukup bagi kami untuk mengingkarinya. Prinsip kami adalah asumsi bahwa segala sesuatu itu terbukti dengan standar empiris!"
Terlepas dari masalah ini, dalam menelaah penelitian-penelitian ilmiah tentang jiwa dan raga manusia, kita tidak bersinggungan dengan indra misterius yang dapat menghubungkan kita dengan dunia supranatural. Para nabi itu sejenis kita. Bagaimana dapat diyakini bahwa mereka memiliki pengetahuan dan indra di atas pengetahuandan indra kita?

Isykalan Dawam dan Jawaban Dawam

Keterlibatan kaum materialis tidak terbatas pada masalah ini saja. Dalam segenap urusan yang berkenaan dengan dunia metafisika, mereka bersikap seperti ini. Dalam mengoreksi kesalahan mereka, perlu kita sampaikan: "Janganlah Anda lupakan ruang lingkup ilmu. (Tentu saja bila maksud mereka adalah ilmu empirik). Parameter dan alat-alat yang digunakan untuk penelitian ilmiah, laboratorium, teleskop, mikroskop, ruang anatomi, semuanya bekerja dalam keterbatasan ini. Ilmu-ilmu dengan alat-alat dan parameter-parameter ini secara mutlak tidak dapat memberikan komentar di luar penelitian ilmu empirik; tidak menafikannya juga tidak memastikannya. Mengapa? Jawabannya juga jelas, bahwa parameter dan alat ilmu-ilmu itu memiliki kemampuan dan ruang lingkup aplikasi yang terbatas.
Instrumen setiap ilmu-ilmu alam juga khusus dalam ruang lingkupnya sendiri. Lebih dari itu, ia tidak memiliki kemampuan dan aplikasi. Sebagai contoh, apabila kita tidak melihat mikroba sel yang kita letakkan di balik teleskop raksasa astronomi, kita tidak dapat mengingkari keberadaan mikroba tersebut. Demikian juga, kita tidak dapat mempersoalkan apabila kita tidak dapat melihat planet Pluto dengan menggunakan mikroskop kecil.
Instrumen penelitian pada setiap subjek sesuai dengan disiplin ilmunya sendiri. Dan instrumen untuk mengenal dunia metafisik tidak lain adalah menggunakan penalaran akal yang membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dunia tersebut.
Mereka yang mengeluarkan ilmu dari ruang lingkupnya, sejatinya bukanlah seorang ilmuwan, juga bukan seorang filsuf. Melainkan seorang pendakwa yang berbuat kekeliruan dan menyimpang dari jalannya.
Sebatas ini, kita melihat bahwa orang-orang besar datang dan mengetengahkan kepada kita masalah yang berada di luar kekuatan manusia dan menjalin hubungan dengan dunia di luar dunia materi. Namun, bagaimana hubungan misterius ini? Tidak jelas bagi kita. Yang terpenting adalah bahwa kita mengetahui adanya hubungan demikian. 
34. Benarkah Nabi saw. itu seorang yang ummi?

Ada tiga kemungkinan yang populer ihwal pengertian "ummi": pertama, orang yang tidak belajar, kedua, orang yang lahir di bumi Makkah dan bangkit sebagai rasul (bi'tsah) dari Makkah, dan ketiga, orang yang bangkit dari tengah-tengah umat dan masyarakat (yang buta huruf). Pengertian yang paling akrab adalah kemungkinan yang pertama, karena lebih sesuai dengan penggunaan kalimat ini. Sebagaiman yang telah kami sebutkan, boleh jadi yang dimaksud adalah ketiga kemungkinan tersebut.
Realita bahwa Nabi saw. tidak pernah pergi ke suatu tempat belajar-mengajar dan tidak pernah menulis, dapat diterima oleh para sejarawan. Dan Al-Qur'an juga dengan tegas menyebutkan kondisi beliau sebelum bi'tsah.
Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya [Al-Qur'an] sesuatu kitab pun dan kamu tidak [pernah] menulis suatu kitab dengan tangan kananmu. Sekiranya [kamu pernah membaca dan menulis], benar-benar ragulah orang yang mengingkarimu. (QS. Al-'Ankabut [29]: 48)

Pada dasarnya, di lingkungan Hijaz, orang-orang yang pandai sangat sedikit sehingga mereka dengan mudah dikenal. Termasuk di Makkah, ibu kota Hijaz, jumlah orang-orang yang mampu membaca dan menulis tidak lebih dari 17 orang dan hanya seorang wanita yang pandai membaca dan menulis.
Tentu saja di lingkungan seperti ini, sekiranya Nabi saw. belajar membaca dan menulis pada seorang guru, beliau akan terkenal saat itu. Seandainya kita tidak menerima kenabiannya, bagaimana mungkin beliau dalam kitabnya menjelaskan keummian dirinya dengan tegas? Apakah masyarakat tidak akan protes kepadanya seraya barkata, "Kamu kan pernah belajar"? Hal ini merupakan indikasi yang jelas akan keummiannya.
Bagaimanapun, adanya sifat ummi ini pada diri Nabi saw. merupakan penegas kenabian beliau, sehingga seluruh kemungkinan selain hubungan dengan Tuhan dan dunia metafisik dalam ranah dakwahnya dapat ternafikan.
Kedua hal ini merupakan pembahasan sebelum masa kenabian. Demikian juga, setelah periode bi'tsah, tidak ada catatan sejarah bahwa beliau pernah mendapatkan pelajaran membaca dan menulis dari seseorang. Dengan demikian, keummian berlangsung hingga akhir hayat beliau.
Akan tetapi, kesalahan besar yang harus dihindari di sini adalah, bahwa tidak belajar bukan berarti tidak berpendidikan (tidak pandai). Dan orang yang menafsirkan bahwa ummi itu bermakna tidak berpendidikan, ia telah beranggapan bahwa kedua-duanya tidak berbeda.
Melalui pengajaran Ilahi, tidak satu pun kendala yang menghadang Nabi saw. untuk mampu membaca dan menulis, tanpa harus mendapatkannya dari orang lain, lantaran tak syak lagi bahwa kemampuan ini merupakan kesempurnaan insani dan penyempurna kenabian.
Argumentasinya adalah sebagaimana yang dinukil dalam riwayat dari para imam Ahlul Bait a.s., "Nabi saw. dapat membaca dan atau memiliki kemampuan untuk membaca, juga kemampuan untuk menulis." Namun, Nabi saw. tidak menggunakannya lantaran tidak ingin menyisakan secuil pun keraguan orang atas dakwahnya kepadanya.
Adapun klaim sebagian orang bahwa kemampuan membaca dan menulis tidaklah termasuk kesempurnaan seseorang, melainkan kedua hal ini merupakan kunci untuk mencapai kesempurnaan ilmu, bukan ilmu sejati dan kesempurnaan hakiki, pada hakikatnya jawaban atasnya tersisip di dalam klaim itu sendiri, karena mengetahui sesuatu merupakan salah satu perantara mencapai kesempurnaan. Beliau sendiri adalah kesempurnaan yang nyata.
Atau klaim sebagian orang bahwa ayat, "Membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, membersihkan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah...." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 2) dan ayat-ayat lain dengan redaksi yang sama merupakan dalil bahwa Nabi saw. membacakan Al-Qur'an kepada masyarakat melalui tulisan. Klaim ini merupakan kesalahan besar. Karena, kosa kata tilâwah (membacakan, yang terdapat dalam ayat tersebut) dapat diartikan dengan membaca melalui tulisan dan membaca melalui hafalan. Mereka yang membaca Al-Qur'an, syair-syair, atau doa-doa melalui hafalan, dapat dikatakan bahwa mereka sedang melakukan tilâwah. Dan penggunaan semacam ini umum sekali. 
35. Apakah Tujuan dari Mikraj?

Sudah jelas bagi kita bahwa Mikraj Rasulullah saw. tidaklah bermaksud untuk melihat Tuhan di atas langit sebagaimana anggapan orang-orang awam. Sayangnya, sebagian cendekiawan Barat, lantaran ketidaktahuannya atau ingin menggoncang Islam, menyoroti sedemikian rupa akan perjumpaan dengan Tuhan ini. Di antara mereka, Georgia dalam buku, Muhammad Payambariy keh az Nou Bayad Shenâkht berkata, "Dalam perjalanan Mikraj, Muhammad sampai di suatu tempat sehingga ia dapat mendengar suara pena Tuhan dan memahami bahwa Tuhan sedang sibuk menjaga hisâb (perhitungan) umat manusia. Akan tetapi, meskipun ia mendengar pena Tuhan, ia tidak melihat-Nya! Karena tidak seorang pun yang dapat melihat Tuhan meskipun ia adalah seorang nabi."
Hal ini menunjukkan bahwa jenis pena adalah pena kayu. Ketika bergerak di atas kertas pena itu bergerak kasar dan menimbulkan suara. Inilah salah satu contoh dari sekian khurafat dan takahayul.
Sebenarnya, tujuan Mikraj adalah agar ruh Nabi saw. menyaksikan rahasia keagungan Tuhan di jagad raya, khususnya menyaksikan alam atas yang merupakan kumpulan tanda-tanda keagungan-Nya. Selain itu, supaya beliau kembali menemukan pemahaman dan wawasan baru dalam memberikan petunjuk dan memimpin umat manusia.
Tujuan ini secara jelas tertuang di dalam surat Al-Isra' [17], ayat 1 dan surat An-Najm [53], ayat 18.
Terdapat juga riwayat yang menarik mengenai tema ini yang bersumber dari Imam Ash-Shadiq a.s. dalam menjawab pertanyaan sebab Mikraj Rasul saw. Beliau berkata, "Allah Swt. sama sekali tidak memiliki ruang, dan tidak berada dalam lintasan waktu. Akan tetapi, Ia menghendaki para malaikat dan para penghuni langit menghormati Nabi saw. yang melintas di antara mereka. Dan juga ingin menunjukkan kepada Nabi-Nya akan keagungan-Nya yang serba menakjubkan, sehingga Nabi saw. menerangkannya kepada masyarakat setelah kembali." 
36. Apakah Mi'raj Sejalan dengan Perkembangan Sains Dewasa ini?

Dahulu, sebagian filsuf meyakini objek selestial (planet-planet) sembilan pandangan Ptolemius yang berada di balik garis yang menyerupai irisan bawang. Mereka beranggapan bahwa penghalang utama Mikraj ditinjau dari sisi ilmu pengetahuan adalah adanya objek selestial ini dan kemestian Kharq wa Ilitiyâm (conglutination).
Namun, dengan runtuhnya fondasi pandangan astronomi Ptolemius, masalah Kharq dan Ilitiyâm telah dilupakan. Akan tetapi, dengan kemajuan yang dicapai oleh ilmu astronomi, permasalahan baru muncul sekaitan dengan tema Mikraj dan tertuang dalam bentuk statemen-statemen sebagai berikut:
a. Untuk melakukan perjalanan ke angkasa, kendala pertama yang harus dihadapi adalah adanya kekuatan gravitasi bumi. Dan untuk mengalahkan kekuatan gravitasi ini, kita harus menggunakan peralatan super canggih (sophisticated). Sebab, untuk lari dari "domain gravitasi bumi" diperlukan kecepatan minimal sama dengan empat puluh ribu kilometer setiap jam.
b. Kendala yang lain, hampa udara di luar ruang bumi yang tanpa itu manusia tidak dapat hidup.
c. Kendala ketiga, panas terik matahari dan dingin yang membekukan pada bagian matahari bersinar secara langsung dan bagian yang tidak terkena sinar matahari.
d. Kendala keempat, sinar-sinar yang berbahaya yang berada di luar atmosfer, seperti sinar-sinar kosmos, sinar ultra violet, dan sinar X (X-Ray). Jika sinar ini berukuran kecil dan mengenai badan manusia, ia tidak akan membahayakan organisme badan manusia. Namun, di luar atmosfer bumi sinar ini sangat luar biasa banyaknya dan pembawa maut. Akan tetapi, dengan adanya lapisan ozon, kita penghuni bumi terlindung dari pendarannya.
e. Problema kondisi tanpa beban. Meskipun manusia secara gradual dapat membiasakan diri dengan kondisi tanpa beban, akan tetapi bagi kita penduduk bumi apabila pindah ke atmosfir lain tanpa adanya pendahuluan dan berhadapan dengan kondisi tanpa beban, sangat sulit -kalau tidak mustahil- bagi kita untuk dapat bertahan.
f. Dan pada akhirnya, kesulitan waktu adalah halangan keenam dan merupakan halangan utama bagi manusia untuk dapat menembus atmosfir. Lantaran sains dewasa ini mengklaim bahwa tidak ada kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. Dan apabila seseorang hendak melancong ke seantero langit, kecepatan yang dimilikinya haruslah melebihi kecepatan cahaya.
Dalam menanggapi statemen-statemen seperti ini perlu kiranya kita memperhatikan beberapa poin di bawah ini:
a. Kita mengetahui bahwa dengan segenap kesulitan yang ada dalam perjalanan ruang angkasa, pada akhirnya manusia dapat memecahkan kesulitan ini dengan kekuatan sains yang dimilikinya. Dan selain kesulitan waktu, segenap kesulitan lainnya telah terpecahkan, dan kesulitan waktu juga berkaitan dengan perjalanan ke tempat-tempat jauh.
b. Tanpa syak lagi bahwa masalah Mikraj tidak berdimensi biasa, melainkan terjadi berkat kekuatan dan kekuasaan nir-batas Tuhan. Dan seluruh mukjizat para nabi terjadi dengan cara seperti ini. Dengan ungkapan lain, hal itu dapat terjadi secara rasional dan terselesaikan dengan kekuatan Tuhan.
Tatkala manusia dengan kemajuan sains memiliki kemampuan untuk menciptakan peralatan-peralatan super cepat, sedemikian cepat sehingga keluar dari domain gravitasi bumi; manusia menciptakan beraneka macam pesawat sehingga sinar laser pembawa maut di luar lapisan ozon dapat terkendali, ia mengenakan pakaian-pakaian yang dapat menjaganya dari panas dan dingin yang luar biasa, dengan latihan ia dapat membiasakan dirinya dalam kondisi tanpa beban. Ringkasnya, manusia dengan memanfaatkan kekuataannya yang terbatas dapat mengatasi kesulitan-kesulitan ini. Lalu, mengapa dengan kekuatan nir-batas Ilahi, kesulitan-kesulitan ini tidak dapat terpecahkan?!
Kita percaya bahwa Allah Swt. telah menganugerahkan kepada Nabi saw. kendaraan super cepat yang layak untuk meniti perjalanan ruang angkasa ini dan melindungi beliau dari bahaya-bahaya yang ada selama dalam perjalanan. Bagaimana kendaraan ini dan apa namanya? Buraq? Rafraf? Atau kendaraan yang lain? Pokoknya, kendaraan yang dikendarai oleh Nabi saw. adalah kendaraan misterius dan asing di telinga kita.
Terlepas dari semua itu, asumsi kecepatan maksimal yang telah disebutkan di atas telah mengguncang kalangan para ilmuwan, meskipun seorang Einstein dengan asumsinya yang kesohor dengan susah payah mempercayai asumsi tersebut.
Para ilmuwan hari ini berpendapat bahwa gelombang gravitasi tidak memerlukan waktu, berpindah dari satu sudut dunia ke sudut dunia lainnya dan menyisakan efek, dan bahkan, ada kemungkinan bahwa gerakan gravitasi ini berhubungan dengan luasnya jagad raya. (Kita ketahui bahwa jagad raya ini mengalami perkembangan, bintang dan sistem tata surya [kosmos] dengan cepat saling menjauh satu sama lainnya). Dan terdapat sistem tata surya (kosmos) yang kecepatannya melebihi kecepatan cahaya menjauh dari pusat alam semesta. (Perhatikan baik-baik).
Singkatnya, kesulitan-kesulitan yang telah disebutkan di atas tidak satu pun yang menyebabkan akal menganggap Mikraj sebagai kejadian yang mustahil. Kesulitan-kesulitan tersebut dapat terpecahkan dengan menggunakan peralatan dan kekuatan yang ada.
Di atas segalanya, masalah Mikraj tidak hanya tidak mustahil secara rasional, juga tidak mustahil secara empirik dan sains dewasa ini. Semua dapat menerima ihwal supranaturalnya Mikraj ini. Dengan demikian, meskipun masalah ini dibuktikan melalui dalil naratif (naqli) yang definitif, tentu kita harus menerimanya dengan lapang dada. 
37. Apakah Kemaksuman Para Nabi Berdimensi Jabr (Determinasi)?

Tatkala menelaah pembahasan ihwal ''ishmah", sebagian besar orang akan segera bertanya kepada diri mereka sendiri bahwa kedudukan 'ishmah merupakan sebuah anugerah Ilahi yang secara mesti diberikan kepada para nabi dan para imam. Dan seseorang yang menerima anugerah ini mendapat jaminan terjaga dari dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, kemaksuman mereka tidak termasuk sebagai keutamaan dan kehormatan bagi mereka. Siapa saja telah terliputi anugerah ini, ia akan terjaga dari segala dosa dan kesalahan, dan hal ini merupakan kemestian dari Allah swt.
Dengan demikian, berkat kedudukan 'ishmah, mustahil bagi mereka untuk dapat melakukan dosa dan kesalahan. Dan jelas bahwa meninggalkan kemustahilan tidak termasuk sebagai sebuah keutamaan. Umpamanya, sekiranya kita tidak berbuat aniaya terhadap orang-orang yang datang dalam kurun waktu seratus tahun yang akan datang atau seratus tahun sebelumnya, hal itu tidak akan menjadi kebanggaan bagi kita, lantaran tidak mungkin bagi kita untuk melakukan perbuatan ini.
Meskipun pembahasan ini tidak terfokus pada masalah pokok 'ishmah para nabi, akan tetapi mereka mempertanyakan keutamaan para nabi tersebut. Kini dengan memperhatikan beberapa poin di bawah ini, pertanyaan ini dapat terjawab dengan jelas:

a. Mereka yang menguraikan masalah ini tidak memperhatikan akar-akar 'ishmah para nabi. Mereka beranggapan bahwa kedudukan 'ishmah, misalnya, 'ishmah (kekebalan) terhadap sebagian penyakit yang bisa melalui jalan suntik dan bisa juga melalui jalan imunisasi. Dan barangsiapa telah diberikan suntikan, ia tidak akan pernah menderita penyakit, suka atau tidak suka.
Akan tetapi, kekebalan para maksum dari dosa bersumber dari derajat pengetahuan dan ketakwaan mereka. Persis seperti menghindar dari dosa-dosa yang dilakukan oleh setiap orang di antara kita berkat ilmu dan iman yang kita miliki. Ibarat seekor kancil dengan badan telanjang tidak akan melangkahkan kakinya di lorong dan di jalan. Demikian juga orang yang memiliki informasi cukup ihwal unsur-unsur destruktif obat-obat terlarang (psikotropika) bahwa pengaruh obat-obatan ini akan menyebabkan kematian secara perlahan. Maka, ia tidak akan pernah mau menjamahnya. Tentu saja, meninggalkan obat-obat terlarang ini merupakan sebuah keutamaan baginya yang bersumber dari ilmu yang dimilikinya. Dan pengetahuan ini -meskipun sedikit- tidak menimbulkan unsur pamaksaan, karena ia masih memiliki kemampuan untuk mengkonsumsi obat-obat terlarang tersebut.
Atas alasan ini, kita berupaya meningkatkan derajat ilmu kita melalui pendidikan dan pengajaran, sehingga sekurang-kurangnya ilmu ini dapat melindungi diri dari dosa-dosa besar, perbuatan-perbuatan buruk dan tercela.
Apakah mereka yang meninggalkan perbuatan dosa lantaran pendidikan dan pengajaran ini bukanlah sebuah keutamaan dan kebanggaan?
Dengan ungkapan lain, meninggalkan dosa bagi para nabi adalah mustahil secara praktis (muhâl 'âdî), bukan mustahil secara rasional (muhâl aqlî). Dan kita ketahui bahwa kemustahilan praktis selaras dengan kebebasan (ikhtiyar). Contoh, seorang alim dan mukmin membawa minuman keras ke masjid dan meminumnya di tengah-tengah barisan jamaah. Perbuatan ini tentu saja secara praktis mustahil, tidak secara rasional.
Singkatnya, ketinggian derajat ilmu dan iman para nabi sebagai sebuah kebanggaan dan keutamaan mereka, menjadi sebab utama sebuah kebangaan dan keutamaan lain, yaitu kedudukan 'ishmah. (Perhatikan baik-baik!).
Dan sekiranya seseorang bertanya; dari manakah mereka mendapatkan ilmu dan iman demikian itu? kita akan menjawab bahwa mereka mendapatkannya melalui inayah Allah Swt. Akan tetapi, dengan catatan (qaid) bahwa inayah-inayah Allah itu bukannya tanpa alasan. Mereka mendapatkan inayah Ilahi ini karena mereka memiliki kelayakan untuk itu. Sebagaimana Al-Qur'an menegaskan perihal Nabi Ibrahim, "Dan [ingatlah], tatkala Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat [perintah dan larangan], lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, 'Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia ....'". (QS. Al-Baqarah [2]: 124)
Ihwal Nabi Yusuf a.s., Al-Qur'an menuturkan, "Dan tatkala ia cukup dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Yusuf [12]: 22)
Redaksi "Kadzâlika Nujzil Muhsinin (demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik) merupakan bukti atas apa yang kita maksudkan; bahwa mereka mendapatkan itu karena kelayakan tersebut. Nabi Yusuf telah menyiapkan dirinya sehingga layak menerima anugerah agung Ilahi.
Tentang Nabi Musa a.s., terdapat redaksi yang menjelaskan realitas ini. Al-Qur'an menyebutkan, "...Kami telah menguji dengan beberapa ujian; maka tinggallah engkau selama beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian engkau datang menurut waktu yang ditetapkan, wahai Musa." (QS. Thaha [20]: 40)
Jelas bahwa dalam diri para nabi ini terdapat berbagai kelayakan dan potensi. Namun, mengaktualkan potensi dan kelayakan ini bukan karena determinasi (ijbâr), tetapi berdasarkan kehendak bebas mereka sendiri sehingga dapat melintasi jalan ini. Dan betapa banyak orang yang memiliki berbagai kelayakan, tetapi ia tidak mengaktualkannya dan tidak mengoptimalkannya. Ini dari satu sisi.
Dari sisi lain, para nabi mendapatkan anugerah mulia ini lantaran mereka memikul tanggung jawab yang berat di pundak mereka. Dengan kata lain, Allah Swt. memberikan kekuatan dan kemampuan kepada mereka sesuai dengan kadar tanggung jawab yang mereka emban, dan hendak menguji mereka dengan tanggun jawab ini.

b. Jawaban yang lain yang dapat diberikan atas pertanyaan di atas adalah, meskipun dengan dukungan inayah Ilahi ('ishmah) tersebut para nabi telah kebal dari perbuatan dosa dan kesalahan sehingga mereka dapat menarik kepercayaan umat dan menjadi pelita hidayah bagi mereka, namun pada saat yang sama, pintu "tark al-aulâ" (meninggalkan yang lebih utama); yaitu sebuah pekerjaan yang tidak termasuk sebagai perbuatan dosa dan bukan kelas mereka untuk melakukannya, masih terbuka di hadapan mereka.
Kebanggaan mereka terletak pada upaya meninggalkan tark al-aulâ, dan upaya ini merupakan ikhtiar penuh mereka. Apabila tark al-aulâ datang menyapa kehidupan mereka, tak ayal lagi mereka akan mendapatkan celaan ('itâb) Ilahi secara setimpal. Dan terkadang mereka tersandung dari pelbagai deprivasi. Keutamaan apakah yang lebih besar dari realita bahwa lantaran menaati perintah Ilahi mereka meninggalkanidak melakukan tark al-aulâ?
Oleh karena itu, kebanggaan para nabi terletak pada penerimaan tanggung jawab sesuai dengan kadar anugerah dari Tuhan. Dan bahkan terletak pada keengganan mereka untuk menjamah ladang tark al-aulâ. Dan sekiranya tark al-aulâ mendatangi mereka, mereka dengan segera harus menebusnya. 


RUKUN IMAN BGI pecinta ahlulbait=keadilan ilahi



Keadilan Ilahi

24. Apakah Perbedaan Natural Manusia Sesuai dengan Prinsip Keadilan?

Pada ayat 32, surat An-Nisa' [4] kita membaca, "Janganlah Kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain."
Dengan memperhatikan ayat suci ini, banyak di antara kita bertanya, mengapa sebagian orang memiliki bakat lebih dan bakat sebagian lainnya kurang, sebagaian rupawan dan sebagian lagi tidak demikian. Ada sebagian orang yang kuat tubuhnya,ada pula yang tubuhnya biasa-biasa saja. Apakah perbedaan natural ini sejalan dengan prinsip keadilan?
Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan dua poin di bawah ini.

1. Bagian pertama dari perbedaan antara raga dan ruh manusia merupakan akibat dari perbedaan strata dan kezaliman kehidupan sosial, atau sikap menganggap remeh setiap orang, dan sama sekali tidak berhubungan dengan dunia penciptaan. Umpamanya, kebanyakan putra-putri kaum hartawan dibandingkan dengan putra-putri kaum miskin, baik dari sudut pandang jasmani, lebih indah dan lebih kuat, juga dari sisi potensi dan talenta lebih besar. Semua ini dikarenakan mereka mendapatkan makanan dan kesehatan yang memadai, sementara putra-putri orang miskin berada dalam keserbakurangan. Atau sebagian orang karena sikap malas dan acuh tak acuhnya, kekuatan jasmani dan ruhnya sirna begitu saja. Perbedaan-perbedaan ini harus diyakini sebagai "perbedaan-perbedaan rekaan (diciptakan) dan tanpa dalil". Dengan hilangnya sistem strata yang korup, pengadaan keadilan sosial juga akan sirna, dan Islam dan Al-Qur'an tidak menyetujui perbedaan-perbedaan semacam ini.

2. Bagian lain dari perbedaan itu bersifat natural dan suatu kelaziman penciptaan manusia. Maksudnya, sekiranya sebuah masyarakat bersinggungan dengan keadilan sosial secara sempurna, setiap anggotanya ibarat sebuah pabrik; produknya tidak akan berbentuk dan bercorak sama. Tentu saja masing-masing akan memiliki kperbedaan dan keunikan yang khas. Namun, harus diketahui bahwa galibnya, anugerah-anugerah Ilahi, potensi jasmani dan ruhani manusia sedemikian sudah dibagikan kepada mereka sehingga masing-masing memiliki bagian-bagian tertentu dari potensi ruh dan jasmani tersebut. Maksudnya, sangat jarang dijumpai anugerah-anugerah Ilahi ini terdapat pada satu tempat atau satu orang. Sebagian memiliki kekuatan badan yang kuat, sebagian memiliki potensi dan talenta matematika yang baik, sebagian memiliki bakat bersyair, dan sebagian lainnya menyukai bidang perniagaan, sebagian peduli pada bidang agrikultur. Alhasil, setiap orang memiliki potensi dan talenta yang khas. Yang penting adalah masyarakat atau individu harus menemukan potensi dan talentanya tersebut serta membinanya dalam lingkungan yang sehat, sehingga setiap orang dapat menunjukkan dan mengeksplorasi kekuatannya.
Subjek ini juga harus diingat bahwa sebuah masyarakat ibarat sebuah raga manusia yang memerlukan tekstur-tekstur, urat dan sel-sel yang beraneka ragam. Maksudnya, sekiranya satu badan, seluruh sel-sel subtil dibuat seperti sel-sel mata dan otak, maka keberadaannya tidak akan berlangsung lama. Atau apabila seluruh sel-sel itu keras dan tidak fleksibel sebagaimana sel-sel tulang, dia tidak dapat melakukan pekerjaan yang memikul tanggungjawab yang beragam. Akan tetapi, seluruh sel-sel yang ada pada diri manusia harus dibentuk dari sel-sel yang beragam. Setiap sel memiliki tugas khusus; ada yang memiliki tugas berpikir, yang lainnya memiliki tugas melihat, tugas mendengarkan, tugas berkata-kata.
Demikian juga untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang sempurna diperlukan potensi-potensi, talenta-talenta dan struktur raga dan pikiran yang beragam. Namun, hal ini tidak berarti bahwa sebagian anggota masyarakat harus menjalani hidupnya di bawah garis kemiskinan, atau pelayanan mereka tidak dianggap khidmat yang besar atau malah dihina. Sebagaimana sel-sel yang ada pada tubuh dengan perbedaan-perbedaan yang dimilikinya, semuanya mendapatkan manfaat dari makanan dan udara serta kebutuhan-kebutuhan lainnya sesuai dengan kapasitasnya.
Dengan kata lain, perbedaan struktur ruh dan jasmani pada bagian-bagian yang bersifat natural (bukan karena kekuatan paksa) menuntut kemahabijaksanaan (hikmah) Sang Pencipta, dan keadilan Ilahi tidak dapat dipisahkan dari kemahabijaksanaan Ilahi tersebut. Seperti contoh, sekiranya seluruh sel-sel badan manusia diciptakan dalam satu bentuk, hal itu tidak sesuai dengan kemahabijaksanaan Ilahi, begitu pula keadilan -yang bermakna menempatkan segala sesuatu pada tempat yang selayaknya- tidak akan pernah terwujud. Demikian juga apabila suatu hari, seluruh masyarakat berpikiran yang sama dan memiliki potensi yang sama, pada hari itu juga kondisi mereka akan mengalami kekacauan. 
25. Apakah Perbedaan Rezeki di Tengah Masyarakat Sesuai dengan Prinsip Keadilan?

Pada surat An-Naml [16], ayat 71 kita membaca, "Allah melebihkan sebagian atas yang sebagian lainnya di antara Kamu dalam urusan rezeki".
Pertanyaan yang muncul adalah apakah adanya perbedaan rezeki di antara masyarakat sejalan dengan asas keadilan Ilahi dan kesetaraan yang harus berlaku terhadap sistem kemasyarakatan manusia?
Dalam menjawab pertanyaan ini kita harus memperhatikan dua poin di bawah ini secara cermat.

1. Tidak diragukan bahwa bagian penting perbedaan yang ada di antara masyarakat dari sisi keuntungan materi dan pendapatan, bertalian dengan perbedaan potensi yang ada pada diri mereka. Perbedaan potensi dan talenta jasmani dan ruhani yang menjadi sumber perbedaan pada kuantitas dan kualitas kegiatan ekonomi menyebabkan berbedanya pendapatan yang mereka peroleh; sebagian meraup keuntungan yang banyak dan yang lainnya memperoleh keuntungan yang sedikit. Tentu saja, acap kali kejadian yang hanya menurut kita bersifat aksidental, malah membuat sebagian orang mendapatkan rezeki yang lebih banyak. Akan tetapi, hal ini dapat dihitung sebagai pengecualian. Yang menjadi dasar dan parameter asli pada kebanyakan urusan hidup ialah perbedaan kuantitas dan kualitas usaha. (Tentu saja tema pembahasan kita adalah sebuah masyarakat yang sehat dan bebas dari eksploitasi kaum tiran, bukan masyarakat yang menyimpang jauh dari aturan-aturan penciptaan dan nilai kemanusiaan).
Bahkan orang-orang yang kita jumpai cacat tangan dan kaki, kerapkali mendapatkan pendapatan banyak yang membuat kita takjub. Sekiranya kita merenungkan moralitas, ruh dan jasmani mereka dengan seksama dan melepaskan diri dari penilaian dangkal, kita akan melihat bahwa mereka -galibnya- memiliki kekuatan yang membuat mereka memperoleh apa yang sepatutnya. (Kembali kami tekankan, tema pembahasan kita adalah masyarakat sehat dan tidak korup).
Secara umum, perbedaan pendapatan bersumber dari perbedaan potensi dan talenta. Potensi dan talenta ini juga merupakan anugerah Ilahi. Boleh jadi dalam sebagian masalah bersifat perolehan (iktisâbi, dapat dicapai) namun dalam sebagian lainnya tidak. Bahkan dalam sebuah masyarakat sehat dari aspek ekonomi, perbedaan pendapatan juga sebuah realita yang tidak dapat diingkari. Kecuali jika kita mampu menciptakan manusia-manusia yang sejenis; satu warna dan satu potensi yang tidak memiliki satu pun perbedaan, justru masalah lain yang akan muncul.

2. Tidak diragukan juga bahwa ketika kita merenungkan nasib seseorang, batang sebuah pohon, dan sekuntum bunga, apakah mungkin struktur yang setimbang di antara anggota dan tubuh, dapat dijumpai persamaannya dari aspek apapun? Apakah kekuatan resistensi dan potensi akar pohon dari aspek apapun dapat disatukan dengan dedaunan bunga mawar yang lembut dan sedang bersemi, dan juga tulang tumit kaki dengan kelopak mata? Sekiranya Anda mampu menyatukan mereka, apakah Anda berpikir Anda telah melakukan pekerjaan yang benar?
Jika kita kesampingkan terlebih dahulu slogan-slogan yang mengecoh nalar (yang selalu menuntut persamaan di semua bidang), dan anggaplah suatu hari kita dapatkan manusia-manusia rekaan, dapat kita buat imaginer dari berbagai sudut pandang, dan menjejali planet bumi dengan manusia sebanyak lima miliar dalam satu bentuk, satu figur, satu talenta, satu pikiran, dan satu rupa dari setiap sisi, persis seperti kretek-kretek yang ditawarkan dari satu pabrik, apakah pada hari itu manusia memiliki kehidupan yang lebih baik? Tentu saja tidak. Alih-alih menjadi lebih baik, kehidupan manusia akan menjadi neraka yang di dalamnya setiap orang akan merasakan kejemuan. Semuanya akan bergerak kepada satu titik dan menghendaki sesuatu yang sama. Semuanya menghendaki satu kedudukan, menyukai satu jenis makanan, dan ingin mengerjakan satu pekerjaan.
Sangat jelas, usia kehidupan seperti ini segera akan berakhir. Dan seandainya kehidupan ini harus tetap berlangsung, kehidupan yang mereka alami adalah kehidupan kehilangan ruh; menjemukan, monoton, tidak ada bedanya dengan kematian.
Oleh karena itu, perbedaan potensi adalah demi memelihara keutuhan sistem masyarakat, bahkan membina potensi-potensi yang beragam adalah suatu kelaziman. Adapaun slogan-slogan kosong itu tidak dapat mengantisipasi kenyataan ini.
Namun, jangan sampai uraian ini ditafsirkan bahwa kami menerima masyarakat strata dan sistem eksploitasi. Tidak! Sama sekali tidak demikian! Maksud dari strata ini adalah strata alami, bukan rekayasa (baca : palsu). Perbedaan tidak hanya berfungsi sebagai penyempurna satu potensi dengan yang lainnya, akan tetapi juga berperan sebagai pendukung, bukan penghalang bagi kemajuan dan melanggar serta menganiaya yang lain.
Perbedaan strata (harap diperhatikan makna strata di sini adalah makna teknis; strata pengeksploitasi dan tereksploitasi) sekali-kali tidak sesuai dengan sistem penciptaan. Sistem yang sejalan dengan sistem penciptaan adalah perbedaan potensi dan usaha. Perbedaan antara sistem yang sejalan dengan penciptaan dan sistem yang tidak sejalan dengannya ibarat perbedaan antara bumi dan langit. (Perhatikan baik-baik!)
Dengan ungkapan lain, perbedaan pelbagai potensi harus digunakan pada rangka membangun, persis seperti perbedaan struktur anggota tubuh, atau sekuntum bunga. Dalam perbedaannya, ia saling membantu; tidak saling menggangu.
Singkatnya, perbedaan pelbagai potensi yang ada tidak seyogyanya disalahgunakan sehingga menjadi sebab terciptanya masyarakat strata.
Pada akhir ayat yang menjadi tema pembahasan kita kali ini Ia menegaskan, "Afabini'matillâhi yajhadûn."
Ayat ini menyiratkan bahwa perbedaan pada bentuk naturalnya, (bukan bentuk rekayasa dan cara-cara paksa) adalah limpahan anugerah Ilahi untuk menjaga sistem kehidupan masyarakat manusia. 
26. Apakah Falsafah dari Musibah yang Kerap Menimpa Kehidupan Manusia?

Dalam surat Asy-Syura [42], ayat 30, kita membaca, "Dan musibah apa saja yang menimpa Kamu, maka semua itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri."
Dengan memperhatikan ayat ini, pertanyaan yang kemudian muncul adalah: dari manakah asal pelbagai musibah yang menghampiri kehidupan kita?
Pada ayat ini terdapat beberapa poin yang layak mendapat perhatian:

1. Ayat ini dengan baik mengindikasikan bahwa musibah-musibah yang menimpa manusia adalah salah satu jenis hukuman dan peringatan Ilahi (betapapun memiliki eksepsi, sebagaimana akan kami singgung pada kesempatan mendatang). Dengan demikian, salah satu falsafah terjadinya peristiwa yang mengerikan itu akan menjadi jelas.
Menariknya, dalam hadis yang diriwayatkan dari Amirul Mukminin a.s., yang menukil dari Nabi saw., beliau bersabda, "Wahai Ali, ayat ini (Tidaklah menimpa Kamu musibah…) merupakan ayat yang terbaik dalam Al-Qur'an Al-Karim. Setiap goresan kayu yang menghujam ke dalam raga manusia dan setiap lalai dalam langkah terjadi akibat dosa yang dia perbuat. Dan apa yang dimaafkan oleh Tuhan di dunia ini lebih santun dari apa yang dimaafkan oleh-Nya di akhirat. Di akhirat sana terjadi peninjauan kembali, dan apa yang ditimpakan kepada manusia di dunia ini lebih adil ketimbang di akhirat, di mana Tuhan sekali lagi memberikan hukuman kepadanya.
Dengan demikian, musibah semacam ini selain meringankan beban manusia dalam kaitannya dengan masa mendatang, dia juga akan terkendali.

2. Meski ayat ini secara lahiriah bersifat umum, dan seluruh musibah termasuk di dalamnya, akan tetapi pada kebanyakan urusan yang bersifat umum terdapat pengecualian. Umpamanya, musibah-musibah dan kesulitan-kesulitan yang menimpa para nabi dan imam a.s. yang berfungsi untuk meninggikan derajat atau menguji mereka. Demikian juga musibah berupa ujian yang menimpa selain para ma'shum a.s.
Dengan ungkapan lain, seluruh ayat Al-Qur'an dan riwayat menjawab bahwa ayat ini secara umum merupakan masalah yang mendapatkan takhshîsh (pengecualian), dan tema ini bukanlah sesuatu yang baru di kalangan para mufassir.
Ringkasnya, berbagai musibah dan kesulitan memiliki falsafah yang khas, sebagaimana yang telah disiratkan dalam pembahasan tauhid dan keadilan Ilahi. Berseminya potensi-potensi di bawah tekanan musibah, peringatan akan masa mendatang, ujian Ilahi, sadar dari kelalaian dan arogansi, dan penebus dosa adalah salah satu corak dari falsafah tersebut.
Akan tetapi, kebanyakan musibah yang harus diterima oleh kebanyakan orang -seperti telah terurai pada ayat di atas- secara umum memiliki sisi pembalasan dan tebusan.
Oleh karena itu, kita membaca dalam hadis, tatkala Imam Ali bin Husain a.s. telah memasuki istana Yazid, Yazid menoleh kepadanya dan berucap, "Wahai Ali! Musibah yang menimpamu berasal dari apa yang telah engkau lakukan." (Isyarat bahwa tragedi Karbala adalah hasil dari perbuatanmu sendiri).
Akan tetapi, Imam Ali bin Husain dengan segera menukas, "Tidaklah demikian! Turunnya ayat ini tidak berkenaan dengan kami. Ayat yang turun berkenaan dengan kami adalah ayat yang menegaskan bahwa, 'Setiap musibah di atas bumi, entah terjadi pada badan atau ruh Kamu, telah tercatat pada kitab Lauh Mahfuzh sebelum engkau diciptakan. Dan pengetahuan tentang urusan ini bagi Tuhan adalah mudah.' Ayat ini diturunkan untuk menjelaskan bahwa apa yang telah hilang dari tanganmu, jangan engkau tangisi, dan apa yang datang kepadamu, jangan membuatmu terlalu bergembira. (Tujuan dari musibah-musibah ini adalah supaya hatimu tidak hanyut dalam kesenangan dunia yang sementara, dan ini merupakan satu jenis pendidikan untukmu)."
Lalu, Imam menambahkan, "Kami adalah orang yang apabila sesuatu hilang dari tangan kami, kami tidak bersedih, dan apabila sesuatu datang ke tangan kami, kami tidak bergembira (Kami menganggap semua ini bersifat sementara dan kami hanya menambatkan hati kami kepada kasih (luthf) dan pertolongan (inayah) Tuhan)."

3. Terkadang musibah-musibah memiliki dimensi kolektif. Hal ini merupakan hasil dari dosa kolektif. Sebagaimana yang tertuang dalam ayat 41, surat Ar-Rum (30), "Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia ...."
jelas bahwa ayat ini berkenaan dengan sekelompok anak manusia yang -lantaran perbuatan-perbuatan mereka sendiri- terjerembab ke dalam musibah.
Dan pada ayat 11, surat Ar-Ra'd (13) disebutkan, "Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri yang mengubahnya."
Ayat-ayat yang senada ini memberikan kesaksian bahwa antara perbuatan-perbuatan manusia dan sistem penciptaan dan kehidupannya memiliki hubungan yang berjalin erat, sehingga sekiranya ia menjejakkan kaki berdasarkan kaidah fitrah dan hukum-hukum penciptaan, keberkahan Ilahi akan meliputi kehidupannya. Dan apabila ia berbuat kerusakan, niscaya kehidupannya juga akan mengalami kerusakan.
Barangkali keterangan ini benar dalam hubungannya dengan setiap individu manusia; barangsiapa melakukan dosa, ia sendiri akan terpuruk ke dalam musibah dan petaka, baik jiwa, raga maupun harta dan segala sesuatu yang menjadi miliknya. Demikianlah kisah ayat di atas.
Dalam kaitannya dengan pembahasan ini, terdapat banyak riwayat di dalam sumber-sumber Islam. Kami sebutkan sebagiannya di sini sebagai pelengkap.

a. Dalam salah satu khutbah Nahjul Balaghah disebutkan, "… Demi Allah! Tidak ada satu kaum yang tercampakkan dari kehidupan mewah, setelah mereka nikmati, kecuali sebagai hasil dari dosa-dosa yang mereka lakukan. Karena sesungguhnya Allah swt. tidak akan berbuat aniaya terhadap para hamba-Nya. Meskipun, tatkala musibah datang menimpa mereka dan kesenangan menjauh dari kehidupan mereka, mereka berpaling kepada Allah swt. dengan niat yang tulus dan hati berharap semoga Ia mengembalikan segala yang telah sirna dari mereka dan mengobati segala sakit yang mereka derita."
b. Dalam Jâmi' al-Akhbâr, hadis yang dinukil dari Amirul Mukminin a.s., beliau berkata, "Musibah yang menimpa kaum penindas adalah untuk memberi pelajaran kepada mereka. Musibah yang menimpa kaum mukmin adalah ujian. Musibah yang menimpa para nabi adalah untuk peningkatan derajat. Dan musibah yang menimpa para wali adalah untuk karamah dan maqam (kedudukan maknawi)." Hadis ini adalah saksi nyata untuk hal-hal pengecualian yang telah kami jelaskan sebelumnya.
c. Dalam Ushûl al-Kâfî, hadis yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s., beliau berkata, "Tatkala manusia bertambah dosa-dosanya dan tidak memiliki perbuatan yang bisa menebus dosa-dosa itu, Allah swt. akan mengazabnya sehingga azab itu menjadi tebusan atas dosa-dosanya itu."
d. Dalam kitab al-Kâfî terdapat bab tentang tema ini yang telah diringkas, dan ia memuat 12 hadis mengenai pembahasan yang sama.
Lagi pula, semua dosa ini adalah selain dosa-dosa yang -berdasarkan ayat yang jelas di atas- Allah akan meliputinya dengan maaf dan rahmat-Nya, dosa-dosa itu sendiri sangatlah banyak.

Mengoreksi Sebuah Kesalahan

Barangkali ada orang-orang yang menyalahgunakan ajaran Qur'anik ini; lalu setiap jenis musibah yang menimpanya, dia sambut dengan lapang dada seraya berkata, "Pasrahlah dalam menghadapi setiap kejadian yang tidak menyenangkan", dan mengambil kesimpulan reaktif, yaitu kesimpulan yang menakutkan dari kaidah edukatif dan semangat kreatif Al-Qur'an. Perbuatan ini adalah perbuatan yang sangat berbahaya.
Tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Qur'an yang memerintahkan kita pasrah diri dalam menghadapi setiap musibah dan melarang kita untuk berusaha memecahkan segala kesulitan. Atau ia memerintahkan kita untuk menyerahkan raga kita kepada para tiran, despot dan setiap peyakit. Akan tetapi, yang ditegaskan oleh Al-Qur'an adalah sekiranya segenap upaya engkau lakukan, namun kesulitan-kesuitan tetap menemanimu, ketahuilah bahwa engkau telah melakukan dosa. Dan hasil kesulitan-kesulitan yang menimpamu itu merupakan tebusan dan hasil dari perbuatanmu sendiri. Tengoklah kembali perbuatan-perbuatan yang telah kau lakukan pada masa-masa lalu, dan bertaubatlah atas dosa-dosamu, bangunlah dirimu dan perbaikilah kelemahanmu.
Dan apabila kita melihat di sebagian riwayat bahwa ayat ini diperkenalkan sebagai ayat yang terbaik, hal itu disebabkan oleh aspek pendidikan yang ditanamkan oleh musibah-musibah ini. Dari satu sisi, musibah itu dapat meringankan beban manusia dari pundaknya dan dari sisi lain, ia dapat menghidupkan pelita harapan dan cinta kepada Tuhan di sanubari dan jiwanya. 
27. Mengapa Tuhan Menciptakan Setan?

Banyak yang bertanya bahwa sekiranya manusia diciptakan untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan melalui jalan penyembahan (ibadah), keberadaan setan sebagai makhluk pembinasa adalah oposisi kesempurnaan. Apakah alasannya sehingga setan mesti ada? Ia adalah makhluk yang licik, penuh dendam, makar, penuh tipu-daya, dan beracun!
Apabila kita sedikit merenung, kita akan ketahui bahwa kehadiran musuh ini adalah untuk mendukung pencapaian manusia ke tingkat kesempurnaan.
Kita tak perlu pergi jauh. Kekuatan resistensi dalam menghadapi musuh-musuh senantiasa ada pada jiwa manusia dan ia dapat mengantarkannya ke jalan kesempurnaan.
Para komandan dan prajurit-prajurit tangguh dan terlatih adalah orang-orang yang berjibaku dengan musuh-musuh berat pada pertempuran-pertempuran besar.
Para politikus yang berpengalaman dan berpengaruh adalah mereka yang bertarung dengan musuh-musuh yang kuat dalam dunia politik yang kritis dan pelik.
Para jawara besar gulat adalah pegulat-pegulat yang berjajal dengan rival-rival tangguh dan berat.
Oleh karena itu, tidak perlu takjub bila kita menyaksikan para hamba Tuhan setiap hari semakin kuat dan gairah dalam bertempur secara berkesinambungan dengan setan.
Dewasa ini, para ilmuwan berkomentar tentang filsafat adanya mikroba-mikroba penggangu, "Sekiranya mikroba-mikroba tidak ada, maka sel-sel badan manusia pada suatu keadaan akan lemah dan kebas (karena kedinginan), dan kemungkinan tingginya postur manusia tidak akan melewati 80 sentimeter; semuanya dalam bentuk manusia-manusia cebol. Dengan demikian, manusia hari ini memperoleh kekuatan dan tinggi tubuh yang lebih karena mereka selalu dalam kontraksi dengan mikroba-mikroba pengganggu itu.
Demikian juga ruh manusia dalam berkonfrontasi dengan setan dan hawa nafsu.
Namun, hal ini tidak berarti bahwa setan memiliki tugas untuk menyelewengkan para hamba Tuhan. Setan sejak awal penciptaannya memiliki kekudusan sebagaimana makhluk-makhluk lainnya. Setan dengan ikhtiar penuhnya jatuh, menyimpang dan memilih sendiri untuk celaka. Oleh karena itu, Tuhan tidak menciptakan iblis sebagai setan. Ia sendiri yang menghendaki dirinya menjadi setan. Namun, tindakan setaninya itu tidak sekedar mencelakakan para hamba Tuhan, tetapi juga merupakan tangga kesempurnaan mereka. (Perhatikan baik-baik)
Kendati demikian, pertanyaan yang tersisa adalah mengapa Tuhan mengabulkan permohonannya untuk tetap hidup? Mengapa Tuhan tidak melenyapkannya sejak dahulu?
Jawaban pertanyaan ini sama dengan jawaban yang telah kami sebutkan di atas. Dengan ungkapan lain, alam semesta adalah arena ujian dan cobaan. (Ujian ini adalah wasilah pembinaan dan penyempurnaan manusia). Dan kita ketahui, ujian hanya berarti bila berhadapan dengan musuh-musuh besar, krisis-krisis kehidupan yang datang menekan.
Tentu saja, sekiranya setan tidak ada, hawa nafsu dan sifat was-was manusia akan ditempatkan menjadi medan ujian baginya. Namun, dengan kehadiran setan, tanur ujian ini semakin membara, lantaran setan adalah pelaku eksoteris (lahir), sementara hawa nafsu adalah pelaku esoteris (batin).

Jawaban atas Sebuah Pertanyaan

Satu pertanyaan lain yang muncul adalah bagaimana mungkin Tuhan membiarkan kita sendiri berkonfrontasi dengan musuh tanpa welas asih dan kuat ini?
Jawaban pertanyaan ini dapat diperoleh dengan menaruh perhatian terhadap satu poin, yaitu -sebagaimana yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an- bahwa Allah swt. mempersenjatai mukminin dengan para malaikat sebagai lasykar mereka untuk membangun dunia bersama kekuatan-kekuatan gaib dan maknawi yang mereka miliki dalam rangka memerangi diri sendiri (jihâd an-nafs) dan bertempur melawan musuh.
Sesungguhnya orang-orang yang berkata, "Tuhan kami adalah Allah", kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka [dengan mengatakan], 'Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; gembirakanlah mereka dengan [memperoleh] surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat ....'" (QS. Fushshilat [33]: 30-31)
Poin penting lainnya adalah setan sekali-kali tidak akan masuk ke relung hati kita. Dan ia tidak akan dibiarkan melewati batas negara ruh tanpa memegang pasport. Serangannya tidak pernah membuat manusia lalai. Ia masuk ke dalam kediaman hati kita dengan ijin kita. Ya! Ia masuk melalui pintu, tidak melalui celah-celah rumah hati kita. Dan kitalah yang membuka pintu baginya untuk masuk. Demikianlah di dalam Al-Qur'an ditegaskan, "Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya [setan] hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah." (QS.An-Nahl [16]: 99-100)
Secara asasi, perbuatan-perbuatan manusialah yang menyediakan lapangan bagi setan untuk melakukan infiltrasi. Sebagaimana disinggung dalam Al-Qur'an, "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra' [17]: 27)
Namun di atas segalanya, untuk meraih keselamatan dari jerat-jerat setan dan prajuritnya dalam bentuk yang beraneka ragam, seperti syahwat, pusat-pusat kerusakan, politik-politik busuk, sekte-sekte yang menyimpang, budaya-budaya rusak (fâsid) dan merusak (mufsid), jalan untuk selamat hanyalah berlindung kepada iman dan takwa, serta sinar kasih Tuhan Yang Mahakasih, dan menyerahkan diri kepada Dzat Yang Mahakudus. Al-Qur'an berfirman, "... kalau tidaklah karena rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja [di antaramu]." (QS. An-Nisa [4]: 83) 
28. Apakah Keabadian di dalam Neraka Selaras dengan Keadilah Ilahi?

Di dalam surat Hud [11], ayat 106 kita membaca, "Adapun orang-orang yang celaka, maka [tempatnya] di dalam neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas [dengan merintih]. Mereka kekal di dalamnya ...."
Dengan menyimak ayat suci di atas, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kita dapat menerima manusia yang selama hidupnya -maksimal usianya seratus tahun, misalnya-melakukan pekerjaan buruk, dan lenyap dalam kekufuran dan dosa, namun usia seratus tahun ini harus dibayar dengan siksa seribu tahun?
Mereka yang mengajukan pertanyaan ini lalai akan satu poin penting, yaitu perbedaan antara hukuman konvensional dan hukuman penciptaan yang merupakan hasil dari rangkaian realitas perbuatan dan kehidupan.

Penjelasan

Terkadang pembuat hukum merumuskan sebuah hukum sehingga setiap orang yang melanggarnya harus membayar tebusan uang dalam jumlah tertentu, atau harus berdiam di dalam penjara selama beberapa waktu. Tentu, dalam asumsi seperti ini kesesuaian antara pelanggaran dan hukuman harus diperhatikan. Hanya lantaran pelanggaran kecil, ia tidak akan dieksekusi atau mendapatkan hukuman abadi. Dan sebaliknya, karena perbuatan seperti membunuh, lalu ia dikenakan hukuman sehari penjara saja, hukuman seperti ini tidaklah memiliki arti baginya. Hikmah dan keadilan menjawab bahwa kedua hukuman ini harus setimpal.
Akan tetapi, hukuman yang pada hakikatnya adalah efek natural sebuah perbuatan dan termasuk tipologi penciptaan, atau hasil langsung perbuatan tersebut di hadapan manusia, ia tidak menerima asumsi tersebut di atas, baik dalam kaitannya dengan efek-efek perbuatan di alam dunia ini ataupun di alam yang lain.
Contoh, seseorang melanggar aturan lalu-lintas; melaju melebihi batas kecepatan yang telah ditentukan, berlomba tanpa sebab, dan melintas zona terlarang. Barangkali karena beberapa kali melanggar aturan, ia mengalami tabrakan dan patah tangan serta kakinya, atau akan menderita kelumpuhan seusia hidupnya. Resiko buruk akibat sebuah kesalahan kecil ini jelas tidak mencerminkan keadilan (jika ditinjau dari sisi hukuman konvensional). Tapi, hal ini tidak berasal dari sisi hukuman-hukuman konvensional lalu-lintas jalan raya yang di dalamnya keseimbangan antara pelanggaran dan hukuman harus mendapatkan perhatian. Kondisi ini merupakan dampak alami dari perbuatan yang secara sadar dilakukan oleh manusia. Dan ia sendirilah yang membuat dirinya terpuruk ke dalam kondisi tersebut.
Demikian juga ketika dianjurkan kepada Anda agar jangan mengkonsumsi minuman-minuman beralkohol atau bahan-bahan psikotropika lainnya. Lantaran dalam waktu yang singkat, semua jenis minuman itu akan mengoyak hati, perut, otak dan syaraf Anda. Kini sekiranya Anda mengkonsumsinya, niscaya Anda akan menderita syaraf lemah, penyakit-penyakit hati, perut luka dan kerusakan pembuluh darah. Hanya beberapa hari menuruti hawa nafsu, Anda terpaksa menjalani sisa hidup Anda di dalam siksa yang pedih. Di sini tak seorang pun akan keberatan dengan ketaksetimbangan antara pelanggaran dan hukuman tersebut.
Kini anggaplah orang seperti ini -alih-alih seratus tahun usianya- seribu tahun atau sejuta tahun sekalipun ia bermukim di dunia ini, tentu saja ia harus menahan derita dan azab selama waktu yang panjang ini lantaran beberapa hari saja menuruti hawa nafsunya.
Tentang banyaknya azab dan hukuman kehidupan ukhrawi adalah masalah yang melebihi masalah duniawi. Dampak-dampak riel sebuah perbuatan dan hasil-hasil pembawa mautnya barangkali senantiasa bersandar kepada manusia. Perbuatan-perbuatan itu sendirilah nanti yang akan menjelma di hadapan manusia (tajassum al-a'mâl). Dan lantaran kehidupan alam sana adalah kehidupan abadi, perbuatan baik dan buruk juga abadi.
Sebelumnya telah kami singgung bahwa hukuman dan siksa pada Hari Kiamat memiliki dampak riel yang lebih kuat. Al-Qur'an berfirman, "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh [azab] yang mereka selalu memperolok-olokkannya." (QS. al-Jatsiyah [45]: 33)
Al-Qur'an juga berfirman, "... dan kamu tidak dibalas kecuali dengan apa yang telah Kamu kerjakan." (QS. Yasin [36]: 54)
Muatan ayat ini, kendati terdapat sedikit perbedaan, juga terkandung dalam ayat-ayat yang lain.
Dengan demikian, ruang untuk pertanyaan ini tidak tersisa lagi, bahwa mengapa kesetimbangan antara hukuman dan pelanggaran tidak diperhatikan?
Manusia harus terbang dengan dua sayap iman dan amal saleh demi mendapatkan kenikmatan surgawi dan kebahagiaan berada di hadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Kini, dengan menuruti hawa nafsu barang sedetik atau seratus tahun lamanya, ia telah mematahkan kedua sayapnya sendiri dan untuk selamanya ia harus menderita dalam kehinaan. Di sini, aspek ruang dan waktu, serta ukuran pelanggaran tidak menjadi pokok persoalan. Yang menjadi tolok ukur adalah sebab dan akibat serta dampak lama dan singkatnya. Sebuah korek kecil boleh jadi dapat membakar seisi kota. Dan dengan menanam satu gram duri, barangkali setelah beberapa waktu, sahara yang luas penuh dengan duri dan dapat menggangu manusia selamanya. Demikian juga dengan menanam satu gram bunga, barangkali dengan berlalunya sang waktu, akan tercipta sahara yang dihiasi bunga-bunga yang begitu indah mewangi sehingga semerbak baunya menggairahkan jiwa dan memuaskan hati.
Kini sekiranya seseorang bertanya apa keseimbangan antara sebatang korek dengan terbakarnya sebuah kota, dan antara beberapa tanaman kecil dengan sebuah sahara duri. Maka, perbuatan-perbuatan baik dan buruk juga demikian adanya. Dan barangkali dampak keabadian yang teramat panjang menjadi kenangan dan memori baginya. (Perhatikan baik-baik)
Masalah yang penting di sini adalah, para nabi besar dan washi Ilahi telah memberikan peringatan kepada kita bahwa dampak maksiat dan dosa ini adalah azab yang abadi, dan dampak ketaatan dan kebajikan adalah kenikmatan abadi. Persis seperti peringatan para penjaga taman yang telah menjelaskan kepada kita dampak keluasan tanaman berduri dan bunga tersebut. Dan kita sendiri dengan sadar yang memilih jalan ini.
Di sini kepada siapa kita harus ajukan keberatan, dan kesalahan siapa yang harus kita cari, serta hukum mana yang kita harus protes, selain pada diri kita sendiri?

CATATAN KAKI:

Tafsir-e Nemuneh, jilid 3, hal. 365.
Tafsir-e Nemuneh, jilid 11, hal. 312.
Majma' al-Bayân, jilid 9, hal. 31. Hadis yang serupa juga terdapat dalam ad-Durr al-Mantsûr dan Tafsir Rûh al-Ma'ânî dengan sedikit perbedaan. Hadis tentang masalah ini banyak jumlahnya.
Tafsir Ali bin Ibrahim, menukil dari Nûr ats-Tsaqalain, jilid 4, hal. 580.
Al-Mîzân, jilid 18, hal. 61.
Nahjul Balâghahh, khutbah 178.
Tafsir-e Nemuneh, jilid 20, hal. 440.
Tafsir-e Payâm-e Qur'ân, jilid 1, hal. 423.
Tafsir-e Payâm-e Qur'ân, jilid 6, hal. 501.